PENKES
Status Negeri Tak Kunjung Terwujud, Unipa Tetap Berupaya Tingkatkan Kualitas
Maumere, GardaFlores – Universitas Nusa Nipa (Unipa) dinilai sangat layak beralih status menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), tetapi hingga saat ini belum juga terwujud. Walau demikian, pihak Yayasan akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas lembaga tersebut.
Hal ini disampaikan Ketua Yayasan Unipa, Drs. Sabinus Nabu di auditorium Nawacita Unipa Maumere, Sabtu (10/5/2025) pada acara wisuda angkatan ke-25.
Ia mengatakan, proses de jure penyerahan kampus tersebut kepada pemerintah pusat telah dilakukan sejak tahun 2014.
Baca juga:
Wakil Bupati Sikka Himbau Para Perawat Laksanakan Tugas Secara Profesional
Dijelaskan, penyerahan secara hukum dilakukan berdasarkan Akta Notaris Nomor 07 tanggal 22 Agustus 2014. Selanjutnya, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti) melakukan visitasi ke kampus Unipa pada 29–30 November 2016.
Hasil visitasi menyimpulkan bahwa Unipa sangat layak untuk dinegerikan, sebagaimana disampaikan langsung oleh Menristekdikti saat itu, Muhammad Nasir. Namun, hingga kini proses perubahan status Unipa menjadi PTN belum terealisasi.

Sabinus Nabu mengatakan, berbagai upaya terus dilakukan untuk memperjuangkan penegerian Unipa. “Kami berharap momentum kunjungan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka ke Kabupaten Sikka, serta kehadiran Gubernur NTT, dapat menjadi titik terang bagi realisasi status negeri bagi Unipa,” ujarnya.
Meski belum menjadi PTN, katanya, Unipa terus menunjukkan kemajuan signifikan dalam bidang pendidikan. Saat ini, kampus tersebut telah meraih akreditasi institusi dengan peringkat “Baik Sekali” dan menjadi pilihan utama masyarakat Flores, Lembata, dan wilayah sekitarnya.
Baca juga:
KSP Kopdit Pintu Air Luncurkan Buku Sejarah dalam RAT ke-XXIX
Unipa juga mencatat kemajuan dalam pengembangan sumber daya manusia. Saat ini terdapat 13 dosen bergelar doktor yang seluruhnya dibiayai secara mandiri oleh yayasan. Selain itu, terdapat 22 dosen yang sedang menempuh pendidikan doktoral (S3) guna meningkatkan daya saing institusi.
Dalam Wisuda ke-25 yang digelar tahun ini, Unipa meluluskan 437 wisudawan dari 17 program studi jenjang sarjana. Secara keseluruhan, universitas ini telah menghasilkan 9.152 lulusan yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan mancanegara.»
(rel)
PENKES
7.646 Anak di Sikka Tidak Sekolah, Ribuan Masuk Kategori Putus Sekolah dan Belum Pernah Bersekolah
“Anak yang belum pernah bersekolah, anak yang putus sekolah, dan anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.”
MAUMERE, GardaFlores — Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka mencatat sebanyak 7.646 anak masuk kategori Anak Tidak Sekolah (ATS) hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 4.835 merupakan anak laki-laki dan 2.811 anak perempuan.
Data tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas PKO Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, di Maumere, Kamis (18/6/2026).
Menurut Patrisius, kelompok ATS mencakup anak yang belum pernah bersekolah, anak yang putus sekolah, serta anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
“Anak tidak sekolah terdiri dari anak yang belum pernah bersekolah, anak yang putus sekolah, dan anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya,” katanya.
Berdasarkan data Dinas PKO, kategori Belum Pernah Bersekolah (BPB) menjadi kelompok terbesar dengan 2.771 anak atau 36,24 persen dari total ATS. Disusul kategori Drop Out (DO) atau putus sekolah sebanyak 2.719 anak atau 35,56 persen, serta kategori Siswa Tamat Tidak Melanjutkan (STM) sebanyak 2.156 anak atau 28,20 persen.
Data tersebut menunjukkan lebih dari 64 persen anak yang masuk kategori ATS di Kabupaten Sikka berasal dari kelompok putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan setelah menamatkan jenjang tertentu.
Patrisius menjelaskan tingginya angka ATS dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi sosial ekonomi keluarga, pernikahan pada usia sekolah, hingga persoalan administrasi kependudukan.
Menimbang Ulang Peta 3T dalam Program Makan Bergizi Gratis di Sikka
Menurut dia, sejumlah anak masih tercatat sebagai ATS karena adanya ketidaksesuaian data antara dokumen pendidikan dan dokumen kependudukan, seperti Kartu Keluarga maupun Kartu Tanda Penduduk.
“Walaupun anak tersebut masih sekolah, jika datanya belum valid, tetap masuk dalam data anak tidak sekolah,” ujarnya.
Untuk memastikan akurasi data, Dinas PKO saat ini melakukan reviu dan verifikasi lapangan terhadap seluruh data ATS. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan pemerintah desa, kelurahan, dan kecamatan untuk mengidentifikasi anak-anak yang masih dapat dikembalikan ke satuan pendidikan formal.
Sementara bagi anak usia sekolah yang telah menikah atau tidak memungkinkan kembali ke pendidikan formal, pemerintah mendorong mereka mengikuti pendidikan kesetaraan melalui Program Paket A, Paket B, dan Paket C.
Dinas PKO juga berencana berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sikka untuk memperbaiki data residu yang muncul akibat ketidaksesuaian identitas kependudukan.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Sikka masih menunggu petunjuk teknis pelaksanaan Program Sekolah Rakyat dari pemerintah pusat. Hingga saat ini, pemerintah daerah belum menerima informasi rinci mengenai kriteria penerima manfaat maupun mekanisme implementasi program tersebut.
Verifikasi data ATS dan koordinasi lintas sektor kini menjadi langkah yang sedang dilakukan pemerintah daerah untuk memastikan jumlah riil anak tidak sekolah sekaligus memperluas akses pendidikan bagi kelompok yang belum terlayani.»(rel)
PENKES
Kapolda NTT Soroti Tantangan Pengasuhan Anak di Era Digital
Keluarga yang mampu membangun komunikasi yang baik akan menjadi fondasi penting mencegah berbagai persoalan sosial.
KUPANG, GardaFlores — Kapolda Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol. Rudi Darmoko, menyoroti perubahan pola pengasuhan anak di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin memengaruhi kehidupan keluarga dan tumbuh kembang generasi muda.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka seminar The Art of Smart Parenting bertema Menjadi Orang Tua Hebat untuk Anak Hebat dan Kesehatan Mental dan Parenting di Hotel Harper Kupang, Selasa (9/6/2026).
Kasi Humas Polres Sikka, IPDA Leonardus Tunga, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 dan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-74. Seminar diikuti pejabat utama Polda NTT, para kapolres bersama Bhayangkari, serta peserta dari jajaran Polres yang mengikuti secara daring.
Dalam arahannya, Kapolda menilai tantangan yang dihadapi orang tua saat ini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Akses teknologi dan arus informasi yang semakin terbuka memberikan peluang bagi anak untuk berkembang, namun pada saat yang sama menghadirkan berbagai risiko yang membutuhkan pendampingan keluarga.
“Anak-anak kita tumbuh di dunia yang seolah tanpa sekat. Teknologi memberi mereka sayap untuk terbang ke mana saja, namun di saat yang sama juga membawa berbagai tantangan yang perlu dihadapi dengan bijak,” kata Rudi.
Menurutnya, keluarga tetap menjadi lingkungan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak. Karena itu, peran orang tua tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memastikan terbangunnya komunikasi yang sehat, kedekatan emosional, dan pengawasan yang memadai.
Kapolda mengatakan berbagai persoalan sosial yang melibatkan anak dan remaja kerap berakar dari lemahnya komunikasi dalam keluarga. Pengalaman yang ditemui kepolisian di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak membutuhkan perhatian, pendampingan, dan ruang dialog yang cukup di rumah.
Polda NTT Ungkap 76 Kasus Kejahatan, Polres Sikka Masuk Daerah dengan Penanganan Terbanyak
“Banyak persoalan yang melibatkan remaja berawal dari hubungan keluarga yang tidak terbangun dengan baik. Karena itu komunikasi dalam keluarga menjadi sangat penting,” ujarnya.
Rudi menegaskan bahwa upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum, tetapi juga dimulai dari keluarga yang sehat dan harmonis. Menurut dia, keluarga yang mampu membangun komunikasi yang baik akan menjadi fondasi penting dalam mencegah berbagai persoalan sosial di masyarakat.
Ia mengajak seluruh anggota Polri dan Bhayangkari untuk memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental anggota keluarga, menyediakan waktu berkualitas bagi anak, serta membangun pola pengasuhan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Seminar tersebut menghadirkan Direktur SBMS sekaligus praktisi USEFT, Agus E.H., bersama tim Yayasan Kesehatan Mental Keluarga Indonesia. Materi yang disampaikan berfokus pada penguatan peran keluarga dalam mendukung kesehatan mental anak serta membangun pola asuh yang responsif terhadap tantangan era digital.
Melalui kegiatan tersebut, Polda NTT berupaya meningkatkan pemahaman personel Polri dan keluarga besar Bhayangkari mengenai pentingnya kesehatan mental dan pengasuhan yang sehat sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang berkarakter, tangguh, dan siap menghadapi perubahan sosial.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari pendekatan preventif yang terus didorong kepolisian melalui penguatan ketahanan keluarga sebagai fondasi terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat.»(rel)
PENKES
Pj Kades Kringa Tekankan Peran Orang Tua dalam Membangun Fondasi Pendidikan Anak
Capaian akademik ya, tetapi kemampuan anak membangun karakter baik, tanggung jawab, serta mampu beradaptasi itu jauh lebih penting.
MAUMERE, GardaFlores — Penjabat Kepala Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Ignasius Ivonius, mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi pendidikan anak sejak usia dini sebagai fondasi pembentukan karakter, kemampuan belajar, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Ignasius saat memberikan edukasi kepada siswa dan orang tua di SD Inpres Natarita, Desa Darat Gunung, Kecamatan Talibura, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Ignasius, pendidikan anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Keluarga memiliki peran utama dalam membentuk kebiasaan belajar, disiplin, tanggung jawab, serta nilai-nilai karakter yang menjadi bekal anak dalam menghadapi perkembangan zaman.
Ia menjelaskan bahwa masa usia dini merupakan periode penting dalam pertumbuhan anak karena menjadi tahap awal pembentukan kemampuan berpikir, perkembangan sosial, pengenalan lingkungan, dan pembentukan kepribadian.
“Pendidikan anak usia dini merupakan tahap yang sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak. Pada masa ini anak mulai belajar mengenal lingkungan, membangun karakter, mengembangkan kemampuan berpikir, serta membentuk kebiasaan positif yang akan menjadi bekal mereka di masa depan,” kata Ignasius.
Menurut dia, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan anak membangun karakter yang baik, memiliki rasa tanggung jawab, serta mampu beradaptasi dengan perubahan sosial yang terus berkembang.
Cafe Literasi di Pesisir Sikka Mulai Buka Akses Belajar Warga Desa
Karena itu, ia mendorong para orang tua untuk lebih aktif mendampingi proses belajar anak di rumah, menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan mereka, serta membangun komunikasi yang baik dengan pihak sekolah.
Ignasius menilai kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan generasi yang berkualitas. Tanpa keterlibatan seluruh pihak, berbagai program peningkatan mutu pendidikan akan sulit mencapai hasil yang optimal.
“Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, sehat, dan mampu bersaing pada masa depan. Untuk itu pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya sekolah atau pemerintah,” ujarnya.
Kegiatan edukasi tersebut diikuti siswa, guru, dan para orang tua murid. Selain membahas pentingnya pendidikan usia dini, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Pemerintah Desa Kringa menyatakan akan terus mendorong berbagai program yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan masyarakat sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia di wilayah Talibura.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya memperkuat kesadaran masyarakat bahwa pendidikan sejak usia dini merupakan salah satu faktor kunci dalam menyiapkan generasi yang produktif, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan pembangunan pada masa mendatang.»(rel)
-
NASIONAL8 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA12 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA11 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA9 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM11 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI11 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
