OPINI
Guru: Pilar Peradaban, Lentera Kehidupan

Oleh Stefanus Bajo, S.Sos
Cahaya yang Menuntun
Ketika pagi merekah dan lonceng sekolah berdentang, langkah seorang guru memulai perjalanan harian yang sederhana, namun penuh makna. Ia berjalan memasuki kelas, bukan hanya membawa buku dan spidol, melainkan harapan bagi masa depan bangsanya. Dari tangannya, huruf-huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan kalimat itu menjelma menjadi pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan.
Guru adalah pilar peradaban, sebab dari merekalah manusia belajar berpikir, merasakan, dan bertindak dengan hati nurani. Mereka adalah lentera kehidupan, karena cahaya kasih dan pengabdian mereka menerangi jalan banyak orang yang sedang mencari arah dalam hidup.
Namun, di tengah gegap gempita zaman modern, peran guru sering kali redup dalam sorotan publik. Di zaman ini ketika teknologi begitu diagungkan, profesi guru kerap dipandang sebagai rutinitas administratif yang kehilangan sentuhan kemanusiaan. Padahal, jika dunia ini diibaratkan sebuah rumah besar bernama peradaban, maka guru adalah tiang yang menopangnya agar tidak roboh.
Makna yang Tak Tergantikan
Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi perjalanan menumbuhkan manusia seutuhnya. Dalam setiap pelajaran yang disampaikan, terselip nilai-nilai moral, empati, disiplin, dan rasa tanggung jawab. Hal-hal itu tak bisa diajarkan oleh mesin pencari atau aplikasi pembelajaran daring.
Kecerdasan buatan mungkin mampu menjawab semua soal, tetapi hanya seorang guru yang mampu menyalakan hati. Di sanalah letak perbedaan mendasar antara teknologi dan kemanusiaan. Guru tidak hanya mendidik akal, tetapi juga membentuk watak dan kepribadian.
Kita bisa belajar banyak dari kisah-kisah kecil para guru di pelosok negeri. Ada yang mengajar di bawah pohon rindang karena ruang kelas belum berdiri. Ada yang berjalan berkilo-kilometer melewati bukit dan sungai agar anak-anak bisa membaca. Ada pula yang mengajar dengan kapur dan papan tulis lusuh, namun dengan semangat yang tak pernah padam.
Mereka adalah wajah sejati pendidikan — bukan karena mereka sempurna, melainkan karena mereka setia. Kesetiaan untuk hadir, mengajar, dan menyalakan cahaya di tengah keterbatasan.
Tantangan di Zaman Digital
Kehadiran teknologi seharusnya menjadi sahabat, bukan ancaman. Namun faktanya, arus digital sering menggeser makna hakiki pendidikan. Banyak siswa kini lebih mengenal layar daripada wajah gurunya; lebih fasih berbicara lewat pesan instan daripada berdialog langsung.
Di sisi lain, guru menghadapi tekanan baru: tuntutan administrasi yang menumpuk, kurikulum yang sering berganti, serta ekspektasi masyarakat yang kadang berlebihan. Dalam kondisi seperti itu, mudah bagi seorang guru untuk merasa lelah dan kehilangan semangat.
Tetapi justru di situlah nilai reflektif profesi ini diuji. Guru sejati tidak berhenti pada rasa lelah, sebab mereka tahu bahwa mengajar adalah panggilan hidup, bukan sekadar pekerjaan.
Menjadi guru berarti berdiri di tengah perubahan, menjaga agar nilai-nilai kemanusiaan tidak larut dalam gelombang teknologi. Menjadi guru berarti terus belajar, beradaptasi, dan berjuang agar pendidikan tidak kehilangan rohnya: membentuk manusia yang beradab.
Guru dan Cermin Peradaban
Jika ingin melihat kualitas sebuah bangsa, lihatlah bagaimana bangsa itu memperlakukan gurunya. Negara-negara maju bukan hanya memiliki sistem pendidikan yang baik, tetapi juga penghargaan yang tinggi terhadap pendidik. Mereka tahu bahwa guru bukan sekadar pekerja pendidikan, tetapi arsitek masa depan.
Sayangnya, di banyak tempat, guru masih bergulat dengan keterbatasan: gaji yang belum layak, fasilitas yang minim, hingga tekanan sosial yang tidak proporsional. Padahal, di pundak mereka tertanggung masa depan jutaan anak bangsa.
Meski begitu, banyak guru tetap mengajar dengan hati. Mereka tahu, ilmu yang mereka tanamkan hari ini mungkin tak langsung tampak hasilnya, tapi kelak akan tumbuh dalam diri murid-murid yang menjadi manusia berguna. Itulah pekerjaan paling sunyi sekaligus paling agung: membangun manusia.
Guru sejati tidak mengharapkan penghargaan duniawi. Mereka tahu, kemuliaan itu lahir bukan dari tepuk tangan, tetapi dari hati murid yang suatu hari berbisik dalam diam, “Aku bisa sampai di sini karena guruku.”
Menyalakan Lentera
Setiap generasi membutuhkan lentera yang menuntun arah. Dalam kegelapan kebingungan moral, dalam hiruk pikuk media sosial yang sering menyesatkan nilai, guru hadir sebagai pelita kecil yang memberi terang. Mereka menunjukkan bahwa menjadi manusia tidak cukup hanya pintar, tetapi juga harus baik.
Di ruang kelas yang sederhana, guru menanamkan nilai-nilai yang menjadi fondasi hidup: menghormati sesama, mencintai kebenaran, dan bertanggung jawab atas setiap pilihan. Mereka mengajarkan kejujuran bukan melalui ceramah, tetapi melalui keteladanan. Mereka menunjukkan arti kerja keras bukan lewat teori, tetapi lewat ketekunan hadir setiap hari, meski dalam serba kekurangan.
Itulah mengapa guru disebut “lentera kehidupan.” Karena cahaya mereka tak hanya menerangi murid, tetapi juga diri mereka sendiri agar tidak tersesat oleh rutinitas. Lentera itu mungkin kecil, tapi cukup untuk mengubah jalan hidup seseorang.
Refleksi atas Pengabdian
Menjadi guru adalah menjadi bagian dari kisah panjang peradaban manusia. Dari masa ke masa, guru selalu hadir di balik setiap kemajuan. Di balik ilmuwan besar, ada guru yang menanamkan rasa ingin tahu. Di balik pemimpin bijak, ada guru yang menanamkan nilai-nilai keadilan.
Namun, dalam kesunyian profesinya, guru sering kali harus menghadapi dilema: antara idealisme dan kenyataan, antara cita-cita dan keterbatasan. Tak sedikit yang menyerah di tengah jalan, merasa perjuangannya sia-sia. Padahal, pendidikan sejati tidak pernah sia-sia.
Setiap kata yang diucapkan guru, setiap bimbingan yang diberikan, akan selalu meninggalkan jejak di hati murid. Mungkin tidak hari ini, mungkin tidak besok, tetapi suatu saat murid itu akan mengingat — dan dari sanalah cahaya itu akan menyala kembali.
Guru sejati tidak hanya hidup dalam ruang kelas; ia hidup dalam hati muridnya.
Menjaga Api yang Menyala
Guru juga manusia. Mereka lelah, mereka bisa salah, dan mereka pun membutuhkan dukungan. Karena itu, masyarakat harus berhenti menempatkan guru hanya sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” tanpa memberikan dukungan nyata.
Penghormatan sejati kepada guru bukan hanya dalam bentuk upacara atau pujian, melainkan dalam kebijakan yang memanusiakan mereka: kesejahteraan yang layak, pelatihan yang relevan, dan kepercayaan untuk berkreasi dalam mengajar.
Ketika seorang guru merasa dihargai, maka semangatnya akan berlipat. Dan ketika semangat itu menyala, ia akan memancarkan cahaya kepada murid-muridnya. Api kecil itu, bila dirawat dengan cinta dan tanggung jawab, akan menjadi terang yang menerangi peradaban.
Terang yang Abadi
Pada akhirnya, guru bukan hanya bagian dari sistem pendidikan — mereka adalah penjaga peradaban. Dunia boleh berubah, teknologi boleh mengguncang, tetapi nilai-nilai kemanusiaan yang ditanamkan guru akan selalu relevan.
Guru tidak akan pernah digantikan oleh robot, sebab mereka tidak hanya mengajar dengan pikiran, tetapi dengan hati dan jiwa. Dari mereka, kita belajar bukan hanya apa yang benar, tetapi mengapa harus benar; bukan hanya bagaimana berpikir, tetapi juga bagaimana berperasaan.
Mereka adalah pelita kecil di tengah malam peradaban, yang terus menyala meski sering diabaikan. Dari pelita itu lahir harapan, keyakinan, dan masa depan.
Selama masih ada guru yang mengajar dengan cinta, bangsa ini akan tetap memiliki arah. Selama masih ada guru yang berdoa untuk murid-muridnya, peradaban akan tetap memiliki cahaya.
Karena pada akhirnya, guru bukan hanya sosok di depan kelas, tetapi roh kehidupan itu sendiri — yang menyalakan lentera bagi umat manusia agar tetap berjalan menuju terang. Selamat Hari Guru!»
OPINI
Kebersihan Lingkungan: Halaman Rumahku, Halaman Rumahmu, Wajah Kota Maumere

Oleh: Stefanus Bajo, S.Sos
Kota Maumere adalah rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh masyarakat. Keindahan kota ini tidak hanya terlihat dari lautnya yang indah, alamnya yang mempesona, atau budaya masyarakatnya yang kaya, tetapi juga dari kebersihan lingkungannya. Kota yang bersih mencerminkan masyarakat yang sadar, disiplin, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Karena itu, gerakan Jumat Bersih yang hingga saat ini terus digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten Sikka merupakan langkah yang sangat penting dan patut didukung oleh seluruh masyarakat. Program ini bukan sekadar kegiatan membersihkan sampah setiap hari Jumat, tetapi merupakan upaya membangun budaya hidup bersih dan menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Melalui Jumat Bersih, masyarakat diajak untuk kembali menyadari bahwa kebersihan lingkungan dimulai dari tempat yang paling dekat dengan kita, yakni halaman rumah sendiri. Halaman rumahku dan halaman rumahmu akan menentukan wajah Kota Maumere secara keseluruhan. Jika setiap warga membersihkan halaman rumahnya, menjaga selokan, dan tidak membuang sampah sembarangan, maka kota ini akan menjadi lebih sehat, nyaman, dan indah.
Selama ini persoalan sampah masih menjadi tantangan di beberapa wilayah Kota Maumere. Sampah plastik di pinggir jalan, saluran air yang tersumbat, hingga limbah rumah tangga yang dibuang sembarangan masih sering ditemukan. Ketika musim hujan datang, persoalan ini dapat memicu genangan air, bau tidak sedap, bahkan penyakit. Oleh sebab itu, Jumat Bersih harus dipahami bukan hanya sebagai kegiatan rutin, tetapi sebagai gerakan moral dan sosial untuk mengubah pola pikir masyarakat.
Hardiknas di Bola Soroti Literasi, Akurasi Data Pendidikan, dan Perlindungan Siswa
Gerakan Jumat Bersih juga menghidupkan kembali budaya gotong royong yang sejak dahulu menjadi kekuatan masyarakat Kabupaten Sikka. Dahulu masyarakat terbiasa bekerja bersama membersihkan kampung, memperbaiki jalan, dan menjaga fasilitas umum tanpa harus menunggu perintah. Nilai kebersamaan seperti inilah yang perlu terus dirawat di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.
Pemerintah tentu tidak dapat bekerja sendiri. Petugas kebersihan memiliki keterbatasan, sementara luas wilayah dan jumlah penduduk terus bertambah. Karena itu, keberhasilan menjaga kebersihan kota sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Sekolah, kantor, pasar, rumah ibadah, komunitas pemuda, dan seluruh warga perlu mengambil bagian dalam gerakan ini.
Kebersihan lingkungan juga berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat. Lingkungan yang bersih membantu mencegah penyakit seperti demam berdarah, diare, dan berbagai infeksi lainnya. Selain itu, kota yang bersih juga memberi kenyamanan bagi masyarakat serta menciptakan citra positif bagi Maumere sebagai kota yang ramah dan layak dikunjungi.
Sikka Percepat Pembangunan Pesisir, Kepastian Lahan Dikonsolidasikan dengan KSDA
Anak-anak pun perlu dilibatkan dalam budaya Jumat Bersih. Dari kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, membersihkan halaman sekolah, dan menjaga tanaman, mereka belajar tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Pendidikan kebersihan sejak dini akan melahirkan generasi yang lebih peduli terhadap masa depan daerahnya.
Jumat Bersih sesungguhnya bukan hanya soal memegang sapu dan mengangkat sampah. Jumat Bersih adalah gerakan membangun kesadaran bahwa lingkungan adalah milik bersama. Apa yang kita lakukan di depan rumah sendiri akan berdampak pada seluruh kota.
Mari mendukung gerakan Jumat Bersih bukan karena takut ditegur atau sekadar mengikuti aturan, tetapi karena kesadaran bahwa kebersihan adalah kebutuhan bersama. Kota yang bersih lahir dari masyarakat yang peduli.
Halaman rumahku, halaman rumahmu, adalah wajah Kota Maumere dan tanggung jawab kita bersama.»
OPINI
Hardiknas dan Krisis Literasi: Menyelamatkan Masa Depan Pendidikan di Sikka

Oleh Stefanus Bajo, S.Sos
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bukan sekadar seremoni tahunan yang dipenuhi upacara dan slogan. Ia adalah momen refleksi, ruang untuk melihat dengan jujur wajah pendidikan kita hari ini. Di tengah semangat memperingati jasa Ki Hajar Dewantara, kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak selalu nyaman: rendahnya kemampuan literasi dan numerasi masih menjadi persoalan serius, khususnya di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Pesan yang beredar dan diperkuat oleh berbagai data pendidikan menunjukkan satu hal yang tak bisa diabaikan—kemampuan membaca, memahami, dan mengolah informasi di kalangan peserta didik masih jauh dari harapan. Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi cerminan dari masa depan yang sedang dipertaruhkan.
Literasi yang Tertinggal, Masa Depan yang Terancam
Literasi bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami makna, berpikir kritis, dan mengambil keputusan. Demikian pula numerasi, yang bukan sekadar berhitung, tetapi kemampuan menggunakan angka dalam kehidupan sehari-hari. Ketika dua fondasi ini lemah, maka seluruh bangunan pendidikan menjadi rapuh.
Di Sikka, persoalan ini memiliki wajah yang konkret: keterbatasan akses buku, minimnya budaya membaca di rumah, serta metode pembelajaran yang masih berpusat pada hafalan. Anak-anak hadir di sekolah, tetapi belum tentu benar-benar belajar dalam arti yang sesungguhnya.
Hardiknas seharusnya menjadi alarm kolektif. Jika kita terus menunda perbaikan, maka kita sedang membiarkan generasi muda berjalan tanpa bekal yang cukup di tengah dunia yang semakin kompleks.
Antara Sistem dan Realitas Lapangan
Pemerintah melalui berbagai kebijakan telah berupaya mendorong peningkatan kualitas pendidikan. Kurikulum diperbarui, pelatihan guru dilakukan, dan program literasi digalakkan. Namun, realitas di lapangan sering kali tidak sejalan dengan desain kebijakan.
Guru masih dibebani administrasi yang berat, sementara ruang untuk inovasi pembelajaran menjadi sempit. Di sisi lain, tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung gerakan literasi. Buku masih terbatas, perpustakaan belum optimal, dan akses digital belum merata.
Di titik ini, Hardiknas mengajak kita untuk jujur: persoalan pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama—guru, orang tua, gereja, dan masyarakat.
Peran Keluarga dan Budaya Membaca
Salah satu akar persoalan literasi justru berada di rumah. Anak-anak yang tidak terbiasa melihat orang tuanya membaca akan sulit tumbuh menjadi pembaca yang baik. Literasi bukan hanya diajarkan, tetapi diteladankan.
Di banyak keluarga, terutama di daerah, buku belum menjadi kebutuhan utama. Telepon genggam lebih dominan daripada buku bacaan. Ini bukan semata kesalahan, tetapi tantangan zaman yang harus dihadapi dengan bijak.
Maka, gerakan literasi harus dimulai dari hal sederhana: membacakan cerita kepada anak, menyediakan buku di rumah, dan menciptakan ruang dialog. Pendidikan tidak berhenti di sekolah; ia hidup dalam keseharian keluarga.
Guru sebagai Ujung Tombak
Tidak ada perubahan pendidikan tanpa peran guru. Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembentuk cara berpikir. Dalam konteks krisis literasi, guru dituntut untuk lebih kreatif—menghidupkan kelas, membangun diskusi, dan mendorong siswa untuk bertanya.
Namun, tuntutan ini harus diimbangi dengan dukungan. Guru perlu diberi ruang untuk berkembang, bukan sekadar dibebani target administratif. Hardiknas harus menjadi momentum untuk mengembalikan martabat guru sebagai agen perubahan, bukan sekadar pelaksana kurikulum.
Dari Seremoni ke Aksi Nyata
Setiap tahun, Hardiknas dirayakan dengan tema-tema besar. Namun, tanpa aksi nyata, semua itu hanya menjadi retorika. Kita membutuhkan gerakan bersama yang konkret: memperbanyak akses buku, menghidupkan perpustakaan sekolah, membangun komunitas membaca, dan melibatkan semua elemen masyarakat.
Kabupaten Sikka memiliki potensi besar. Budaya lokal yang kaya, nilai kebersamaan yang kuat, serta peran gereja yang signifikan dapat menjadi kekuatan untuk membangun gerakan literasi yang berbasis komunitas.
Harapan yang Harus Diperjuangkan
Hardiknas adalah panggilan untuk bertindak. Rendahnya literasi dan numerasi bukan takdir, tetapi masalah yang bisa diatasi jika ada kemauan bersama. Pendidikan adalah investasi jangka panjang—hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dampaknya menentukan arah masa depan.
Jika kita ingin melihat Sikka yang maju, maka kita harus mulai dari hal paling mendasar: memastikan setiap anak mampu membaca dengan baik, memahami dunia, dan berpikir secara kritis.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang sekolah—tetapi tentang bagaimana kita menyiapkan manusia untuk hidup, berpikir, dan memberi makna bagi sesamanya.»
OPINI
Jangan Bungkam Suara Kritis: Ketika Pleidoi dan Pernyataan Pers Diadili, Keadilan Dipertaruhkan
Oleh: Fransisco Soarez Pati
Ada yang keliru dalam cara kita memandang keberanian di ruang sidang. Ketika seorang advokat seperti Fransisco Bernando Bessi menyampaikan dugaan serius dalam pleidoi—berdasarkan keterangan kliennya—yang disasar justru bukan substansi dugaan tersebut, melainkan dirinya. Ia dilaporkan. Ia diseret. Ia diadili di luar ruang sidang.
Pertanyaannya sederhana: sejak kapan pembelaan hukum dianggap sebagai kejahatan?
Pleidoi adalah jantung dari pembelaan. Ia bukan sekadar narasi, melainkan hak yang dijamin oleh sistem peradilan. Namun lebih dari itu, hukum positif Indonesia juga telah memberikan perlindungan tegas terhadap profesi advokat. Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, khususnya Pasal 16, ditegaskan bahwa advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk kepentingan pembelaan klien di dalam maupun di luar sidang pengadilan.
Frasa “di dalam maupun di luar sidang” menjadi sangat penting. Ini berarti perlindungan hukum tidak berhenti ketika sidang ditutup. Pernyataan kepada pers yang masih berkaitan langsung dengan pembelaan adalah bagian dari tugas profesi itu sendiri. Apa yang disampaikan oleh Fransisco Bessi kepada publik bukanlah tindakan liar di luar konteks, melainkan kelanjutan dari pembelaan yang sah.
Dengan demikian, mempidanakan pernyataan tersebut berpotensi bertentangan langsung dengan semangat dan norma yang diatur dalam Undang-Undang Advokat. Jika setiap ucapan advokat yang membela kliennya dapat dijerat pidana, maka Pasal 16 itu kehilangan makna.
Lebih jauh, dalam kerangka hukum acara pidana, prinsip pembelaan juga dijamin dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang menempatkan advokat sebagai bagian integral dari sistem peradilan pidana. Dalam perkembangan pembaruan hukum acara (KUHAP baru), arah kebijakannya justru memperkuat hak tersangka/terdakwa untuk mendapatkan pembelaan yang bebas dan tanpa tekanan. Artinya, semangatnya adalah memperluas perlindungan, bukan mempersempit.
Memang, tidak berarti advokat kebal tanpa batas. Syaratnya jelas: dilakukan dengan itikad baik dan dalam rangka pembelaan. Pertanyaannya sekarang: apakah menyampaikan keterangan klien dalam pleidoi dan mengulanginya kepada publik dapat serta-merta dianggap tidak beritikad baik? Ataukah justru itu adalah inti dari kerja advokat?
Respons berupa pelaporan oleh Gusti Pisdon memang merupakan hak hukum. Namun publik tidak boleh kehilangan fokus: yang harus diuji adalah kebenaran dugaan, bukan sekadar membungkam penyampainya. Nama seperti Ridwan Sujana Angsar yang disebut dalam persidangan seharusnya menjadi pintu masuk klarifikasi terbuka, bukan justru ditutup oleh ketakutan hukum.
Mengkriminalisasi pleidoi adalah kemunduran. Mengkriminalisasi pernyataan pers yang merupakan bagian dari pembelaan adalah preseden yang lebih berbahaya lagi. Ini bukan hanya soal satu advokat, tetapi tentang masa depan profesi dan keberanian hukum itu sendiri.
Jika norma dalam Undang-Undang Advokat sudah jelas menyatakan “tidak dapat dipidana”, maka upaya mempidanakan dalam konteks ini patut dipertanyakan secara serius. Hukum tidak boleh dibaca sepotong-sepotong. Ia harus dipahami sebagai satu kesatuan yang menjamin keadilan, bukan justru menjadi alat untuk menakut-nakuti.
Hari ini yang diuji bukan hanya Fransisco Bessi. Yang diuji adalah konsistensi kita dalam menghormati hukum yang kita buat sendiri.
Karena ketika advokat mulai takut berbicara, maka yang akan diam berikutnya adalah kebenaran.»
-
HUMANIORA11 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA9 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA8 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM9 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
NASIONAL7 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
OPINI10 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
