HUMANIORA
20 Rumah Rusak akibat Gempa, Akses Jalan ke Mahebora Turut Jadi Persoalan
Sebanyak 20 rumah warga Desa Mahebora mengalami kerusakan akibat Gempa Flores. Selain penanganan rumah, warga juga menyampaikan persoalan akses jalan Nangablo–Hagarahu kepada Bupati Sikka.
MAUMERE, GardaFlores — Gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 menyebabkan 20 rumah warga di Desa Mahebora, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, mengalami kerusakan. Di tengah penanganan rumah-rumah terdampak, warga juga menyampaikan persoalan akses jalan Nangablo–Hagarahu sepanjang sekitar delapan kilometer yang kondisinya telah rusak di sejumlah titik.
Persoalan tersebut disampaikan kepada Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago saat mengunjungi warga di Dusun Hagarahu, Rabu (2/9/2026) malam. Dalam kunjungan itu, Bupati bersama rombongan menyerahkan 80 paket sembako bagi warga terdampak di Dusun Hagarahu dan Batuliting.
Penjabat Kepala Desa Mahebora Yohanes Nurak mengatakan, berdasarkan pendataan sementara pemerintah desa, lima rumah mengalami rusak berat, enam rumah rusak sedang, dan sembilan lainnya rusak ringan. Kerusakan terutama terjadi pada struktur bangunan dan dinding rumah.
“Totalnya 20 rumah. Rusak berat lima, sedang enam, dengan ringan sembilan,” kata Yohanes.
Ia mengatakan gempa juga menyebabkan keretakan pada sejumlah fasilitas umum di wilayah tersebut, termasuk kapela dan bangunan sekolah.
Laporan mengenai rumah yang rusak kemudian mendapat perhatian Bupati Juventus. Pemerintah Kabupaten Sikka akan menurunkan tim teknis untuk memeriksa setiap bangunan dan memastikan tingkat kerusakannya. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar penetapan kategori kerusakan sekaligus menentukan langkah penanganan bagi warga.
Bagi pemerintah desa, penanganan warga terdampak masih membutuhkan dukungan lanjutan. Desa Mahebora dihuni sekitar 981 jiwa atau 202 kepala keluarga, sementara bantuan yang diserahkan dalam kunjungan tersebut berjumlah 80 paket dan baru diperuntukkan bagi warga di Dusun Hagarahu dan Batuliting.
Tangani Gempa Flores, BNPB, BPBD dan Organisasi Kemanusiaan Satukan Data Kebutuhan di Sikka
Yohanes mengatakan sebagian keluarga lainnya masih membutuhkan bantuan kebutuhan pokok.
“Ya, masih kurang,” katanya.
Ia menyampaikan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan, tetapi berharap dukungan bagi warga yang masih membutuhkan dapat terus dilanjutkan.
“Terima kasih kepada pemerintah karena sudah memberikan bantuan kepada masyarakat, tetapi masih banyak KK yang memang membutuhkan bantuan sembako,” ujarnya.
Dalam pertemuan dengan warga, persoalan jalan juga menjadi perhatian. Ruas Nangablo–Hagarahu merupakan akses menuju permukiman warga di wilayah tersebut, tetapi jalan rabat sepanjang sekitar delapan kilometer itu kini mengalami kerusakan dan dipenuhi lubang di sejumlah titik.
Pascagempa Flores, RSUD Late Bajawa Aktifkan Poli Orthopaedi dan Traumatologi
“Delapan kilo. Itu yang ada, tapi ini jalan rabat yang sudah lubang banyak,” kata Yohanes.
Kondisi akses tersebut juga dialami rombongan Bupati dalam perjalanan menuju Dusun Hagarahu. Kendaraan Toyota Innova Zenix yang digunakan sempat mengalami kesulitan melintasi salah satu tikungan menanjak sebelum tiba di lokasi.
