HUMANIORA
Dukung Almamater, Alumni SMPK Binwin Bentuk Ikatan
Maumere, GardaFlores– Untuk mendukung almamater dan mempererat tali persaudaraan, para alumni SMPK Binawirawan (Binwin) membentuk Ikatan Alumni.
Melalui musyawarah mufakat, Ikatan Alumni SMPK Binwin periode 2024-2026 telah resmi terbentuk, Sabtu (21/9/2024).
Terpilih sebagai ketua yakni Angelinus Aemilianus, wakil Ketua I dan II masing-masing Jhon Orlando dan Gabriel Lule. Sementara Remigius Nong dipilih sebagai Sekretaris, dan Fransiska Sinandona Nona Rusli sebagai Bendahara.
Alumni angkatan 1994, Kristina Imelda dan Modesta, menyatakan kebahagiaannya dapat kembali bertemu dengan para suster, guru, dan teman-teman lama di momen Panca Windu ini. Mereka menganggap acara ini sebagai kesempatan berharga untuk mempererat tali persaudaraan antar alumni.

“Momentum ini sangat menggembirakan dan semakin bermakna karena diisi dengan kegiatan yang mempererat persaudaraan,” ujar Kristina yang kini bekerja di Makassar.
Sementara itu, Kepala SMPK Binawirawan, Suster Maria Imaculata mengapresiasi semangat dan antusiasme para alumni. Menurutnya, antusiasme tersebut memberikan dukungan dan kekuatan bagi lembaga untuk menyukseskan rangkaian acara Panca Windu.
“Alumni adalah kekuatan besar bagi kami. Antusiasme dan kepedulian mereka sangat berarti untuk kemajuan sekolah ini ke depan,” ungkap Suster Maria.
BACA JUGARayakan Panca Windu, SMPK Binwin Gelar Jalan Sehat |
Sebelumnya, untuk merayakan pesta Panca Windu Sekolah (40 Tahun) dan HUT Emas Yayasan Binwin ke-50, diselenggarakan kegiatan jalan sehat yang dilaksanakan pada Sabtu, 21 September 2024, diikuti ribuan alumni dari angkatan 1984 hingga 2023.
Puncak kegiatan Panca Windu akan dilaksanakan pada 28 September 2024, dengan melibatkan seluruh elemen sekolah, alumni, dan masyarakat sekitar.
Ketua Panitia Panca Windu, Remigius Nong, mengatakan bahwa kegiatan jalan sehat bertujuan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental para pelajar, alumni, serta para guru menjelang acara puncak yang akan berlangsung pada 28 September 2024.
“Stamina kita harus tetap bugar dan sehat, sehingga kita dapat menyukseskan Panca Windu dan HUT Yayasan hingga acara puncak,” kata Remigius Nong.
Rute jalan sehat dimulai dari halaman sekolah SMPK Binwin, melewati Jalan Anggrek Perumnas Maumere, Jalan El Tari, hingga kembali ke sekolah. Rute tersebut sengaja dipilih untuk mengenang jalan yang sering dilalui para alumni saat masih bersekolah di SMPK dan TKK Binwin.»
(rel)
HUMANIORA
Di Tengah Pengungsian, Naufal Menunggu Kepastian Pengobatan
Naufal Aldani, anak tiga tahun asal Nangahale, Sikka, mengalami kesulitan buang air besar sejak lahir. Di tengah pengungsian akibat gempa, keluarganya berharap mendapat pemeriksaan dan kepastian pengobatan.
MAUMERE, GardaFlores — Naufal Aldani baru berusia tiga tahun. Sejak lahir, anak asal Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, itu mengalami kesulitan buang air besar dan hingga kini belum memperoleh kepastian mengenai kondisi medis yang dialaminya.
Persoalan kesehatan Naufal kembali mendapat perhatian ketika Ketua TP PKK Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena atau Asti Laka Lena, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, mengunjungi Posko Pengungsian Desa Nangahale, Minggu (23/8/2026).
Saat itu, Naufal berada dalam pelukan ibunya, Aida Abdullah. Kepada Asti dan Fista, keluarga menyampaikan kondisi kesehatan Naufal sekaligus harapan agar anak tersebut mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.
Menurut keterangan keluarga, Naufal mengalami kesulitan berat untuk buang air besar. Untuk membantu proses tersebut, keluarga menyebut harus menggunakan alat bantu melalui lubang anus.
Keluarga juga menyebut Naufal pernah mengalami kondisi yang berkaitan dengan Hirschsprung dan dugaan atresia ani. Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan sebagai diagnosis medis tanpa pemeriksaan dokter.
Selama tiga tahun, kondisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan Naufal dan keluarganya. Kini, persoalan kesehatan itu harus dijalani bersamaan dengan situasi pengungsian setelah gempa bumi mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Gempa Flores: Korban Tewas Tembus 100, 180.327 Warga Masih Mengungsi
Keluarga Menunggu Pemeriksaan
Aida berharap anaknya dapat memperoleh pemeriksaan medis untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menentukan penanganan yang dibutuhkan.
Harapan keluarga juga mencakup kemungkinan tindakan operasi apabila hasil pemeriksaan dokter menyatakan tindakan tersebut diperlukan.
Kepastian medis menjadi tahap pertama yang penting. Tanpa pemeriksaan dan diagnosis yang jelas, belum dapat ditentukan jenis gangguan yang dialami Naufal maupun bentuk penanganan yang paling tepat.
Bagi keluarga, persoalan tersebut semakin berat karena kondisi ekonomi mereka terbatas. Situasi pengungsian juga menambah keterbatasan keluarga dalam mengakses layanan yang dibutuhkan Naufal.
Perhatian dari Posko Pengungsian
Kondisi Naufal diketahui ketika Asti dan Fista mengunjungi warga terdampak gempa di Nangahale.
Setelah mendengar kondisi anak tersebut, Asti meminta Kepala Desa Nangahale untuk mengetahui lebih lanjut keadaan Naufal dan keluarganya.
Fista juga menyampaikan komitmen untuk berkoordinasi dengan warga serta pihak terkait guna mencari solusi bagi penanganan Naufal. Ia meminta nomor telepon keluarga agar komunikasi mengenai kondisi anak tersebut dapat dilakukan lebih lanjut.
Perhatian tersebut menjadi langkah awal untuk membuka kembali akses penanganan bagi Naufal.
Namun, tindak lanjut medis tetap menjadi bagian penting dari proses berikutnya. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk memastikan kondisi Naufal, menentukan fasilitas kesehatan yang sesuai, serta menyusun langkah penanganan berdasarkan kebutuhan medisnya.
Bunda Asti dan Bunda Fista Dampingi Anak-Anak Pengungsi di Posko Wailiti
Bencana Menambah Beban Keluarga
Persoalan Naufal berlangsung jauh sebelum gempa bumi mengguncang Flores. Namun, kondisi pengungsian membuat kebutuhan kesehatan keluarga menjadi semakin kompleks.
Di lokasi pengungsian, keluarga tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan pangan, air bersih dan tempat tinggal sementara, tetapi juga harus menjaga anggota keluarga yang memiliki kebutuhan kesehatan khusus.
Situasi seperti itu menunjukkan bahwa penanganan korban bencana tidak selalu berhenti pada mereka yang mengalami luka akibat gempa.
Sebagian warga terdampak telah membawa persoalan kesehatan sejak sebelum bencana dan tetap membutuhkan pelayanan medis selama masa tanggap darurat.
Karena itu, kasus Naufal membutuhkan penanganan berdasarkan kondisi medisnya, bukan semata-mata sebagai bagian dari data pengungsi terdampak gempa.
Menunggu Kepastian, Bukan Sekadar Perhatian
Kunjungan pejabat ke posko dapat membuka perhatian terhadap persoalan yang sebelumnya belum terlihat. Namun bagi keluarga Naufal, tahap berikutnya jauh lebih penting: memastikan perhatian tersebut berlanjut menjadi pemeriksaan dan penanganan medis.
Keluarga berharap Naufal dapat diperiksa secara menyeluruh, memperoleh diagnosis yang pasti, dan mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Jika dokter menyatakan tindakan operasi diperlukan, keluarga juga berharap tersedia akses untuk mendapatkan tindakan tersebut.
Sejauh informasi yang tersedia, belum ada keterangan medis yang memastikan diagnosis Naufal maupun keputusan mengenai tindakan operasi. Karena itu, penanganan selanjutnya harus didasarkan pada hasil pemeriksaan tenaga medis.
Di tengah situasi bencana, kebutuhan Naufal mengingatkan bahwa pemulihan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan rumah yang rusak dan kebutuhan logistik. Ada warga yang membawa persoalan kesehatan sejak sebelum bencana dan membutuhkan negara serta layanan kesehatan untuk memastikan mereka tetap mendapatkan penanganan.
Bagi Naufal dan keluarganya, harapan itu kini sederhana: ada pemeriksaan, ada kepastian diagnosis, dan ada jalan menuju pengobatan.
Tiga tahun telah berlalu sejak persoalan kesehatan itu menyertai kehidupannya. Kini keluarga menunggu agar perhatian yang muncul di tengah pengungsian berlanjut menjadi tindakan medis yang nyata.»(rel)
HUMANIORA
Gempa Flores: Korban Tewas Tembus 100, 180.327 Warga Masih Mengungsi
BNPB mencatat korban meninggal akibat gempa Flores mencapai 100 orang hingga Senin, 24 Agustus 2026. Sebanyak 1.603 orang luka-luka dan 180.327 warga masih mengungsi.
MAUMERE, GardaFlores — Korban meninggal akibat gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencapai 100 orang hingga Senin (24/8/2026). BNPB juga mencatat 1.603 orang luka-luka dan 180.327 warga masih mengungsi.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, jumlah korban meninggal bertambah setelah sejumlah warga yang sebelumnya mengalami luka berat tidak berhasil diselamatkan meski telah mendapat perawatan di fasilitas kesehatan.
“Yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan,” kata Suharyanto dalam konferensi pers, Senin (24/8/2026).
Menurut Suharyanto, pada hari pertama dan kedua pascagempa tercatat 48 orang meninggal dunia. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 100 orang.
Selain korban jiwa, BNPB mencatat 73.818 rumah mengalami kerusakan. Rinciannya, 23.276 rumah rusak berat, 17.563 rusak sedang, dan 32.979 rusak ringan.
Bupati Sikka Desak Percepatan Pemulihan, Menteri PU Tindaklanjuti Infrastruktur Rusak
Kerusakan tersebut menyebabkan sebagian warga kehilangan tempat tinggal. Sebagian lainnya memilih tetap berada di pengungsian meskipun rumah mereka tidak mengalami kerusakan atau hanya mengalami kerusakan ringan karena masih khawatir terhadap gempa susulan.
BNPB juga mencatat 1.915 fasilitas umum terdampak gempa, termasuk sekolah, rumah ibadah, kantor pemerintahan dan fasilitas publik lainnya.
6.409 Gempa Susulan
Aktivitas gempa susulan masih menjadi salah satu faktor yang membuat warga belum kembali ke rumah.
Berdasarkan laporan BMKG hingga Senin pagi, tercatat 6.409 gempa susulan. Gempa terbesar mencapai magnitudo 6,2 dan yang terkecil magnitudo 1,1.
Dari jumlah tersebut, 33 gempa memiliki magnitudo 5 atau lebih, sedangkan 139 gempa dirasakan oleh masyarakat.
“Ini mengakibatkan sampai hari ke-8 terjadinya gempa Flores ini, masyarakat masih banyak yang takut, sehingga tetap mengungsi di luar rumah, meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak atau rusak ringan,” ujar Suharyanto.
Komunitas Wadju Galang Rp20 Juta, Salurkan 175 Paket Logistik ke Tiga Titik Pengungsian Ngada
BNPB menyebut aktivitas gempa dalam dua hari terakhir mulai menurun. Dalam 24 jam terakhir, tercatat satu gempa yang dirasakan masyarakat.
Namun, BMKG masih memperkirakan gempa susulan dapat berlangsung hingga tiga sampai empat minggu ke depan sebelum kondisi semakin stabil.
Pendataan Masih Berjalan
BNPB menegaskan data korban dan kerusakan masih bersifat sementara. Pendataan terus dilakukan untuk memastikan korban, kerusakan rumah, fasilitas umum serta kebutuhan masyarakat terdampak tercatat secara akurat.
Pendataan dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kampung, RT, desa, kecamatan hingga kabupaten sebelum dihimpun menjadi data nasional.
Dengan 100 korban meninggal, 1.603 orang luka-luka, 180.327 warga mengungsi dan 73.818 rumah rusak, penanganan gempa Flores masih menghadapi kebutuhan besar, baik dalam masa tanggap darurat maupun tahap pemulihan.
Pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, penanganan warga yang mengalami luka, pendataan kerusakan serta pemulihan rumah dan fasilitas umum menjadi bagian dari pekerjaan yang masih harus dilakukan setelah fase awal bencana berlalu.»(rel)
HUMANIORA
Komunitas Wadju Galang Rp20 Juta, Salurkan 175 Paket Logistik ke Tiga Titik Pengungsian Ngada
Komunitas Wadju menyalurkan 175 paket logistik hasil penggalangan dana Rp20 juta kepada warga terdampak gempa di tiga titik di Kabupaten Ngada.
NGADA, GardaFlores — Komunitas Wadju menyalurkan 175 paket logistik kepada warga terdampak gempa di tiga titik pengungsian di Kabupaten Ngada. Bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan dana secara swadaya yang mencapai Rp20 juta.
Tiga lokasi yang menjadi sasaran penyaluran yakni Kampung Damu, Desa Sambinasi; Kampung Bekek, Desa Tadho; dan Denatana Timur, Kecamatan Wolomeze.
Paket bantuan berisi beras, sayuran, minyak goreng, air mineral, kopi dan minyak tanah.
Di Kampung Damu, Desa Sambinasi, seorang warga menyampaikan apresiasinya setelah menerima bantuan, terutama karena adanya bahan pangan segar.
“Akhirnya ada sayur. Selama ini kami hanya makan mi instan,” ujarnya.
Menurut Maher Rani, keputusan memasukkan sayuran dan buah dalam paket bantuan diambil berdasarkan informasi mengenai kebutuhan warga di lapangan.
Bupati Sikka Desak Percepatan Pemulihan, Menteri PU Tindaklanjuti Infrastruktur Rusak
“Kami sengaja tambahkan sayur dan buah karena informasi dari lapangan warga sangat membutuhkan tambahan protein. Biar tenaganya pulih untuk kembali bekerja,” jelas Maher.
Penggalangan dana dilakukan melalui donasi anggota komunitas dan masyarakat yang ingin membantu warga terdampak gempa. Dari gerakan tersebut terkumpul Rp20 juta yang kemudian digunakan untuk membeli kebutuhan logistik.
Bagi Komunitas Wadju, kegiatan tersebut merupakan bagian dari aktivitas sosial yang mulai dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Satgas Sikka Tegaskan Bantuan Pelajar Terdampak Gempa Sudah Disalurkan
Komunitas Wadju telah memasuki generasi keempat. Di bawah kepemimpinan Maher Rani, kegiatan komunitas tidak hanya berfokus pada aktivitas internal, tetapi juga mencakup sejumlah kegiatan sosial, antara lain penghijauan kawasan wisata Wolobobo, bantuan bagi warga terdampak erupsi Lewotobi dan bantuan untuk anak-anak Panti Asuhan Alma.
Maher mengatakan keterlibatan komunitas dalam kegiatan sosial berangkat dari kesadaran bahwa membantu masyarakat tidak harus menunggu kemampuan finansial yang besar.
“Kami mulai dari hal kecil. Itu semua mengajari kami bahwa peduli itu tidak harus menunggu kaya,” katanya.
Ketika gempa mengguncang Flores, Komunitas Wadju kembali membuka penggalangan donasi dengan nama Peduli Korban Gempa Ngada. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan dalam bentuk bantuan logistik ke tiga wilayah terdampak.
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
Aksi tersebut mendapat apresiasi dari RD. Wempi, Pastor Paroki Bekek. Ia menilai kepedulian komunitas menjadi dukungan bagi warga yang sedang menghadapi situasi bencana.
“Tidak semua komunitas seperti ini. Tidak semua komunitas juga peduli. Terima kasih dan doa kami untuk Komunitas Wadju agar bisa menjadi lebih besar dan sukses untuk semua anggotanya,” ujar RD. Wempi.
Maher berharap distribusi bantuan bagi warga terdampak gempa terus dipercepat dan menjangkau masyarakat secara merata, terutama mereka yang rumahnya roboh, retak atau mengalami kerusakan berat.
“Harapan kami, pemerintah bisa mempercepat proses bantuan yang merata untuk seluruh warga Ngada. Karena semua terdampak. Lebih khusus untuk mereka yang rumahnya rubuh, retak, dan rusak berat,” tegas Maher.
Sebanyak 175 paket bantuan yang disalurkan Komunitas Wadju menjadi bagian dari dukungan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan warga di tengah masa pengungsian.»(tim/rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
