Connect with us

EKONOMI

Wabup Sikka: Pasar Wuring Ditutup Karena Ilegal

Meski ribuan warga bergantung hidup di sana.

Published

on

Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi: Putusan kasasinya sudah jelas, aktivitas pasar dihentikan. Pemerintah hanya menjalankan hukum. (GARDAFLORES/KAREL PANDU)

Maumere, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka akhirnya angkat suara soal penutupan Pasar Wuring, sebuah pasar yang selama bertahun-tahun menjadi nadi ekonomi warga pesisir. Namun bagi Pemerintah, pasar itu tak lebih dari pasar ilegal yang berdiri di lokasi yang salah dan melanggar tata ruang.

Di tengah geliat hidup ribuan pedagang kecil, Pemerintah berpegang pada hukum: putusan kasasi Mahkamah Agung yang memenangkan Pemda Sikka atas gugatan CV Bengkunis, pengelola Pasar Wuring.

Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi, menegaskan bahwa apa yang dilakukan pemerintah bukan pilihan politik, melainkan konsekuensi hukum.

“Putusan kasasinya sudah jelas: aktivitas pasar dihentikan. Pemerintah hanya menjalankan hukum,” kata Simon, Jumat (12/12/2025).

Namun di lapangan, keputusan itu berarti menghentikan denyut ekonomi para pedagang kecil yang bertumpu pada aktivitas pasar tersebut.

Pasar Wuring Ditutup, Nelayan Terpaksa Jual Ikan di Pinggir Jalan Gelap dan Berlumpur

Bangunan Dibiarkan Berdiri, Aktivitas Warga yang Dihentikan

Meski aktivitas pasar dimatikan, bangunan milik CV Bengkunis tidak dibongkar.

Ironisnya, menurut Simon, Pasar PNPM yang dibangun pemerintah pun ikut disasar kebijakan penutupan karena dianggap tak layak dan tak sesuai tata ruang. Warga menilai kebijakan ini membingungkan: mengapa dua pasar yang selama ini menjadi sumber nafkah mereka justru dimatikan bersamaan?

Pemda Minta Pedagang Pindah ke Pasar Alok — Tapi Banyak yang Merasa Tidak Cocok

Pemerintah memastikan Pasar Alok mampu menampung seluruh pedagang dari Wuring dan PNPM. Kenyataan di lapangan menunjukkan Pasar Alok sering dikeluhkan karena sepi pembeli, jarak jauh dari lokasi tinggal pedagang, dan ketidaksesuaian dengan pola kerja nelayan.

Meski begitu, pemerintah menginginkan semua aktivitas dipusatkan di Pasar Alok demi peningkatan PAD.

Simon menyebut, sebagian besar pedagang sebelumnya berjualan di beberapa tempat dalam sehari — pagi di TPI Alok, siang di Pasar Alok, sore di Wuring.

“Pasar Alok itu luas. Bisa tampung semua pedagang,” tegasnya.

Bagi pedagang kecil, pernyataan ini justru memantik pertanyaan: Benarkah penertiban ini untuk mereka, atau untuk memenuhi target PAD?

Kebersihan Dijadikan Alasan, Tapi Warga Merasa Disalahkan

Simon menilai kondisi Pasar Wuring dan PNPM tidak layak: kotor, sampah berserakan, limbah dibuang ke laut, dan air laut digunakan untuk mencuci ikan.

“Laut itu bahkan dipakai seperti WC umum,” ujarnya.

Pengakuan ini memantik reaksi pedagang yang merasa pemerintah selama ini tak pernah benar-benar hadir dalam urusan sanitasi. Mereka menyebut: yang kotor bukan hanya pasar, tetapi juga pengabaian bertahun-tahun terhadap sarana kebersihan.

Ketika Kebijakan Membungkam Rezeki: Pedagang dan Nelayan Wuring Terpaksa Bertahan di Jalanan

Putusan MA Dijadikan Dasar, Namun Warga Paling Merasa Dirugikan

Simon kembali menekankan bahwa penutupan pasar merupakan isi dari putusan kasasi dan pemerintah wajib menjalankannya.

