Connect with us

SOSBUD

Warga Likonggete Pertanyakan Proyek Air Minum Senilai Rp 452 Juta yang Tak Berfungsi

Published

on

Maumere, GardaFlores – Sejumlah warga Desa Likonggete, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, mempertanyakan proyek air minum bersih yang menggunakan Dana Desa tahun anggaran 2024. Proyek senilai Rp 452 juta itu hingga kini belum memberikan manfaat bagi masyarakat, meskipun dana telah terserap sepenuhnya.

Dalam rapat penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Pemerintah Desa Likonggete baru-baru ini, salah seorang warga, Yohanes Yansen, mengungkapkan kekecewaannya karena belum berfungsinya proyek air bersih tersebut.

Markus Meak (kiri) Muhammad Yusuf Lewor Goban (tengah), Yohanes Yansen (kanan).

Menurutnya, masyarakat hingga kini belum dapat menikmati fasilitas air minum sebagaimana yang dijanjikan pemerintah desa.

Warga Nilai LKPJ Desa Likong Gete Tidak Sah, BPD Dituding Tutupi Informasi

“Kami tidak tahu di mana letak persoalannya. Saat ditanya dalam rapat LKPJ, jawaban yang diberikan pemerintah desa tidak jelas dan terkesan saling melempar tanggung jawab,” ujar Yohanes Yansen di Maumere, Senin (13/10/2025).

Yohanes juga menilai, jawaban pemerintah desa seolah-olah menyalahkan Tim Pelaksana Kegiatan (TPK). Ia kemudian mendesak agar pihak desa menghadirkan TPK untuk memberikan klarifikasi langsung di hadapan warga. Namun, permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh pemerintah desa.

Bak penampung air berjarak 2 km dari mata air (kanan), bak penampung dekat mata air (kiri).

Selain TPK, Yohanes juga meminta agar Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menghadirkan tim tenaga teknis yang terlibat dalam pelaksanaan proyek tersebut untuk memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat. Menurutnya, papan proyek yang terpasang pada awal kegiatan mencantumkan masa kerja selama 90 hari kalender, namun hingga kini hasilnya belum bisa dinikmati.

Kapolres Sikka Pimpin Safari Kamtibmas dan Tatap Muka di Polsek Paga

Senada dengan Yohanes, Markus Meak, salah satu tokoh masyarakat lainnya, juga menyoroti pelaksanaan proyek air minum bersih di Desa Likonggete. Ia menyebut, jawaban pemerintah desa saat ditanya mengenai keterlambatan proyek terkesan tidak transparan dan saling menuding.

“Kami tidak ingin proyek ini berakhir tanpa hasil. Kalau airnya tidak sampai ke rumah warga, artinya perencanaan dan pelaksanaannya bermasalah,” tegas Markus.

Markus menilai, berbagai kendala teknis seperti perbedaan elevasi antara sumber air dan pemukiman seharusnya sudah diperhitungkan sejak tahap perencanaan. Ia mencontohkan pengalaman di beberapa desa lain di mana proyek air bersih juga terkendala akibat perencanaan yang kurang matang dan keterlambatan pekerjaan.

Material semen yang telah membatu di 2 lokasi dekat mata air.

Menurut Markus, lemahnya kapasitas sumber daya manusia di desa serta minimnya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan proyek turut menjadi penyebab proyek tidak berjalan sesuai kebutuhan warga.

Begini Pesan Wabup Sikka Kepada Tenaga Kesehatan Saat Resmikan Puskesmas Kojagete

Sementara itu, Muhammad Yusuf Lewor Goban mengatakan, warga berhak mengetahui informasi lengkap terkait proyek tersebut, mulai dari nilai anggaran, jarak saluran air, hingga status akhir pekerjaan.

“Berdasarkan informasi yang kami terima, proyek air minum bersih ini dimulai dari sumber mata air Mahe dengan nilai anggaran Rp 452 juta dan waktu pelaksanaan selama 90 hari. Namun sampai hari ini, airnya belum sampai,” ungkap Yusuf.

Ia pun mempertanyakan penggunaan anggaran yang sudah habis namun belum memberikan hasil nyata bagi warga. Karena itu, masyarakat mendesak Pj. Kepala Desa Likonggete, TPK, dan BPD untuk segera memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan proyek tersebut.

Mobil Bor Air Senilai Rp 1,9 Miliar Masih Parkir di Dinas PUPR Sikka, Polisi Segera Gelar Perkara di Polda NTT

Markus Meak menambahkan, hasil survei lapangan yang dilakukan bersama beberapa warga menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara laporan pelaksanaan dan kondisi di lapangan. Ia bahkan berharap aparat penegak hukum, termasuk pihak kepolisian, turun langsung untuk melakukan pemeriksaan terhadap proyek tersebut.

“Kami ingin persoalan ini dibuka terang-benderang. Kalau memang ada penyimpangan, harus ada tindakan hukum,” pungkas Markus.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Desa Likonggete dan TPK belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tidak berfungsinya proyek air minum bersih tersebut.»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SOSBUD

35 KK di Napugera Hampir Sebulan Kesulitan Air, Warga Soroti Kerusakan Fasilitas Desa

Kerusakan pipa dan bak penampungan air desa membuat 35 kepala keluarga di Dusun Puutua, Desa Napugera, Kecamatan Mego, Sikka, disebut hampir sebulan kesulitan mendapatkan air minum. Warga juga menyampaikan dugaan terkait kerusakan aset dan penggunaan anggaran desa yang meminta pemeriksaan pemerintah.

Published

on

Fasilitas air minum desa di Dusun Puutua, Desa Napugera, Kecamatan Mego, Sikka, dilaporkan rusak sehingga 35 kepala keluarga disebut kesulitan mendapatkan air selama hampir satu bulan.

MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 35 kepala keluarga atau sekitar 95 jiwa di Dusun Puutua, Desa Napugera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, disebut mengalami kesulitan mendapatkan air minum selama hampir satu bulan setelah fasilitas air minum desa mengalami kerusakan.

Fasilitas yang dilaporkan rusak berupa pipa sepanjang sekitar 50 meter dan bak penampungan air minum di RT 04/RW 04 Dusun Puutua. Kerusakan tersebut menyebabkan aliran air yang selama ini digunakan warga tidak lagi mengalir ke permukiman.

Ikanasius Koti menyampaikan kondisi tersebut kepada wartawan di Maumere, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Koti, warga terpaksa mencari sumber air lain yang berjarak sekitar dua kilometer dari permukiman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sudah sekitar satu bulan warga kesulitan mendapatkan air minum. Untuk mengambil air, warga harus menempuh jarak kurang lebih dua kilometer,” kata Koti.

Warga Rokirole Digigit Anjing Tetangga, Dapat Vaksin Anti Rabies

Koti mengatakan warga telah menyampaikan laporan mengenai kerusakan fasilitas tersebut secara berjenjang, mulai dari tingkat RT, kepala dusun, sekretaris desa, BPD hingga kepala desa. Namun, menurut dia, hingga kini belum ada penyelesaian yang memulihkan kembali layanan air bagi warga.

“Kami sudah melaporkan persoalan ini, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ujar Koti.

Dalam keterangannya, Koti juga menyebut adanya dugaan bahwa kerusakan fasilitas air desa tersebut dilakukan oleh salah seorang perangkat Desa Napugera, Alfonsus Panggo.

Dugaan itu, kata dia, menjadi bagian dari persoalan yang menurut warga perlu diperiksa oleh pemerintah. Namun, Koti tidak menyertakan hasil pemeriksaan atau bukti resmi yang telah menetapkan pihak tertentu sebagai pelaku perusakan.

Selain persoalan fasilitas air, Koti menyoroti sejumlah penggunaan anggaran Desa Napugera yang menurut keterangannya berkaitan dengan Panggo.

Ia menyebut pengadaan ternak kambing pada 2022 dianggarkan sekitar Rp75 juta. Menurut Koti, nilai yang diketahui warga terealisasi sekitar Rp40 juta.

Koti juga menyebut kegiatan hortikultura tahun 2022 dengan anggaran sekitar Rp45 juta, yang menurut keterangannya terealisasi sekitar Rp25 juta.

Sementara untuk kegiatan penanganan stunting pada 2025, Koti menyebut terdapat anggaran sekitar Rp35 juta dengan realisasi yang menurut dia diketahui sekitar Rp25 juta.

Air Ijukutu Mati Tiga Pekan, Warga Paga Pertanyakan Pengelolaan Proyek Miliaran

Perbedaan angka tersebut kemudian disebut Koti sebagai dugaan adanya dana yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Namun, angka-angka tersebut masih berdasarkan keterangan yang disampaikannya dan belum disertai hasil audit atau pemeriksaan resmi yang dapat memastikan adanya penyimpangan.

Koti mengatakan warga telah menyampaikan berbagai persoalan tersebut kepada pemerintah desa dan BPD. Mereka berharap pemerintah Kecamatan Mego dan Pemerintah Kabupaten Sikka turun melakukan pemeriksaan, baik terhadap kondisi fasilitas air maupun penggunaan anggaran desa yang dipersoalkan.

Bagi warga, pemulihan fasilitas air menjadi kebutuhan yang paling mendesak karena kerusakan tersebut membuat puluhan keluarga harus mencari sumber air lain di luar permukiman.

Di sisi lain, dugaan mengenai kerusakan aset desa dan penggunaan anggaran juga dinilai perlu diklarifikasi melalui pemeriksaan yang sesuai dengan ketentuan sehingga dapat diketahui apakah terdapat pelanggaran atau tidak.

Hingga berita ini diterbitkan, GardaFlores belum memperoleh konfirmasi dari Alfonsus Panggo maupun Pemerintah Desa Napugera mengenai dugaan perusakan fasilitas air dan dugaan penyimpangan anggaran yang disampaikan Ikanasius Koti. Ruang klarifikasi tetap terbuka bagi pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Warga Rokirole Digigit Anjing Tetangga, Dapat Vaksin Anti Rabies

Maria Ludvina Lanu, warga Desa Rokirole, Palue, mendapat Vaksin Anti Rabies setelah digigit anjing milik tetangganya pada Sabtu (5/9/2026).

Published

on

Warga Desa Rokirole, Kecamatan Palue, mendapat Vaksin Anti Rabies setelah mengalami gigitan anjing milik tetangganya, Sabtu (5/9/2026).

MAUMERE, GardaFlores Maria Ludvina Lanu (59), warga Dusun Koa, Desa Rokirole, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, mendapat Vaksin Anti Rabies (VAR) setelah digigit anjing milik tetangganya, Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 16.00 WITA.

Gigitan terjadi di rumah Maria di RT 009/RW 004. Saat itu, Maria sedang memberi makan anjing miliknya di dapur. Anjing milik tetangganya datang dan ikut mengambil makanan tersebut.

Ketika Maria berusaha memisahkan kedua anjing, anjing milik tetangganya menggigit betis kaki kirinya.

Setelah kejadian, Maria membersihkan luka menggunakan sabun sebelum dibawa ke Posko Kesehatan Tuanggeo untuk mendapatkan perawatan dan VAR.

Belum ada keterangan bahwa anjing yang menggigit Maria positif rabies. Petugas berkoordinasi dengan Puskesmas untuk melakukan observasi terhadap anjing tersebut dan menyiapkan langkah vaksinasi rabies.

Pekerjaan Pemulihan Pascagempa di Palue Berhenti Lima Hari Selama Ritual Adat Bhije

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi penularan rabies dan tidak panik.

Kondisi Maria dilaporkan baik. Vaksinasi dosis kedua dijadwalkan pada 10 September 2026.

Petugas juga mengingatkan pemilik anjing agar mengikat atau mengandangkan hewan peliharaannya, menyediakan makanan dan minuman di tempat yang sesuai, serta memastikan anjing mendapatkan vaksinasi rabies melalui Dinas Peternakan.

Anjing yang menunjukkan perilaku agresif atau menggigit warga juga diminta tidak dibunuh atau diracuni secara sembarangan. Warga diminta melaporkan kejadian tersebut kepada aparat desa, RT/RW, Bhabinkamtibmas, atau petugas terkait agar hewan dapat ditangani dan diobservasi.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

Air Ijukutu Mati Tiga Pekan, Warga Paga Pertanyakan Pengelolaan Proyek Miliaran

Air minum Ijukutu di Desa Paga tidak mengalir selama sekitar tiga pekan. Berhentinya petugas dan belum jelasnya kewenangan pengelolaan membuat layanan proyek bernilai miliaran rupiah itu terhenti.

Published

on

Layanan air minum Ijukutu di Desa Paga, Kecamatan Paga, berhenti mengalir selama sekitar tiga pekan, sementara kejelasan pengelolaan dan operasional jaringan masih dinantikan masyarakat. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores Layanan air minum Ijukutu di Desa Paga, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, dilaporkan berhenti mengalir selama sekitar tiga pekan. Warga yang selama ini bergantung pada jaringan tersebut kembali kesulitan memperoleh air minum, sementara operasional proyek bernilai miliaran rupiah itu terhenti di tengah ketidakjelasan pengelolaan.

Tokoh masyarakat Paga, Longginus Nong, mengatakan terhentinya distribusi air berkaitan dengan pengelolaan jaringan dan keberadaan petugas yang sebelumnya menjalankan sistem tersebut.

Menurut dia, sejumlah petugas yang diangkat untuk mengoperasikan jaringan kini tidak lagi bekerja setelah disebut belum menerima upah selama sekitar tiga bulan.

“Air minum dari Ijukutu dibangun menggunakan anggaran yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Tetapi sampai sekarang air tidak keluar. Ini karena pengelolaan di desa yang tidak menggunakan Perdes,” tegas Nong saat ditemui di Maumere, Kamis (3/9/2026).

Berhentinya petugas berdampak langsung terhadap operasional jaringan. Warga kemudian kehilangan akses terhadap air yang sebelumnya dialirkan melalui sistem Ijukutu.

9.185 Rumah Rusak, Korban Gempa Sikka Bertambah Menjadi 55 Orang

Nong juga menyoroti dasar pengangkatan petugas dan mekanisme pengelolaan jaringan yang selama ini berjalan. Menurut dia, kewenangan pengelolaan perlu memiliki dasar hukum yang jelas.

Di tengah layanan yang tidak berjalan, pelanggan disebut tetap dikenakan pungutan Rp25.000 per kepala keluarga setiap bulan. Nong mengatakan warga belum mengetahui regulasi desa yang menjadi dasar penetapan pungutan tersebut.

“Pelanggan dipungut Rp25.000 per KK setiap bulan, tanpa adanya regulasi yang dikeluarkan Pemerintah Desa Paga,” ujarnya.

Kondisi itu kemudian mengarah pada pertanyaan mengenai status jaringan Ijukutu, pihak yang memiliki kewenangan mengelolanya, serta mekanisme penggunaan dana yang berasal dari pembayaran pelanggan.

Pascagempa Ngada, PMI Turunkan Tim Medis dan Relawan untuk Pemulihan Trauma Warga

Nong menyebut proses serah terima aset dan kewenangan pengoperasian jaringan kepada Pemerintah Desa Paga juga belum memiliki kejelasan.

Pandangan berbeda disampaikan warga lainnya, Sius Kombe. Menurut dia, jaringan Ijukutu bukan proyek yang sejak awal dirancang sebagai sistem air minum desa, melainkan bagian dari pengembangan Ibu Kota Kecamatan atau IKK Paga.

Ia mengatakan proyek yang menggunakan Dana Alokasi Khusus tersebut direncanakan untuk mendukung sistem pelayanan air minum IKK Paga dan selanjutnya diserahkan kepada PDAM Kabupaten Sikka.

Karena itu, Sius menilai lokasi proyek di Desa Paga tidak serta-merta menentukan bahwa pengelolaan jaringan menjadi kewenangan pemerintah desa.

“Format usulan DAK selalu berbasis lokasi desa. Karena itu muncul nama proyek air minum Desa Paga. Tetapi semuanya untuk menghidupkan IKK Paga,” jelas Sius.

Mahasiswa Desil 1-5 di Sikka Disiapkan Beasiswa hingga Tamat Kuliah

Selain status pengelolaan, Pemerintah Kabupaten Sikka juga disebut sedang mengumpulkan data mengenai jaringan yang dipasang oleh pengelola sebelumnya. Data tersebut diperlukan sebelum dilakukan penataan dan proses serah terima.

Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah pemasangan jaringan telah memenuhi ketentuan teknis. Kesesuaian pekerjaan dengan standar menjadi bagian penting karena kondisi jaringan akan menentukan keberlanjutan distribusi air kepada masyarakat.

Sementara proses penataan dan kejelasan kewenangan masih berjalan, warga Paga menghadapi kebutuhan yang lebih mendesak: air minum harus kembali mengalir.

Setelah sekitar tiga pekan layanan terhenti, jaringan yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah itu kini menunggu kepastian mengenai siapa yang mengelola, siapa yang bertanggung jawab atas operasionalnya, dan kapan pelayanan kepada masyarakat dapat kembali berjalan.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending