Connect with us

HUMANIORA

Warga Wolomeze Keluhkan Bantuan Tak Merata, Minta Distribusi Satu Pintu

Sebanyak 776 rumah terdampak gempa di Wolomeze, Ngada. Di tengah bantuan yang terus berdatangan, warga mengeluhkan distribusi yang belum merata dan meminta seluruh bantuan dikonsolidasikan melalui satu pintu.

Published

on

Hingga Rabu (20/8/2026), sebanyak 776 rumah di Kecamatan Wolomeze tercatat terdampak gempa, dengan 116 rumah di antaranya mengalami rusak berat. Jumlah rumah rusak berat itu bertambah satu unit dibandingkan pendataan sebelumnya yang mencatat 115 unit.

NGADA, GardaFlores — Bantuan terus berdatangan ke Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, di tengah kerusakan akibat gempa bumi yang mengguncang Flores. Namun, warga mengeluhkan distribusi yang dinilai belum merata dan meminta seluruh bantuan dikonsolidasikan melalui satu pintu agar tidak ada masyarakat terdampak yang terlewat.

Hingga Rabu (20/8/2026), sebanyak 776 rumah di Kecamatan Wolomeze tercatat terdampak gempa, dengan 116 rumah di antaranya mengalami rusak berat. Jumlah rumah rusak berat itu bertambah satu unit dibandingkan pendataan sebelumnya yang mencatat 115 unit.

Dari keseluruhan keluarga terdampak, baru 112 kepala keluarga yang tercatat telah menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Ngada. Bantuan juga datang dari Kodim 1625/Ngada, Biara Fransiskan Paroki Kurubhoko serta sejumlah organisasi politik.

Namun, warga menilai persoalan utama bukan semata-mata soal jumlah bantuan yang tersedia, melainkan bagaimana bantuan tersebut didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sejumlah warga mengaku bantuan yang masuk ke Wolomeze sejak 19 Agustus belum terdistribusi secara merata. Mereka bahkan menyebut ada kendaraan pembawa bantuan yang hanya melintas dan membunyikan klakson tanpa berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah kecamatan maupun posko setempat.

Zulkifli Hasan Bawa 1.000 Paket Sembako ke Warga Terdampak Gempa Sikka

“Seharusnya bantuan itu terposko di satu tempat sehingga bisa didistribusikan secara merata sesuai kebutuhan,” ujar seorang perwakilan masyarakat Wolomeze kepada GardaFlores.com.

Warga juga mempertanyakan kedatangan sejumlah pihak yang dinilai hanya menyasar lokasi tertentu tanpa berkoordinasi dengan pemerintah tingkat kecamatan.

“Ketika pemerintah datang hanya ke tempat-tempat tertentu dan tanpa ada konfirmasi dari pihak pemerintah tingkat kecamatan,” ujarnya.

Bagi warga, pola distribusi seperti itu berisiko menciptakan ketimpangan. Wilayah tertentu dapat menerima bantuan berulang, sementara masyarakat di lokasi lain masih menunggu kebutuhan dasar seperti makanan dan air minum.

Kondisi tersebut berlangsung ketika dampak gempa di Wolomeze masih cukup luas.

Gempa tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga mengganggu berbagai fasilitas pelayanan publik. Kantor Kecamatan Wolomeze, rumah jabatan camat, rumah jabatan sekretaris camat dan Pos Polisi mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat digunakan secara normal.

Aktivitas pemerintahan terpaksa dilakukan di luar bangunan. Trauma terhadap kemungkinan gempa susulan juga membuat warga dan aparat belum sepenuhnya berani kembali beraktivitas di dalam gedung.

Di sektor kesehatan, Puskesmas Natarandang turut mengalami kerusakan sehingga pelayanan kepada masyarakat ikut terdampak.

Kerusakan juga terjadi pada sektor pendidikan. Dari 10 sekolah di Kecamatan Wolomeze, tujuh sekolah dilaporkan mengalami kerusakan parah, yakni UPTN SDN Malataloko, SDK Welas, SDI Wue, SDK Tanawolo, TKK Wue, SMP Satap Ndekundenu dan SDI Kurubhoko.

Rumah ibadah pun terdampak. Gereja Paroki Kurubhoko mengalami kerusakan sehingga kegiatan peribadatan sementara tidak dapat dilakukan di dalam bangunan.

Wapres Gibran Tinjau Titik Kerusakan Gempa di Sikka, Bermalam di Maumere Sebelum ke Labuan Bajo

Kebutuhan warga juga meluas ke persoalan penerangan dan akses transportasi.