Bagi warga Desa Mahebora, persoalan yang dihadapi setelah gempa tidak hanya berkaitan dengan bantuan pangan. Sejumlah rumah masih menunggu pemeriksaan teknis untuk memastikan tingkat kerusakannya, sementara fasilitas umum yang mengalami retakan juga membutuhkan penanganan. Pada saat yang sama, kondisi jalan Nangablo–Hagarahu tetap menjadi persoalan karena akses tersebut digunakan warga untuk mobilitas sehari-hari dan berpengaruh terhadap kelancaran distribusi kebutuhan ke wilayah tersebut.
Pemeriksaan oleh tim teknis akan menentukan langkah penanganan rumah warga yang terdampak gempa, sementara kebutuhan bantuan dan persoalan akses jalan menjadi bagian dari kondisi yang disampaikan pemerintah desa kepada Pemerintah Kabupaten Sikka.»(rel)
HUMANIORA
Setelah 14 Hari Terhenti, ASN Disarpus Sikka Kembali Bekerja di Gedung Pascagempa
Setelah sekitar 14 hari aktivitas perkantoran terhenti akibat Gempa Flores, ASN Disarpus Sikka kembali bekerja setelah kondisi gedung diperiksa dan dinyatakan secara umum masih dapat digunakan.
MAUMERE, GardaFlores — Aktivitas perkantoran Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka kembali berjalan setelah terhenti sekitar 14 hari akibat gempa bumi tektonik yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Kembalinya ASN ke Gedung Disarpus Sikka, Kamis (3/9/2026), diawali dengan Misa Syukur di Aula Frans Seda, lantai II gedung tersebut.
Perayaan Ekaristi dipimpin Pater Arnold dan dihadiri Kepala Disarpus Sikka Very Awales, Sekretaris Dinas Yuvensius Rafael, para kepala bidang, pejabat struktural dan fungsional, serta seluruh ASN.
Gempa menyebabkan sejumlah bagian gedung mengalami kerusakan. Retakan masih terlihat pada beberapa bagian bangunan dan sejumlah kaca pecah.
Aktivitas perkantoran dihentikan selama kondisi gedung diperiksa. Setelah bangunan secara umum dinyatakan masih dapat digunakan, ASN kembali menjalankan tugas dan pelayanan.
20 Rumah Rusak akibat Gempa, Akses Jalan ke Mahebora Turut Jadi Persoalan
Kepala Disarpus Sikka Very Awales mengatakan Misa Syukur menjadi ungkapan terima kasih karena seluruh ASN dan keluarga besar Disarpus selamat dari gempa.
“Setelah melewati peristiwa gempa yang cukup dahsyat, kita bersyukur karena gedung ini masih berdiri dan kita semua diberikan keselamatan serta kekuatan untuk kembali melaksanakan tugas,” kata Very.

Ia mengakui kerusakan fisik masih terlihat pada sejumlah bagian gedung.
“Kerusakan memang masih terlihat. Ada bagian-bagian bangunan yang retak dan beberapa kaca pecah. Namun, kita bersyukur karena secara keseluruhan gedung ini masih dapat digunakan,” ujarnya.
Very mengatakan keselamatan pegawai menjadi pertimbangan utama sebelum aktivitas perkantoran kembali dilaksanakan. Kembalinya ASN ke kantor sekaligus menandai dimulainya kembali pelayanan Disarpus kepada masyarakat.
3.645 Warga Sikka Masih Mengungsi, 3.340 Jiwa Berada di Palue
Dalam homilinya, Pater Arnold mengajak jajaran Disarpus memperkuat solidaritas, kepedulian, kebersamaan, dan kepercayaan kepada Tuhan selama menjalani pemulihan pascabencana.
Very berharap pengalaman gempa menjadi pelajaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat tanggung jawab pelayanan.
“Ke depan, kita ingin kembali bekerja dengan semangat baru. Tugas kita adalah mengurus perpustakaan dan kearsipan, tetapi di balik tugas itu ada tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Dengan kembali digunakannya gedung tersebut, pelayanan perpustakaan dan kearsipan mulai berjalan kembali setelah terhenti selama dua pekan. Sementara itu, kerusakan pada sejumlah bagian bangunan masih menjadi bagian dari pemulihan pascagempa.»(rel)
HUMANIORA
3.645 Warga Sikka Masih Mengungsi, 3.340 Jiwa Berada di Palue
Sebanyak 3.645 warga Kabupaten Sikka masih berada di pengungsian pascagempa. Mayoritas pengungsi, yakni 3.340 jiwa, berada di Kecamatan Palue yang menjadi prioritas distribusi bantuan.
MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 3.645 warga Kabupaten Sikka masih berada di lokasi pengungsian setelah gempa bumi yang melanda Flores. Dari jumlah tersebut, 3.340 jiwa berada di Kecamatan Palue, sehingga hampir seluruh pengungsi di Kabupaten Sikka kini terkonsentrasi di wilayah yang mengalami kerusakan cukup tinggi akibat bencana.
Data tersebut disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sikka Petrus Poling Wairmahing dalam rapat konsolidasi percepatan penanganan darurat bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, Kamis (3/9/2026).
Rapat berlangsung secara daring dari Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik BPBD Kabupaten Sikka dan diikuti Direktur Posko Pendamping Nasional, PIC Posko Sub Satgas Bandara Frans Seda Maumere, BNPB Pusat, serta Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ende dan Nagekeo.
Dalam rapat tersebut, Petrus Poling didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sikka Yosef Rikardus.
Bahas Anggaran Bencana, Rapat Banggar DPRD Ende Berakhir di Polisi
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Sikka, jumlah pengungsi mencapai 3.645 jiwa atau 972 kepala keluarga. Sebanyak 3.340 jiwa dari 892 kepala keluarga berada di Kecamatan Palue.
Jumlah tersebut menunjukkan sebagian besar warga Sikka yang masih mengungsi berada di Palue. Kondisi itu juga menjadi pertimbangan dalam penyaluran bantuan selama masa perpanjangan status tanggap darurat.
Petrus Poling mengatakan distribusi bantuan logistik dan peralatan pada masa perpanjangan tanggap darurat lebih banyak diarahkan ke Palue karena tingkat kerusakan di wilayah tersebut cukup tinggi.
“Distribusi bantuan logistik dan peralatan pada masa perpanjangan Tanggap Darurat ini lebih banyak disalurkan ke Palue karena tingkat kerusakan yang dialami sangat tinggi,” kata Petrus Poling.
20 Rumah Rusak akibat Gempa, Akses Jalan ke Mahebora Turut Jadi Persoalan
Sementara itu, pendataan distribusi bantuan untuk seluruh wilayah terdampak masih terus dilengkapi. BPBD Kabupaten Sikka masih menunggu Berita Acara Serah Terima dari kecamatan untuk memastikan bantuan yang telah disalurkan tercatat secara lengkap.
Di tengah masih adanya ribuan warga di lokasi pengungsian, Pemerintah Kabupaten Sikka juga mulai mengimbau warga yang memungkinkan untuk kembali ke rumah keluarga.
Menurut Petrus Poling, imbauan tersebut disampaikan karena kondisi di sejumlah wilayah mulai membaik.
“Pemkab Sikka terus mengimbau kepada para pengungsi untuk mulai meninggalkan lokasi pengungsian dan kembali ke rumah keluarga karena kondisi mulai membaik,” ujarnya.
Tangani Gempa Flores, BNPB, BPBD dan Organisasi Kemanusiaan Satukan Data Kebutuhan di Sikka
Imbauan tersebut tidak serta-merta berlaku bagi seluruh pengungsi. Data BPBD menunjukkan sebagian besar warga yang masih berada di lokasi pengungsian berasal dari Palue, wilayah yang masih membutuhkan perhatian besar dalam penanganan dampak gempa.
Kepulangan warga dari pengungsian juga berkaitan dengan kondisi tempat tinggal dan lingkungan masing-masing. Rumah yang mengalami kerusakan masih memerlukan pemeriksaan teknis untuk menentukan tingkat keamanan dan langkah penanganannya.
Rapat konsolidasi tersebut tidak hanya membahas penanganan selama masa tanggap darurat, tetapi juga persiapan memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemerintah pusat dan daerah didorong memperkuat koordinasi agar penanganan warga terdampak dapat berlanjut dari pemenuhan kebutuhan darurat menuju pemulihan.
Dengan 3.645 warga masih berada di pengungsian dan 3.340 di antaranya terkonsentrasi di Palue, penanganan kebutuhan pengungsi dan pemulihan wilayah terdampak masih menjadi pekerjaan utama Pemerintah Kabupaten Sikka selama masa tanggap darurat berlangsung.»(rel)
HUMANIORA
409 Warga Iligai Terdampak Gempa, 106 Rumah Rusak
Gempa Flores berdampak terhadap 409 warga di Desa Iligai, Kecamatan Lela. Sebanyak 106 rumah mengalami kerusakan dan akan diverifikasi kembali oleh tim teknis.
MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 409 warga dari 138 kepala keluarga (KK) di Desa Iligai, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, terdampak Gempa Flores pada 15 Agustus 2026. Pemerintah desa mencatat 106 rumah mengalami kerusakan, termasuk 39 rumah rusak berat.
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago meminta warga tetap tenang dan mulai kembali menjalankan aktivitas sehari-hari. Pesan itu disampaikan saat ia mengunjungi warga di Dusun Hubing Tarung Gawang dan Dusun Wolowukak, Rabu (2/9/2026).
“Warga tetap tenang dan terjaga dalam menghadapi setiap kondisi alam. Situasi mulai kondusif, sehingga masyarakat diharapkan dapat kembali beraktivitas,” ujar Juventus.
Pemerintah Kabupaten Sikka akan kembali memverifikasi rumah-rumah terdampak untuk memastikan tingkat kerusakannya.
Tangani Gempa Flores, BNPB, BPBD dan Organisasi Kemanusiaan Satukan Data Kebutuhan di Sikka
Menurut Juventus, penetapan rumah rusak berat, sedang, dan ringan harus didasarkan pada hasil pemeriksaan tim teknis.
“Dari verifikasi tim teknis ini akan ditetapkan status kerusakan berat, sedang dan ringan,” katanya.
Ia juga meminta Pemerintah Desa Iligai memperbarui data kebutuhan warga yang masih tinggal di tenda dan tempat penampungan sementara. Data tersebut akan digunakan BPBD Kabupaten Sikka sebagai dasar penyaluran bantuan.

Pj. Kepala Desa Iligai Herlin Lado Powo mengatakan data sementara mencatat 44 rumah rusak ringan, 23 rumah rusak sedang, dan 39 rumah rusak berat.
“Untuk sementara rumah warga yang mengalami kerusakan sebanyak 106 unit, dengan rincian rusak ringan 44 unit, rusak sedang 23 unit dan rusak berat 39 unit,” kata Herlin.
Bahas Anggaran Bencana, Rapat Banggar DPRD Ende Berakhir di Polisi
Kerusakan rumah tersebar di empat dusun. Sebanyak 39 rumah rusak berada di Dusun Hubing, 24 rumah di Dusun Wolowukak, 23 rumah di Dusun Puho, dan 20 rumah di Dusun Baoletet.
Pemerintah Desa Iligai telah melaporkan data tersebut kepada BPBD Kabupaten Sikka untuk ditindaklanjuti melalui survei dan verifikasi teknis.
Bupati Sikka dalam kunjungan tersebut didampingi Camat Lela Konstantinus Saru, Pj. Kepala Desa Iligai Herlin Lado Powo, serta tim teknis Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sikka.»(rel)
-
NASIONAL11 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA12 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
