Connect with us

PENKES

Bupati Sikka Lepas Kontingen POPDA VII, Target Medali Sebanyak Mungkin

Published

on

Maumere, GardaFlores – Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, SH, secara resmi melepas 75 orang kontingen Kabupaten Sikka yang akan berlaga pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) VII Provinsi NTT Tahun 2025 di Kota Kupang pada 8–13 September 2025. Bupati berharap, kontingen dapat meraih medali sebanyak mungkin.

Pelepasan berlangsung dalam rangkaian Apel Kekuatan ASN lingkup Pemkab Sikka di Halaman Kantor Bupati, Jalan Eltari Maumere, Senin (8/9/2025).

Jelang Tour de Entete 2025, Kapolres Sikka Ingatkan Jajarannya untuk Antisipasi Segala Jenis Gangguan

“Selamat berjuang dengan penuh semangat untuk mengharumkan nama Kabupaten Sikka. Jaga sportivitas, kebersamaan, dan junjung tinggi nilai fair play,” pesan Bupati JPYK.

Bupati menegaskan, para atlet yang juga duta olahraga Sikka diharapkan tampil maksimal agar bisa membawa pulang medali sebanyak-banyaknya.

Sang Influencer Tuhan Carlo Acutis Dinobatkan Jadi Santo

Berdasarkan laporan Dinas PKO Kabupaten Sikka, kontingen terdiri dari 57 atlet, 14 pelatih/pendamping, dan 4 pendamping dari dinas terkait. Mereka akan turun di enam cabang olahraga yakni Atletik 6 atlet, 3 pendamping, Taekwondo 10 atlet, 2 pendamping, Karate 11 atlet, 2 pendamping, Kempo 9 atlet, 2 pendamping, Tinju 8 atlet, 2 pendamping dan Pencak Silat 13 atlet, 3 pendamping.

Presiden Prabowo Rombak Kabinet, Ganti 1 Menko dan 4 Menteri

Ketua Kontingen, Fredy MBW yang juga Kabid Olahraga Dinas PKO Kabupaten Sikka saat ditemui di Bandara Frans Seda Maumere berharap kontingen bisa membawa pulang medali untuk Kabupaten Sikka.

“Anak-anak ini sudah berlatih keras. Semoga mereka tampil percaya diri, memberikan penampilan terbaik, dan bisa membawa pulang medali untuk Sikka,” ujarnya.»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PENKES

Pengadaan Laptop Rp1,7 M di Sikka Terancam Putus Kontrak, Ini Penjelasan PPK

Ahmat Karno: Pengadaan barang pemerintah seluruh item harus sesuai dengan kontrak. Jika terdapat satu atau dua komponen yang tidak sesuai, seluruh paket barang tidak dapat diterima.

Published

on

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Laptop, Ahmat Karno. FOTO: KAREL PANDU

Maumere, GardaFlores  – Pengadaan laptop senilai Rp1,7 miliar untuk sejumlah sekolah di Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka terancam putus kontrak. Hal ini disebabkan spesifikasi barang yang diterima tidak sepenuhnya sesuai dengan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA).

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Laptop, Ahmat Karno, menjelaskan bahwa pengadaan yang dilakukan pada 19 Desember 2025 tersebut diperuntukkan bagi SD negeri, swasta, serta sekolah di daerah terpencil.

“Dari sisi merek dan spesifikasi lain sudah sesuai, namun kapasitas penyimpanannya tidak memenuhi ketentuan. Seharusnya 512 GB, tetapi yang datang hanya 256 GB,” ujar Karno di Maumere, Rabu (8/1/2026).

Ia menegaskan, dalam pengadaan barang pemerintah seluruh item harus sesuai dengan kontrak. Jika terdapat satu atau dua komponen yang tidak sesuai, maka seluruh paket barang tidak dapat diterima.