Listrik di wilayah Wolomeze masih mati total. Warga meminta sedikitnya 10 unit genset untuk mendukung penerangan, pelayanan umum, posko pengungsian serta kebutuhan penanganan darurat.

Selain itu, warga membutuhkan sedikitnya lima tenda untuk posko, serta bantuan sandang, pangan, air minum, susu, kebutuhan bayi dan popok.

Akses jalan Bajawa–Riung–Wulabhara di wilayah Wolomeze juga terdampak longsor. Penanganan sementara dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.

Dengan kondisi tersebut, warga meminta pemerintah memperkuat koordinasi seluruh bantuan yang masuk.

Mereka mengusulkan agar bantuan dari pemerintah, lembaga sosial, organisasi keagamaan, TNI-Polri, organisasi masyarakat maupun pihak lainnya terlebih dahulu dikonsolidasikan melalui satu pintu sebelum diarahkan ke titik-titik yang membutuhkan.

BNPB: Pengungsi Mandiri Gempa Sikka Tak Boleh Terlewat, Hak Bantuan Tetap Sama

Menurut warga, mekanisme tersebut dapat membantu pemerintah memetakan kebutuhan setiap wilayah, mencegah bantuan menumpuk di satu lokasi, menghindari distribusi ganda, sekaligus memastikan keluarga yang belum menerima bantuan dapat segera dijangkau.

“Kami butuh kepastian. Jangan sampai bantuan datang, tetapi tidak sampai kepada warga yang benar-benar membutuhkan,” tegas warga.

Persoalan di Wolomeze menunjukkan bahwa dalam situasi bencana, ketersediaan bantuan saja belum cukup. Ketika ratusan rumah rusak dan fasilitas pelayanan publik ikut lumpuh, sistem distribusi menjadi bagian penting dari penanganan darurat.

Dengan 776 rumah terdampak, 116 rumah rusak berat, serta sejumlah fasilitas pemerintahan, kesehatan, pendidikan dan peribadatan mengalami kerusakan, warga kini membutuhkan bukan hanya tambahan logistik, tetapi juga kepastian bahwa bantuan didistribusikan berdasarkan kebutuhan.

Sebab, di tengah derasnya solidaritas pascagempa, tantangan berikutnya adalah memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari jangkauan bantuan.»(tim/rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUMANIORA

Golkar Ngada Kirim 7 Mobil Logistik untuk Korban Gempa

DPD II Golkar Ngada mengirim tujuh mobil logistik tahap pertama untuk warga terdampak gempa. Bantuan meliputi pangan, perlengkapan pengungsian, obat-obatan dan kebutuhan dasar.

Published

on

Huten Lobo, warga Tadho Timur, mengatakan warga membutuhkan makanan dengan kandungan protein dan vitamin karena bantuan yang diterima selama ini banyak berupa mi instan. FOTO: GARDAFLORES/ROBY

NGADA, GardaFlores — DPD II Partai Golkar Kabupaten Ngada mengirim tujuh mobil logistik tahap pertama untuk warga terdampak gempa di sejumlah wilayah Kabupaten Ngada, Kamis (21/8/2026).

Bantuan tersebut disiapkan setelah muncul kebutuhan pangan dan perlengkapan dasar warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian maupun sekitar rumah mereka yang terdampak gempa.

Warga di Desa Denatana Timur dan Desa Tadho Timur, misalnya, masih mengandalkan hasil kebun seperti ubi kayu dan buah kestela untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Huten Lobo, warga Tadho Timur, mengatakan warga membutuhkan makanan dengan kandungan protein dan vitamin karena bantuan yang diterima selama ini banyak berupa mi instan.

“Kami setiap hari hanya makan mi instan. Kami butuh tenaga untuk siap dalam situasi gempa dan untuk kembali bekerja menghidupi keluarga. Kami butuh suplai makanan yang mengandung vitamin dan protein,” ujarnya.

Anak Pengungsi Gempa Flores Jalani Skrining Psikologis di Gelora Samador

Pelepasan tujuh kendaraan logistik dilakukan Ketua DPD II Golkar Ngada Andreas Paru bersama Sekretaris DPD II Golkar Ngada yang juga Ketua DPRD Ngada, Romilus Juji, serta jajaran kader.

Logistik yang dikirim meliputi beras, telur, sayuran, susu, ikan sarden, gula, kopi bubuk, air minum, tikar, terpal, tandon air, genset, obat-obatan, vitamin, minyak telon, minyak kayu putih dan pakaian layak pakai.

Bantuan tersebut akan didistribusikan kepada warga terdampak di seluruh kecamatan di Kabupaten Ngada berdasarkan data yang dihimpun di lapangan.

Andreas mengatakan penggalangan donasi DPD II Golkar Ngada dari kader dan masyarakat menghasilkan dana Rp38 juta. Dukungan juga berasal dari struktur Partai Golkar di tingkat pusat dan provinsi.

Menurut Andreas, dana yang dihimpun di tingkat pusat dan provinsi mencapai Rp4 miliar untuk penanganan korban gempa di wilayah daratan Flores. Dana tersebut akan disalurkan melalui DPD II Golkar di wilayah daratan Flores dalam bentuk bantuan logistik.

“Ini bentuk kepedulian Golkar kepada masyarakat Flores yang sedang dilanda musibah. Kami hadir untuk meringankan beban,” tegas Andreas.

Andreas memastikan distribusi bantuan dilakukan berdasarkan data warga terdampak. Pihaknya berkoordinasi dengan kader di lapangan serta pemerintah kecamatan dan desa untuk menentukan penerima bantuan.

Warga Wolomeze Keluhkan Bantuan Tak Merata, Minta Distribusi Satu Pintu

“Data kami sudah pegang dari hasil kolaborasi antara kader Golkar di lapangan dan pemerintah tingkat camat dan desa. Bantuan ini kami yakin akan tepat sasaran,” katanya.

Sementara itu, Romilus Juji mengajak berbagai unsur untuk terlibat dalam penanganan korban gempa.

“Kami meminta semua elemen, baik pemerintah, swasta, gereja, organisasi dan lainnya untuk memberikan atensi terhadap korban gempa,” ujarnya.

DPD II Golkar Ngada juga masih membuka posko donasi untuk menghimpun bantuan dari masyarakat.

Bantuan logistik tersebut selanjutnya akan didistribusikan ke wilayah terdampak sesuai kebutuhan dan data yang telah dihimpun.»(tim/rel)

Continue Reading

HUMANIORA

20 Tenda Disalurkan ke Talibura, Wabup Sikka: Negara Harus Hadir di Tengah Warga Terdampak Gempa

Sebanyak 20 tenda disalurkan kepada warga terdampak gempa di Talibura, Sikka. Bantuan diperuntukkan bagi warga yang rumahnya rusak atau belum aman ditempati.

Published

on

Wakil Bupati Sikka, Ir. Simon Subandi Supriadi, menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada warga. Penyaluran dilakukan di tengah masih berlangsungnya penanganan warga yang memilih bertahan di pengungsian mandiri karena kondisi rumah mereka.

MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka menyalurkan 20 unit tenda kepada warga terdampak gempa bumi di Kecamatan Talibura, Sabtu (22/8/2026). Bantuan tersebut diperuntukkan bagi warga yang rumahnya rusak atau belum aman ditempati.

Wakil Bupati Sikka, Ir. Simon Subandi Supriadi, menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada warga. Penyaluran dilakukan di tengah masih berlangsungnya penanganan warga yang memilih bertahan di pengungsian mandiri karena kondisi rumah mereka.

Simon mengatakan pemerintah daerah akan terus memastikan kebutuhan warga terdampak ditangani selama masa tanggap darurat.

“Pemerintah Kabupaten Sikka terus berupaya hadir bersama masyarakat dalam situasi sulit ini. Bantuan tenda ini diharapkan dapat memberikan rasa aman dan membantu warga yang membutuhkan tempat berlindung sementara,” ujar Simon.

Anak Pengungsi Gempa Flores Jalani Skrining Psikologis di Gelora Samador

Menurut Simon, kebutuhan warga terdampak tidak hanya berupa pangan dan logistik, tetapi juga tempat berlindung, pelayanan kesehatan dan keselamatan.

Ia meminta masyarakat tetap mengikuti informasi resmi pemerintah dan petugas di lapangan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.

Talibura merupakan salah satu wilayah terdampak gempa di Kabupaten Sikka. Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI-Polri, pemerintah kecamatan dan desa, relawan serta unsur terkait masih melakukan pendataan kerusakan dan kebutuhan warga.

Distribusi bantuan juga menyasar pengungsi mandiri yang tersebar di sejumlah titik, selain warga yang berada di lokasi pengungsian terpusat.

Penyaluran 20 tenda tersebut menjadi bagian dari respons darurat Pemerintah Kabupaten Sikka untuk memenuhi kebutuhan tempat berlindung warga selama masa tanggap darurat.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Anak Pengungsi Gempa Flores Jalani Skrining Psikologis di Gelora Samador

Anak-anak pengungsi gempa Flores di Gelora Samador, Kabupaten Sikka, menjalani skrining psikologis untuk mendeteksi kecemasan, ketakutan dan gejala awal stres pascatrauma.

Published

on

Kepala Lembaga Layanan Psikologi Universitas Nusa Nipa sekaligus Dosen Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Unipa, Sitti Anggraini, Psikolog, mengatakan skrining dilakukan sepanjang hari agar anak-anak penyintas di Gelora Samador dapat terjangkau.

MAUMERE, GardaFlores — Lembaga Layanan Psikologi Universitas Nusa Nipa (Unipa Maumere) bersama Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) Indonesia, Yayasan FREN Bisa, KALVARI, dan Taman Baca Masyarakat (TBM) Misir Tengah Maumere menggelar skrining psikologis bagi anak-anak pengungsi gempa Flores di Posko Pengungsian Gelora Samador, Kabupaten Sikka, Jumat (21/8/2026).

Kegiatan yang difasilitasi UPTD PPA Kabupaten Sikka tersebut dilakukan untuk mendeteksi secara dini kondisi psikologis anak setelah mengalami gempa bumi, termasuk kecemasan, ketakutan, dan gejala awal reaksi stres pascatrauma.

Kepala Lembaga Layanan Psikologi Universitas Nusa Nipa sekaligus Dosen Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Unipa, Sitti Anggraini, Psikolog, mengatakan skrining dilakukan sepanjang hari agar anak-anak penyintas di Gelora Samador dapat terjangkau.

“Pelaksanaan yang berlangsung sepanjang hari ini harus kami lakukan untuk memastikan anak-anak penyintas gempa bumi di Posko Gelora Samador terjangkau,” ujar Sitti.

Posko Sikka Verifikasi Data Kerusakan Rumah dan Fasilitas Publik Pascagempa

Menurutnya, pendekatan kepada anak-anak di pengungsian dilakukan secara fleksibel dengan menyesuaikan aktivitas dan waktu istirahat mereka. Hasil skrining menjadi dasar untuk mengetahui kondisi psikologis anak dan menentukan kebutuhan pendampingan selanjutnya.

“Tujuan skrining ini sebagai deteksi dini untuk mengidentifikasi secara cepat tingkat kecemasan, ketakutan atau gejala awal reaksi stres pascatrauma pada anak pascabencana,” katanya.

Dosen Psikologi Unipa Maumere, Maria Nona Nancy, menjelaskan anak-anak yang mengikuti skrining dipetakan berdasarkan kondisi dan kebutuhan psikologis masing-masing.

Sebagian anak dapat memperoleh dukungan psikososial, sementara anak dengan kondisi tertentu dapat membutuhkan penanganan klinis lebih lanjut. Pemetaan tersebut dilakukan untuk menentukan bentuk pendampingan yang sesuai sejak fase awal pascabencana.

“Dukungan pada fase awal sangat penting agar anak-anak memiliki ruang untuk memulihkan rasa aman, mengelola emosi, dan kembali beradaptasi dengan lingkungan,” jelas Nancy.

Menurut Nancy, pendampingan anak di lokasi pengungsian mencakup pemulihan rasa aman, penguatan stabilitas emosional dan resiliensi, serta penciptaan lingkungan yang ramah anak dengan melibatkan orang tua dan relawan.

Perwakilan Yayasan PAPHA Indonesia, Emil Soge, mengatakan kebutuhan psikologis perlu menjadi bagian dari penanganan bencana bersama kebutuhan dasar lainnya.

“Menjaga kesehatan fisik saja tidak cukup. Kesehatan mental anak-anak dan remaja sangat penting karena mereka berada dalam periode transisi dengan banyak perubahan fisik, emosional dan sosial,” ujarnya.

Emil mengatakan pengalaman bencana dapat memengaruhi kondisi emosional anak dan remaja, sehingga pemantauan sejak fase tanggap darurat diperlukan untuk mengetahui anak yang membutuhkan dukungan lebih lanjut.

Skrining di Gelora Samador merupakan bagian dari dukungan program Yayasan PAPHA Indonesia terhadap pemantauan kondisi psikologis anak-anak di lokasi pengungsian.

“Melakukan skrining untuk memastikan keadaan maupun kondisi mental dan psikologis anak. Skrining yang dilakukan hari ini adalah bentuk dukungan program dari Yayasan PAPHA Indonesia untuk memastikan kondisi psikologis anak pada posko pengungsian di Gelora Samador tetap terjaga dengan baik, secara fisik maupun mental,” kata Emil.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending