Connect with us

HUMANIORA

Klarifikasi Perlindungan Perempuan dan Anak di Nangahale, Pemkab Sikka dan Komnas Perempuan Gelar Dialog Humanis

Konstantia Tupa Arankoja: “Reforma Agraria memberikan kepastian hukum atas tanah masyarakat dan membuka ruang pembangunan infrastruktur seperti jalan dan perumahan.”

Published

on

Asisten II Setda Sikka, Konstantia Tupa Arankoja, S.Sos (tengah) dalam dialog terbuka bersama Komnas Perempuan untuk memperkuat pemenuhan hak perempuan dan anak dalam konteks konflik agraria di wilayah Nangahale, pada Selasa (18/11/2025). (IST)

Maumere, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka bersama Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menggelar dialog terbuka untuk memperkuat pemenuhan hak perempuan dan anak dalam konteks konflik agraria di wilayah Nangahale. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Iligai, Kantor Bupati Sikka, dipimpin oleh Asisten II Setda Sikka, Konstantia Tupa Arankoja, S.Sos, dan dihadiri jajaran komisioner Komnas Perempuan, perangkat daerah, hingga unsur kecamatan pada Selasa (18/11/2025).

Agenda ini merupakan tindak lanjut atas Surat Komnas Perempuan Nomor 1988/MM.01.03/XI/2025 yang meminta klarifikasi pemerintah daerah terkait dugaan persoalan perlindungan perempuan dan anak di kawasan HGU maupun eks-HGU Nangahale.

Pemkab Sikka Tegaskan Pendekatan Humanis Tanpa Diskriminasi

Di hadapan komisioner Komnas Perempuan, Asisten II menekankan bahwa seluruh langkah yang diambil pemerintah daerah mengutamakan aspek kemanusiaan dan kepastian hukum.

“Pendekatan humanis dan prosedural hukum terus dilakukan demi menciptakan situasi yang aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.

Restorative Justice di Sikka: Keadilan yang Lentur atau Jalan Tengah yang Manusiawi?

Konstantia memastikan bahwa tidak ada perlakuan diskriminatif dalam layanan dasar, termasuk pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, serta perlindungan perempuan dan anak.

“Pelayanan tetap diberikan tanpa pengecualian, baik bagi warga di lokasi HGU maupun eks-HGU,” tegasnya.

Komnas Perempuan Lakukan Pemantauan Lapangan

Tim Komnas Perempuan sebelumnya telah turun langsung ke lapangan, bertemu warga, dan menghimpun data mengenai kondisi perempuan dan anak di wilayah yang terdampak konflik agraria. Informasi tersebut kemudian dikonfirmasi bersama Pemkab Sikka untuk memastikan keakuratan dan keseimbangan data.

Komisioner Irwan Setiawan mengapresiasi sikap terbuka Pemkab Sikka.

“Klarifikasi ini menjadi fondasi penting bagi penyusunan rekomendasi kebijakan nasional, khususnya terkait pencegahan kekerasan berbasis gender di wilayah konflik agraria,” ungkapnya.

Koperasi Merah Putih: Harapan Besar, Tantangan Lebih Besar

Komnas Perempuan juga mendorong percepatan koordinasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat, terutama terkait kebutuhan dasar seperti pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat terdampak.

Reforma Agraria: Kepastian Hukum untuk Warga Nangahale

Pemkab Sikka memaparkan perkembangan program Reforma Agraria di eks-HGU Nangahale yang saat ini memasuki tahap verifikasi setelah pelaksanaan IP4T (Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan, dan Pemanfaatan Tanah) pada 22 Oktober–6 November 2025.

“Reforma Agraria memberikan kepastian hukum atas tanah masyarakat dan membuka ruang pembangunan infrastruktur seperti jalan dan perumahan,” jelas Konstantia.

Upaya ini dinilai menjadi langkah strategis untuk mendorong kesejahteraan dan rasa aman warga yang selama ini hidup dalam ketidakpastian status lahan.

Sinergi Lintas Lembaga untuk Perlindungan Perempuan dan Anak

Setelah dialog dengan Pemkab Sikka, Komnas Perempuan dijadwalkan melanjutkan pertemuan dengan Polres Sikka dan PT Krisrama, sebagai bagian dari pendalaman informasi dan pembangunan sinergi lintas lembaga.

Dialog ini menegaskan komitmen kuat antara Pemkab Sikka dan Komnas Perempuan untuk mewujudkan penyelesaian agraria yang lebih manusiawi, inklusif, dan berpihak pada kelompok rentan, sekaligus memastikan perlindungan perempuan dan anak tetap menjadi prioritas utama.

Upaya kolaboratif ini diharapkan memberikan kepastian hukum, perlindungan yang adil, serta masa depan yang lebih sejahtera bagi masyarakat Nangahale.»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUMANIORA

Pria 39 Tahun di Geliting Ditemukan Meninggal di Dalam Rumah, Polisi Lakukan Penyelidikan

Saat kejadian, istri korban sedang berada di wilayah Kecamatan Waigete bersama anak mereka yang lain.

Published

on

Pihak keluarga menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan visum maupun autopsi. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Seorang pria berinisial A.B (39), warga Dusun Jedawair, Desa Geliting, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya, Sabtu (18/4/2026) sekitar pukul 13.00 WITA. Kepolisian menyatakan masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kejadian.

Kasi Humas Polres Sikka AIPDA Leonardus Tunga mengatakan peristiwa pertama kali diketahui oleh saksi Maria Aptianti Nona Len (19) yang baru pulang dari sekolah. Saat melintas di depan rumah korban, saksi mendengar tangisan anak korban yang berusia sekitar tiga tahun dari dalam rumah.

Saksi kemudian memanggil korban, namun tidak mendapat respons. Setelah mendapati seluruh pintu terkunci dari dalam, saksi masuk melalui jendela belakang dan menemukan korban dalam kondisi tergantung di bagian dapur rumah.

Saksi selanjutnya meminta pertolongan warga. Silvester Dadu (38), yang merupakan adik korban, datang ke lokasi dan membuka pintu belakang rumah. Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Kewapante oleh warga setempat.

Petugas kepolisian tiba di tempat kejadian sekitar pukul 13.50 WITA dan melakukan pengamanan lokasi serta koordinasi dengan Tim Inafis Polres Sikka. Olah tempat kejadian perkara dilakukan sekitar pukul 14.30 WITA.

Pria 57 Tahun Ditemukan Meninggal di Kabor, Polisi Tunggu Hasil Medis

Setelah proses tersebut, jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit St. Gabriel Kewapante. Pihak keluarga menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan visum maupun autopsi.

Berdasarkan keterangan keluarga, korban diketahui memiliki riwayat sakit dan kerap menjalani perawatan. Informasi tersebut masih didalami sebagai bagian dari penyelidikan.

Saat kejadian, istri korban tidak berada di rumah karena sedang berada di wilayah Kecamatan Waigete bersama anak mereka yang lain. Korban diketahui bekerja sebagai karyawan swasta dan meninggalkan seorang istri serta dua anak.

Polisi menyatakan telah mengamankan lokasi, memeriksa saksi, dan mengumpulkan keterangan untuk memastikan penyebab kematian.

Kepolisian masih melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan saksi dan data pendukung untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Pria 57 Tahun Ditemukan Meninggal di Kabor, Polisi Tunggu Hasil Medis

Berdasarkan keterangan warga, korban memiliki riwayat penyakit asma, lambung, dan gangguan paru-paru.

Published

on

Petugas polisi sedang melakukan identifikasi di rumah pria (GB) yang meninggal itu, Jumat (17/4/2026). FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Seorang pria berinisial GB (57) ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya di RT 005/RW 005, Kelurahan Kabor, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Jumat (17/4/2026) sekitar pukul 07.30 Wita. Korban diketahui berprofesi sebagai petani dan tinggal seorang diri.

Kasi Humas Polres Sikka, Aipda Leonardus Tunga, mengatakan korban ditemukan dalam kondisi pembusukan lanjut, terbaring di tempat tidur di ruang tengah rumahnya. Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD TC Hillers Maumere untuk pemeriksaan medis.

Penemuan bermula sekitar pukul 07.00 Wita ketika warga mencium bau menyengat dari arah rumah korban. Saksi Polikarpus Samsu Bari meminta anggota keluarganya memeriksa, namun tidak dapat mendekat karena bau yang semakin kuat.

Pada waktu hampir bersamaan, saksi Marta Martini yang melintas usai berjalan pagi turut mencium bau serupa. Ia kemudian membuka pintu rumah korban dan menemukan korban sudah meninggal dunia, lalu melaporkannya kepada ketua RT setempat.

Ketua RT 005, Maria Kontasia Dua Keron, menyatakan laporan awal dari warga kemudian langsung diteruskan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Sikka.

“Bau menyengat sekali, lalu ada banyak lalat,” kata Maria di lokasi kejadian.

Kasus Kematian Siswi di Sikka: Motif Belum Diumumkan, Kuasa Hukum Pertanyakan Barang Bukti dan Arah Penyidikan

Polisi yang menerima laporan kemudian mendatangi lokasi, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta mengumpulkan keterangan saksi sebelum mengevakuasi jenazah.

Berdasarkan keterangan warga, korban memiliki riwayat penyakit asma, lambung, dan gangguan paru-paru. Korban juga sempat mengeluhkan sakit perut dan kesulitan buang air besar.

Ketua RT menyebut korban terakhir terlihat sekitar empat hari sebelum ditemukan. Sementara itu, warga lain, Samsul Olga, mengaku masih melihat korban pada Kamis (16/4/2026) di sekitar rumahnya.

“Kemarin saya masih lihat dia. Rencananya mau minta dokter untuk periksa, tapi tidak jadi karena dia sudah keluar rumah,” ujar Samsul.

Saat ditemukan, korban mengenakan jaket bergaris warna oranye, hitam, dan biru serta celana olahraga hitam. Kondisi tubuh menunjukkan tanda pembusukan lanjut.

Hingga saat ini, penyebab kematian belum dapat dipastikan. Kepolisian menyatakan masih menunggu hasil pemeriksaan medis untuk menentukan penyebab pasti kematian.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Baru Tiba dari Kupang, Guru di Watuliwung Ditemukan Meninggal di Rumahnya

Korban sebelumnya sempat berkomunikasi dengan keluarga untuk dijemput di Bandara Frans Seda Maumere.

Published

on

Korban kemudian dibawa ke RS TC Hillers Maumere untuk mendapatkan penanganan medis, namun dinyatakan telah meninggal dunia setelah dilakukan pemeriksaan. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Seorang guru berinisial Y.A. (34), warga Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya pada Minggu (12/4) sore, beberapa jam setelah tiba di Maumere dari Kupang.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 16.48 WITA di Dusun Watuliwung, RT/RW 007/004. Informasi tersebut disampaikan Kasi Humas Polres Sikka, AIPDA Leonardus Tunga.

Berdasarkan keterangan kepolisian, korban sebelumnya sempat berkomunikasi dengan keluarga untuk dijemput di Bandara Frans Seda Maumere setibanya dari Kupang. Namun saat keluarga tiba di bandara, korban tidak ditemukan.

Korban kemudian menghubungi salah satu saksi dan menyampaikan bahwa dirinya telah berada di rumah di Desa Watuliwung.

Dua saksi berinisial A.D. (43) dan A.H.S. (42) selanjutnya mendatangi rumah korban. Setibanya di lokasi, keduanya memanggil korban dari luar rumah, namun tidak mendapat respons.

Saat memasuki rumah dan membuka pintu kamar, saksi menemukan korban dalam kondisi tergantung menggunakan tali nilon berwarna biru yang terikat pada rangka atap rumah.

Ibu dan Anak Hilang di Sikka Sejak 1 April, Pencarian Berlanjut

Menurut keterangan kepolisian, saksi berupaya menurunkan korban dengan memotong tali dan meminta bantuan warga. Korban kemudian dibawa ke RS TC Hillers Maumere untuk mendapatkan penanganan medis, namun dinyatakan telah meninggal dunia setelah dilakukan pemeriksaan.

Polisi yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi kejadian, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta mengumpulkan keterangan saksi.

Korban diketahui merupakan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di SMP Nuba Arat, Kecamatan Kangae, dan tinggal seorang diri di rumahnya.

Penanganan kasus kematian yang diduga tidak wajar dilakukan melalui olah TKP, pemeriksaan medis, dan pengumpulan keterangan saksi. Autopsi menjadi salah satu prosedur yang dapat dilakukan untuk memastikan penyebab kematian, sesuai dengan ketentuan hukum dan persetujuan keluarga.

Keluarga korban menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Jenazah disemayamkan di rumah duka di Desa Watuliwung. Kepolisian masih melakukan pendalaman berdasarkan hasil olah TKP dan keterangan saksi.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending