HUMANIORA
Ketika Kebijakan Membungkam Rezeki: Pedagang dan Nelayan Wuring Terpaksa Bertahan di Jalanan
Feneranda Fernandez: Kami hanya mau hidup. Kami hanya mau jualan untuk makan. Kenapa sampai begini?
Maumere, GardaFlores — Penutupan Pasar PNPM Wuring bukan sekadar pemindahan lokasi jual beli. Bagi pedagang kecil dan nelayan, kebijakan itu telah memutus sumber napas ekonomi yang selama ini menopang hidup mereka. Dua perempuan, Feneranda Fernandez dan Ria Amelia, menjadi saksi nyata betapa keputusan pemerintah justru memaksa warga kembali berjuang di jalanan—tanpa perlindungan, tanpa keamanan, dan tanpa jaminan pembeli.
Feneranda: Dari Penghasilan Satu Juta Semalam, Kini Pulang Tanpa Hasil
Setiap malam selama bertahun-tahun, Feneranda Fernandez menggantungkan hidup dari sayur yang ia jajakan di Pasar PNPM Wuring. Hasilnya cukup untuk bertahan hidup sebagai seorang janda di Wolomarang.
Namun setelah pasar itu ditutup, semua berubah drastis.
“Di Pasar PNPM, saya bisa dapat Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta semalam. Tapi di Pasar Alok, pembeli hampir tidak ada. Saya pulang dengan sayur yang tidak laku,” ujarnya sambil menahan emosi.
Pasar Alok yang disiapkan pemerintah disebutnya tak ubahnya bangunan kosong: sepi, bau sampah, dan tidak menjadi tujuan belanja warga. Ironisnya, biaya operasional justru bertambah—mulai dari ongkos transport hingga risiko barang rusak.
“Sekali jalan sudah Rp 7.000. Kalau sayurnya tidak laku, saya rugi dua kali,” keluhnya.
Feneranda tak habis pikir bagaimana pasar yang dulunya diresmikan dengan megah, lengkap dengan prasasti, kini ditutup begitu saja.
“Kenapa pasar yang dulu dibangun dengan niat baik untuk bantu kami, sekarang justru kami dilarang jualan di situ?”

Nelayan Wuring melakukan swadaya perbaikan ruas Jalan Bengkunis Raya agar mereka boleh berdagang di sepanjang bahu jalan itu, Kamis (11/12/2025). (GARDAFLORES/KAREL PANDU)
Ria Amelia: Dibegal, Diramas, dan Ditakut-takuti di Pasar Relokasi
Lebih pedih lagi cerita Ria Amelia, seorang nelayan yang mencoba mengikuti arahan pemerintah untuk berjualan di Pasar Alok. Keputusan itu hampir merenggut keselamatannya.
“Saya dibegal saat pulang. Tas dirampas, payudara saya diramas. Padahal masih jam 7 malam. Saya trauma, saya tidak mau lagi ke pasar itu,” tegasnya.
Perempuan itu mengaku beruntung tas yang dirampas tidak berisi uang hasil jualan. Namun rasa aman—yang seharusnya dijamin oleh negara—tidak pernah ia dapatkan di pasar relokasi.
“Kalau di PNPM Wuring, kami merasa aman. Banyak orang, ada lampu, ada kehidupan. Di Pasar Alok kami dibiarkan sendirian dalam gelap,” katanya.
Pasar Wuring Ditutup, Nelayan Terpaksa Jual Ikan di Pinggir Jalan Gelap dan Berlumpur
Ekonomi Rakyat Kecil Tersandera Kebijakan
Penutupan Pasar PNPM dan pemindahan pedagang ke Pasar Alok kini memunculkan pertanyaan besar: untuk siapa sebenarnya kebijakan ini dibuat?
Bagi pedagang kecil, keputusan itu bukan hanya soal tempat berjualan—ini soal hidup dan mati ekonomi keluarga. Tempat baru sepi, tidak strategis, minim keamanan, dan tidak menguntungkan.
