HUMANIORA
“Semua Bisa Berdaya”: Pesan Pendek di Hari Disabilitas Internasional
Maumere, GardaFlores — Matahari pagi Maumere baru saja naik ketika halaman SLB/C Bhakti Luhur mulai ramai oleh langkah-langkah kecil anak-anak berkebutuhan khusus. Di antara tawa, sapaan orang tua, dan semangat para guru, mereka bersiap merayakan satu hari yang sangat berarti: Hari Disabilitas Internasional. Bagi mereka, hari ini bukan sekadar seremonial—ini adalah perayaan keberanian, kerja keras, dan harapan.
Di tengah keramaian itu, Kepala Sekolah SLB/C Bhakti Luhur Maumere, Suster Gardiana Karya Spad., M.Pd., berdiri dengan senyum yang sulit disembunyikan. Dalam peringatan yang digelar Rabu (3/12/2025) itu, ia membagikan pesan mendalam tentang makna tema tahun ini: “Semua Bisa Berdaya.”
Memperjuangkan Hak, Menghargai Keunikan
Suster Gardiana mengingatkan bahwa Hari Disabilitas Internasional yang diprakarsai Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 14 Oktober 1992 lahir dari niat tulus. Tujuannya, memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas yang setara, sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan unik yang selama ini kerap luput dari perhatian.
“Tema ini sederhana tetapi penuh makna. Anak-anak kita yang istimewa memiliki kemampuan luar biasa. Mereka bukan kurang—mereka berbeda, dan keunikan itu adalah kekuatan,” ujar Suster Gardiana.
Perayaan Kedua, Semangat yang Tak Pernah Padam
Tahun ini adalah kali kedua SLB Bhakti Luhur merayakan Hari Disabilitas dengan jalan sehat. Bagi para siswa, kegiatan itu bukan hanya olahraga, tetapi simbol bahwa mereka juga bisa bergerak, berpartisipasi, dan menunjukkan bahwa batas-batas fisik atau mental bukan penghalang untuk bersinar.
Di panggung kecil di halaman sekolah, pentas seni berlangsung penuh warna. Anak-anak menari, menyanyi, dan memainkan gerakan sederhana yang disambut tepuk tangan meriah. Untuk sebagian dari mereka, tampil di depan umum adalah perjuangan panjang—tetapi hari itu, keberanian mengalahkan ketakutan.
“Ketika mereka tampil seperti anak-anak lain pada umumnya, di situlah kita melihat bahwa potensi mereka masih bisa terus dikembangkan,” kata Suster Gardiana dengan suara yang penuh haru.

Kepala Sekolah SLB/C Bhakti Luhur Maumere, Suster Gardiana Karya Spad., M.Pd. (GARDAFLORES/KAREL PANDU)
Kolaborasi yang Menguatkan
Tak hanya guru dan siswa, orang tua juga mengambil bagian besar dalam perayaan ini. Ada yang datang dari desa, rela menempuh perjalanan panjang setiap hari demi pendidikan anak mereka. Ada pula yang sejak pagi menyiapkan stan kecil untuk pameran karya anak, mulai dari lukisan sederhana hingga kerajinan tangan hasil kolaborasi dengan orang tua.
“Kami sangat berterima kasih kepada orang tua yang tak pernah lelah memperjuangkan kesetaraan bagi anak-anak mereka. Ini bukan perjalanan yang mudah,” ujar Suster Gardiana.
Dukungan juga mengalir dari berbagai pihak, termasuk Universitas Nusa Nipa (Unipa), Puskesmas Kopeta, serta paguyuban orang tua anak. Bagi Suster, mereka adalah “pilar-pilar kuat” yang menopang kemajuan SLB Bhakti Luhur Maumere maupun SLB Floresta.
Menuju Masyarakat yang Inklusif
Hari itu, di tengah sorak kecil dan kebanggaan besar, terselip sebuah pesan penting: bahwa pendidikan luar biasa membutuhkan kolaborasi, sinergi, dan keberanian untuk terus berinovasi.
Ucapan terima kasih khusus ia tujukan kepada pengawas sekolah yang terus mendorong kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Ketika acara ditutup, anak-anak tetap berlarian kecil di halaman, memegang karya mereka, atau sekadar bergandengan tangan dengan teman dan orang tua. Hari itu mungkin hanya sehari, tetapi semangat yang dibangun adalah untuk setahun penuh, bahkan seumur hidup.
Karena bagi mereka, dan bagi siapa pun yang menyaksikan, pesannya jelas: setiap anak bisa berdaya, setiap anak bisa berkembang, setiap anak layak diberi ruang untuk bersinar.»(rel)
HUMANIORA
Bhayangkari Papua Salurkan 225 Karung Beras dan Logistik untuk Warga Nitunglea
Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan sejumlah kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa di Nitunglea, Palue, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
MAUMERE, GardaFlores—Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan berbagai kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa bumi di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).
Bantuan dari Ny. Nova Patrige Renwarin bersama jajaran pengurus Bhayangkari Papua tersebut terdiri atas 225 karung beras berukuran lima kilogram, 25 dos minyak goreng kemasan satu liter, 600 dos air minum Aqua Gelas Nusra, 15 dos Energen, sembilan dos susu Dancow, dan 15 dos gula pasir.
Penyaluran bantuan ini berlangsung dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-75 Tahun 2026.
Logistik diberangkatkan dari Kantor Polsubsektor Palue pukul 07.00 WITA menuju Kantor Desa Nitunglea. Serah terima bantuan kepada pemerintah desa berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga sasaran.
Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mendampingi penyaluran bersama Penjabat Kepala Desa Nitunglea, Bay Langko, S.Sos., serta aparat dan staf desa.
Distribusi bantuan berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.»(rel)
HUMANIORA
Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga
Seorang pria berinisial Y.D.B. (49) ditemukan meninggal di ruang keluarga rumahnya di Paga, Sikka. Keluarga sempat berupaya memberikan pertolongan sebelum membawanya ke Puskesmas Wolofeo.
MAUMERE, GardaFlores—Seorang pria berinisial Y.D.B. (49), warga Dusun Warami, Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia oleh istrinya di ruang keluarga rumah mereka pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.
Menurut laporan kepolisian, istri korban, G.G. (47), menemukan suaminya saat keluar dari kamar setelah terbangun. Ia kemudian menghubungi anak mereka, A.P.S.N. (19), yang sedang menginap di rumah seorang teman, sekitar 25 meter dari kediaman keluarga.
Anak korban segera pulang. Bersama anggota keluarga, ia berusaha memberikan pertolongan sebelum membawa korban ke Puskesmas Wolofeo. Namun, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di puskesmas.
Setelah menerima laporan masyarakat, anggota Polsek Paga mendatangi lokasi untuk mendata korban dan saksi serta mengumpulkan keterangan. Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis dan keluarga.
Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi maupun proses hukum lebih lanjut, sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian.
Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)
HUMANIORA
Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela
P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Lela, Sikka. Dua nelayan berusaha mengevakuasinya setelah korban terlihat meminta pertolongan di laut.
MAUMERE, GardaFlores—P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di perairan Pantai Lela, tepat di depan Kantor Camat Lela, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026) pagi.
Korban dilaporkan berada di laut sekitar pukul 08.30 WITA dan meminta pertolongan. Dua nelayan, B.Y. dan M.S., berusaha mengevakuasinya ke bibir pantai.
B.Y. mengatakan, sekitar pukul 08.00 WITA ia melihat korban menari dan melompat-lompat di tepi pantai. Sekitar 30 menit kemudian, ia melihat korban berada di laut sambil meminta pertolongan.
B.Y. berenang mendekati korban dan berusaha membawanya ke pantai. Karena kelelahan, ia meminta bantuan M.S. Keduanya kemudian membawa korban ke bibir pantai.
Warga selanjutnya menghubungi ambulans Puskesmas Nanga untuk membawa korban ke Rumah Sakit Santo Elisabeth Lela. Namun, korban meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.
Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue
Anggota Polsek Lela mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Polisi mendata korban dan saksi serta berkoordinasi dengan tim medis rumah sakit dan keluarga korban.
Menurut keterangan saksi M.R.V., korban telah tinggal seorang diri di pondok miliknya selama hampir lima tahun. M.R.V. selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.
Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi. Korban direncanakan dimakamkan pada Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WITA.
Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti korban tenggelam belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)
-
NASIONAL1 year agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
