GARDAPLUS
Ketika Integritas Dibalas Fitnah – Membela yang Diam Demi Pelayanan Kesehatan Sikka

Oleh: Karel Pandu
Dalam diam, seseorang bekerja keras menjaga agar pelayanan kesehatan tetap berjalan, meski dengan segala keterbatasan. Ia bukan pahlawan yang haus sorotan. Ia adalah dokter, pelayan masyarakat, dan seorang pemimpin yang mengelola rumah sakit daerah bukan demi jabatan, tapi karena panggilan hati. Ia adalah saudara saya, dr. Clara, Direktur RSUD TC Hillers Maumere.
Belakangan, ia menjadi sasaran tudingan yang tidak berdasar. Isu soal insentif Rp75 juta untuk seorang dokter anestesi dari luar daerah digoreng sedemikian rupa seakan-akan RSUD TC Hillers adalah ladang praktik kotor. Padahal, saudara saya telah menyampaikan bantahan terbuka. Audit dari Inspektorat, auditor independen, BPK, hingga KPK menunjukkan bahwa keuangan rumah sakit bersih dan dikelola dengan akuntabilitas tinggi.
Lalu kenapa tetap diserang?
Saya percaya ini bukan semata soal insentif. Ini tentang kepentingan politik. Sejak dr. Clara dinyatakan sebagai satu-satunya kandidat yang lolos seleksi terbuka untuk jabatan Kepala Dinas Kesehatan, tekanan mulai terasa. Ada yang tidak nyaman jika ia menduduki posisi strategis itu, karena ia tidak mudah diajak kompromi, apalagi jika itu berpotensi merugikan negara.
Karakter seperti inilah yang sering menjadi ancaman bagi mereka yang terbiasa menggunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Maka cara paling murah dan kejam adalah menggiring opini publik untuk membunuh karakter. Seolah-olah ia tidak mampu memimpin, padahal justru karena sikapnya yang tegas menjaga prinsip itulah rumah sakit bisa tetap surplus, berkontribusi pada PAD (Pendapatan Asli Daerah), dan melayani masyarakat secara optimal meski dengan sumber daya terbatas.
Saya ingin menyampaikan satu hal kepada masyarakat Sikka: jangan buru-buru mengadili. Jangan hanya mendengar satu sisi cerita. Lihat rekam jejaknya. Selama ini, RSUD TC Hillers tetap berjalan, bahkan lebih baik dibanding sebelumnya. Kenapa yang bekerja dalam diam justru dicurigai, sementara yang pergi meninggalkan tanggung jawabnya justru dielu-elukan?
Tentang beban kerja, mari kita adil. Disebutkan seorang dokter anestesi melakukan 300 tindakan dalam sebulan – artinya 10 per hari. Jika dibagi dua orang, berarti masing-masing lima tindakan. Bandingkan dengan dokter spesialis lain yang bisa melakukan 10 hingga 20 tindakan per hari tanpa mengeluh. Banyak dari mereka bukan putra daerah, membiayai sendiri sekolah spesialisnya, tapi tetap bertahan di Sikka. Karena mereka punya hati untuk mengabdi. Mereka tidak meminta sorotan.
Saya dan keluarga tahu betul, saudara kami tidak sempurna. Tapi kami tahu ia bekerja dengan integritas. Bahkan ketika ayahnya meninggal dunia karena ia terlambat datang memberikan pertolongan akibat urusan tugas negara, kami tidak mengeluh. Karena kami tahu itu risikonya sebagai abdi negara.
Tapi justru yang meninggalkan daerah dan tanggung jawabnya demi gaji yang dianggap kecil, malah dielu-elukan sebagai pahlawan. Lalu, pemimpin yang setia melayani, menjaga uang negara, dan bekerja dalam senyap – diseret dalam drama politik yang murahan.
Kami bangga pada dr. Clara, karena meski dibully, dicaci, dan dilukai, ia tetap memilih diam. Ia hanya meminta kami mendoakan mereka yang menyakitinya. Dan ia selalu bilang, “Jika orang benar disakiti dan ia tidak membalas, lalu ia menyampaikan rasa sakitnya kepada Tuhan, hati-hatilah… karena doa orang yang teraniaya didengar cepat oleh-Nya.”
Sebagai keluarga, kami hanya ingin menyampaikan bahwa jabatan bukanlah tujuan. Seperti pesan ibunya yang sudah sepuh dan juga mantan tenaga kesehatan: “Nona, mama sekolahkan kamu jadi dokter, bukan jadi pejabat.” Jabatan hanyalah kepercayaan. Kalau orang tak lagi percaya, lebih baik mundur dengan hormat.
Tapi kalau yang sedang bekerja dengan benar dihancurkan hanya karena tidak tunduk pada kekuasaan, maka sesungguhnya kita sedang kehilangan satu per satu orang baik yang bisa jadi harapan masa depan.
Kami hanya memohon: bijaklah dalam menilai. Jangan sampai kepentingan politik sesaat merusak pelayanan kesehatan yang sudah susah payah dibangun.»
OPINI
Melindungi Anak, Bahkan Sebelum Ia Dilahirkan

Oleh: dr. Roy Boris
Setiap pasangan yang mengikuti kursus pra nikah biasanya disibukkan oleh banyak hal. Tanggal pernikahan mulai dihitung mundur, undangan dicetak, gedung dipesan, dekorasi dipilih, bahkan nama calon anak terkadang sudah menjadi bahan percakapan. Semua dipersiapkan dengan penuh harapan.
Namun, di tengah semua kesibukan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput.
Sudahkah calon ayah dan ibu benar-benar mengenal kondisi kesehatannya sendiri?
Pertanyaan ini mungkin tidak sepopuler memilih warna pelaminan atau konsep resepsi. Padahal, jawabannya bisa menentukan kesehatan seorang anak yang bahkan belum dilahirkan.
Salah satu penyakit yang patut menjadi perhatian adalah hepatitis B.
Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer. Bukan karena ia menyerang secara tiba-tiba, melainkan karena mampu hidup bertahun-tahun di dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan gejala yang berarti. Ketika akhirnya diketahui, kerusakan hati sering kali telah berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 254 juta orang hidup dengan hepatitis B kronis. Pada tahun 2024 saja diperkirakan terjadi sekitar 900.000 infeksi baru di seluruh dunia. Di Indonesia, prevalensi hepatitis B kronis masih berada pada kisaran 2,3 persen penduduk. Artinya, jutaan orang hidup dengan infeksi yang sebagian besar belum mereka sadari.
Persoalan terbesar hepatitis B bukan semata-mata banyaknya penderita, melainkan kenyataan bahwa sebagian besar orang tidak mengetahui dirinya telah terinfeksi. Mereka baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut, saat pilihan terapi menjadi semakin terbatas.
Yang lebih memprihatinkan, penularan hepatitis B di Indonesia masih banyak terjadi dari ibu kepada bayi saat proses persalinan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tanpa upaya pencegahan yang memadai, risiko penularan dapat mencapai 70 hingga 90 persen. Dengan kata lain, seorang bayi dapat memulai hidupnya dengan penyakit kronis yang sebenarnya dapat dicegah.
Pemerintah melalui Program Triple Eliminasi telah melakukan langkah penting dengan menyelenggarakan skrining hepatitis B pada ibu hamil. Program ini patut diapresiasi karena mampu membuka peluang pencegahan penularan kepada bayi.
Namun, jika tujuan akhirnya adalah memutus mata rantai penularan, saya meyakini ada satu langkah yang dapat dilakukan lebih awal.
Mengapa kita menunggu seorang perempuan hamil untuk mengetahui status hepatitis B-nya, jika kesempatan mengenalinya sudah ada jauh sebelum kehamilan terjadi?
Pertanyaan inilah yang membawa saya pada satu gagasan sederhana.
Kursus pra nikah.
Selama ini, kursus pra nikah lebih banyak dipandang sebagai bagian dari persiapan kehidupan rumah tangga, kesehatan reproduksi, atau pemenuhan administrasi perkawinan. Semua itu tentu penting.
Tetapi forum tersebut sesungguhnya juga merupakan momentum yang sangat baik untuk memperkenalkan deteksi dini hepatitis B kepada calon pasangan suami istri.
Sebelum membangun keluarga, mereka memiliki kesempatan mengenal kondisi kesehatannya sendiri. Dengan demikian, mereka dapat merencanakan kehamilan secara lebih aman dan lebih bertanggung jawab.
Salah satu pendekatan yang layak dipertimbangkan adalah menawarkan donor darah sukarela sebagai bagian dari edukasi kesehatan dalam kursus pra nikah.
Perlu ditegaskan bahwa donor darah bukan merupakan alat diagnosis hepatitis B, apalagi pemeriksaan yang wajib dilakukan. Donor darah tetap harus bersifat sukarela dan mengikuti seluruh prinsip etik pelayanan transfusi darah.
Namun, setiap darah yang didonorkan memang akan menjalani skrining terhadap berbagai infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi, termasuk hepatitis B. Apabila hasil skrining menunjukkan temuan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan, pendonor dapat segera dirujuk untuk menjalani pemeriksaan konfirmasi dan memperoleh penanganan yang sesuai.
Dengan demikian, donor darah menghadirkan dua manfaat sekaligus: menyelamatkan kehidupan orang lain melalui ketersediaan darah, dan pada saat yang sama, dapat menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk lebih mengenal kondisi kesehatannya.
Manfaat berikutnya bahkan lebih luas.
Bagi pasangan yang merencanakan kehamilan, deteksi dini memungkinkan pemberian vaksinasi kepada pasangan yang belum terinfeksi, pemantauan kehamilan yang lebih baik, hingga terapi antivirus apabila memang diperlukan. Berbagai langkah tersebut telah terbukti mampu menurunkan risiko penularan hepatitis B dari ibu kepada bayi secara bermakna.
Di sisi lain, daerah juga memperoleh manfaat berupa meningkatnya ketersediaan stok darah.
Kabupaten Sikka, misalnya, masih membutuhkan ribuan kantong darah setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. Tidak jarang pasien dan keluarganya harus menunggu karena jumlah pendonor sukarela belum mencukupi.
Bayangkan apabila sebagian pasangan yang mengikuti kursus pra nikah dan memenuhi syarat kesehatan memilih menjadi pendonor sukarela.
Mungkin jumlahnya tidak langsung besar. Namun, setiap kantong darah selalu berarti bagi seseorang yang sedang berjuang mempertahankan hidup.
Yang terpenting, seluruh gagasan ini tidak dimaksudkan untuk menambah beban administrasi bagi calon pengantin.
Sebaliknya, pendekatan ini menawarkan cara yang lebih humanis. Calon pasangan tidak dipaksa. Mereka diajak memahami.
Mereka diberi kesempatan mengambil keputusan secara sadar demi kesehatan keluarganya sendiri.
Peringatan Hari Hepatitis Sedunia tahun ini mengangkat tema “Hepatitis: Let’s Break It Down!”, sebuah ajakan untuk menghilangkan berbagai hambatan dalam pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan hepatitis.
Menurut saya, salah satu hambatan terbesar justru adalah cara kita memandang pencegahan itu sendiri.
Selama ini kita cenderung mulai bertindak ketika kehamilan telah terjadi. Padahal, perlindungan terbaik sering kali dimulai jauh sebelum seorang bayi hadir di dunia.
Kita sering mengatakan bahwa anak adalah anugerah. Kalau demikian, bukankah anugerah itu layak kita lindungi bahkan sebelum ia dilahirkan?
Mengintegrasikan edukasi hepatitis B dengan tawaran donor darah sukarela dalam kursus pra nikah tentu bukan satu-satunya solusi. Namun, gagasan ini layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pencegahan yang lebih komprehensif.
Sebab pada akhirnya, memutus mata rantai hepatitis B tidak hanya dimulai di ruang bersalin.
Ia dimulai ketika dua orang memutuskan saling menjaga, bahkan sebelum mereka menjadi ayah dan ibu.»
OPINI
Diaspora Ngada–Maumere: Ketika Sepak Bola Menjadi Cara Lain Pulang Kampung

Oleh: Ando Roja Sola
Bagi sebagian orang, pulang kampung berarti kembali menjejakkan kaki di tanah kelahiran. Namun, bagi keluarga besar diaspora Ngada di Maumere, pulang kampung juga dapat terjadi di tribun stadion. Ketika bendera PSN Ngada berkibar, lagu Ja’i menggema, dan nama Bajawa disebut dengan bangga, jarak geografis seolah lenyap. Kerinduan menemukan rumahnya. Dalam momen seperti itulah, sepak bola tidak lagi sekadar pertandingan, melainkan ruang untuk merawat ingatan, identitas, dan kebudayaan.
Kedatangan PSN Ngada U-17 dan Citra Bakti Ngada U-17 pada ajang Soeratin Cup U-17 dan Pertiwi Cup 2026 di Kabupaten Sikka bukan hanya menjadi agenda olahraga. Peristiwa ini menjelma menjadi momentum kebudayaan yang membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat Ngada di perantauan. Kehadiran kedua tim menghadirkan kembali memori tentang tanah yang membesarkan mereka—tanah yang sejak lama dikenal memiliki denyut sepak bola yang begitu kuat.
Tidak berlebihan apabila banyak orang menyebut Ngada sebagai salah satu episentrum sepak bola di Nusa Tenggara Timur. Sebagaimana Brasil dikenal sebagai negeri yang melahirkan identitas sepak bola dunia, Ngada memiliki tradisi panjang dalam membangun karakter pemain melalui pembinaan, solidaritas, dan semangat komunitas. Di daerah ini, sepak bola tidak tumbuh hanya dari lapangan hijau, tetapi juga dari kampung-kampung, halaman sekolah, dan ruang-ruang kebersamaan yang membentuk watak para pemainnya.
Karena itu, sambutan hangat keluarga besar diaspora Ngada di Maumere terhadap PSN Ngada dan Citra Bakti Ngada tidak dapat dipahami sebagai euforia sesaat. Sambutan tersebut merupakan ekspresi kerinduan yang telah lama dipelihara. Mereka seolah berkata, “Kami lahir dari tanah yang merawat sepak bola. Kami mungkin tinggal jauh dari Bajawa, tetapi identitas itu tidak pernah meninggalkan kami.”
Di tengah kehidupan sebagai perantau, sepak bola menjadi ruang temu yang mempertemukan kembali bahasa, dialek, lagu, cerita, bahkan kenangan masa kecil. Di tribun stadion, orang-orang saling menyapa dengan logat Bajawa, menyanyikan lagu Ja’i, dan mengenang kampung halaman. Stadion berubah menjadi rumah kedua; tempat identitas dirayakan bersama.
Bagi orang Ngada, sepak bola memang tidak pernah sekadar permainan. Ia adalah budaya. Ia adalah cara masyarakat membangun solidaritas, menanamkan disiplin, menghargai kerja sama, dan menjaga harga diri. Tidak mengherankan jika setiap pertandingan lokal selalu dipenuhi masyarakat yang datang bukan hanya untuk mencari hiburan, melainkan untuk merawat rasa memiliki terhadap komunitasnya.
Coach Kletus Gabhe pernah mengatakan bahwa kekuatan terbesar PSN Ngada bukan semata-mata kualitas teknik pemainnya, melainkan kultur kebersamaan yang diwariskan masyarakat Bajawa. Pernyataan itu menjelaskan mengapa PSN Ngada selalu tampil dengan karakter yang khas. Dalam falsafah adat Ngada dikenal ungkapan su’u papa suru, sa’a papa laka—berat dipikul bersama, ringan dijinjing bersama. Nilai inilah yang menjadi roh permainan PSN Ngada: solidaritas yang melampaui kepentingan individu.

Budaya tersebut tampak pula dalam perjalanan PSN Ngada U-17. Tim ini bukan hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses pembinaan yang panjang. Gelar juara Soeratin Cup U-17 NTT tahun 2022, kemudian keberhasilan mempertahankan gelar pada tahun 2023, membuktikan bahwa prestasi bukanlah hasil keberuntungan. Prestasi tersebut merupakan buah dari sistem pembinaan, pendidikan karakter, dan konsistensi yang terus dijaga.
Kini, ketika PSN Ngada kembali hadir di Soeratin Cup U-17 tahun 2026 di Kabupaten Sikka, mereka membawa lebih dari sekadar ambisi meraih kemenangan. Mereka membawa nama baik daerah, harapan masyarakat, serta warisan budaya yang telah dibangun selama puluhan tahun. Setiap pertandingan bukan hanya tentang mencetak gol, melainkan juga tentang menunjukkan karakter, sportivitas, dan martabat orang Ngada.
Di sinilah makna terdalam sepak bola bagi diaspora Ngada. Mendukung PSN Ngada bukan sekadar memberi semangat kepada sebuah tim. Itu adalah cara merawat hubungan emosional dengan kampung halaman. Sorak-sorai di tribun menjadi bahasa kerinduan. Tepuk tangan menjadi ungkapan cinta kepada tanah kelahiran. Bahkan, sembilan puluh menit pertandingan mampu menghadirkan kembali rasa pulang yang selama ini hanya hidup dalam ingatan.
Di tengah arus modernisasi yang perlahan mengikis ikatan komunal, sepak bola justru menghadirkan ruang untuk mempertahankan identitas budaya. Ia mempertemukan generasi tua dengan generasi muda, memperkenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan, dan mengingatkan bahwa menjadi orang Ngada bukan sekadar soal tempat lahir, melainkan juga soal nilai yang terus diwariskan.
Karena itu, kehadiran PSN Ngada dan Citra Bakti Ngada di Maumere bukan hanya menjadi kabar gembira bagi pecinta sepak bola. Ia adalah peristiwa kebudayaan. Sebuah undangan untuk pulang—meski hanya melalui tribun stadion.
Pada akhirnya, rumah tidak selalu berupa bangunan yang berdiri di kampung halaman. Kadang-kadang, rumah adalah sekelompok orang yang menyanyikan lagu yang sama, mengenakan warna kebanggaan yang sama, dan menyimpan kerinduan yang sama. Bagi keluarga besar diaspora Ngada di Maumere, rumah itu bernama PSN Ngada.
Maka, selama peluit pertandingan masih berbunyi, selama bendera PSN Ngada masih berkibar, dan selama lagu Ja’i masih menggema di tribun, pulang kampung akan selalu mungkin terjadi. Sebab bagi orang Ngada, merayakan sepak bola bukan hanya mendukung sebuah tim—melainkan merawat identitas, menjaga kebudayaan, dan menemukan kembali jalan pulang.»
OPINI
Hari Anak Nasional: Yang Sesungguhnya Sedang Diuji Adalah Orang Dewasa

Oleh: Stefanus Bajo, S.Sos
Setiap tanggal 23 Juli, kita merayakan Hari Anak Nasional. Anak-anak diajak mengikuti lomba, pentas seni, atau menerima hadiah. Media sosial dipenuhi ucapan selamat. Spanduk dan baliho mengingatkan bahwa anak adalah masa depan bangsa.
Semua itu tentu baik. Namun setiap kali Hari Anak Nasional tiba, saya justru merasa ada satu pertanyaan yang sering terlupakan. Apakah hari ini sebenarnya milik anak-anak? Atau jangan-jangan, hari ini justru menjadi hari ujian bagi orang dewasa?
Sebab anak-anak tidak pernah meminta dilahirkan. Kitalah yang menghadirkan mereka ke dunia. Mereka tidak memilih lahir di keluarga yang kaya atau miskin. Mereka tidak memilih sekolahnya. Mereka tidak memilih lingkungan tempat mereka bertumbuh. Semua keputusan itu dibuat oleh orang-orang dewasa.
Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan anak, sesungguhnya yang sedang kita bicarakan adalah kualitas orang dewasa yang mengelilingi mereka hari ini.
Anak-anak tidak pernah gagal menjadi anak.
Merekalah yang berlari ketika melihat lapangan kosong, tertawa tanpa alasan yang rumit, dan masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik. Yang sering kali gagal justru kita, orang-orang dewasa, ketika lupa menyediakan dunia yang aman untuk mereka.
Kasih sayang memang menjadi awal dari segalanya. Namun kasih sayang saja tidak cukup.
Kasih sayang yang tidak berubah menjadi perlindungan sering kali hanya berhenti sebagai perasaan.
Seorang anak mungkin mendapatkan pelukan sebelum berangkat sekolah. Tetapi apakah ia juga memperoleh perlindungan dari perundungan? Seorang anak mungkin diberi telepon pintar agar tidak merasa kesepian di rumah. Tetapi apakah ia juga didampingi ketika menjelajahi dunia digital yang penuh risiko? Seorang anak mungkin menerima uang jajan setiap pagi. Tetapi apakah ia juga menerima waktu untuk didengar ketika pulang ke rumah?
Di situlah kasih sayang menemukan makna yang sesungguhnya.
Ia bukan hanya soal memberi. Ia juga soal hadir.
Hari Anak Nasional mengingatkan kita bahwa ancaman terhadap anak hari ini tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Kekerasan terhadap anak masih terjadi. Perundungan hadir bukan hanya di halaman sekolah, tetapi juga di layar telepon genggam. Pernikahan usia dini masih merampas masa kanak-kanak. Sebagian anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah, sementara yang lain tumbuh tanpa pendampingan karena orang-orang dewasa terlalu sibuk mengejar kehidupan.
Ironisnya, kita sering lebih cepat membeli telepon pintar untuk anak daripada menyediakan waktu tiga puluh menit untuk mendengar cerita mereka.
Padahal, tidak ada aplikasi yang mampu menggantikan kehadiran seorang ayah.
Tidak ada media sosial yang dapat menggantikan pelukan seorang ibu.
Tidak ada kecerdasan buatan yang dapat menggantikan keteladanan orang tua.
Karena itulah keluarga tetap menjadi sekolah pertama yang tidak pernah bisa digantikan oleh institusi mana pun.
Namun keluarga tidak dapat berjalan sendiri.
Sekolah memiliki tanggung jawab membangun ruang belajar yang aman. Pemerintah berkewajiban memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan, kesehatan, dan perlindungan. Tokoh agama, tokoh adat, media, organisasi masyarakat, hingga tetangga di sekitar rumah memiliki peran yang sama pentingnya. Membesarkan anak sesungguhnya adalah pekerjaan seluruh peradaban.
Di Kabupaten Sikka, komitmen untuk melindungi anak harus terus diperkuat, bukan hanya melalui regulasi, tetapi juga melalui budaya. Sebab lingkungan yang ramah anak tidak dibangun oleh papan nama atau piagam penghargaan. Ia lahir dari kebiasaan orang-orang dewasa yang memilih mendengar sebelum memarahi, membimbing sebelum menghukum, dan melindungi sebelum menyalahkan.
Kita sering mengatakan bahwa anak adalah investasi masa depan. Kalimat itu benar. Tetapi investasi tidak pernah bertumbuh hanya dengan harapan. Ia membutuhkan waktu, perhatian, disiplin, dan komitmen yang dijaga setiap hari.
Karena itu, Hari Anak Nasional bukanlah sekadar hari untuk mengucapkan, “Selamat Hari Anak.”
Hari ini seharusnya menjadi hari ketika setiap orang dewasa bertanya kepada dirinya sendiri.
Sudahkah saya menjadi ayah yang hadir? Sudahkah saya menjadi ibu yang mendengar? Sudahkah saya menjadi guru yang menguatkan?
Sudahkah saya menjadi pemimpin yang membuat kebijakan berpihak kepada anak?
Sudahkah saya menjadi tetangga yang peduli ketika melihat seorang anak membutuhkan pertolongan?
Sebab pada akhirnya, anak-anak tidak membutuhkan pidato yang lebih panjang setiap tanggal 23 Juli.
Mereka membutuhkan rumah yang aman. Sekolah yang ramah. Lingkungan yang melindungi.
Dan orang-orang dewasa yang tidak hanya mengatakan bahwa mereka mencintai anak-anak, tetapi membuktikannya dalam tindakan setiap hari.
Karena sesungguhnya, Hari Anak Nasional bukanlah hari ketika kita menguji anak-anak.
Hari Anak Nasional adalah hari ketika orang dewasa bercermin.»
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA12 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM12 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