Sementara di Wuring, meski pasar ditutup, kehidupan ekonomi tetap berdenyut. Para pembeli tetap datang. Pedagang tetap bertahan. Tapi mereka kini menjual di pinggir jalan yang becek, gelap, dan rawan masalah.
Kebijakan penutupan Pasar PNPM, yang dulu dirancang untuk menertibkan dan meningkatkan kesejahteraan, kini justru seolah berubah menjadi perangkat yang mendorong rakyat kecil jatuh ke jurang ketidakpastian.
Satgas Tutup Aktivitas Pasar Wuring: Operasi Persuasif atau Strategi Penertiban Bertahap?
Di Balik Pasar yang Ditutup, Ada Hidup yang Retak
Feneranda dan Ria hanyalah dua dari puluhan, bahkan ratusan, pedagang yang terdampak. Mereka adalah wajah dari rakyat kecil yang sering kali menjadi korban dari sebuah keputusan yang tidak pernah benar-benar mendengar suara mereka.
“Kami hanya mau hidup. Kami hanya mau jualan untuk makan. Kenapa sampai begini?” ucap Feneranda.
Pertanyaan itu menggantung—menantang pemerintah untuk menjawab apakah kebijakan yang dibuat sudah benar-benar berpihak pada rakyat, atau justru meminggirkan mereka.»(rel)
HUMANIORA
Komunitas Wadju Galang Rp20 Juta, Salurkan 175 Paket Logistik ke Tiga Titik Pengungsian Ngada
Komunitas Wadju menyalurkan 175 paket logistik hasil penggalangan dana Rp20 juta kepada warga terdampak gempa di tiga titik di Kabupaten Ngada.
NGADA, GardaFlores — Komunitas Wadju menyalurkan 175 paket logistik kepada warga terdampak gempa di tiga titik pengungsian di Kabupaten Ngada. Bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan dana secara swadaya yang mencapai Rp20 juta.
Tiga lokasi yang menjadi sasaran penyaluran yakni Kampung Damu, Desa Sambinasi; Kampung Bekek, Desa Tadho; dan Denatana Timur, Kecamatan Wolomeze.
Paket bantuan berisi beras, sayuran, minyak goreng, air mineral, kopi dan minyak tanah.
Di Kampung Damu, Desa Sambinasi, seorang warga menyampaikan apresiasinya setelah menerima bantuan, terutama karena adanya bahan pangan segar.
“Akhirnya ada sayur. Selama ini kami hanya makan mi instan,” ujarnya.
Menurut Maher Rani, keputusan memasukkan sayuran dan buah dalam paket bantuan diambil berdasarkan informasi mengenai kebutuhan warga di lapangan.
Bupati Sikka Desak Percepatan Pemulihan, Menteri PU Tindaklanjuti Infrastruktur Rusak
“Kami sengaja tambahkan sayur dan buah karena informasi dari lapangan warga sangat membutuhkan tambahan protein. Biar tenaganya pulih untuk kembali bekerja,” jelas Maher.
Penggalangan dana dilakukan melalui donasi anggota komunitas dan masyarakat yang ingin membantu warga terdampak gempa. Dari gerakan tersebut terkumpul Rp20 juta yang kemudian digunakan untuk membeli kebutuhan logistik.
Bagi Komunitas Wadju, kegiatan tersebut merupakan bagian dari aktivitas sosial yang mulai dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Satgas Sikka Tegaskan Bantuan Pelajar Terdampak Gempa Sudah Disalurkan
Komunitas Wadju telah memasuki generasi keempat. Di bawah kepemimpinan Maher Rani, kegiatan komunitas tidak hanya berfokus pada aktivitas internal, tetapi juga mencakup sejumlah kegiatan sosial, antara lain penghijauan kawasan wisata Wolobobo, bantuan bagi warga terdampak erupsi Lewotobi dan bantuan untuk anak-anak Panti Asuhan Alma.
Maher mengatakan keterlibatan komunitas dalam kegiatan sosial berangkat dari kesadaran bahwa membantu masyarakat tidak harus menunggu kemampuan finansial yang besar.
“Kami mulai dari hal kecil. Itu semua mengajari kami bahwa peduli itu tidak harus menunggu kaya,” katanya.
Ketika gempa mengguncang Flores, Komunitas Wadju kembali membuka penggalangan donasi dengan nama Peduli Korban Gempa Ngada. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan dalam bentuk bantuan logistik ke tiga wilayah terdampak.
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
Aksi tersebut mendapat apresiasi dari RD. Wempi, Pastor Paroki Bekek. Ia menilai kepedulian komunitas menjadi dukungan bagi warga yang sedang menghadapi situasi bencana.
“Tidak semua komunitas seperti ini. Tidak semua komunitas juga peduli. Terima kasih dan doa kami untuk Komunitas Wadju agar bisa menjadi lebih besar dan sukses untuk semua anggotanya,” ujar RD. Wempi.
Maher berharap distribusi bantuan bagi warga terdampak gempa terus dipercepat dan menjangkau masyarakat secara merata, terutama mereka yang rumahnya roboh, retak atau mengalami kerusakan berat.
“Harapan kami, pemerintah bisa mempercepat proses bantuan yang merata untuk seluruh warga Ngada. Karena semua terdampak. Lebih khusus untuk mereka yang rumahnya rubuh, retak, dan rusak berat,” tegas Maher.
Sebanyak 175 paket bantuan yang disalurkan Komunitas Wadju menjadi bagian dari dukungan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan warga di tengah masa pengungsian.»(tim/rel)
HUMANIORA
Bunda Asti dan Bunda Fista Dampingi Anak-Anak Pengungsi di Posko Wailiti
Bunda Asti Laka Lena dan Bunda Fista Sambuari Kago mengunjungi Posko Pengungsian Wailiti, Kabupaten Sikka, Minggu (23/8/2026). Keduanya berinteraksi dengan anak-anak dan mendorong kegiatan trauma healing serta pendampingan psikososial selama masa tanggap darurat.
MAUMERE, GardaFlores — Ketua TP PKK Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena atau Bunda Asti Laka Lena, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, mengunjungi Posko Pengungsian Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Minggu (23/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, keduanya berinteraksi dengan anak-anak pengungsi melalui percakapan dan permainan.
Bunda Asti mengatakan anak-anak di lokasi pengungsian tetap membutuhkan ruang untuk bermain dan belajar selama masa tanggap darurat.
“Anak-anak harus tetap mendapatkan ruang untuk bermain, belajar dan bergembira. Kita ingin mereka merasa aman dan tahu bahwa banyak orang yang hadir, peduli dan memberikan perhatian kepada mereka,” ujar Bunda Asti.
Menurutnya, penanganan warga terdampak gempa tidak hanya mencakup kebutuhan pangan, air bersih, tempat tinggal sementara dan layanan kesehatan, tetapi juga pendampingan psikologis.
Bupati Sikka Desak Percepatan Pemulihan, Menteri PU Tindaklanjuti Infrastruktur Rusak
Ia menyebut interaksi dengan anak-anak dapat menjadi bagian dari upaya membantu mereka menghadapi situasi setelah gempa.
“Jangan sampai anak-anak merasa bahwa mereka sendirian menghadapi situasi ini. Mereka harus tahu bahwa ada orang-orang yang peduli dan bersama mereka,” katanya.
Bunda Asti juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Sikka, TP PKK Kabupaten Sikka, relawan dan berbagai pihak yang terlibat dalam pelayanan bagi masyarakat terdampak gempa.
Sementara itu, Bunda Fista mengatakan anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam situasi bencana karena tidak selalu dapat mengungkapkan rasa takut dan kecemasan yang mereka alami.
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
“Anak-anak adalah bagian yang sangat penting untuk kita perhatikan. Mereka mungkin tidak selalu mampu mengungkapkan rasa takut dan kecemasan yang mereka alami. Karena itu, kita hadir untuk mendengarkan, menemani dan membuat mereka kembali tersenyum,” ujar Fista.
Fista mendorong agar kegiatan trauma healing dan pendampingan psikososial tetap dilakukan di lokasi-lokasi pengungsian selama masa tanggap darurat.
“Harapan kita, meskipun berada di pengungsian, anak-anak tetap bisa belajar, bermain dan tumbuh dengan penuh semangat. Kita ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri,” katanya.
Kunjungan di Posko Wailiti menjadi bagian dari kegiatan pendampingan bagi anak-anak selama masa pengungsian pascagempa.»(rel)
HUMANIORA
Bupati Sikka Desak Percepatan Pemulihan, Menteri PU Tindaklanjuti Infrastruktur Rusak
Pemkab Sikka mendorong percepatan penanganan infrastruktur rusak akibat gempa. Menteri PU Dody Hanggodo bersama jajaran menindaklanjuti kebutuhan jalan, jalur Mbay–Maumere dan air bersih Palue.
MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka mendorong percepatan penanganan infrastruktur yang rusak akibat gempa bumi tektonik. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo bersama jajaran kementerian turun langsung ke Sikka untuk menindaklanjuti kebutuhan infrastruktur yang disampaikan pemerintah daerah.
Dalam rapat koordinasi di Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik BPBD Kabupaten Sikka, Jalan Mawar, Perumnas Maumere, Minggu (23/8/2026), Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago memaparkan sejumlah kebutuhan daerah pascagempa.
Rapat tersebut dihadiri Gubernur NTT Melki Laka Lena, Ketua DPRD Kabupaten Sikka Stefenus Sumandi, unsur Forkopimda, jajaran Pemkab Sikka serta pejabat Kementerian PU.
Juventus mengapresiasi respons Menteri PU dan jajaran yang datang langsung ke Sikka.
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
“Pemerintah Kabupaten Sikka menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Menteri Pekerjaan Umum bersama seluruh jajaran yang telah merespons dengan cepat kebutuhan Kabupaten Sikka pascagempa. Kehadiran langsung di lapangan sangat berarti bagi pemerintah daerah dan masyarakat,” ujar Juventus.
Salah satu kebutuhan yang disampaikan adalah penanganan ruas jalan yang mengalami kerusakan akibat gempa. Pemkab Sikka menyebut ruas jalan yang telah masuk program pemerintah akan ditindaklanjuti melalui Instruksi Presiden (Inpres) Infrastruktur Jalan Daerah (IJD).
Sementara ruas jalan yang baru diusulkan akibat kerusakan gempa akan diperjuangkan melalui Inpres tahap kedua.
“Untuk ruas-ruas jalan yang sudah masuk dalam program akan ditindaklanjuti melalui IJD. Sedangkan ruas jalan yang baru diusulkan akibat kerusakan gempa akan diusulkan melalui Inpres tahap kedua,” kata Juventus.
Selain kerusakan akibat gempa, pemerintah juga menyoroti ruas lintas utara Flores, khususnya jalur Mbay–Maumere yang mengalami kerusakan akibat abrasi.
BPJN Provinsi NTT bersama Dinas PUPR Kabupaten Sikka akan melakukan pendataan dan assessment terhadap kondisi ruas tersebut.
“Untuk lintas utara Mbay–Maumere yang mengalami kerusakan akibat abrasi, akan dilakukan pendataan dan assessment oleh Balai Jalan dan Jembatan bersama Dinas PUPR Kabupaten Sikka,” ujar Juventus.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Persoalan lain yang dibahas adalah kebutuhan air bersih di Kecamatan Palue. Pemkab Sikka dan pemerintah pusat akan menjajaki kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait teknologi desalinasi dan Reverse Osmosis (RO).
“Untuk air minum di Palue, akan dilakukan kerja sama dengan BRIN terkait metode desalinasi dan teknologi RO. Ini menjadi salah satu solusi yang sedang kita dorong agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat segera ditangani,” katanya.
Pemkab Sikka mendorong agar proses penanganan infrastruktur dilanjutkan dari assessment ke tahap perencanaan dan pekerjaan fisik sesuai kewenangan masing-masing.
“Yang paling penting adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dan infrastruktur yang rusak segera dipulihkan sehingga aktivitas pemerintahan, pelayanan publik dan kehidupan masyarakat dapat kembali normal,” pungkas Juventus.»(rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
