HUMANIORA
Menteri PPPA di Ngada: Tragedi Pelajar SD Jadi Alarm Nasional, Flores Harus Menjadi Tanah yang Aman, Bermartabat, dan Layak Anak
Fokus agenda pada penguatan sistem perlindungan perempuan dan anak di daerah.
Ngada, GardaFlores — Kunjungan kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Arifah Fauzi, ke Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Kamis (12/2/2026), bukan sekadar agenda seremonial. Ia datang membawa pesan tegas: tragedi meninggalnya seorang pelajar kelas IV Sekolah Dasar di Ngada harus menjadi alarm nasional untuk memperkuat sistem perlindungan anak hingga ke pelosok Flores.
Menteri Arifah tiba di Bandara Turelelo Soa dan disambut Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Ngada. Penyambutan dengan pengalungan selempang menjadi simbol harapan masyarakat bahwa negara benar-benar hadir melindungi generasi masa depan.
Polres Ngada Tutup Kasus Kematian YBR, Polisi Tegaskan Bocah 10 Tahun di Nenowea Murni Bunuh Diri
Dalam pernyataannya yang disampaikan kepada publik, Menteri PPPA menegaskan pentingnya penerapan kebijakan Kota/Kabupaten Layak Anak (KLA) secara konsisten oleh seluruh pemerintah daerah. Ia menyebut, kasus meninggalnya seorang pelajar SD di Ngada merupakan peringatan keras bahwa perlindungan anak tidak boleh longgar sedikit pun.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penguatan sistem perlindungan anak melalui implementasi kebijakan kota (kabupaten) layak anak sangat diperlukan untuk memastikan setiap anak di Indonesia mengikuti pendidikan dengan baik,” ujar Arifah dalam keterangan video yang diterima media.
Selama kunjungan tiga hari, 12–14 Februari 2026, Menteri PPPA memfokuskan agenda pada penguatan sistem perlindungan perempuan dan anak di daerah. Pada hari pertama, ia meninjau langsung Rumah Aman Bajawa dan Rumah Kevikepan Bajawa, dua institusi yang menjadi garda depan perlindungan korban kekerasan, khususnya perempuan dan anak di Ngada.
“Kami Gagal Melindungi Anak”: Air Mata Gubernur NTT di Rumah Duka YBR
Didampingi Kepala Dinas P3AP2KB Provinsi NTT, Ruth Diana Laiskodat, Menteri Arifah mendorong sinergi yang lebih kuat antara pemerintah pusat dan daerah agar kebijakan KLA tidak berhenti di atas kertas, tetapi diwujudkan dalam layanan nyata: sekolah yang aman, sistem pelaporan yang cepat, serta pendampingan yang berpihak pada korban.
Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi Ngada dan Flores pada umumnya. Di tengah luka akibat tragedi yang menimpa seorang anak, negara datang dengan pesan jelas: tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang tumbuh tanpa perlindungan. Flores harus menjadi tanah yang aman, bermartabat, dan layak bagi setiap anak untuk belajar dan bermimpi.»(gus)
HUMANIORA
Bhayangkari Papua Salurkan 225 Karung Beras dan Logistik untuk Warga Nitunglea
Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan sejumlah kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa di Nitunglea, Palue, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
MAUMERE, GardaFlores—Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan berbagai kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa bumi di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).
Bantuan dari Ny. Nova Patrige Renwarin bersama jajaran pengurus Bhayangkari Papua tersebut terdiri atas 225 karung beras berukuran lima kilogram, 25 dos minyak goreng kemasan satu liter, 600 dos air minum Aqua Gelas Nusra, 15 dos Energen, sembilan dos susu Dancow, dan 15 dos gula pasir.
Penyaluran bantuan ini berlangsung dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-75 Tahun 2026.
Logistik diberangkatkan dari Kantor Polsubsektor Palue pukul 07.00 WITA menuju Kantor Desa Nitunglea. Serah terima bantuan kepada pemerintah desa berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga sasaran.
Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mendampingi penyaluran bersama Penjabat Kepala Desa Nitunglea, Bay Langko, S.Sos., serta aparat dan staf desa.
Distribusi bantuan berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.»(rel)
HUMANIORA
Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga
Seorang pria berinisial Y.D.B. (49) ditemukan meninggal di ruang keluarga rumahnya di Paga, Sikka. Keluarga sempat berupaya memberikan pertolongan sebelum membawanya ke Puskesmas Wolofeo.
MAUMERE, GardaFlores—Seorang pria berinisial Y.D.B. (49), warga Dusun Warami, Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia oleh istrinya di ruang keluarga rumah mereka pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.
Menurut laporan kepolisian, istri korban, G.G. (47), menemukan suaminya saat keluar dari kamar setelah terbangun. Ia kemudian menghubungi anak mereka, A.P.S.N. (19), yang sedang menginap di rumah seorang teman, sekitar 25 meter dari kediaman keluarga.
Anak korban segera pulang. Bersama anggota keluarga, ia berusaha memberikan pertolongan sebelum membawa korban ke Puskesmas Wolofeo. Namun, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di puskesmas.
Setelah menerima laporan masyarakat, anggota Polsek Paga mendatangi lokasi untuk mendata korban dan saksi serta mengumpulkan keterangan. Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis dan keluarga.
Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi maupun proses hukum lebih lanjut, sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian.
Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)
HUMANIORA
Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela
P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Lela, Sikka. Dua nelayan berusaha mengevakuasinya setelah korban terlihat meminta pertolongan di laut.
MAUMERE, GardaFlores—P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di perairan Pantai Lela, tepat di depan Kantor Camat Lela, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026) pagi.
Korban dilaporkan berada di laut sekitar pukul 08.30 WITA dan meminta pertolongan. Dua nelayan, B.Y. dan M.S., berusaha mengevakuasinya ke bibir pantai.
B.Y. mengatakan, sekitar pukul 08.00 WITA ia melihat korban menari dan melompat-lompat di tepi pantai. Sekitar 30 menit kemudian, ia melihat korban berada di laut sambil meminta pertolongan.
B.Y. berenang mendekati korban dan berusaha membawanya ke pantai. Karena kelelahan, ia meminta bantuan M.S. Keduanya kemudian membawa korban ke bibir pantai.
Warga selanjutnya menghubungi ambulans Puskesmas Nanga untuk membawa korban ke Rumah Sakit Santo Elisabeth Lela. Namun, korban meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.
Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue
Anggota Polsek Lela mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Polisi mendata korban dan saksi serta berkoordinasi dengan tim medis rumah sakit dan keluarga korban.
Menurut keterangan saksi M.R.V., korban telah tinggal seorang diri di pondok miliknya selama hampir lima tahun. M.R.V. selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.
Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi. Korban direncanakan dimakamkan pada Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WITA.
Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti korban tenggelam belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)
-
NASIONAL1 year agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Ngada Bergerak dari Desa: Menteri PPPA RI Tegaskan Perlindungan Perempuan dan Anak Bukan Sekadar Slogan - Garda Flores %