Namun kenyataannya, warga pesisirlah yang menanggung beban paling besar dari keputusan itu: pendapatan menurun, pelanggan berpindah, dan banyak pedagang kini kebingungan mencari tempat berjualan yang layak.

“Aneh kalau ada yang menolak,” kata Simon.

Sementara bagi sebagian pedagang, yang “aneh” justru adalah kebijakan penutupan tanpa mekanisme transisi yang jelas.

Tata Ruang Jadi Senjata Utama Pemerintah

Simon menegaskan bahwa lokasi Pasar Wuring tidak sesuai dengan tata ruang wilayah. Namun warga mempertanyakan mengapa pelanggaran tata ruang ini dibiarkan bertahun-tahun sebelum akhirnya diputuskan untuk ditertibkan ketika ratusan pedagang sudah menggantungkan hidup di sana.

Bagi pemerintah, ini penertiban. Bagi warga, ini pukulan.»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EKONOMI

Krisis Pisang Lokal di Sikka Buka Peluang Pedagang Lintas Pulau, Harga Tembus Rp150 Ribu per Tandan

“Baru kali ini kami jual pisang di Pasar Alok.”

Published

on

Simon Subandi Supriadi, mengakui sebagian besar tanaman pisang di Kabupaten Sikka mengalami kerusakan akibat serangan penyakit tanaman. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Kelangkaan pisang lokal akibat serangan penyakit tanaman di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, memicu lonjakan harga di Pasar Alok Maumere dan membuka peluang perdagangan bagi pemasok asal Kabupaten Lembata menjelang Iduladha dan tradisi Sambut Baru.

Pasokan pisang dari luar daerah mulai masuk ke Maumere melalui jalur laut dan darat di tengah menurunnya produksi petani lokal. Di pasar, satu tandan pisang dijual hingga Rp150 ribu, sementara harga per sisir mencapai Rp50 ribu akibat terbatasnya stok.

Pedagang asal Lembata, Siti Fatima, mengatakan tingginya permintaan membuat pedagang lintas pulau mulai memanfaatkan peluang pasar di Kabupaten Sikka.

“Kami bawa dari Lembata naik kapal motor ke Larantuka, lalu lanjut mobil ke Maumere. Baru kali ini kami jual pisang di Pasar Alok,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).

Pedagang asal Lembata, Siti Fatima, mengatakan tingginya permintaan membuat pedagang lintas pulau mulai memanfaatkan peluang pasar di Kabupaten Sikka. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

Masuknya komoditas dari luar daerah memperlihatkan terganggunya produksi pisang lokal yang selama ini menjadi salah satu hasil pertanian masyarakat Sikka. Warga yang sebelumnya mudah memperoleh pisang kini menghadapi kenaikan harga akibat pasokan yang menurun drastis.

Wakil Bupati Sikka, Simon Subandi Supriadi, mengakui sebagian besar tanaman pisang di wilayah tersebut mengalami kerusakan akibat serangan penyakit tanaman sehingga berdampak langsung pada produksi dan distribusi pangan lokal.

“Rata-rata tanaman pisang di Kabupaten Sikka mengalami kerusakan akibat serangan penyakit sehingga produksi tidak maksimal,” kata Simon saat memantau harga kebutuhan pokok di Pasar Alok.

Kondisi itu dinilai mulai memengaruhi rantai pasok pangan masyarakat dan meningkatkan ketergantungan terhadap distribusi komoditas dari luar daerah. Selain berdampak terhadap konsumen, penurunan produksi juga menjadi ancaman bagi keberlangsungan pendapatan petani pisang lokal.

BULOG Maumere Jemput Gabah Petani di Sikka, Putus Mata Rantai Tengkulak dari Sawah Magepanda

Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sikka mulai meningkatkan pengawasan terhadap stabilitas harga pangan menjelang meningkatnya kebutuhan masyarakat pada momentum Iduladha dan tradisi Sambut Baru.

Saat memeriksa gudang Perum Bulog dan sejumlah distributor, Simon meminta pedagang tidak menjual beras melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Kalau ada yang jual di atas Rp13.100 per kilogram, segera laporkan ke Bulog,” tegasnya.

Kepala Perum Bulog Maumere, Marten Luther Sesa, mengatakan stok beras medium di gudang Bulog Maumere saat ini mencapai 689 ton dan akan ditambah sekitar 1.500 ton dalam waktu dekat.

Menjelang Iduladha, Sikka Kirim 12 Sapi Kurban dan 35 Kuda ke Sulawesi Selatan

Menurutnya, pengawasan distribusi dan harga pangan perlu diperketat agar kelangkaan sejumlah komoditas tidak dimanfaatkan untuk memainkan harga di tingkat pasar.

Fenomena masuknya pisang dari Lembata ke Pasar Alok menjadi indikator berubahnya peta distribusi pangan lokal di Kabupaten Sikka. Di satu sisi, pedagang luar daerah memperoleh keuntungan dari tingginya permintaan pasar, namun di sisi lain petani lokal menghadapi tekanan serius akibat menurunnya produktivitas tanaman.

Pemerintah daerah kini didorong mempercepat langkah penanganan penyakit tanaman sekaligus memperkuat pemulihan produksi pertanian agar ketahanan pangan lokal tidak semakin bergantung pada pasokan dari luar wilayah.»(rel)

Continue Reading

EKONOMI

Bupati Ngada Dorong Transformasi Kopdit Obor Mas, RAT Tegaskan Koperasi Tetap Jadi Motor Ekonomi NTT

Jumlah anggota KSP Kopdit Obor Mas di Cabang Bajawa sebanyak 8.727 orang.

Published

on

Selain menyoroti pentingnya transformasi koperasi, Bupati Raymundus turut mengapresiasi kontribusi KSP Kopdit Obor Mas dalam membuka lapangan kerja bagi generasi muda serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Ngada. FOTO: GARDAFLORES/AGUSTO

NGADA, GardaFlores — Bupati Ngada Raymundus Bena, menegaskan koperasi tetap menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan di Nusa Tenggara Timur saat membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tingkat Mini KSP Kopdit Obor Mas Cabang Utama Ngada di PLUT Kabupaten Ngada, Sabtu (23/5).

Forum tahunan itu menjadi momentum evaluasi kinerja sekaligus konsolidasi arah bisnis koperasi di tengah tantangan ekonomi dan percepatan transformasi digital. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus, pengawas, manajemen, dan anggota koperasi dari wilayah pelayanan Cabang Utama Ngada.

Ketua Pengurus Harian KSP Kopdit Obor Mas, Andreas M. Mbete, menekankan RAT bukan sekadar agenda formal organisasi, tetapi ruang strategis untuk menentukan keberlanjutan koperasi berbasis partisipasi anggota.

Bank NTT Siapkan Super Apps Baru, Fokus Percepat Layanan dan Perbaiki Tata Kelola

“Manajemen perlu mendengarkan usul dan saran anggota. Pada akhirnya, semua bersama-sama menentukan arah koperasi ke depan,” ujar Andreas.

Ia mengungkapkan, KSP Kopdit Obor Mas saat ini mengelola 32 kantor cabang yang tersebar di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur dengan total anggota mencapai 165.412 orang. Sementara jumlah anggota di Cabang Bajawa tercatat sebanyak 8.727 orang.

Menurut Andreas, kepercayaan pemerintah terhadap Kopdit Obor Mas juga terus menguat. Hal itu ditandai dengan penetapan koperasi tersebut sebagai lembaga penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui keputusan Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia.

BULOG Maumere Jemput Gabah Petani di Sikka, Putus Mata Rantai Tengkulak dari Sawah Magepanda

Di hadapan peserta RAT, Bupati Raymundus menilai koperasi memiliki posisi strategis dalam menjaga daya tahan ekonomi masyarakat, khususnya sektor usaha kecil dan ekonomi keluarga.

Ia menegaskan koperasi hanya dapat bertahan apabila dibangun di atas solidaritas anggota, tata kelola yang sehat, dan kepercayaan publik.

“Koperasi sama seperti organisasi pada umumnya. Anggota adalah pemilik modal, sedangkan pengurus dan manajemen menjalankan kepercayaan yang diberikan anggota,” kata Raymundus.

Raymundus juga mengingatkan ancaman disrupsi teknologi menuntut koperasi untuk bergerak lebih adaptif dan profesional agar tidak kehilangan daya saing di era digital.

“Pemilik modal, pengurus, dan pengawas akan tetap kuat kalau bersatu. Kalau tidak bersatu, maka tidak akan bertahan lama,” tegasnya.

Selain menyoroti pentingnya transformasi koperasi, Bupati Raymundus turut mengapresiasi kontribusi KSP Kopdit Obor Mas dalam membuka lapangan kerja bagi generasi muda serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Ngada.

Pemerintah Kabupaten Ngada, lanjut dia, juga akan memperkuat dukungan terhadap pelaku usaha kecil pada 2026 sebagai bagian dari agenda penguatan ekonomi kerakyatan berbasis daerah.»(gus)

Continue Reading

EKONOMI

Menjelang Iduladha, Sikka Kirim 12 Sapi Kurban dan 35 Kuda ke Sulawesi Selatan

“Hewan yang dikirim sudah diperiksa secara menyeluruh dan dinyatakan sehat.”

Published

on

“Total kuota pengiriman kuda tahun ini sebanyak 95 ekor dan hari ini menjadi pengiriman terakhir.” FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 47 ekor ternak asal Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, diberangkatkan ke Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, melalui Pelabuhan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Rabu (20/5/2026). Pengiriman tersebut terdiri atas 12 ekor sapi untuk kebutuhan kurban Iduladha 1447 Hijriah dan 35 ekor kuda untuk perdagangan serta pemeliharaan ternak.

Seluruh ternak diangkut menggunakan kapal layar motor (KLM) Surga Mulia 02 setelah dinyatakan lolos pemeriksaan kesehatan dan administrasi oleh instansi terkait.

Pengusaha ternak, Haji Ramli, mengatakan seluruh dokumen pengiriman telah diterbitkan sebelum keberangkatan sehingga proses distribusi antarpulau dapat dilakukan sesuai ketentuan karantina hewan dan perdagangan ternak.

“Semua dokumen sudah lengkap sehingga hewan-hewan ini diperbolehkan untuk dikirim,” kata Haji Ramli di Pelabuhan Wuring.

Dokumen pengiriman diterbitkan Dinas Peternakan Kabupaten Sikka, Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta Balai Karantina Hewan, Ikan & Tumbuhan Kabupaten Sikka.

Paramedik Karantina Hewan Kabupaten Sikka, Fabianus Bewo, mengatakan pengiriman 35 ekor kuda tersebut sekaligus menutup kuota distribusi kuda dari Kabupaten Sikka pada 2026.

Sikka Raih Insentif Rp1 Miliar usai Catat Penurunan Pengangguran Terbaik di NTT

“Total kuota pengiriman kuda tahun ini sebanyak 95 ekor dan hari ini menjadi pengiriman terakhir,” ujar Fabianus.

Ia menjelaskan, kuda-kuda yang dikirim tidak diperuntukkan bagi kebutuhan kurban, melainkan untuk pemeliharaan dan aktivitas perdagangan ternak di Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Sementara itu, pengiriman 12 ekor sapi menjadi distribusi perdana ternak sapi dari Kabupaten Sikka sepanjang 2026. Sapi-sapi tersebut diproyeksikan memenuhi kebutuhan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha di Sulawesi Selatan yang dalam beberapa pekan terakhir mulai mengalami peningkatan permintaan.

Dokter Hewan Kabupaten Sikka, drh. Endah Ismiati, memastikan seluruh ternak telah menjalani pemeriksaan fisik sebelum diberangkatkan.

“Hewan yang dikirim sudah diperiksa secara menyeluruh dan dinyatakan sehat. Semua dokumen administrasi maupun dokumen pendukung juga telah lengkap,” kata Endah.

Distribusi ternak dari Flores ke Sulawesi Selatan selama ini menjadi salah satu jalur perdagangan ternak utama di kawasan timur Indonesia, terutama menjelang Iduladha ketika kebutuhan sapi kurban meningkat di sejumlah daerah.

Selain memperkuat pasokan hewan kurban, pengiriman ternak antarpulau juga menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi peternak dan pelaku usaha ternak di Kabupaten Sikka.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending