EKONOMI
Pemda Sikka Kebut Benahi Pasar Alok, Janji Aktivitas Berdagang Dapat Sampai Malam
Pemerintah sudah menyiapkan lapak baru untuk pedagang sayur, ikan, makanan dan minuman.
Maumere, GardaFlores — Penutupan Pasar Wuring dan Pasar Senja PNPM tidak hanya mengubah peta ekonomi tradisional di pesisir Maumere. Ia menggeser ratusan kehidupan. Para pedagang kecil—yang selama puluhan tahun bertahan hidup dari hiruk pikuk pasar lama—kini harus menyesuaikan diri dengan babak baru: Pasar Alok.
Pemda Sikka tengah membenahi berbagai fasilitas di sana. Pasar terbesar di NTT itu kini menjadi tumpuan. Namun bagi banyak pedagang, pindah ke Alok bukan hanya soal mengangkut meja dan terpal. Itu soal mempertaruhkan kembali nafkah keluarga di tempat yang mereka belum tahu apakah pembeli akan datang.
“Kami hanya ikut saja. Tapi hati masih was-was, apakah jualan kami nanti laku? Kami belum tahu,” kata seorang ibu pedagang sayur yang selama ini menggantungkan hidup di Pasar Wuring.
Di tengah kecemasan itu, Pemerintah Daerah Sikka bergerak cepat. Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi, Jumat (12/11/2025) di Maumere, menegaskan pemerintah sudah menyiapkan lapak baru untuk pedagang sayur, ikan, makanan dan minuman. Aktivitas berdagang bahkan diperpanjang hingga malam hari—sesuatu yang selama ini tidak pernah terjadi.
Ketika Kebijakan Membungkam Rezeki: Pedagang dan Nelayan Wuring Terpaksa Bertahan di Jalanan
Pemerintah menjanjikan penerangan baru, CCTV, drainase, pengelolaan sampah yang lebih baik, dan penataan MCK. Semuanya terdengar meyakinkan. Namun di lapangan, pedagang masih mencari-cari: apakah janji penataan akan benar-benar mengembalikan keramaian pembeli yang selama ini menjadi denyut hidup mereka?
“Pasar bisa terang benderang, tapi kalau pembeli tidak datang, kita tetap rugi,” keluh seorang pedagang ikan yang baru mendaftar menempati lapak.
Di sisi lain, muncul persoalan klasik yang selama ini dikeluhkan: parkir yang semrawut. Simon menegaskan pengelola parkir tidak boleh hanya memungut uang, tetapi wajib membenahi arus kendaraan yang sering membuat pedagang kesal dan pembeli enggan masuk pasar.
“Kendaraan jangan lalu lalang sesukanya. Itu mengganggu aktivitas jual beli dan menghambat rezeki pedagang,” tegasnya.
Namun penataan tidak berhenti di Alok. Di Geliting, pedagang yang berjualan di trotoar—yang oleh sebagian warga dianggap sebagai wajah keras ekonomi rakyat—akan ditertibkan dan dipindahkan sementara ke Pasar PNPM. Pemerintah juga mempersiapkan Pasar Wairkoja sebagai lokasi relokasi jangka panjang.
Di balik langkah-langkah itu, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari: di setiap kebijakan penutupan dan pemindahan pasar, yang paling terdampak adalah rakyat kecil. Mereka harus belajar bertahan di tengah ketidakpastian, memulai dari nol, dan berharap para pembeli menyusuri lorong-lorong pasar baru itu.
Pada akhirnya, penataan ini menyisakan pertanyaan yang menggantung: Apakah relokasi ini menyelamatkan ekonomi rakyat—atau sekadar memindahkan kepadatan tanpa menjamin masa depan pedagang?»(rel)
EKONOMI
Golkar Dorong Obligasi Daerah di NTT: Terobosan Pembiayaan atau Bom Waktu Fiskal?
Obligasi berarti utang yang wajib dibayar tepat waktu, baik bunga maupun pokoknya.
Maumere, GardaFlores – Gagasan penerbitan obligasi daerah kembali mengemuka dalam Sarasehan Nasional yang digelar Fraksi Partai Golkar MPR RI di Capa Resort, Kabupaten Sikka, Kamis (12/2/2026). Di tengah keterbatasan fiskal dan ketergantungan tinggi terhadap dana transfer pusat, Nusa Tenggara Timur (NTT) didorong untuk membiayai pembangunan melalui skema utang publik.
Tema kegiatan, “Obligasi Daerah Sebagai Salah Satu Alternatif Pembiayaan Daerah dan Instrumen Investasi Publik”, menegaskan arah diskusi: mencari jalan keluar dari kebuntuan anggaran. Namun, pertanyaan mendasarnya, apakah NTT benar-benar siap?
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyebut ketergantungan pada APBN membuat banyak proyek strategis terhambat. Ia menilai obligasi daerah sebagai instrumen untuk menghimpun dana publik secara legal dan produktif.
“Ini kebutuhan mendesak. Kita punya pelabuhan, pariwisata, sumber daya alam, tapi sering terkendala modal. Obligasi daerah adalah cara kita menjemput energi dari rakyat sendiri, termasuk diaspora,” ujar Melki.
Mendes Yandri Ajak Bupati Optimalkan Potensi Desa sebagai Penggerak Ekonomi Nasional
Namun skema tersebut bukan tanpa risiko. Obligasi berarti utang yang wajib dibayar tepat waktu, baik bunga maupun pokoknya. Kegagalan membayar satu hari saja dapat berujung pada status gagal bayar (default) dan merusak reputasi fiskal daerah.
Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, mengingatkan bahwa pasar modal tidak mentoleransi kelemahan tata kelola.
“Investor tidak bodoh. Mereka tidak akan membeli kertas kosong dengan risiko tinggi. Kalau laporan keuangannya masih abu-abu, jangan berharap laku,” tegas Mekeng.

Sarasehan ini dihadiri sejumlah kepala daerah se-NTT, pimpinan DPRD, perbankan, serta unsur Forkopimda dan akademisi. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU
Ia menekankan bahwa obligasi tidak boleh digunakan untuk belanja konsumtif seperti perjalanan dinas atau kegiatan seremonial. Dana harus diarahkan pada proyek produktif yang memiliki arus kas jelas, seperti pelabuhan, rumah sakit spesialis, dan infrastruktur pariwisata.
Meski demikian, realitas fiskal NTT masih menjadi catatan. Hingga kini, struktur Pendapatan Asli Daerah (PAD) NTT relatif terbatas dibanding ketergantungannya pada dana transfer pusat. Kondisi ini memunculkan keraguan apakah proyek-proyek yang direncanakan benar-benar mampu menghasilkan cash flow untuk menjamin pembayaran obligasi.
Sarasehan tersebut juga menghadirkan Dirjen Pemeriksaan Keuangan BPK RI Widhi Widayat, Dirjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu Askolani, serta Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surabaya Didin Fatihudin. Kehadiran otoritas fiskal pusat mengisyaratkan bahwa regulasi dan pengawasan menjadi isu krusial.
TMMD Ke-127 TNI Bangun Jalan 4,4 Kilometer di Desa Werang, Akses Ekonomi Warga Dipacu
Mekeng menyebut Fraksi Golkar tengah mendorong Rancangan Undang-Undang (RUU) Obligasi Daerah masuk Program Legislasi Nasional 2026. Tanpa payung hukum yang kuat, penerbitan obligasi daerah dinilai berisiko tinggi.
Sejumlah provinsi seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat disebut telah siap menerbitkan obligasi, namun masih menunggu kepastian regulasi. Pertanyaannya, apakah NTT yang kapasitas fiskalnya lebih terbatas mampu bersaing di pasar modal?
Di satu sisi, obligasi daerah dapat menjadi terobosan pembiayaan pembangunan tanpa menunggu antrean panjang dana pusat. Di sisi lain, skema ini menuntut disiplin fiskal, transparansi, serta integritas tinggi dari pemerintah daerah.
Sarasehan ini dihadiri sejumlah kepala daerah se-NTT, pimpinan DPRD, perbankan, serta unsur Forkopimda dan akademisi. Namun, diskursus publik mengenai risiko jangka panjang obligasi daerah masih minim terdengar.
Jika berhasil, NTT bisa menjadi pelopor inovasi fiskal di Indonesia Timur. Jika gagal, obligasi daerah justru berpotensi menjadi beban generasi mendatang. Pilihan kebijakan ini kini berada di tangan para pengambil keputusan—dan akan diuji oleh pasar, bukan sekadar forum diskusi.»(rel)
EKONOMI
Bupati Sikka Pimpin Aksi Hijau TMMD Ke-127: 1.500 Pohon Ditanam, Lingkungan Diselamatkan, Ekonomi Rakyat Dikuatkan
Mari kita rawat dan jaga pohon yang telah ditanam agar manfaat ekologis dan ekonominya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Maumere, GardaFlores — Komitmen nyata menjaga bumi Flores dan menguatkan ekonomi rakyat kembali ditegaskan dalam pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-127 Tahun Anggaran 2026 di Desa Werang, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka. Usai upacara pembukaan, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago memimpin langsung aksi penanaman 1.500 pohon bersama jajaran Forkopimda, TNI–Polri, dan masyarakat, Rabu (11/2/2026).
Gerakan hijau ini bukan sekadar simbol. Sebanyak 1.500 pohon yang ditanam terdiri atas 500 pohon mahoni, 500 pohon alpukat, dan 500 pohon jambu mete, yang dirancang sebagai investasi ekologis dan ekonomi jangka panjang. Selain memperkuat daya dukung lingkungan dan mencegah erosi, tanaman produktif tersebut diharapkan menjadi penopang ketahanan pangan serta sumber pendapatan baru bagi warga Desa Werang dan sekitarnya.
TNI Bangun MCK di Desa Werang Sikka, Dorong Sanitasi Layak dan Kesehatan Warga
Kasdim 1603/Sikka, Mayor Cba Dominggus M. Atamani, selaku perwakilan Dansatgas TMMD Ke-127, menegaskan bahwa penghijauan ini merupakan bagian strategis dari misi besar TMMD dalam membangun desa secara berkelanjutan.
“Melalui program TMMD, TNI tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik infrastruktur, tetapi juga pada sasaran tambahan yang berdampak langsung bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Penanaman 1.500 pohon ini diharapkan menjadi investasi jangka panjang bagi generasi mendatang serta memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat,” ujarnya.
TMMD Ke-127 TNI Bangun Jalan 4,4 Kilometer di Desa Werang, Akses Ekonomi Warga Dipacu
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama merawat dan menjaga pohon yang telah ditanam agar manfaat ekologis dan ekonominya benar-benar dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Kegiatan ini berlangsung dalam suasana kebersamaan yang kuat, mencerminkan sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat. Dari Desa Werang, TMMD Ke-127 tidak hanya membangun jalan dan infrastruktur, tetapi juga menanam harapan baru bagi kelestarian alam dan masa depan kesejahteraan Kabupaten Sikka.»(rel)
EKONOMI
TMMD Ke-127 TNI Bangun Jalan 4,4 Kilometer di Desa Werang, Akses Ekonomi Warga Dipacu
Pekerjaan lapangan melibatkan personel Satgas TMMD, unsur Linmas, serta masyarakat Desa Werang yang bekerja secara gotong royong.
Maumere, GardaFlores — Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-127 Kodim 1603/Sikka Tahun Anggaran 2026 mulai mengerjakan pembangunan jalan sepanjang 4.400 meter di Desa Werang, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, Rabu (11/2/2026). Pembangunan jalan ini menjadi sasaran utama TMMD karena dinilai strategis untuk membuka keterisolasian wilayah, memperlancar mobilitas warga, sekaligus mendorong perputaran ekonomi desa.
Pekerjaan lapangan melibatkan personel Satgas TMMD, unsur Linmas, serta masyarakat Desa Werang yang bekerja secara gotong royong. Mereka melakukan perataan badan jalan dan membersihkan material sisa pembukaan jalur oleh alat berat, seperti batu dan kayu, agar badan jalan lebih aman dan siap digunakan oleh masyarakat.
Komandan Kodim 1603/Sikka Letkol Arm Denny Riesta Permana, S.Sos., M.Han., selaku Dansatgas TMMD, menegaskan bahwa keterlibatan berbagai unsur ini merupakan wujud nyata kemanunggalan TNI dan rakyat dalam pembangunan pedesaan. “Melalui kerja bersama antara TNI, Linmas, dan masyarakat, diharapkan hasil pembangunan dapat dirasakan langsung serta memberi manfaat jangka panjang bagi warga,” ujarnya.
Ia menambahkan, TMMD Ke-127 tidak hanya berorientasi pada penyelesaian fisik semata, tetapi juga pada kualitas pekerjaan, faktor keamanan, dan keberlanjutan manfaatnya bagi masyarakat. Dengan jalan baru di Desa Werang, diharapkan akses transportasi semakin terbuka, distribusi hasil pertanian lebih lancar, dan kesejahteraan warga Sikka bagian pedesaan dapat meningkat secara signifikan.»(rel)
-
HUMANIORA8 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA7 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUKRIM7 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
HUMANIORA5 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
OPINI7 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
-
HUMANIORA10 months agoPemkab Sikka Ancam Cabut Izin Pangkalan Minyak Tanah yang Langgar Aturan
