Connect with us

PENKES

Wisata Literasi dan Sains di Perpusda Frans Seda, Disarpus Sikka Libatkan Pegiat Literasi untuk Edukasi Anak

“Literasi tidak hanya membaca, tetapi juga mendorong anak berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.”

Published

on

Pegiat literasi, Yanto de Flores, menyampaikan cerita dan dongeng interaktif kepada siswa SDIT Rabbani Maumere di Perpusda Frans Seda. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DISARPUS) Kabupaten Sikka memperkenalkan program Wisata Literasi dan Sains kepada pelajar melalui sesi edukasi di Aula Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda, Jalan El Tari, Maumere, Kamis (23/4/2026).

Program ini menghadirkan pegiat literasi, Yanto de Flores, yang menyampaikan cerita dan dongeng interaktif kepada siswa SDIT Rabbani Maumere sebagai bagian dari upaya meningkatkan minat baca dan pengenalan sains secara kontekstual.

Melalui pendekatan komunikatif, siswa tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga berinteraksi langsung dalam proses pembelajaran yang dirancang untuk memperkuat pemahaman dan ketertarikan terhadap literasi.

Selain sesi dongeng, peserta diperkenalkan pada konsep taman baca masyarakat serta layanan yang tersedia di Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda, termasuk akses koleksi dan fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar di luar sekolah.

Gerakan Baca 30 Menit Mulai Dijalankan di Sikka, Sekolah Integrasikan Literasi dan Sains

Kepala DISARPUS Sikka, Very Awales, menyatakan program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat budaya literasi di kalangan pelajar.
“Kami berkomitmen menghadirkan lebih banyak pegiat literasi dan sains untuk membangun budaya membaca dan belajar. Literasi tidak hanya membaca, tetapi juga mendorong anak berpikir kritis, kreatif, dan inovatif,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan literasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk sekolah, komunitas, dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan.

Kegiatan ini juga melibatkan Sekretaris DISARPUS Sikka Yuvensius Rafael, jajaran kepala bidang, tim Wisata Literasi dan Sains, serta tenaga pendidik dari SDIT Rabbani Maumere.

Selama kegiatan berlangsung, siswa aktif mengikuti rangkaian aktivitas, mulai dari sesi dongeng hingga interaksi dalam kegiatan literasi yang dirancang untuk meningkatkan partisipasi belajar.

DISARPUS Sikka akan memperluas program Wisata Literasi dan Sains ke sekolah-sekolah lain sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya membaca dan pemahaman sains sejak usia dini.»(rel)

PENKES

Gerakan Baca 30 Menit Mulai Dijalankan di Sikka, Sekolah Integrasikan Literasi dan Sains

DISARPUS juga menambahkan aktivitas edukatif seperti lomba mewarnai.

Published

on

DISARPUS menegaskan program ini akan diterapkan secara berkelanjutan dengan melibatkan sekolah dan pemangku kepentingan lain guna memperkuat budaya literasi. FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Gerakan Baca 30 Menit mulai dijalankan di Kabupaten Sikka setelah Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DISARPUS) menyosialisasikan program tersebut kepada pelajar di Aula Lantai II Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda, Kamis (23/4/2026).

Program ini merupakan tindak lanjut Surat Edaran Bupati Sikka Nomor: ArsipPustaka.000.14.4/75/2026 tentang Gerakan 30 Menit Membaca, Wisata Literasi dan Sains, serta penguatan ekosistem literasi daerah.

Kepala DISARPUS Sikka, Very Awales, menjelaskan gerakan ini diarahkan untuk membentuk kebiasaan membaca harian sekaligus mengintegrasikan literasi dengan pembelajaran sains di sekolah.
“Gerakan ini mendorong siswa membaca minimal 30 menit setiap hari. Melalui wisata literasi dan sains, pembelajaran menjadi lebih kontekstual,” ujarnya.

Kepala SDIT Rabbani Maumere, Yanto, menyebut pendekatan ini memberi pengalaman belajar yang lebih aplikatif. FOTO: IST

Sosialisasi melibatkan siswa dan guru SDIT Rabbani Maumere. Peserta mengikuti pemaparan program, kemudian menelusuri layanan perpustakaan melalui tur edukatif untuk mengenal koleksi, sistem pengelolaan arsip, dan fungsi layanan publik.

Peringati Hari Bumi, Disarpus Sikka Tanam Pohon di Pantai Nuba Nanga Bola Wolon

Untuk memperkuat keterlibatan siswa, DISARPUS menambahkan aktivitas edukatif, termasuk lomba mewarnai.

Kepala SDIT Rabbani Maumere, Yanto, menyebut pendekatan ini memberi pengalaman belajar yang lebih aplikatif.
“Kegiatan ini membantu siswa tidak hanya membaca, tetapi juga memahami fungsi perpustakaan dan kearsipan secara langsung,” katanya.

DISARPUS menegaskan program ini akan diterapkan secara berkelanjutan dengan melibatkan sekolah dan pemangku kepentingan lain guna memperkuat budaya literasi di daerah.

Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sikka akan memantau dan mengevaluasi penerapan program di sekolah-sekolah untuk memastikan kebiasaan membaca berjalan konsisten dan terukur.»(rel)

Continue Reading

PENKES

Polres Sikka Salurkan Bantuan Pendidikan ke Empat Sekolah di Maumere

Polres Sikka juga menyalurkan bantuan keuangan kepada siswa kurang mampu dan anak putus sekolah.

Published

on

Di PAUD Aisyiyah Waturia, bantuan meliputi lemari plastik, lemari rak, meja belajar, kursi plastik, tas sekolah, alat permainan edukatif berupa puzzle kayu, serta meja kayu. Sementara di SDK Waiara, bantuan berupa 40 pasang seragam sekolah dan alat tulis kantor (ATK). FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Kepolisian Resor (Polres) Sikka menyalurkan bantuan sosial di bidang pendidikan kepada empat sekolah di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (20/4/2026). Bantuan diserahkan oleh Wakapolres Sikka Kompol Marselus Yugo Amboro, S.I.K., mewakili Kapolda NTT.

Penyaluran bantuan berlangsung di empat lokasi, yakni PAUD Aisyiyah Waturia di Kecamatan Magepanda, SMP Katolik Binawirawan Maumere di Kecamatan Alok, SMK Santo Gabriel Maumere di Kecamatan Alok Timur, dan SDK Waiara di Kecamatan Kewapante.

Bantuan yang diberikan mencakup perlengkapan belajar dan sarana penunjang pendidikan. Di PAUD Aisyiyah Waturia, bantuan meliputi lemari plastik, lemari rak, meja belajar, kursi plastik, tas sekolah, alat permainan edukatif berupa puzzle kayu, serta meja kayu. Sementara di SDK Waiara, bantuan berupa 40 pasang seragam sekolah dan alat tulis kantor (ATK).

FOTO: IST

Selain itu, Polres Sikka juga menyalurkan bantuan keuangan kepada siswa kurang mampu dan anak putus sekolah di SMP Katolik Binawirawan Maumere dan SMK Santo Gabriel Maumere.

Wakapolres Sikka Kompol Marselus Yugo Amboro mengatakan, bantuan tersebut merupakan bagian dari kepedulian Polri terhadap masyarakat, khususnya dalam mendukung sektor pendidikan.

“Bantuan ini diharapkan dapat menunjang kegiatan belajar mengajar, meningkatkan semangat siswa dan tenaga pendidik, serta membantu anak-anak yang kurang mampu agar tetap melanjutkan pendidikan,” ujarnya.

Kapolres Sikka dan Bhayangkari Salurkan Bantuan untuk Anak Stunting dan Warga Terdampak Erupsi Lewotobi

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala PAUD Aisyiyah Waturia Marwiyah Nazarudin, Sekretaris Desa Waturia Rahmat Asikin, kepala sekolah dari masing-masing sekolah penerima bantuan, serta orang tua dan siswa.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung hingga pukul 19.00 WITA dalam kondisi aman dan tertib. Hingga saat ini, bantuan telah diterima oleh masing-masing sekolah dan mulai dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.»(rel)

Continue Reading

PENKES

Kasus Malaria Impor dari Papua Ancam Eliminasi di NTT

“Eliminasi malaria bukan hanya soal menurunkan angka kasus, tetapi memastikan tidak ada lagi penularan baru.”

Published

on

Dokter Roy Boris: “Banyak pasien datang dengan keluhan demam setelah pulang dari Papua, tetapi tidak langsung curiga malaria. Padahal ini sangat berisiko jika tidak segera ditangani.” FOTO; IST

MAUMERE, GardaFlores — Di tengah tren penurunan kasus malaria lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT), tenaga kesehatan mengingatkan peningkatan risiko kasus malaria impor dari luar daerah, terutama dari wilayah endemis tinggi seperti Papua. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu kembali penularan di wilayah yang telah mendekati eliminasi.

Dokter Roy Boris, Senin (20/4/2026) di Maumere, menyatakan mobilitas penduduk menjadi faktor utama masuknya kasus impor ke daerah.

“Banyak pasien datang dengan keluhan demam setelah pulang dari Papua, tetapi tidak langsung curiga malaria. Padahal ini sangat berisiko jika tidak segera ditangani,” ujarnya.

Data global menunjukkan, hingga 2025 sebanyak 47 negara telah dinyatakan bebas malaria, sementara jumlah negara endemis menurun dari 108 pada tahun 2000 menjadi 80 negara. Namun, pada 2024 kasus malaria global tercatat sekitar 282 juta dengan 610.000 kematian.

Di Indonesia, estimasi kasus malaria pada 2024 mencapai 543.965 kasus, dengan sekitar 93 persen terkonsentrasi di Papua. Mobilitas penduduk dari wilayah tersebut berkontribusi terhadap munculnya kasus impor di daerah lain, termasuk NTT.

Atasi Kekurangan Dokter, Prabowo Akan Buka Kampus Kedokteran Gratis di Seluruh Indonesia

Di tingkat provinsi, sekitar 41 persen kabupaten/kota di NTT telah mencapai eliminasi malaria. Namun, Kabupaten Sumba Barat Daya masih berstatus endemis tinggi. Sementara itu, Kabupaten Sikka dan Flores Timur berada pada kategori endemis sedang hingga rendah.

Malaria merupakan penyakit akibat parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Gejala umumnya berupa demam dengan tiga fase, yakni menggigil, panas tinggi, dan berkeringat. Tanpa penanganan cepat, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian.

Di RSUD TC Hillers Maumere, sejumlah kasus menunjukkan pola serupa. Pasien yang baru kembali dari wilayah seperti Timika datang dengan keluhan demam yang awalnya dianggap kelelahan. Setelah pemeriksaan medis, pasien dinyatakan positif malaria. Sebagian di antaranya sempat mengonsumsi obat penurun panas tanpa diagnosis.

Tenaga kesehatan menilai kondisi ini mencerminkan rendahnya kewaspadaan masyarakat terhadap risiko malaria impor, terutama terkait riwayat perjalanan ke daerah endemis.

Pemkab Sikka Terima 12 Dokter Internsip, Perkuat Layanan Kesehatan hingga 2027

Peringatan Hari Malaria Sedunia setiap 25 April menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran publik. Tahun ini, tema global yang diusung adalah “Driven to End Malaria: Now We Can. Now We Must.”

Untuk mencegah penularan lebih lanjut, tenaga kesehatan mendorong masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam setelah bepergian, serta memperkuat edukasi dan sistem surveilans melalui program 1-2-5—penemuan kasus dalam satu hari, investigasi dua hari, dan respons dalam lima hari.

“Eliminasi malaria bukan hanya soal menurunkan angka kasus, tetapi memastikan tidak ada lagi penularan baru,” tegas dr. Roy.

Hingga saat ini, kewaspadaan terhadap kasus impor terus ditingkatkan oleh tenaga kesehatan di daerah, seiring upaya mempertahankan capaian eliminasi malaria di NTT dan mencegah munculnya kembali penularan lokal.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending