EKONOMI
Akses Wolorega–Rejo Terbuka Bertahap Usai 21 Hari Terputus Banjir dan Longsor
“Kami akan kembali jika situasi membutuhkan.”
MAUMERE, GardaFlores — Akses transportasi menuju Desa Wolorega dan Desa Rejo, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, mulai pulih secara bertahap setelah terputus selama 21 hari akibat banjir dan longsor yang terjadi pada 20 Maret 2026.
Pemulihan akses dilakukan melalui operasi pembersihan oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sikka bersama masyarakat pada Jumat (10/4/2026). Sebanyak 20 personel TRC yang dipimpin Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Sikka, Petrus Poling Wairmahing, dikerahkan untuk membuka ruas jalan yang tertutup material longsor.
Bencana hidrometeorologi tersebut menyebabkan 579 jiwa di kedua desa terdampak isolasi, dengan aktivitas ekonomi, distribusi logistik, dan mobilitas warga terganggu. Selama periode tersebut, warga hanya mengandalkan jalur berjalan kaki untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Berdasarkan hasil asesmen lapangan, kerusakan terjadi pada ruas jalan sepanjang lebih dari 3 kilometer. Material longsor berupa tanah, pasir, dan batu menutup badan jalan dengan ketebalan mencapai sekitar 30 sentimeter di sejumlah titik, sementara titik lainnya mengalami kerusakan struktural berupa lubang dan badan jalan tergerus.
Dusun Bhana di Desa Wolorega dan Dusun Biji di Desa Rejo tercatat sebagai titik terdampak paling signifikan dan menjadi prioritas penanganan.
Hingga saat ini, sebagian ruas jalan telah dapat dilalui kendaraan roda dua secara terbatas, meski kondisi jalan belum stabil untuk dilalui kendaraan roda empat.
“Selama dua minggu kami hanya jalan kaki. Sekarang sudah bisa lewat ojek, walaupun belum bagus,” ujar Theresia Sue, warga Desa Rejo.
Produktivitas Jagung Nita: Panen BISI 18 Capai 2,77 Ton di Lahan 3,5 Hektare
Sekretaris Desa Wolorega, Petri Selestina Du’a, menyatakan warga telah melakukan upaya pembersihan secara mandiri sebelum intervensi pemerintah, namun terkendala keterbatasan alat berat dan tenaga.
“Kerusakan sangat parah. Warga sudah berusaha, tapi memang butuh bantuan lebih,” ujarnya.
Penjabat Kepala Desa Rejo, Benyamin Bani, menyampaikan bahwa hambatan di lapangan masih tersisa, termasuk tiang listrik yang tumbang dan menutup badan jalan. Pemerintah desa berencana berkoordinasi dengan PLN untuk percepatan penanganan.

Plt. Kalak BPBD Sikka, Petrus Poling Wairmahing: Penanganan masih berlangsung dan akan dilanjutkan secara bertahap sesuai kebutuhan. FOTO: IST
Plt. Kalak BPBD Sikka, Petrus Poling Wairmahing, menegaskan bahwa penanganan masih berlangsung dan akan dilanjutkan secara bertahap sesuai kebutuhan.
“Kami akan kembali jika situasi membutuhkan, tidak hanya di sini tetapi juga di wilayah lain seperti Bola, Talibura, dan Tanawawo,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan di tengah kondisi cuaca yang masih fluktuatif.
Pembukaan akses darurat merupakan tahap awal dalam pemulihan pascabencana. Pemulihan menyeluruh memerlukan intervensi lanjutan berupa perbaikan permanen infrastruktur jalan, penanganan utilitas publik, serta mitigasi risiko melalui rehabilitasi lingkungan, termasuk penguatan tutupan vegetasi di wilayah rawan longsor.
Hingga berita ini dipublikasikan, akses jalan Wolorega–Rejo telah terbuka sebagian dan masih dalam tahap pembersihan lanjutan. BPBD bersama pemerintah desa melanjutkan penanganan serta koordinasi lintas instansi untuk pemulihan infrastruktur dan mitigasi risiko jangka menengah.»(rel)
EKONOMI
KNMP Lowolabo Dibangun dengan Anggaran Rp4,72 Miliar, Masa Kerja 120 Hari
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago meletakkan batu pertama pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Lowolabo, Kecamatan Paga. Proyek senilai Rp4,72 miliar itu memiliki masa pengerjaan 120 hari.
MAUMERE, GardaFlores — Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Lowolabo, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, dimulai melalui peletakan batu pertama oleh Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, Rabu (14/10/2026). Proyek senilai Rp4,72 miliar itu dikerjakan PT Arum Daya Sentausa dengan masa pengerjaan 120 hari.
Pembangunan tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendukung kegiatan perikanan melalui penyediaan infrastruktur di kawasan pesisir.
Juventus mengatakan Lowolabo merupakan satu dari delapan desa di Kabupaten Sikka yang ditetapkan sebagai lokasi pembangunan KNMP. Penetapan lokasi, menurut dia, didasarkan pada hasil penilaian yang mempertimbangkan ketersediaan data dan potensi sektor perikanan.
Ketersediaan lahan menjadi salah satu kendala pembangunan KNMP di Kabupaten Sikka. Juventus menyebut lokasi di Lowolabo tersedia dan berdekatan dengan Koperasi Merah Putih, yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program.
Bupati meminta pelaksana melibatkan masyarakat setempat, termasuk dalam penyediaan material, serta menjaga kualitas pekerjaan.
“Semua pihak harus terlibat untuk mendukung pelaksanaannya sehingga pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih ini lancar dan berjalan baik,” kata Juventus.
Nilai kontrak pembangunan KNMP Lowolabo tercatat sebesar Rp4.723.090.147,59 dengan masa pengerjaan 120 hari. Fasilitas yang dibangun diharapkan mendukung aktivitas perikanan dan penanganan hasil tangkapan, meski rincian jenis fasilitas dalam proyek Lowolabo belum dijelaskan dalam keterangan yang tersedia.
Peletakan batu pertama turut dihadiri Camat Paga, Penjabat Kepala Desa Lowolabo, perwakilan perangkat daerah, wakil sah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan KNMP Kabupaten Sikka, konsultan pengawas, dan tokoh masyarakat.»(rel)
EKONOMI
Sejumlah Titik KNMP di Sikka Terkendala Kawasan TWA
Sejumlah titik pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sikka perlu ditinjau ulang karena berada dalam kawasan Taman Wisata Alam. Sementara itu, proyek KNMP di Nangahure mulai dibangun dengan anggaran Rp3,21 miliar.
MAUMERE, GardaFlores — Sejumlah titik pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi persoalan lokasi karena berada dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA). Pemerintah Kabupaten Sikka sedang mengupayakan peninjauan ulang setelah menerima surat dari Kementerian Kehutanan.
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menyampaikan persoalan itu saat peletakan batu pertama pembangunan KNMP di Nangahure, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Selasa (13/10/2026).
“Kita punya delapan titik ini, tetapi ada beberapa titik yang jadi masalah karena masih masuk dalam kawasan TWA. Ada surat dari Kementerian Kehutanan untuk kemudian ditinjau ulang titiknya. Ini yang sedang kita upayakan,” kata Juventus.
Proyek KNMP Wuring Rp3,2 Miliar Terlambat, Tahap Ini Fokus Fondasi
Ia belum merinci jumlah titik yang terdampak, lokasi masing-masing titik, maupun keputusan yang akan diambil setelah peninjauan. Belum ada penjelasan apakah lokasi tersebut akan tetap dipertahankan atau dialihkan.
Sementara persoalan lokasi itu masih ditangani, pembangunan KNMP di Nangahure telah dimulai. Proyek tersebut dikerjakan PT Arum Daya Sentausa dengan nilai anggaran Rp3.214.500.000 dan ditargetkan rampung pada akhir Desember 2026.
Menurut Juventus, pembangunan KNMP diarahkan untuk mendukung usaha nelayan melalui penyediaan fasilitas perikanan, antara lain tambatan perahu, pabrik es, penerangan, serta sarana penanganan dan pemasaran ikan. Pemerintah juga menyiapkan dukungan off-taker, yakni pihak yang menyerap hasil produksi nelayan.
Juventus mengatakan proses menuju pembangunan di Nangahure sempat menghadapi sejumlah kendala dan dinamika di tengah masyarakat. Ia menyebut komunikasi dengan masyarakat setempat turut dibantu oleh sejumlah pihak, termasuk Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh rincian resmi mengenai titik-titik KNMP yang harus ditinjau ulang akibat persoalan kawasan TWA maupun jadwal penyelesaian peninjauan tersebut. Kepastian itu diperlukan untuk mengetahui kelanjutan pembangunan pada titik-titik yang terdampak.»(rel)
EKONOMI
Proyek KNMP Wuring Rp3,2 Miliar Terlambat, Tahap Ini Fokus Fondasi
Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Nangahure, Wuring, senilai Rp3,21 miliar mengalami keterlambatan. Pekerjaan tahap ini berfokus pada fondasi, sedangkan bangunan fasilitas akan dilanjutkan oleh direktorat terkait di KKP.
MAUMERE, GardaFlores — Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Nangahure, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, mengalami keterlambatan dari jadwal kontrak awal. Proyek senilai Rp3.214.500.000 yang dikerjakan PT Arum Daya Sentausa itu ditargetkan rampung pada Desember 2026, tetapi pekerjaan pada tahap ini masih berfokus pada fondasi.
Peletakan batu pertama proyek tersebut dilakukan pada Selasa (13/10/2026). Wakil Sah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan KNMP Kabupaten Sikka, Amrita Wahyu, mengatakan kontraktor telah menyatakan kesanggupan untuk mempercepat pekerjaan.
Meski demikian, Amrita tidak merinci tingkat keterlambatan maupun progres fisik pekerjaan saat peletakan batu pertama.
Menurut dia, pekerjaan pada tahap ini mencakup pembangunan fondasi. Pembangunan bangunan fasilitas akan dilanjutkan oleh Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pembagian tahapan tersebut membuat penyelesaian fondasi dan kelanjutan pembangunan fasilitas menjadi dua hal yang perlu dipantau untuk memastikan sarana KNMP dapat digunakan oleh nelayan.
Di Nangahure, fasilitas yang direncanakan meliputi tambatan perahu, shelter pendaratan ikan, pabrik es portabel, kios perbekalan, sarana air bersih dan sumur bor, penerangan jalan kawasan, jalan lingkungan, serta saluran drainase.
Bupati Sikka: Jangan Sukses Habiskan Anggaran, tetapi Gagal Hadirkan Perubahan
Amrita mengatakan pembangunan KNMP merupakan program KKP untuk mendukung kegiatan produksi perikanan melalui penyediaan infrastruktur bagi nelayan. Kabupaten Sikka pada 2026 mendapat alokasi pembangunan di delapan lokasi.
Ia meminta kontraktor mempercepat pekerjaan dengan tetap menjaga mutu konstruksi dan transparansi pelaksanaan. Namun, jadwal rinci penyelesaian fondasi dan dimulainya pembangunan fasilitas lanjutan belum disampaikan.
Dengan target penyelesaian pada akhir Desember 2026, progres proyek di Nangahure menjadi perhatian, terutama karena pekerjaan tahap ini belum mencakup seluruh fasilitas yang direncanakan untuk mendukung kegiatan nelayan di Wuring.»(rel)
-
NASIONAL12 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