“Ini satu paket. Kalau ada yang kurang, semuanya tidak bisa diterima. Kalau ada yang lebih, itu dianggap bonus,” tegasnya.

Tak Sesuai Spesifikasi, Pengadaan Laptop Rp1,7 Miliar di Dinas PKO Sikka Dikembalikan ke Penyedia

Karno mengaku telah meminta penyedia untuk melengkapi kekurangan tersebut. Namun hingga batas waktu yang ditentukan, penyedia belum mampu memenuhinya. Ia menduga hal ini terjadi karena keterbatasan waktu.

Saat ini, pihaknya tengah menyiapkan kajian sebagai dasar pengambilan keputusan, termasuk kemungkinan pemutusan kontrak dengan penyedia.

“Kalau sampai batas waktu tidak bisa dipenuhi, kita anggap barang itu tidak datang. Kronologisnya akan kami tuangkan dalam surat kajian,” katanya.

Karno juga menegaskan perannya sebagai PPK hanya memfasilitasi proses pengadaan sesuai permintaan dinas. Sementara pemanfaatan laptop menjadi kewenangan dinas teknis terkait.»(rel)

Continue Reading

PENKES

Tak Sesuai Spesifikasi, Pengadaan Laptop Rp1,7 Miliar di Dinas PKO Sikka Dikembalikan ke Penyedia

Mustary: Yang dipesan 512 GB, tetapi yang datang hanya 256 GB.

Published

on

Tak Sesuai Spesifikasi, Pengadaan Laptop Rp1,7 Miliar di Dinas PKO Sikka Dikembalikan ke Penyedia. ILUSTRASI: ANTARA

Maumere, GardaFlores  – Pengadaan laptop senilai Rp1,7 miliar pada Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka Tahun Anggaran 2025 dikembalikan kepada penyedia karena tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang dipesan.

Kepala Bidang SD Dinas PKO Kabupaten Sikka, Mustary, mengatakan pengadaan tersebut masih berada dalam ranah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Saat barang hendak diserahkan, Pengguna Anggaran (PA) meminta agar spesifikasi laptop diperiksa kembali untuk memastikan kesesuaiannya dengan pesanan.

“Ketika dilakukan pengecekan bersama PPK dan penyedia, ternyata spesifikasi penyimpanan internal tidak sesuai. Yang dipesan 512 GB, tetapi yang datang hanya 256 GB,” kata Mustary, Rabu (8/1/2026), di Maumere.

Ia menjelaskan total pagu anggaran pengadaan laptop tersebut sebesar Rp1,7 miliar yang terbagi dalam dua paket. Paket pertama senilai Rp515.462.500 diperuntukkan bagi sekolah negeri, sementara paket kedua senilai Rp1,228 miliar untuk sekolah swasta. Sumber pendanaan berasal dari Dana Alokasi Umum Spesifik Grant (DAU SG).

Final Futsal SD–SMP se-Kabupaten Sikka Semarakkan Maumere, Puluhan Sekolah Ambil Bagian

Menurut Mustary, barang tiba di Dinas PKO pada 19 Desember 2025 dan penyedia menyatakan siap mendistribusikan. Namun karena adanya kepercayaan bahwa spesifikasi sudah sesuai, pihak dinas sempat mengundang kepala sekolah dan operator sekolah untuk persiapan penyerahan.

“Pada saat penyerahan, Kadis PKO meminta agar spesifikasi dicek kembali. Setelah dicek, ditemukan memori internal tidak sesuai, meskipun spesifikasi lain bahkan lebih tinggi, seperti prosesor yang dipesan Core i3 tetapi yang datang Core i5,” jelasnya.

PA kemudian memberikan waktu kepada PPK dan penyedia hingga 31 Desember 2025 untuk menyesuaikan spesifikasi. Namun hingga batas waktu tersebut, penyedia tidak dapat memenuhi permintaan, sehingga seluruh laptop dikembalikan.

Mustary menegaskan bahwa penilaian kinerja dan tanggung jawab teknis berada pada PPK. Ia juga menyebut tidak ada penetapan fee selama proses pengadaan.

“Sepengetahuan saya tidak ada fee dalam proses ini. Pengadaan dilakukan berdasarkan kebutuhan dan DPA, serta berproses melalui e-katalog,” ujarnya.

Pengadaan laptop tersebut direncanakan untuk 50 sekolah dasar negeri dan swasta dengan total 161 unit. Setiap sekolah menerima jumlah yang berbeda, mulai dari satu hingga lima unit, dengan porsi penerima lebih banyak berasal dari sekolah swasta.

Ia menambahkan sumber pengadaan berasal dari Renja Dinas, hasil Musrenbang, serta pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD Kabupaten Sikka. Penolakan barang dilakukan langsung oleh PPK karena laptop belum diserahkan secara resmi kepada Dinas PKO.

“Prosesnya, penyedia menyerahkan barang ke PPK, PPK memastikan kesesuaian dengan surat pesanan, baru kemudian diserahkan ke dinas untuk dicek kembali sesuai DPA,” pungkas Mustary.(rel)

Continue Reading

PENKES

Dua Pelajar Maumere Raih Emas Olimpiade Hari Natal 2025 Bidang Matematika

Ajang olimpiade nasional yang diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia.

Published

on

Peraih medali emas olimpiade matematika: Maria Frena Sobangli (kiri), kelas V SDK Maumere II dan Margareth Dewy Satel Diaz (kanan) kelas IX SMPK Binawirawan Maumere. FOTO: DEWY SATEL DIAZ

Maumere, GardaFlores – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar asal Maumere, Kabupaten Sikka. Dua siswi lintas jenjang, Maria Frena Sobangli (11) dan Margareth Dewy Satel Diaz (14), sukses mengharumkan nama daerah setelah meraih medali emas Olimpiade Hari Natal (OHN) 2025, ajang olimpiade nasional yang diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia.

Adalah Maria Frena, siswi kelas V SDK Maumere II dalam bidang Matematika dan Dewy Diaz (14) kelas IX SMPK Binawirawan Maumere dalam bidang IPA.

Keberhasilan tersebut diketahui setelah hasil lomba diumumkan secara resmi oleh panitia Alberta Competition pada 31 Desember 2025. Ajang ini diselenggarakan secara daring pada akhir Desember dan diikuti oleh pelajar dari berbagai daerah di Indonesia, baik tingkat SD maupun SMP.

Partisipasi Frena dalam olimpiade ini berawal dari informasi yang diperoleh secara informal dari seorang teman. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pendaftaran mandiri tanpa sepengetahuan orang tua. Kekhawatiran soal biaya menjadi alasan utama keputusan itu diambil.
“Karena saya khawatir kalau saya beritahu mereka, jangan sampai mereka tidak setuju, karena pasti berhubungan dengan biaya,” ungkap Frena, Sabtu (3/1/2026).

Ketua Pengcab Shoto-Kai Sikka Apresiasi Pelatih Forki, Targetkan Prestasi Lebih Tinggi di 2025

Dalam formulir pendaftaran, beberapa mata pelajaran disediakan untuk dipilih peserta. Pilihan itu ditentukan sendiri oleh Frena sesuai minat dan kemampuannya.
“Dalam form isian itu ada beberapa mata pelajaran yang dilombakan. Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Matematika dan Bahasa Inggris. Saya pilih Bahasa Indonesia, IPA dan Matematika,” tuturnya.

Hasil yang diraih Frena menunjukkan capaian berlapis. Medali perunggu diraih pada Bahasa Indonesia, perak pada IPA, dan emas pada Matematika. Makna dari perolehan medali tersebut awalnya belum sepenuhnya dipahami hingga akhirnya dijelaskan oleh sang ayah dengan cara sederhana.
“Saya kan tidak tahu perunggu, perak, emas itu apa. Lalu saya tanya Bapak saya. Kalau emas, Bapak saya bilang, macam cincin kawin Bapak-Mama,” ujarnya polos. Penjelasan itu pun memicu luapan kebahagiaan. “Saya senang sekali, saya lompat-lompat,” katanya.

Dalam olimpiade tersebut, setiap mata pelajaran terdiri dari 25 soal dengan durasi yang berbeda-beda. Jumlah peserta tingkat SD sendiri tercatat mencapai 912 orang dari seluruh Indonesia. Sertifikat dan medali, sebagaimana disampaikan panitia, akan dikirimkan dalam beberapa minggu ini.

Sementara itu, prestasi serupa juga diraih oleh Margareth Dewy Satel Diaz pada kategori SMP dalam bidang studi IPA. Informasi awal mengenai lomba tersebut diperoleh Dewy dari seorang calon anggota organisasi THS-THM ranting Katedral Maumere, saat berlangsung kegiatan pelatihan prapendadaran. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pendampingan teknis sejak pendaftaran hingga pemilihan mata pelajaran.

Ujian olimpiade IPA tingkat SMP akhirnya dilaksanakan pada 29 Desember 2025, setelah sebelumnya mengalami penyesuaian jadwal. Materi yang diujikan mencakup IPA kelas VII, VIII, dan IX dengan total 25 soal. Dari total 917 peserta tingkat SMP, nama Dewy tercantum sebagai peraih medali emas.

Momen pengumuman hasil lomba menjadi pengalaman emosional tersendiri bagi Dewy. Informasi kemenangan itu baru diketahui tepat pada malam pergantian tahun.
“Malam 31 Desember saya buka link di selular, saya kaget lihat pengumuman. Di sana tertulis, Margareth Dewy Satel Diaz dari SMPK Binawirawan Maumere peraih medali emas olimpiade IPA,” tutur Dewy di sela kegiatan prapendadaran anggota THS-THM di Katedral Maumere, Sabtu (3/1/2026)..

Kebahagiaan tersebut kemudian dibagikan kepada orang tua dan menjadi titik tumbuh kepercayaan diri.
“Saya jadi semakin percaya diri. Saya mau tunjukkan juga ke sekolah kalau saya juga bisa. Siapa pun dia, bisa berprestasi,” katanya.

THS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste

Baik Frena maupun Dewy diketahui aktif sebagai anggota organisasi Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM) Ranting Katedral, Distrik Keuskupan Maumere. Frena dan Dewy adalah penyandang sabuk biru satu. Lingkungan organisasi disebut memberi kontribusi signifikan terhadap pembentukan mental, kepercayaan diri, serta akses informasi akademik.
“Di organisasi ini kami belajar untuk percaya diri. Kami didukung dan disupport oleh kakak-kakak pelatih,” ungkap Dewy.

Hal senada juga disampaikan oleh Frena yang menyebut dukungan organisasi sebagai bagian penting dari pencapaiannya.
“Saya berterima kasih kepada organisasi THS-THM. Saya tidak sangka bisa dapat juara, apalagi pesertanya dari seluruh Indonesia,” ujarnya.

Seorang pelatih THS-THM Ranting Katedral Maumere, Albertus Donatus Baha, turut menyampaikan apresiasi atas capaian kedua siswi tersebut. Menurutnya, proses latihan yang berlandaskan empat pilar organisasi secara konsisten membentuk mental dan kepercayaan diri anggota.
“Mereka sudah punya kemampuan dasar, dan kami tinggal mengarahkan serta mendisiplinkan. Mereka berproses alami karena mulai percaya pada diri sendiri,” jelasnya.

Prestasi yang diraih Frena dan Dewy diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lain di Maumere dan Nusa Tenggara Timur bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi, selama ada keberanian, ketekunan, dan lingkungan yang mendukung.»(bert)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending