HUKRIM
Klarifikasi Insiden Pengrusakan di Pasar Tingkat Maumere, Forum Lio Bersatu: Kami Tidak Terlibat!
Maumere, GardaFlores – Keluarga Besar Forum Lio Bersatu memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan berbagai informasi yang beredar di masyarakat. Mereka menegaskan, Forum Lio Bersatu tidak terlibat dalam insiden pengrusakan di Pasar Tingkat Maumere pada Jumat, 27 Juni 2025.
Forum Lio Bersatu membuat klarifikasi tertulis dan dibacakan oleh Kasubsi Penmas Humas Polres Sikka, IPDA Leonardus Tunga di Maumere, Sabtu (28/6/2025).
“Kami ingin menegaskan bahwa kejadian pengrusakan tersebut sama sekali tidak melibatkan Keluarga Besar Forum Lio Bersatu. Tindakan itu murni dilakukan oleh oknum-oknum tertentu yang tidak mewakili komunitas kami,” tulis Forum Lio Bersatu yang dibacakan Leonardus Tunga.
Baca juga:
Setelah Pasar Tingkat Diobrak-abrik, Kapolres Sikka Himbau Warga untuk Hidup Rukun dan Damai
Sebagai informasi, pengrusakan di Pasar Tingkat Maumere itu terjadi Jumat (27/6/2025). Ratusan warga diberitakan mengobrak-abrik lapak para pedagang. Diduga, aksi anarkis warga itu berkaitan dengan kematian Yosep Seda (30) yang meninggal sehari sebelumnya karena dianiaya oleh NLM (26).
Forum Lio Bersatu memberi klarifikasi karena sebelumnya beredar luas di media sosial dan grup percakapan WhatsApp ajakan forum tersebut untuk berdiskusi dan merencanakan aksi bersama.
Klarifikasi tertulis itu ditandatangani Ketua Yulius Herta, Sekretaris Rudolfus Nggala dan Ketua Dewan Penasihat Yoseph Ansar Rera.
Baca juga:
Tagih Utang Rp200 Ribu, Yosef Seda Tewas Dianiaya di Pasar Tingkat Maumere
Lebih lanjut dijelaskan, berdasarkan informasi yang diterima pihak forum, individu-individu yang terlibat dalam aksi pengrusakan diketahui berasal dari pihak keluarga korban. Karena itu, insiden tersebut bukan merupakan tindakan yang terkoordinasi atau didukung oleh Forum Lio Bersatu.
“Pengurus forum menolak bertanggung jawab atas tindakan-tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut. Mereka tidak berada dalam kontrol maupun pengaruh organisasi kami,” ucap Leonardus seperti ditulis Forum Lio Bersatu.
Dalam pernyataan itu, Forum Lio Bersatu juga mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sikka, khususnya warga keturunan Lio dan Sabu, untuk menahan diri serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berkembang di media sosial atau grup percakapan daring.
Baca juga:
Dugaan Pemalsuan Dokumen Lelang Agunan oleh BRI Maumere Terbukti Setelah Pengukuran Ulang
Forum tersebut mendorong agar seluruh proses hukum diserahkan kepada pihak Polres Sikka. Mereka menulis, “Kami percaya bahwa pihak kepolisian akan menangani perkara ini secara profesional dan adil. Kami mengajak semua pihak untuk tetap menjaga kedamaian dan stabilitas di Kabupaten Sikka.”
Di akhir pernyataan, Forum Lio Bersatu berharap masyarakat dapat menyikapi persoalan ini dengan bijaksana dan tidak terjebak dalam provokasi yang bisa mengancam keharmonisan sosial.
“Kami berkomitmen menjaga persatuan dan mendukung penegakan hukum yang adil serta transparan di Kabupaten Sikka,” tutup pernyataan tersebut.»
(rel)
HUKRIM
Rumah Yanes Mekeng Dipaku Debt Collector, Fen Klaim Bukan Penyegelan Tapi Tanda Jaminan Utang
Fen: “Saya datang bukan untuk menyita atau menyegel rumah. Saya hanya memberi tanda bahwa rumah itu benar-benar dijaminkan. Tujuannya supaya Yanes mau keluar dan bernegosiasi menyelesaikan utangnya.”
Maumere, Garda Flores –Aksi pemakuan pintu rumah milik Yanes Mekeng di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang dilakukan oleh debt collector bernama Fen, kini berbuntut laporan polisi. Fen membantah tudingan penyegelan rumah dan menegaskan tindakannya semata-mata sebagai penanda jaminan utang agar pemilik rumah bersedia keluar dan bernegosiasi menyelesaikan kewajibannya.
Mikael Bonavensius alias Fen menyampaikan hal itu saat konferensi pers di Maumere, Selasa (13/1/2026), didampingi kuasa hukumnya Afrianus Ada, SH dan Sherly Irawati Soesilo, SH. Ia menegaskan kedatangannya ke rumah Yanes Mekeng semata-mata untuk menagih utang yang belum dibayarkan kepada Maria Yuliana Mukin.
Menurut Fen, Yanes Mekeng telah menjaminkan rumahnya sebagai agunan atas utang tersebut. Namun, berbagai upaya komunikasi, baik melalui telepon maupun pesan WhatsApp, tidak pernah direspons.
“Saya datang bukan untuk menyita atau menyegel rumah. Saya hanya memberi tanda bahwa rumah itu benar-benar dijaminkan. Tujuannya supaya Yanes mau keluar dan bernegosiasi menyelesaikan utangnya,” kata Fen.
Ia mengungkapkan bahwa Yanes sempat berjanji akan bertemu dengan Petrus Nong Meak, suami dari Maria Yuliana Mukin, untuk menyelesaikan kewajiban utangnya. Namun janji itu tidak dipenuhi, bahkan Yanes disebut justru pergi ke Kupang.
Karena merasa dibohongi dan komunikasi tidak berjalan, Fen mengaku berinisiatif memaku balok kayu pada pintu utama rumah Yanes Mekeng sebagai tanda bahwa rumah tersebut telah dijaminkan.
Fen juga mengakui bahwa saat pemakuan dilakukan, saudari perempuan Yanes Mekeng sempat melarang. Namun ia tetap melanjutkan tindakannya karena menilai Yanes tidak memiliki itikad baik.
“Saya arahkan agar persoalan ini diselesaikan di kantor polisi atau dengan bertemu langsung pemberi utang. Tapi Yanes tidak pernah mau datang,” ujarnya.
Kuasa hukum Fen, Sherly Irawati Soesilo, SH, mengatakan tindakan kliennya terjadi karena jalur komunikasi antara para pihak sudah buntu. Fen, kata dia, merasa dipermainkan oleh Yanes Mekeng.
“Pemakuan pintu itu bukan untuk menguasai rumah, melainkan untuk memancing pemiliknya keluar agar mau bernegosiasi dan menyelesaikan utangnya. Maksudnya baik, bukan untuk melakukan perampasan,” kata Sherly.
Polemik Utang Piutang Rp 400 Juta Terbongkar, Maria Yuliana Mukin Beberkan Kronologi
Sementara itu, Afrianus Ada, SH menambahkan bahwa perkara ini sejatinya merupakan masalah perdata terkait wanprestasi atau kelalaian dalam membayar utang. Ia menegaskan bahwa kliennya tidak memiliki niat jahat dalam melakukan pemakuan.
“Apa yang dilakukan klien kami murni sebagai strategi penagihan. Tidak ada niat untuk menyerobot atau menyegel rumah,” ujar Afrianus.
Ia juga membantah tudingan bahwa sertifikat rumah diserahkan di bawah tekanan. Menurutnya, sertifikat diberikan secara sukarela sebagai jaminan atas utang Yanes Mekeng, termasuk bunga dan denda yang melekat.
Terkait laporan pidana yang dilayangkan pihak Yanes Mekeng, pihak Fen menyatakan akan menghormati dan mengikuti seluruh proses hukum yang berjalan.
“Kami kooperatif. Namun kami juga menduga laporan ini justru bertujuan menghambat kewajiban Yanes Mekeng untuk membayar utangnya,” kata Afrianus.»(rel)
HUKRIM
Kuasa Hukum Yanes Mekeng Laporkan Dugaan Penyegelan Paksa Rumah ke Polres Sikka, Ada Bukti Video dan Chat Whatsapp
Yanes Mekeng: “Saya dan keluarga merasa ini adalah tindakan kriminal. Rumah kami dipalang dan dipaku secara paksa. Ini bukan cara penagihan utang yang sah.”
Maumere, GardaFlores — Polemik utang piutang antara Mathias Marianus Yanes Mekeng (Yanes Mekeng) dan Maria Yuliana Mukin kian memanas. Kuasa hukum Yanes, Viktor Nekur, SH dan Petrus Aulla Sobalokan, SH, mengungkap dugaan tindakan melawan hukum berupa penyegelan paksa rumah klien mereka oleh debt collector atas perintah Maria Yuliana Mukin.
Hal itu disampaikan dalam konferensi pers, Senin (12/1/2026) di Maumere.
Ada Bukti Video dan Chat WhatsApp
Viktor Nekur menjelaskan, penyegelan rumah Yanes Mekeng terjadi pada 29 Desember 2025. Saat itu, dua orang saksi melihat langsung proses pemalangan dan pemakuan pintu rumah utama milik Yanes oleh seorang debt collector bernama Fen.
“Penyegelan itu dilakukan atas perintah langsung dari Maria Yuliana Mukin. Kami memiliki bukti berupa video dan chat WhatsApp yang menunjukkan adanya perintah tersebut,” kata Viktor.
Dalam pesan WhatsApp yang dikirim Maria Yuliana Mukin kepada Yanes pada 29 Desember 2025 pukul 13.37 WITA, tertulis:
“Yanes kalau sampai besok tidak datang ke sini, kami suruh orang paku itu rumah.”
Menurut Viktor, isi pesan itu memperkuat dugaan bahwa tindakan penyegelan rumah dilakukan secara sengaja dan terencana.
Pada Selasa (13/1/2026), pihaknya akan menyerahkan bukti video dan salinan percakapan WhatsApp tersebut kepada penyidik Polres Sikka untuk mendorong perkara ini naik ke tahap penyidikan.
Maria Yuliana Mukin Bantah Ambil Paksa Sertifikat Tanah Milik Yanes Mekeng
Upaya Mediasi Ditolak
Kuasa hukum lainnya, Petrus Aulla Sobalokan, menjelaskan bahwa sebelum penyegelan terjadi, ia telah berupaya menyelesaikan persoalan secara baik-baik.
Pada 30 Desember 2025, Aul sebagai kuasa hokum Yanes bersama debt collector Fen mendatangi rumah Maria Yuliana Mukin. Dalam pertemuan itu, Aul meminta agar seluruh bukti transaksi dan rekening koran Bank NTT ditunjukkan agar persoalan utang piutang bisa dibuka secara transparan dan diselesaikan melalui mediasi kepolisian.
Namun, menurut Aul, Maria Yuliana Mukin menolak mediasi di kepolisian dan hanya menginginkan Yanes datang ke rumahnya atau ke Bank NTT.
“Padahal kami ingin persoalan ini diselesaikan secara hukum dan terbuka, bukan dengan tekanan atau ancaman,” kata Aul.
Rumah Tetap Disegel
Pada 2 Januari 2026, debt collector Fen sempat menghubungi Aul. Aul meminta agar menunggu, karena ia akan berkomunikasi dengan Yanes. Namun beberapa jam kemudian, sekitar pukul 12.00 WITA, debt collector justru datang dan menyegel rumah Yanes Mekeng secara paksa.
Polemik Utang Piutang Rp 400 Juta Terbongkar, Maria Yuliana Mukin Beberkan Kronologi
Aul menegaskan bahwa sebelum kejadian itu, Maria Yuliana Mukin kembali mengirim pesan WhatsApp kepada Yanes yang menyatakan akan menyuruh debt collector untuk melakukan penyegelan.
Yanes: Ini Tindak Pidana
Yanes Mekeng menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran hukum, khususnya Pasal 167 KUHP tentang memasuki atau menguasai pekarangan dan rumah orang lain secara melawan hukum.
“Saya dan keluarga merasa ini adalah tindakan kriminal. Rumah kami dipalang dan dipaku secara paksa. Ini bukan cara penagihan utang yang sah,” kata Yanes.
Ia juga menyebut, pada akhir tahun 2021, Maria Yuliana Mukin dan suaminya, Petrus Nong Meak, diduga mengambil empat sertifikat tanah milik Yanes dengan cara pengancaman dan tekanan.
“Sertifikat itu diambil secara paksa di hadapan debt collector. Ini juga akan kami proses secara hukum,” tegasnya.
Yanes berharap Polres Sikka menindaklanjuti laporan ini secara serius dan profesional demi perlindungan hukum dan hak asasi warga negara.»(rel)
HUKRIM
Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap ALL, MS Dilaporkan ke Polres Sikka
Terduga pelaku MS, datang, menyapa sambil menggoda korban.
Maumere, GardaFlores – Seorang warga berinisial ALL, yang berdomisili di Jalan Bawah, RT 004/RW 002, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, diduga menjadi korban pelecehan seksual. Atas peristiwa tersebut, terduga pelaku berinisial MS resmi dilaporkan ke Polres Sikka.
Peristiwa itu terjadi pada Senin, 20 Oktober 2025, sekitar pukul 18.30 WITA, di rumah korban. Laporan polisi tercatat dengan nomor LP/B/17/X/2025/SPKT/Polres Sikka/Polda NTT, tertanggal 23 Oktober 2025, pukul 19.31 WITA. Informasi ini diterima GardaFlores pada Senin (5/1/2026) di Maumere.
Pelapor dalam kasus ini adalah MD (47), warga Waigete, Kabupaten Sikka.
Laporan tersebut diterima oleh Kepala SPKT Polres Sikka, IPTU Fransiskus Finsensius S. Making.
Dalam keterangan laporan dijelaskan, pada saat kejadian korban ALL sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Terduga pelaku MS datang, menyapa sambil menggoda korban.
Maria Yuliana Mukin Bantah Ambil Paksa Sertifikat Tanah Milik Yanes Mekeng
MS lalu menyodorkan selembar uang Rp10.000 kepada korban, lalu memegang kerah baju korban, mencium leher korban, dan dari arah belakang memegang alat vital korban. Terduga pelaku juga diduga mengajak korban untuk melakukan persetubuhan.
Korban yang ketakutan kemudian melarikan diri ke rumah tetangga dan menceritakan kejadian tersebut kepada seorang ibu. Mendengar pengakuan korban, suami dari ibu tersebut segera menghubungi orang tua korban.
Atas kejadian itu, orang tua korban selanjutnya melaporkan peristiwa tersebut ke SPKT Polres Sikka untuk diproses sesuai hukum yang berlaku. Kasus ini kini dalam penanganan pihak kepolisian.»(rel)
-
HUMANIORA7 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA6 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUKRIM5 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
HUMANIORA4 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
GARDAPLUS6 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai (Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka)
-
HUMANIORA9 months agoPemkab Sikka Ancam Cabut Izin Pangkalan Minyak Tanah yang Langgar Aturan
