OPINI
This is Your Captain Speaking
Perjalanan Kapten Ernes Don Bosco Laban, Pilot Citilink Asal Maumere.

Oleh: Fransisco Soarez Pati
“This is your captain speaking from the flight deck.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Hampir setiap orang yang pernah naik pesawat pasti pernah mendengarnya.
Suara seorang kapten menyapa penumpang, menyampaikan kondisi cuaca, ketinggian jelajah, atau perkiraan waktu tiba. Setelah itu, penerbangan berjalan seperti biasa. Penumpang kembali membaca buku, menonton film, atau memejamkan mata.
Namun pernahkah kita membayangkan perjalanan panjang yang tersembunyi di balik suara itu?
Di balik setiap pengumuman dari ruang kemudi, ada kisah tentang mimpi, perjuangan, kegagalan, kerja keras, dan keyakinan yang bertahan bertahun-tahun.
Demikian pula dengan Kapten Ernestus Don Bosco Laban.
Hari ini ia duduk di kokpit Airbus A320 milik Citilink Indonesia, menerbangkan ratusan penumpang melintasi berbagai kota dan negara. Namun jauh sebelum mengenakan seragam pilot, jauh sebelum menyentuh tuas kendali pesawat modern, Ernes hanyalah seorang anak kecil dari Maumere yang sering memandang langit dengan rasa ingin tahu yang tak pernah habis.
Masa kecilnya tumbuh di Maumere, ketika kehidupan bergerak dengan ritme yang jauh lebih sederhana.
Di Pasar Alok menjadi pusat aktivitas masyarakat. Nelayan datang membawa hasil laut. Petani menjual hasil kebun. Anak-anak bermain hingga matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
Di antara kehidupan yang sederhana itu, Ernes menjalani masa kecil yang tak jauh berbeda dengan anak-anak lain.
Ia bermain sepak bola di Lapangan Kota Baru. Mandi dan berenang di sekitar kawasan Pelabuhan Sadang Bui. Menerbangkan layang-layang bersama teman-temannya di halaman SDK III Maumere.
Namun ada satu hal yang selalu membuatnya berhenti sejenak dan menengadah.
Pesawat.
Setiap kali mendengar suara mesin dari kejauhan, matanya akan mencari sumber suara itu di langit. Saat pesawat menurunkan ketinggian menuju Bandara Wai Oti atau perlahan menghilang di balik cakrawala, ia hanya bisa memandang dengan kagum.
Barangkali saat itu ia belum memahami teknologi penerbangan. Belum mengerti apa itu kokpit, navigasi, ataupun Airbus A320.
Tetapi seperti banyak mimpi besar lainnya, semuanya berawal dari sebuah pertanyaan sederhana.
Bagaimana rasanya berada di atas sana?
Mimpi sering kali terlihat indah dari kejauhan. Namun jalan menuju mimpi hampir selalu lebih berat daripada yang dibayangkan.
Menjadi pilot bukanlah cita-cita yang mudah diwujudkan, terlebih bagi seorang anak yang tumbuh jauh dari pusat-pusat pendidikan penerbangan Indonesia.
Dibutuhkan biaya besar. Disiplin yang ketat. Pendidikan yang panjang. Kemampuan teknis yang terus diuji. Dan yang tak kalah penting, kemampuan bertahan ketika keadaan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Dalam perjalanan itu, Ernes belajar bahwa tidak ada jalan pintas menuju kokpit.
Ada proses yang harus dijalani. Ada pengorbanan yang harus diterima. Ada kegagalan yang harus dihadapi tanpa kehilangan arah.
Di situlah nilai-nilai yang ia peroleh dari keluarga menjadi fondasi yang tidak tergantikan: kerja keras, ketekunan, disiplin, dan doa.
Sedikit demi sedikit, langkah-langkah kecil yang dahulu tampak biasa mulai membawanya semakin dekat ke langit yang selama ini hanya ia pandangi dari bawah.
Hari ini, Ernes telah menjadi seorang kapten.
Ia menerbangkan Airbus A320 pada berbagai rute domestik maupun internasional. Dari balik pintu kokpit, ia memikul tanggung jawab yang tidak ringan: memastikan setiap penerbangan berlangsung aman hingga tujuan.
Namun ada hal menarik tentang pencapaian besar.
Semakin tinggi seseorang terbang, semakin jelas ia melihat dari mana dirinya berasal.
Di tengah kesibukan dunia penerbangan modern, Maumere tetap hidup dalam ingatannya. Bandara Wai Oti tetap menjadi bagian dari kisah yang membentuk dirinya. Langit yang dulu ia pandangi sebagai anak kecil kini menjadi ruang kerjanya setiap hari.
Dan mungkin itulah bagian paling penting dari kisah ini.
Bukan tentang menjadi pilot. Bukan tentang Airbus A320. Bukan pula tentang seragam kapten atau ribuan jam terbang.
Melainkan tentang keberanian menjaga mimpi tetap hidup ketika keadaan belum memberi banyak alasan untuk percaya.
Kisah perjalanan tersebut kini sedang dirangkum dalam sebuah buku biografi berjudul:
THIS IS YOUR CAPTAIN SPEAKING: Kisah Ernes Laban, Pilot Asal Maumere Menerbangkan Citilink Airbus A320.
Buku itu bukan sekadar catatan karier seorang penerbang. Ia adalah cerita tentang bagaimana mimpi bertumbuh di tempat yang sederhana, tentang bagaimana ketekunan mengalahkan keterbatasan, dan tentang bagaimana seseorang dapat membawa identitas kampung halamannya terbang jauh melintasi batas-batas geografis.
Sebab pada akhirnya, setiap orang memiliki langitnya sendiri. Tidak semua akan menjadi pilot. Tidak semua akan duduk di kokpit pesawat. Tetapi setiap orang memiliki tujuan yang menunggu untuk dicapai.
Dan seperti kisah Ernes, perjalanan menuju langit itu selalu dimulai dari satu langkah kecil yang berani diambil.
Dari Maumere. Menuju langit yang tak berbatas.»
OPINI
Diaspora Ngada–Maumere: Ketika Sepak Bola Menjadi Cara Lain Pulang Kampung

Oleh: Ando Roja Sola
Bagi sebagian orang, pulang kampung berarti kembali menjejakkan kaki di tanah kelahiran. Namun, bagi keluarga besar diaspora Ngada di Maumere, pulang kampung juga dapat terjadi di tribun stadion. Ketika bendera PSN Ngada berkibar, lagu Ja’i menggema, dan nama Bajawa disebut dengan bangga, jarak geografis seolah lenyap. Kerinduan menemukan rumahnya. Dalam momen seperti itulah, sepak bola tidak lagi sekadar pertandingan, melainkan ruang untuk merawat ingatan, identitas, dan kebudayaan.
Kedatangan PSN Ngada U-17 dan Citra Bakti Ngada U-17 pada ajang Soeratin Cup U-17 dan Pertiwi Cup 2026 di Kabupaten Sikka bukan hanya menjadi agenda olahraga. Peristiwa ini menjelma menjadi momentum kebudayaan yang membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat Ngada di perantauan. Kehadiran kedua tim menghadirkan kembali memori tentang tanah yang membesarkan mereka—tanah yang sejak lama dikenal memiliki denyut sepak bola yang begitu kuat.
Tidak berlebihan apabila banyak orang menyebut Ngada sebagai salah satu episentrum sepak bola di Nusa Tenggara Timur. Sebagaimana Brasil dikenal sebagai negeri yang melahirkan identitas sepak bola dunia, Ngada memiliki tradisi panjang dalam membangun karakter pemain melalui pembinaan, solidaritas, dan semangat komunitas. Di daerah ini, sepak bola tidak tumbuh hanya dari lapangan hijau, tetapi juga dari kampung-kampung, halaman sekolah, dan ruang-ruang kebersamaan yang membentuk watak para pemainnya.
Karena itu, sambutan hangat keluarga besar diaspora Ngada di Maumere terhadap PSN Ngada dan Citra Bakti Ngada tidak dapat dipahami sebagai euforia sesaat. Sambutan tersebut merupakan ekspresi kerinduan yang telah lama dipelihara. Mereka seolah berkata, “Kami lahir dari tanah yang merawat sepak bola. Kami mungkin tinggal jauh dari Bajawa, tetapi identitas itu tidak pernah meninggalkan kami.”
Di tengah kehidupan sebagai perantau, sepak bola menjadi ruang temu yang mempertemukan kembali bahasa, dialek, lagu, cerita, bahkan kenangan masa kecil. Di tribun stadion, orang-orang saling menyapa dengan logat Bajawa, menyanyikan lagu Ja’i, dan mengenang kampung halaman. Stadion berubah menjadi rumah kedua; tempat identitas dirayakan bersama.
Bagi orang Ngada, sepak bola memang tidak pernah sekadar permainan. Ia adalah budaya. Ia adalah cara masyarakat membangun solidaritas, menanamkan disiplin, menghargai kerja sama, dan menjaga harga diri. Tidak mengherankan jika setiap pertandingan lokal selalu dipenuhi masyarakat yang datang bukan hanya untuk mencari hiburan, melainkan untuk merawat rasa memiliki terhadap komunitasnya.
Coach Kletus Gabhe pernah mengatakan bahwa kekuatan terbesar PSN Ngada bukan semata-mata kualitas teknik pemainnya, melainkan kultur kebersamaan yang diwariskan masyarakat Bajawa. Pernyataan itu menjelaskan mengapa PSN Ngada selalu tampil dengan karakter yang khas. Dalam falsafah adat Ngada dikenal ungkapan su’u papa suru, sa’a papa laka—berat dipikul bersama, ringan dijinjing bersama. Nilai inilah yang menjadi roh permainan PSN Ngada: solidaritas yang melampaui kepentingan individu.

Budaya tersebut tampak pula dalam perjalanan PSN Ngada U-17. Tim ini bukan hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses pembinaan yang panjang. Gelar juara Soeratin Cup U-17 NTT tahun 2022, kemudian keberhasilan mempertahankan gelar pada tahun 2023, membuktikan bahwa prestasi bukanlah hasil keberuntungan. Prestasi tersebut merupakan buah dari sistem pembinaan, pendidikan karakter, dan konsistensi yang terus dijaga.
Kini, ketika PSN Ngada kembali hadir di Soeratin Cup U-17 tahun 2026 di Kabupaten Sikka, mereka membawa lebih dari sekadar ambisi meraih kemenangan. Mereka membawa nama baik daerah, harapan masyarakat, serta warisan budaya yang telah dibangun selama puluhan tahun. Setiap pertandingan bukan hanya tentang mencetak gol, melainkan juga tentang menunjukkan karakter, sportivitas, dan martabat orang Ngada.
Di sinilah makna terdalam sepak bola bagi diaspora Ngada. Mendukung PSN Ngada bukan sekadar memberi semangat kepada sebuah tim. Itu adalah cara merawat hubungan emosional dengan kampung halaman. Sorak-sorai di tribun menjadi bahasa kerinduan. Tepuk tangan menjadi ungkapan cinta kepada tanah kelahiran. Bahkan, sembilan puluh menit pertandingan mampu menghadirkan kembali rasa pulang yang selama ini hanya hidup dalam ingatan.
Di tengah arus modernisasi yang perlahan mengikis ikatan komunal, sepak bola justru menghadirkan ruang untuk mempertahankan identitas budaya. Ia mempertemukan generasi tua dengan generasi muda, memperkenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan, dan mengingatkan bahwa menjadi orang Ngada bukan sekadar soal tempat lahir, melainkan juga soal nilai yang terus diwariskan.
Karena itu, kehadiran PSN Ngada dan Citra Bakti Ngada di Maumere bukan hanya menjadi kabar gembira bagi pecinta sepak bola. Ia adalah peristiwa kebudayaan. Sebuah undangan untuk pulang—meski hanya melalui tribun stadion.
Pada akhirnya, rumah tidak selalu berupa bangunan yang berdiri di kampung halaman. Kadang-kadang, rumah adalah sekelompok orang yang menyanyikan lagu yang sama, mengenakan warna kebanggaan yang sama, dan menyimpan kerinduan yang sama. Bagi keluarga besar diaspora Ngada di Maumere, rumah itu bernama PSN Ngada.
Maka, selama peluit pertandingan masih berbunyi, selama bendera PSN Ngada masih berkibar, dan selama lagu Ja’i masih menggema di tribun, pulang kampung akan selalu mungkin terjadi. Sebab bagi orang Ngada, merayakan sepak bola bukan hanya mendukung sebuah tim—melainkan merawat identitas, menjaga kebudayaan, dan menemukan kembali jalan pulang.»
OPINI
Hari Anak Nasional: Yang Sesungguhnya Sedang Diuji Adalah Orang Dewasa

Oleh: Stefanus Bajo, S.Sos
Setiap tanggal 23 Juli, kita merayakan Hari Anak Nasional. Anak-anak diajak mengikuti lomba, pentas seni, atau menerima hadiah. Media sosial dipenuhi ucapan selamat. Spanduk dan baliho mengingatkan bahwa anak adalah masa depan bangsa.
Semua itu tentu baik. Namun setiap kali Hari Anak Nasional tiba, saya justru merasa ada satu pertanyaan yang sering terlupakan. Apakah hari ini sebenarnya milik anak-anak? Atau jangan-jangan, hari ini justru menjadi hari ujian bagi orang dewasa?
Sebab anak-anak tidak pernah meminta dilahirkan. Kitalah yang menghadirkan mereka ke dunia. Mereka tidak memilih lahir di keluarga yang kaya atau miskin. Mereka tidak memilih sekolahnya. Mereka tidak memilih lingkungan tempat mereka bertumbuh. Semua keputusan itu dibuat oleh orang-orang dewasa.
Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan anak, sesungguhnya yang sedang kita bicarakan adalah kualitas orang dewasa yang mengelilingi mereka hari ini.
Anak-anak tidak pernah gagal menjadi anak.
Merekalah yang berlari ketika melihat lapangan kosong, tertawa tanpa alasan yang rumit, dan masih percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik. Yang sering kali gagal justru kita, orang-orang dewasa, ketika lupa menyediakan dunia yang aman untuk mereka.
Kasih sayang memang menjadi awal dari segalanya. Namun kasih sayang saja tidak cukup.
Kasih sayang yang tidak berubah menjadi perlindungan sering kali hanya berhenti sebagai perasaan.
Seorang anak mungkin mendapatkan pelukan sebelum berangkat sekolah. Tetapi apakah ia juga memperoleh perlindungan dari perundungan? Seorang anak mungkin diberi telepon pintar agar tidak merasa kesepian di rumah. Tetapi apakah ia juga didampingi ketika menjelajahi dunia digital yang penuh risiko? Seorang anak mungkin menerima uang jajan setiap pagi. Tetapi apakah ia juga menerima waktu untuk didengar ketika pulang ke rumah?
Di situlah kasih sayang menemukan makna yang sesungguhnya.
Ia bukan hanya soal memberi. Ia juga soal hadir.
Hari Anak Nasional mengingatkan kita bahwa ancaman terhadap anak hari ini tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali. Kekerasan terhadap anak masih terjadi. Perundungan hadir bukan hanya di halaman sekolah, tetapi juga di layar telepon genggam. Pernikahan usia dini masih merampas masa kanak-kanak. Sebagian anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah, sementara yang lain tumbuh tanpa pendampingan karena orang-orang dewasa terlalu sibuk mengejar kehidupan.
Ironisnya, kita sering lebih cepat membeli telepon pintar untuk anak daripada menyediakan waktu tiga puluh menit untuk mendengar cerita mereka.
Padahal, tidak ada aplikasi yang mampu menggantikan kehadiran seorang ayah.
Tidak ada media sosial yang dapat menggantikan pelukan seorang ibu.
Tidak ada kecerdasan buatan yang dapat menggantikan keteladanan orang tua.
Karena itulah keluarga tetap menjadi sekolah pertama yang tidak pernah bisa digantikan oleh institusi mana pun.
Namun keluarga tidak dapat berjalan sendiri.
Sekolah memiliki tanggung jawab membangun ruang belajar yang aman. Pemerintah berkewajiban memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan, kesehatan, dan perlindungan. Tokoh agama, tokoh adat, media, organisasi masyarakat, hingga tetangga di sekitar rumah memiliki peran yang sama pentingnya. Membesarkan anak sesungguhnya adalah pekerjaan seluruh peradaban.
Di Kabupaten Sikka, komitmen untuk melindungi anak harus terus diperkuat, bukan hanya melalui regulasi, tetapi juga melalui budaya. Sebab lingkungan yang ramah anak tidak dibangun oleh papan nama atau piagam penghargaan. Ia lahir dari kebiasaan orang-orang dewasa yang memilih mendengar sebelum memarahi, membimbing sebelum menghukum, dan melindungi sebelum menyalahkan.
Kita sering mengatakan bahwa anak adalah investasi masa depan. Kalimat itu benar. Tetapi investasi tidak pernah bertumbuh hanya dengan harapan. Ia membutuhkan waktu, perhatian, disiplin, dan komitmen yang dijaga setiap hari.
Karena itu, Hari Anak Nasional bukanlah sekadar hari untuk mengucapkan, “Selamat Hari Anak.”
Hari ini seharusnya menjadi hari ketika setiap orang dewasa bertanya kepada dirinya sendiri.
Sudahkah saya menjadi ayah yang hadir? Sudahkah saya menjadi ibu yang mendengar? Sudahkah saya menjadi guru yang menguatkan?
Sudahkah saya menjadi pemimpin yang membuat kebijakan berpihak kepada anak?
Sudahkah saya menjadi tetangga yang peduli ketika melihat seorang anak membutuhkan pertolongan?
Sebab pada akhirnya, anak-anak tidak membutuhkan pidato yang lebih panjang setiap tanggal 23 Juli.
Mereka membutuhkan rumah yang aman. Sekolah yang ramah. Lingkungan yang melindungi.
Dan orang-orang dewasa yang tidak hanya mengatakan bahwa mereka mencintai anak-anak, tetapi membuktikannya dalam tindakan setiap hari.
Karena sesungguhnya, Hari Anak Nasional bukanlah hari ketika kita menguji anak-anak.
Hari Anak Nasional adalah hari ketika orang dewasa bercermin.»
OPINI
Truk Sudah Datang, Kini Saatnya Koperasi Benar-Benar Bergerak

Oleh: Karel Pandu
Empat truk Hino sudah tiba di Kabupaten Sikka. Warnanya masih mengilap, bannya masih baru, bahkan mesinnya setiap hari dihidupkan agar tetap prima. Sayangnya, roda-roda itu belum mengangkut apa pun selain harapan.
Bukan karena sopirnya belum ada. Bukan pula karena solar sulit didapat.
Truk-truk itu masih menunggu gerai Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) siap beroperasi.
Kalau di Flores kita sering bercanda, “mobil baru biasanya lebih dulu diparkir di depan rumah supaya tetangga tahu.” Bedanya, kali ini yang diparkir bukan milik pribadi, melainkan aset negara yang memang belum boleh digunakan. Humor itu mungkin mengundang senyum, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa setiap aset publik baru akan bernilai ketika mulai bekerja untuk masyarakat.
Sebenarnya tidak ada yang keliru dengan keputusan menahan penyerahan kendaraan. Justru langkah itu patut diapresiasi karena menunjukkan kehati-hatian agar aset negara tidak digunakan sebelum mekanisme operasionalnya siap.
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa truk sudah datang, melainkan kapan seluruh ekosistem koperasi benar-benar siap berjalan.
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih lahir bukan sekadar untuk membangun gedung atau menyediakan kendaraan. Pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 menempatkan koperasi ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi desa, memperpendek rantai distribusi, mengembangkan usaha masyarakat, hingga mendukung ketahanan pangan dan pemerataan ekonomi.
Artinya, truk hanyalah salah satu alat. Tujuan akhirnya bukan kendaraan itu sendiri, melainkan pelayanan ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat desa.
Di Kabupaten Sikka, pekerjaan itu memang belum selesai. Dari 149 desa dan kelurahan, baru empat gerai yang telah rampung, sementara puluhan lainnya masih dalam proses pembangunan. Salah satu kendala yang diakui pemerintah adalah ketersediaan lahan yang harus melalui proses survei dan verifikasi sebelum pembangunan dimulai.
Fakta itu menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan pada pengadaan kendaraan, melainkan pada sinkronisasi seluruh tahapan pelaksanaan program.
Pengalaman di berbagai daerah mengajarkan bahwa banyak program pembangunan gagal bukan karena kekurangan anggaran atau aset, melainkan karena setiap bagian bergerak dengan kecepatannya sendiri. Gedung selesai, pengurus belum siap. Pengurus terbentuk, model bisnis belum jelas. Kendaraan datang, tetapi kegiatan usaha belum berjalan.
Padahal koperasi bukanlah garasi.
Ia hidup dari transaksi, kepercayaan anggota, tata kelola yang baik, serta kemampuan membaca potensi ekonomi desa.
Kalau nanti truk itu hanya sesekali keluar untuk acara seremonial lalu kembali diparkir, masyarakat tentu akan bertanya: apakah yang sedang dibangun adalah koperasi atau sekadar tempat menyimpan kendaraan?
Pertanyaan itu sah diajukan karena keberhasilan sebuah koperasi tidak pernah diukur dari jumlah asetnya.
Yang diukur adalah berapa petani terbantu menjual hasil panennya dengan harga lebih baik.
Berapa nelayan memperoleh akses distribusi yang lebih murah.
Berapa pelaku UMKM mendapatkan pasar baru.
Berapa keluarga yang akhirnya merasakan manfaat nyata dari keberadaan koperasi.
Di Flores, orang tidak terlalu peduli apakah truk itu Hino, Fuso, atau merek lainnya. Yang mereka ingin lihat sederhana saja: truk itu bergerak. Membawa hasil bumi dari desa ke pasar, mengantar kebutuhan pokok ke kampung, dan membuat roda ekonomi berputar lebih cepat.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari seremoni penyerahan aset.
Mereka hidup dari manfaat yang dihasilkan aset itu.
Empat truk sudah tiba.
Kini tantangannya bukan lagi memastikan mesinnya tetap hidup setiap pagi.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan koperasinya ikut hidup.
Sebab mesin yang terus dipanaskan tetapi tidak pernah berjalan hanya akan menghabiskan bahan bakar. Sebaliknya, koperasi yang sehat akan menggerakkan jauh lebih banyak daripada empat truk—ia menggerakkan ekonomi desa, membuka kesempatan usaha, dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan publik.»
-
NASIONAL9 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA12 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA10 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM12 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
