Connect with us

OPINI

DBD di Sikka: Alarm yang Terabaikan

Published

on

Oleh Stefanus Bajo, S.Sos

 

Demam Berdarah Dengue (DBD) bukanlah penyakit baru bagi masyarakat Kabupaten Sikka. Ia telah lama hadir, berulang dari tahun ke tahun, menyasar anak-anak, orang dewasa, hingga lansia. Namun ironisnya, meski kehadirannya konsisten dan dampaknya nyata, DBD kerap diperlakukan seolah hanya sebagai “penyakit musiman” yang datang dan pergi tanpa makna struktural. Padahal, di balik setiap kasus DBD tersimpan pesan keras tentang kegagalan sistemik dalam tata kelola kesehatan lingkungan, perencanaan wilayah, dan kesadaran kolektif masyarakat. DBD di Sikka sejatinya adalah sebuah alarm—namun alarm itu terlalu sering diabaikan.

Setiap kali musim hujan tiba, berita tentang meningkatnya kasus DBD kembali terdengar. Rumah sakit mulai penuh, ruang rawat anak dipadati pasien, tenaga kesehatan bekerja di bawah tekanan, dan keluarga diliputi kecemasan. Sayangnya, ketika angka kasus mulai menurun, perhatian publik dan pemerintah pun ikut mereda. Tidak ada refleksi mendalam, tidak ada evaluasi menyeluruh, dan yang lebih mengkhawatirkan, tidak ada perubahan mendasar dalam cara kita mencegah dan menangani penyakit ini. DBD akhirnya menjadi rutinitas penderitaan yang dinormalisasi—datang, ditangani seadanya, lalu dilupakan.

Masalah utama dalam penanganan DBD di Sikka adalah kecenderungan melihatnya sebagai persoalan medis semata. Ketika kasus meningkat, respons yang muncul hampir selalu bersifat reaktif: fogging dilakukan, selebaran dibagikan, dan imbauan kebersihan disuarakan. Semua itu penting, tetapi jelas tidak cukup. Fogging sering dianggap sebagai solusi utama, padahal ia hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyentuh akar persoalan. Ketika genangan air, sampah plastik, selokan tersumbat, dan wadah air terbuka dibiarkan, fogging hanyalah penenang sesaat, bukan penyembuh.

DBD adalah penyakit yang sangat terkait dengan kondisi lingkungan dan perilaku manusia. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di air bersih yang tergenang—di bak mandi, ember, kaleng bekas, ban kendaraan, hingga pot bunga. Fakta ini menunjukkan bahwa DBD tidak bisa dilepaskan dari persoalan pengelolaan sampah, sistem drainase, kepadatan permukiman, dan budaya hidup bersih. Di banyak wilayah Sikka, terutama kawasan perkotaan dan pesisir, persoalan sampah masih menjadi masalah kronis. Sampah rumah tangga sering dibuang sembarangan, pengangkutan tidak terjadwal dengan baik, dan tempat pembuangan sementara kerap berubah menjadi sumber genangan air. Dalam kondisi seperti ini, DBD bukan lagi ancaman, melainkan keniscayaan.

Lebih jauh, DBD mencerminkan lemahnya integrasi kebijakan lintas sektor. Penanganannya sering dibebankan hampir sepenuhnya kepada dinas kesehatan, seolah DBD hanya urusan puskesmas dan rumah sakit. Padahal, pencegahan DBD membutuhkan keterlibatan aktif dinas lingkungan hidup, pekerjaan umum, pendidikan, hingga pemerintah desa dan kelurahan. Tanpa koordinasi yang solid, upaya pencegahan akan selalu terfragmentasi. Membersihkan lingkungan tanpa edukasi berkelanjutan akan sia-sia, sebagaimana kampanye kesehatan tanpa dukungan infrastruktur dasar.

Aspek lain yang sering luput adalah ketimpangan informasi dan kesadaran masyarakat. Masih banyak warga yang menganggap DBD sebagai “penyakit biasa” yang akan sembuh dengan sendirinya. Gejala awal seperti demam tinggi, nyeri kepala, dan lemas kerap diabaikan atau hanya diatasi dengan obat penurun panas. Akibatnya, pasien baru dibawa ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah memburuk. Ini bukan semata kesalahan individu, melainkan kegagalan sistem edukasi kesehatan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara efektif, kontekstual, dan berkelanjutan.

Di sisi lain, tenaga kesehatan di Sikka bekerja dalam keterbatasan yang nyata. Fasilitas yang minim, jumlah tenaga yang tidak sebanding dengan beban kerja, serta keterbatasan alat diagnostik menjadi tantangan sehari-hari. Dalam situasi lonjakan kasus DBD, tekanan ini semakin terasa. Kita sering memuji dedikasi tenaga kesehatan, tetapi jarang bertanya apakah sistem telah memberi mereka dukungan yang layak. Mengandalkan heroisme individu tanpa membenahi sistem adalah bentuk pengabaian yang halus, namun berbahaya.

DBD di Sikka: Alarm yang Terabaikan. ILUSTRASI

DBD juga berkaitan erat dengan isu perubahan iklim. Pola cuaca yang semakin tidak menentu, curah hujan tinggi dalam waktu singkat, serta suhu yang meningkat menciptakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan nyamuk. Sayangnya, diskursus tentang perubahan iklim masih jarang dikaitkan secara konkret dengan kebijakan kesehatan daerah. Tanpa perspektif jangka panjang yang mempertimbangkan faktor iklim, strategi penanggulangan DBD akan selalu tertinggal satu langkah di belakang.

Yang paling memprihatinkan adalah kecenderungan menjadikan angka sebagai satu-satunya indikator keberhasilan. Ketika angka kasus menurun, kita merasa aman. Padahal, penurunan angka tanpa perubahan struktural hanyalah jeda sebelum lonjakan berikutnya. Kita lupa bahwa di balik setiap angka ada manusia, ada keluarga, ada trauma, bahkan ada kematian. Setiap kasus DBD yang sebenarnya bisa dicegah adalah kegagalan kolektif kita dalam melindungi kehidupan.

Pemerintah daerah perlu berani keluar dari pola lama. Penanganan DBD harus ditempatkan sebagai agenda prioritas yang berkelanjutan, bukan proyek musiman. Dibutuhkan peta jalan yang jelas dan terukur: perbaikan sistem drainase, pengelolaan sampah yang terintegrasi, edukasi kesehatan sejak usia sekolah, penguatan peran kader kesehatan di tingkat komunitas, serta sistem pemantauan lingkungan yang konsisten. Pemerintah desa dan kelurahan harus diberi peran dan sumber daya yang memadai, karena merekalah yang paling dekat dengan realitas warga.

Namun tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat juga harus berani bercermin. Budaya membuang sampah sembarangan, abai terhadap kebersihan lingkungan, dan sikap “asal bukan rumah saya” harus diakhiri. DBD mengajarkan bahwa kesehatan adalah urusan bersama. Nyamuk tidak mengenal batas pagar, status sosial, atau afiliasi politik. Lingkungan yang kotor di satu rumah bisa menjadi sumber penyakit bagi seluruh kampung.

Media lokal dan tokoh masyarakat memiliki peran strategis dalam upaya ini. Media tidak hanya bertugas memberitakan jumlah kasus, tetapi juga mengawal kebijakan, mengkritisi kelambanan, dan mengedukasi publik secara konsisten. Tokoh agama, tokoh adat, dan pendidik dapat menjadi agen perubahan yang efektif dengan menyampaikan pesan kesehatan dalam bahasa dan konteks yang dekat dengan masyarakat. DBD bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga isu moral tentang kepedulian terhadap sesama.

Jika kita jujur, DBD di Sikka adalah cermin dari cara kita mengelola kehidupan bersama. Ia menunjukkan sejauh mana kita menghargai lingkungan, merencanakan pembangunan, dan membangun solidaritas sosial. Alarm itu telah lama berbunyi—setiap musim hujan, setiap lonjakan kasus, setiap anak yang terbaring lemah di ruang perawatan. Mengabaikannya berarti membiarkan penderitaan berulang tanpa pembelajaran.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang: dari reaktif menjadi preventif, dari sektoral menjadi kolaboratif, dari seremonial menjadi substansial. DBD di Sikka bukan sekadar persoalan nyamuk dan virus. Ia adalah alarm tentang kualitas tata kelola, kesadaran kolektif, dan keberpihakan nyata pada kehidupan manusia. Sudah saatnya kita bangun, mendengar, dan bertindak, sebelum alarm itu berubah menjadi peringatan akhir yang hanya menyisakan penyesalan.»

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

OPINI

Hari Anak Nasional: Yang Sesungguhnya Sedang Diuji Adalah Orang Dewasa

Published

on

Hari Anak Nasional: Yang Sesungguhnya Sedang Diuji Adalah Orang Dewasa. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh: Stefanus Bajo, S.Sos

Setiap tanggal 23 Juli, kita merayakan Hari Anak Nasional. Anak-anak diajak mengikuti lomba, pentas seni, atau menerima hadiah. Media sosial dipenuhi ucapan selamat. Spanduk dan baliho mengingatkan bahwa anak adalah masa depan bangsa.

Semua itu tentu baik. Namun setiap kali Hari Anak Nasional tiba, saya justru merasa ada satu pertanyaan yang sering terlupakan. Apakah hari ini sebenarnya milik anak-anak? Atau jangan-jangan, hari ini justru menjadi hari ujian bagi orang dewasa?

Sebab anak-anak tidak pernah meminta dilahirkan. Kitalah yang menghadirkan mereka ke dunia. Mereka tidak memilih lahir di keluarga yang kaya atau miskin. Mereka tidak memilih sekolahnya. Mereka tidak memilih lingkungan tempat mereka bertumbuh. Semua keputusan itu dibuat oleh orang-orang dewasa.

Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan anak, sesungguhnya yang sedang kita bicarakan adalah kualitas orang dewasa yang mengelilingi mereka hari ini.

Anak-anak tidak pernah gagal menjadi anak.

Merekalah yang berlari ketika melihat lapangan kosong, tertawa tanpa alasan yang rumit, dan masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik. Yang sering kali gagal justru kita, orang-orang dewasa, ketika lupa menyediakan dunia yang aman untuk mereka.

Kasih sayang memang menjadi awal dari segalanya. Namun kasih sayang saja tidak cukup.

Kasih sayang yang tidak berubah menjadi perlindungan sering kali hanya berhenti sebagai perasaan.

Seorang anak mungkin mendapatkan pelukan sebelum berangkat sekolah. Tetapi apakah ia juga memperoleh perlindungan dari perundungan? Seorang anak mungkin diberi telepon pintar agar tidak merasa kesepian di rumah. Tetapi apakah ia juga didampingi ketika menjelajahi dunia digital yang penuh risiko? Seorang anak mungkin menerima uang jajan setiap pagi. Tetapi apakah ia juga menerima waktu untuk didengar ketika pulang ke rumah?

Di situlah kasih sayang menemukan makna yang sesungguhnya.

Ia bukan hanya soal memberi. Ia juga soal hadir.

Hari Anak Nasional mengingatkan kita bahwa ancaman terhadap anak hari ini tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Kekerasan terhadap anak masih terjadi. Perundungan hadir bukan hanya di halaman sekolah, tetapi juga di layar telepon genggam. Pernikahan usia dini masih merampas masa kanak-kanak. Sebagian anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah, sementara yang lain tumbuh tanpa pendampingan karena orang-orang dewasa terlalu sibuk mengejar kehidupan.

Ironisnya, kita sering lebih cepat membeli telepon pintar untuk anak daripada menyediakan waktu tiga puluh menit untuk mendengar cerita mereka.

Padahal, tidak ada aplikasi yang mampu menggantikan kehadiran seorang ayah.

Tidak ada media sosial yang dapat menggantikan pelukan seorang ibu.

Tidak ada kecerdasan buatan yang dapat menggantikan keteladanan orang tua.

Karena itulah keluarga tetap menjadi sekolah pertama yang tidak pernah bisa digantikan oleh institusi mana pun.

Namun keluarga tidak dapat berjalan sendiri.

Sekolah memiliki tanggung jawab membangun ruang belajar yang aman. Pemerintah berkewajiban memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan, kesehatan, dan perlindungan. Tokoh agama, tokoh adat, media, organisasi masyarakat, hingga tetangga di sekitar rumah memiliki peran yang sama pentingnya. Membesarkan anak sesungguhnya adalah pekerjaan seluruh peradaban.

Di Kabupaten Sikka, komitmen untuk melindungi anak harus terus diperkuat, bukan hanya melalui regulasi, tetapi juga melalui budaya. Sebab lingkungan yang ramah anak tidak dibangun oleh papan nama atau piagam penghargaan. Ia lahir dari kebiasaan orang-orang dewasa yang memilih mendengar sebelum memarahi, membimbing sebelum menghukum, dan melindungi sebelum menyalahkan.

Kita sering mengatakan bahwa anak adalah investasi masa depan. Kalimat itu benar. Tetapi investasi tidak pernah bertumbuh hanya dengan harapan. Ia membutuhkan waktu, perhatian, disiplin, dan komitmen yang dijaga setiap hari.

Karena itu, Hari Anak Nasional bukanlah sekadar hari untuk mengucapkan, “Selamat Hari Anak.”

Hari ini seharusnya menjadi hari ketika setiap orang dewasa bertanya kepada dirinya sendiri.

Sudahkah saya menjadi ayah yang hadir? Sudahkah saya menjadi ibu yang mendengar? Sudahkah saya menjadi guru yang menguatkan?

Sudahkah saya menjadi pemimpin yang membuat kebijakan berpihak kepada anak?

Sudahkah saya menjadi tetangga yang peduli ketika melihat seorang anak membutuhkan pertolongan?

Sebab pada akhirnya, anak-anak tidak membutuhkan pidato yang lebih panjang setiap tanggal 23 Juli.

Mereka membutuhkan rumah yang aman. Sekolah yang ramah. Lingkungan yang melindungi.

Dan orang-orang dewasa yang tidak hanya mengatakan bahwa mereka mencintai anak-anak, tetapi membuktikannya dalam tindakan setiap hari.

Karena sesungguhnya, Hari Anak Nasional bukanlah hari ketika kita menguji anak-anak.

Hari Anak Nasional adalah hari ketika orang dewasa bercermin.»

Continue Reading

OPINI

Truk Sudah Datang, Kini Saatnya Koperasi Benar-Benar Bergerak

Published

on

Truk Sudah Datang, Kini Saatnya Koperasi Benar-Benar Bergerak. FOTO: IST

Oleh: Karel Pandu

Empat truk Hino sudah tiba di Kabupaten Sikka. Warnanya masih mengilap, bannya masih baru, bahkan mesinnya setiap hari dihidupkan agar tetap prima. Sayangnya, roda-roda itu belum mengangkut apa pun selain harapan.

Bukan karena sopirnya belum ada. Bukan pula karena solar sulit didapat.

Truk-truk itu masih menunggu gerai Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) siap beroperasi.

Kalau di Flores kita sering bercanda, “mobil baru biasanya lebih dulu diparkir di depan rumah supaya tetangga tahu.” Bedanya, kali ini yang diparkir bukan milik pribadi, melainkan aset negara yang memang belum boleh digunakan. Humor itu mungkin mengundang senyum, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa setiap aset publik baru akan bernilai ketika mulai bekerja untuk masyarakat.

Sebenarnya tidak ada yang keliru dengan keputusan menahan penyerahan kendaraan. Justru langkah itu patut diapresiasi karena menunjukkan kehati-hatian agar aset negara tidak digunakan sebelum mekanisme operasionalnya siap.

Pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa truk sudah datang, melainkan kapan seluruh ekosistem koperasi benar-benar siap berjalan.

Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih lahir bukan sekadar untuk membangun gedung atau menyediakan kendaraan. Pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 menempatkan koperasi ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi desa, memperpendek rantai distribusi, mengembangkan usaha masyarakat, hingga mendukung ketahanan pangan dan pemerataan ekonomi.

Artinya, truk hanyalah salah satu alat. Tujuan akhirnya bukan kendaraan itu sendiri, melainkan pelayanan ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat desa.

Di Kabupaten Sikka, pekerjaan itu memang belum selesai. Dari 149 desa dan kelurahan, baru empat gerai yang telah rampung, sementara puluhan lainnya masih dalam proses pembangunan. Salah satu kendala yang diakui pemerintah adalah ketersediaan lahan yang harus melalui proses survei dan verifikasi sebelum pembangunan dimulai.

Fakta itu menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan pada pengadaan kendaraan, melainkan pada sinkronisasi seluruh tahapan pelaksanaan program.

Pengalaman di berbagai daerah mengajarkan bahwa banyak program pembangunan gagal bukan karena kekurangan anggaran atau aset, melainkan karena setiap bagian bergerak dengan kecepatannya sendiri. Gedung selesai, pengurus belum siap. Pengurus terbentuk, model bisnis belum jelas. Kendaraan datang, tetapi kegiatan usaha belum berjalan.

Padahal koperasi bukanlah garasi.

Ia hidup dari transaksi, kepercayaan anggota, tata kelola yang baik, serta kemampuan membaca potensi ekonomi desa.

Kalau nanti truk itu hanya sesekali keluar untuk acara seremonial lalu kembali diparkir, masyarakat tentu akan bertanya: apakah yang sedang dibangun adalah koperasi atau sekadar tempat menyimpan kendaraan?

Pertanyaan itu sah diajukan karena keberhasilan sebuah koperasi tidak pernah diukur dari jumlah asetnya.

Yang diukur adalah berapa petani terbantu menjual hasil panennya dengan harga lebih baik.

Berapa nelayan memperoleh akses distribusi yang lebih murah.

Berapa pelaku UMKM mendapatkan pasar baru.

Berapa keluarga yang akhirnya merasakan manfaat nyata dari keberadaan koperasi.

Di Flores, orang tidak terlalu peduli apakah truk itu Hino, Fuso, atau merek lainnya. Yang mereka ingin lihat sederhana saja: truk itu bergerak. Membawa hasil bumi dari desa ke pasar, mengantar kebutuhan pokok ke kampung, dan membuat roda ekonomi berputar lebih cepat.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari seremoni penyerahan aset.

Mereka hidup dari manfaat yang dihasilkan aset itu.

Empat truk sudah tiba.

Kini tantangannya bukan lagi memastikan mesinnya tetap hidup setiap pagi.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan koperasinya ikut hidup.

Sebab mesin yang terus dipanaskan tetapi tidak pernah berjalan hanya akan menghabiskan bahan bakar. Sebaliknya, koperasi yang sehat akan menggerakkan jauh lebih banyak daripada empat truk—ia menggerakkan ekonomi desa, membuka kesempatan usaha, dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan publik.»

Continue Reading

OPINI

Inggris vs Argentina: Ketika Sejarah, Nasionalisme, dan Sepak Bola Bertemu Lagi

Sepak bola seharusnya terus menjadi jembatan yang mempertemukan bangsa-bangsa, bukan memperpanjang luka masa lalu.

Published

on

Inggris vs Argentina: Ketika Sejarah, Nasionalisme, dan Sepak Bola Bertemu Lagi. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh: Gabriel Ola
(Penikmat Sepak Bola)

Pertandingan Inggris melawan Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 bukan sekadar duel dua kekuatan sepak bola dunia. Di balik taktik, strategi, dan kualitas individu para pemain, selalu ada sejarah panjang yang ikut bermain. Sejarah itu bernama Kepulauan Malvinas—atau Falklands menurut Inggris.

Puluhan tahun telah berlalu sejak perang pecah pada 2 April 1982 ketika pemerintahan militer Argentina di bawah Jenderal Leopoldo Galtieri mengirim pasukan untuk menduduki Kepulauan Malvinas. Inggris, yang saat itu dipimpin Perdana Menteri Margaret Thatcher, membalas dengan operasi militer besar-besaran.

Perang berlangsung selama 74 hari dan berakhir dengan kemenangan Inggris pada 14 Juni 1982. Kekalahan itu mengguncang Argentina, mempercepat runtuhnya rezim junta militer, sementara Margaret Thatcher justru memperoleh dukungan politik yang mengantarnya kembali memenangkan pemilu tahun berikutnya.

Namun sejarah tidak berhenti di medan perang.

Empat tahun kemudian, pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, Argentina menemukan ruang untuk membalas luka nasionalnya, bukan dengan senjata, melainkan melalui sepak bola. Diego Armando Maradona mencetak dua gol paling terkenal dalam sejarah. Yang pertama lahir melalui “Gol Tangan Tuhan”, sementara yang kedua tercipta setelah melewati lima pemain Inggris sebelum menaklukkan Peter Shilton.

Argentina menang 2-1.

Bagi banyak rakyat Argentina, kemenangan itu bukan sekadar tiket menuju semifinal. Ia menjadi simbol pemulihan harga diri bangsa yang empat tahun sebelumnya kalah dalam Perang Malvinas.

Perseteruan itu terus berlanjut di lapangan hijau.

Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, kedua negara kembali bertemu di babak 16 besar. Laga berakhir imbang 2-2 sebelum Argentina menang melalui adu penalti 4-3.

Inggris membalas pada Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Gol penalti David Beckham membawa The Three Lions menang 1-0 sekaligus mengakhiri penantian panjang atas rival yang selama bertahun-tahun menjadi bayang-bayang psikologis mereka.

Karena itulah setiap pertemuan Inggris dan Argentina hampir selalu menghadirkan narasi yang lebih besar daripada sekadar sepak bola.

Semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta kembali menghadirkan babak baru rivalitas tersebut. Inggris sempat berada di atas angin setelah Anthony Gordon membawa tim asuhan Thomas Tuchel unggul pada babak kedua. Namun Argentina menunjukkan karakter juara. Enzo Fernández menyamakan kedudukan pada menit ke-85 melalui umpan Lionel Messi, sebelum Lautaro Martínez memastikan kemenangan 2-1 pada masa injury time. Hasil itu mengantar Argentina kembali ke final untuk menghadapi Spanyol.

Lionel Messi sekali lagi menjadi pusat cerita. Pada usia yang tidak lagi muda untuk ukuran pesepak bola profesional, ia belum berhenti menjadi pembeda. Dua assist yang lahir dari kakinya menjadi bukti bahwa kelas seorang legenda tidak selalu diukur dari jumlah gol, tetapi juga dari kemampuan menentukan arah pertandingan pada saat-saat paling menentukan.

Sebaliknya, bagi Inggris, kekalahan ini kembali memperpanjang penantian menuju gelar dunia sejak 1966. Mereka sempat begitu dekat dengan final, tetapi gagal mempertahankan keunggulan ketika memilih bermain lebih bertahan pada menit-menit akhir. Pelatih Thomas Tuchel bahkan mengakui keputusan taktisnya menjadi bagian dari penyebab kegagalan tersebut.

Apakah kemenangan Argentina kali ini merupakan kelanjutan sentimen Malvinas?

Jawabannya mungkin tidak sesederhana itu.

Generasi pemain hari ini lahir jauh setelah perang berakhir. Mereka tidak memikul pengalaman langsung dari konflik 1982. Namun sejarah tetap hidup melalui memori kolektif, pendidikan, media, dan identitas nasional. Setiap kali Inggris dan Argentina bertemu, publik di kedua negara hampir selalu mengingat kembali bab-bab lama yang pernah menghubungkan keduanya.

Di sinilah sepak bola memperlihatkan wajahnya yang unik.

Ia memang dimainkan oleh dua tim yang masing-masing berisi sebelas pemain. Namun dalam pertandingan tertentu, sepak bola juga menjadi ruang tempat sejarah, identitas, emosi, dan kebanggaan nasional ikut hadir bersama bola yang terus bergulir.

Meski demikian, rivalitas sebesar apa pun tidak boleh mengalahkan nilai utama olahraga.

Sepak bola pada akhirnya bukan tentang membenci lawan, melainkan tentang menghormati lawan. Ia mengajarkan bahwa kemenangan diraih melalui kemampuan, kerja sama, disiplin, dan sportivitas, bukan melalui permusuhan.

Malvinas akan tetap menjadi bagian dari sejarah.

Tetapi sepak bola seharusnya terus menjadi jembatan yang mempertemukan bangsa-bangsa, bukan memperpanjang luka masa lalu.

Kini Argentina melangkah ke partai final menghadapi Spanyol dengan peluang mencatat sejarah sebagai juara dunia berturut-turut, sesuatu yang terakhir kali dilakukan Brasil lebih dari enam dekade lalu. Apa pun hasil akhirnya nanti, semifinal melawan Inggris sekali lagi membuktikan bahwa ketika kedua negara bertemu di lapangan hijau, dunia selalu menyaksikan lebih dari sekadar sebuah pertandingan sepak bola.»

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending