Connect with us

HUMANIORA

Rumah Milik Julius Golfredo Terbakar, Kerugian Capai Rp 400 Juta

Published

on

Maumere, GardaFlores – Rumah milik Julius Golfredo (31) yang terletak di Jalan Baru, RT 002, RW 003, Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka terbakar pada Kamis (26/12/2024) sekitar pukul 14.30 WITA. Rumah yang berlokasi di samping Gereja Thomas Morus ini terbakar habis, menyebabkan kerugian material yang diperkirakan mencapai Rp 400 juta.

Menurut keterangan saksi, Hengki Seda (57), yang tinggal di sekitar lokasi kejadian, kebakaran tersebut pertama kali terlihat pada pukul 14.15 WITA. Warga setempat melaporkan melihat asap yang membumbung tinggi, disertai api besar yang menyala di dalam rumah Julius. Melihat kejadian tersebut, warga langsung mengambil langkah cepat dengan mengamankan kendaraan milik Julius yang sedang terparkir di sekitar lokasi.

Baca juga:
Lakalantas di Jalan Maumere-Larantuka, Bocah 7 Tahun Jadi Korban

Pada saat kejadian, Julius Golfredo tidak berada di rumah. Pemilik rumah baru mengetahui kebakaran tersebut setelah menerima telepon dari tetangganya. Dugaan sementara, kebakaran disebabkan oleh korsleting arus listrik.

Upaya pemadaman dimulai sekitar pukul 14.50 WITA dan berlangsung hingga 16.30 WITA. Berkat kerja sama warga, petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Sikka, dan anggota Polres Sikka, api akhirnya berhasil dipadamkan.

Bangunan rumah yang terbakar memiliki ukuran 9 x 15 meter persegi. Seluruh harta benda, termasuk barang berharga dan dokumen penting milik korban ludes terbakar.»

(rel)

HUMANIORA

Pengungsi Watuliwung Masih Bertahan, PDI Perjuangan Salurkan Bantuan Kebutuhan Dasar

Pengungsi Watuliwung, Sikka, masih bertahan setelah gempa Flores. PDI Perjuangan menyalurkan beras, telur ayam, popok bayi dan pembalut untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

Published

on

Bantuan diserahkan Lusia Adinda Lebu Raya dan Emanuel Kolfidus, didampingi Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, Tesa Nurak.

MAUMERE, GardaFlores — Sejumlah warga terdampak gempa bumi tektonik di Kampung Watuliwung, Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, masih bertahan di lokasi pengungsian. Di tengah kondisi tersebut, PDI Perjuangan menyalurkan bantuan kebutuhan dasar kepada warga, Senin (24/8/2026) malam.

Bantuan diserahkan Lusia Adinda Lebu Raya dan Emanuel Kolfidus, didampingi Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, Tesa Nurak.

Logistik yang disalurkan terdiri atas beras, telur ayam, popok bayi dan pembalut. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan pangan sekaligus perlengkapan yang diperlukan kelompok rentan, khususnya bayi dan perempuan di lokasi pengungsian.

Penyaluran dilakukan ketika sebagian warga masih belum kembali ke rumah setelah gempa mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Selama warga masih berada di pengungsian, kebutuhan dasar harus tetap dipenuhi secara berkelanjutan.

Selain kebutuhan logistik, PDI Perjuangan juga menyoroti penanganan kesehatan korban gempa. Emanuel Kolfidus mengatakan korban yang mengalami luka berat membutuhkan pelayanan medis secara cepat dan maksimal.

Gempa Flores: Korban Tewas Tembus 100, 180.327 Warga Masih Mengungsi

“Salah satu prioritas utama saat ini adalah aspek kesehatan. Saudara-saudara kita yang mengalami luka berat harus mendapatkan pengobatan terbaik dan ditangani secara cepat,” kata Emanuel.

Ia meminta otoritas yang menangani bencana memastikan ketersediaan peralatan medis serta mengerahkan dokter dan tenaga kesehatan dalam jumlah yang memadai.

“Peralatan medis terbaik harus dikerahkan, begitu juga dokter dan tenaga kesehatan yang cukup agar saudara-saudara kita yang mengalami luka berat segera mendapatkan penanganan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan warga terdampak tidak berhenti pada bantuan pangan. Korban yang mengalami luka juga membutuhkan pelayanan kesehatan yang mampu menjangkau mereka secara cepat, terutama ketika sebagian warga masih berada dalam kondisi pengungsian.

Bantuan popok bayi dan pembalut juga memperlihatkan pentingnya pendataan kebutuhan berdasarkan kelompok penerima. Paket bantuan untuk pengungsi tidak selalu dapat diseragamkan karena bayi, perempuan, lansia, penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya memiliki kebutuhan yang berbeda.

Di Tengah Pengungsian, Naufal Menunggu Kepastian Pengobatan

Karena itu, distribusi bantuan perlu berjalan beriringan dengan pemutakhiran data pengungsi dan pemetaan kebutuhan di setiap lokasi. Langkah tersebut penting agar bantuan tidak hanya tersedia, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan warga yang menerimanya.

Bagi warga Watuliwung, bantuan yang disalurkan pada Senin malam itu menjadi bagian dari dukungan selama mereka masih bertahan di pengungsian. Namun, kebutuhan mereka tidak berhenti pada satu kali distribusi.

Selama warga belum dapat kembali secara aman ke rumah masing-masing, pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan dan perlindungan kelompok rentan tetap menjadi bagian dari penanganan yang harus dijaga.

Respons terhadap bencana pada akhirnya bukan hanya soal seberapa cepat bantuan tiba, tetapi juga bagaimana kebutuhan warga dipantau dan dipenuhi selama proses pemulihan berlangsung.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Di Tengah Pengungsian, Naufal Menunggu Kepastian Pengobatan

Naufal Aldani, anak tiga tahun asal Nangahale, Sikka, mengalami kesulitan buang air besar sejak lahir. Di tengah pengungsian akibat gempa, keluarganya berharap mendapat pemeriksaan dan kepastian pengobatan.

Published

on

Persoalan Naufal berlangsung jauh sebelum gempa bumi mengguncang Flores. Namun, kondisi pengungsian membuat kebutuhan kesehatan keluarga menjadi semakin kompleks.

MAUMERE, GardaFlores — Naufal Aldani baru berusia tiga tahun. Sejak lahir, anak asal Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, itu mengalami kesulitan buang air besar dan hingga kini belum memperoleh kepastian mengenai kondisi medis yang dialaminya.

Persoalan kesehatan Naufal kembali mendapat perhatian ketika Ketua TP PKK Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena atau Asti Laka Lena, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, mengunjungi Posko Pengungsian Desa Nangahale, Minggu (23/8/2026).

Saat itu, Naufal berada dalam pelukan ibunya, Aida Abdullah. Kepada Asti dan Fista, keluarga menyampaikan kondisi kesehatan Naufal sekaligus harapan agar anak tersebut mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.

Menurut keterangan keluarga, Naufal mengalami kesulitan berat untuk buang air besar. Untuk membantu proses tersebut, keluarga menyebut harus menggunakan alat bantu melalui lubang anus.

Keluarga juga menyebut Naufal pernah mengalami kondisi yang berkaitan dengan Hirschsprung dan dugaan atresia ani. Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan sebagai diagnosis medis tanpa pemeriksaan dokter.

Selama tiga tahun, kondisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan Naufal dan keluarganya. Kini, persoalan kesehatan itu harus dijalani bersamaan dengan situasi pengungsian setelah gempa bumi mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Gempa Flores: Korban Tewas Tembus 100, 180.327 Warga Masih Mengungsi

Keluarga Menunggu Pemeriksaan

Aida berharap anaknya dapat memperoleh pemeriksaan medis untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menentukan penanganan yang dibutuhkan.

Harapan keluarga juga mencakup kemungkinan tindakan operasi apabila hasil pemeriksaan dokter menyatakan tindakan tersebut diperlukan.

Kepastian medis menjadi tahap pertama yang penting. Tanpa pemeriksaan dan diagnosis yang jelas, belum dapat ditentukan jenis gangguan yang dialami Naufal maupun bentuk penanganan yang paling tepat.

Bagi keluarga, persoalan tersebut semakin berat karena kondisi ekonomi mereka terbatas. Situasi pengungsian juga menambah keterbatasan keluarga dalam mengakses layanan yang dibutuhkan Naufal.

Perhatian dari Posko Pengungsian

Kondisi Naufal diketahui ketika Asti dan Fista mengunjungi warga terdampak gempa di Nangahale.

Setelah mendengar kondisi anak tersebut, Asti meminta Kepala Desa Nangahale untuk mengetahui lebih lanjut keadaan Naufal dan keluarganya.

Fista juga menyampaikan komitmen untuk berkoordinasi dengan warga serta pihak terkait guna mencari solusi bagi penanganan Naufal. Ia meminta nomor telepon keluarga agar komunikasi mengenai kondisi anak tersebut dapat dilakukan lebih lanjut.

Perhatian tersebut menjadi langkah awal untuk membuka kembali akses penanganan bagi Naufal.

Namun, tindak lanjut medis tetap menjadi bagian penting dari proses berikutnya. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan kondisi Naufal, menentukan fasilitas kesehatan yang sesuai, serta menyusun langkah penanganan berdasarkan kebutuhan medisnya.

Bunda Asti dan Bunda Fista Dampingi Anak-Anak Pengungsi di Posko Wailiti

Bencana Menambah Beban Keluarga

Persoalan Naufal berlangsung jauh sebelum gempa bumi mengguncang Flores. Namun, kondisi pengungsian membuat kebutuhan kesehatan keluarga menjadi semakin kompleks.

Di lokasi pengungsian, keluarga tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan pangan, air bersih dan tempat tinggal sementara, tetapi juga harus menjaga anggota keluarga yang memiliki kebutuhan kesehatan khusus.

Situasi seperti itu menunjukkan bahwa penanganan korban bencana tidak selalu berhenti pada mereka yang mengalami luka akibat gempa.

Sebagian warga terdampak telah membawa persoalan kesehatan sejak sebelum bencana dan tetap membutuhkan pelayanan medis selama masa tanggap darurat.

Karena itu, kasus Naufal membutuhkan penanganan berdasarkan kondisi medisnya, bukan semata-mata sebagai bagian dari data pengungsi terdampak gempa.

Menunggu Kepastian, Bukan Sekadar Perhatian

Kunjungan pejabat ke posko dapat membuka perhatian terhadap persoalan yang sebelumnya belum terlihat. Namun bagi keluarga Naufal, tahap berikutnya jauh lebih penting: memastikan perhatian tersebut berlanjut menjadi pemeriksaan dan penanganan medis.

Keluarga berharap Naufal dapat diperiksa secara menyeluruh, memperoleh diagnosis yang pasti, dan mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan.

Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi

Jika dokter menyatakan tindakan operasi diperlukan, keluarga juga berharap tersedia akses untuk mendapatkan tindakan tersebut.

Sejauh informasi yang tersedia, belum ada keterangan medis yang memastikan diagnosis Naufal maupun keputusan mengenai tindakan operasi. Karena itu, penanganan selanjutnya harus didasarkan pada hasil pemeriksaan tenaga medis.

Di tengah situasi bencana, kebutuhan Naufal mengingatkan bahwa pemulihan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan rumah yang rusak dan kebutuhan logistik. Ada warga yang membawa persoalan kesehatan sejak sebelum bencana dan membutuhkan negara serta layanan kesehatan untuk memastikan mereka tetap mendapatkan penanganan.

Bagi Naufal dan keluarganya, harapan itu kini sederhana: ada pemeriksaan, ada kepastian diagnosis, dan ada jalan menuju pengobatan.

Tiga tahun telah berlalu sejak persoalan kesehatan itu menyertai kehidupannya. Kini keluarga menunggu agar perhatian yang muncul di tengah pengungsian berlanjut menjadi tindakan medis yang nyata.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Gempa Flores: Korban Tewas Tembus 100, 180.327 Warga Masih Mengungsi

BNPB mencatat korban meninggal akibat gempa Flores mencapai 100 orang hingga Senin, 24 Agustus 2026. Sebanyak 1.603 orang luka-luka dan 180.327 warga masih mengungsi.

Published

on

“Yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan,” kata Suharyanto dalam konferensi pers, Senin (24/8/2026). FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Korban meninggal akibat gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencapai 100 orang hingga Senin (24/8/2026). BNPB juga mencatat 1.603 orang luka-luka dan 180.327 warga masih mengungsi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, jumlah korban meninggal bertambah setelah sejumlah warga yang sebelumnya mengalami luka berat tidak berhasil diselamatkan meski telah mendapat perawatan di fasilitas kesehatan.

“Yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan,” kata Suharyanto dalam konferensi pers, Senin (24/8/2026).

Menurut Suharyanto, pada hari pertama dan kedua pascagempa tercatat 48 orang meninggal dunia. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 100 orang.

Selain korban jiwa, BNPB mencatat 73.818 rumah mengalami kerusakan. Rinciannya, 23.276 rumah rusak berat, 17.563 rusak sedang, dan 32.979 rusak ringan.

Bupati Sikka Desak Percepatan Pemulihan, Menteri PU Tindaklanjuti Infrastruktur Rusak

Kerusakan tersebut menyebabkan sebagian warga kehilangan tempat tinggal. Sebagian lainnya memilih tetap berada di pengungsian meskipun rumah mereka tidak mengalami kerusakan atau hanya mengalami kerusakan ringan karena masih khawatir terhadap gempa susulan.

BNPB juga mencatat 1.915 fasilitas umum terdampak gempa, termasuk sekolah, rumah ibadah, kantor pemerintahan dan fasilitas publik lainnya.

6.409 Gempa Susulan

Aktivitas gempa susulan masih menjadi salah satu faktor yang membuat warga belum kembali ke rumah.

Berdasarkan laporan BMKG hingga Senin pagi, tercatat 6.409 gempa susulan. Gempa terbesar mencapai magnitudo 6,2 dan yang terkecil magnitudo 1,1.

Dari jumlah tersebut, 33 gempa memiliki magnitudo 5 atau lebih, sedangkan 139 gempa dirasakan oleh masyarakat.

“Ini mengakibatkan sampai hari ke-8 terjadinya gempa Flores ini, masyarakat masih banyak yang takut, sehingga tetap mengungsi di luar rumah, meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak atau rusak ringan,” ujar Suharyanto.

Komunitas Wadju Galang Rp20 Juta, Salurkan 175 Paket Logistik ke Tiga Titik Pengungsian Ngada

BNPB menyebut aktivitas gempa dalam dua hari terakhir mulai menurun. Dalam 24 jam terakhir, tercatat satu gempa yang dirasakan masyarakat.

Namun, BMKG masih memperkirakan gempa susulan dapat berlangsung hingga tiga sampai empat minggu ke depan sebelum kondisi semakin stabil.

Pendataan Masih Berjalan

BNPB menegaskan data korban dan kerusakan masih bersifat sementara. Pendataan terus dilakukan untuk memastikan korban, kerusakan rumah, fasilitas umum serta kebutuhan masyarakat terdampak tercatat secara akurat.

Pendataan dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kampung, RT, desa, kecamatan hingga kabupaten sebelum dihimpun menjadi data nasional.

Dengan 100 korban meninggal, 1.603 orang luka-luka, 180.327 warga mengungsi dan 73.818 rumah rusak, penanganan gempa Flores masih menghadapi kebutuhan besar, baik dalam masa tanggap darurat maupun tahap pemulihan.

Pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, penanganan warga yang mengalami luka, pendataan kerusakan serta pemulihan rumah dan fasilitas umum menjadi bagian dari pekerjaan yang masih harus dilakukan setelah fase awal bencana berlalu.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending