HUMANIORA
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
Data BNPB per 23 Agustus 2026 mencatat gempa Flores menyebabkan 91 orang meninggal dunia, 1.286 luka-luka, 156.782 warga mengungsi dan 58.360 rumah rusak.
MAUMERE, GardaFlores — Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, telah menimbulkan dampak luas. Data BNPB per Minggu (23/8/2026) mencatat 91 orang meninggal dunia, 1.286 orang luka-luka, 156.782 warga mengungsi, dan 58.360 rumah mengalami kerusakan.
Jumlah tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan dan verifikasi di wilayah terdampak.
Sebanyak 58.360 rumah yang rusak menjadi salah satu indikator besarnya dampak gempa terhadap kehidupan masyarakat. Kerusakan rumah tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga menyebabkan sebagian keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di lokasi pengungsian.
Kondisi tersebut diperberat oleh aktivitas gempa susulan yang telah mencapai lebih dari 5.000 kejadian. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan menghadapi ketidakpastian untuk kembali, terutama ketika kondisi bangunan belum dinyatakan aman.
Pengungsi Nangahale Siap Pulang, Tunggu Keputusan Pemerintah
Di sejumlah lokasi, kebutuhan dasar pengungsi masih menjadi persoalan. Air minum, makanan, terpal, tikar dan selimut harus dipenuhi setiap hari bagi lebih dari 156 ribu warga.
Fransiskus Bhaga, warga Desa Tuanggeo, Kabupaten Sikka, di Pulau Palue, menyebut sejumlah kebutuhan yang masih diperlukan warga.
“Kami membutuhkan terpal, air minum, tikar, dan selimut,” kata Fransiskus, Minggu (23/8/2026).
Besarnya jumlah pengungsi membuat distribusi bantuan membutuhkan koordinasi antardaerah dan antarinstansi, terutama untuk menjangkau wilayah kepulauan serta kawasan yang aksesnya terganggu akibat gempa dan longsor.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Selain kebutuhan logistik, masa pengungsian yang berlangsung lebih lama juga meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan, sanitasi dan dukungan psikososial.
Anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas serta keluarga yang kehilangan anggota keluarga membutuhkan perhatian dalam pelayanan di lokasi pengungsian.
Kerusakan 58.360 rumah juga menjadi persoalan pada fase pemulihan. Pemerintah perlu memastikan setiap rumah yang terdampak melalui pendataan dan verifikasi untuk menentukan tingkat kerusakan serta kebutuhan penanganannya.
Rumah yang masih dapat diperbaiki membutuhkan penanganan berbeda dengan bangunan yang harus dibongkar atau lokasi yang membutuhkan relokasi.
Kerusakan fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas publik juga membutuhkan pendataan tersendiri agar pelayanan dasar masyarakat dapat kembali berjalan.
Besarnya jumlah kerusakan dan pengungsi membuat penanganan bencana tidak berhenti pada distribusi bantuan selama masa tanggap darurat. Pemulihan tempat tinggal, pendidikan, layanan kesehatan dan mata pencaharian warga menjadi bagian dari tahapan berikutnya.
Data BNPB per 23 Agustus mencatat 91 orang meninggal dunia, 1.286 orang luka-luka, 156.782 warga mengungsi dan 58.360 rumah rusak akibat gempa Flores.
Angka tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk melanjutkan pendataan, pemenuhan kebutuhan dasar, penanganan pengungsi serta persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.»(rel)
HUMANIORA
Satgas Sikka Tegaskan Bantuan Pelajar Terdampak Gempa Sudah Disalurkan
Satgas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka memastikan bantuan bagi pelajar SMA/SMK terdampak gempa Flores telah disalurkan sejak 21 Agustus 2026. Sasaran bantuan mencakup siswa di pengungsian, kos-kosan dan rumah keluarga.
MAUMERE, GardaFlores — Satuan Tugas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka memastikan bantuan bagi pelajar SMA/SMK terdampak gempa bumi Flores telah disalurkan sejak Jumat, 21 Agustus 2026.
Ketua Satgas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes da Maga Bapa alias Femy Bapa, menyampaikan hal itu usai mengikuti misa khusus di Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka, Jalan Mawar, Perumnas Maumere, Minggu (23/8/2026).
Menurut Femy, bantuan tidak hanya diberikan kepada pelajar yang berada di posko pengungsian. Pendataan juga mencakup siswa yang tinggal di kos-kosan maupun menumpang di rumah keluarga karena tempat tinggal mereka terdampak gempa.
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
“Sejak Jumat, 21 Agustus 2026, kami telah memberikan bantuan kepada siswa-siswi, baik yang berasal dari Kabupaten Sikka dan tinggal di kos-kosan maupun di rumah keluarga, maupun peserta didik yang berasal dari Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, serta Kabupaten Ende, Nagekeo dan Ngada,” jelas Femy.
Salah satu penyaluran dilakukan kepada peserta didik SMAS Katolik Santo Gabriel Maumere. Bantuan berupa sembako diberikan kepada siswa yang keluarga atau orang tuanya terdampak gempa bumi Flores berkekuatan 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Femy mengatakan, pendataan terhadap pelajar terdampak terus diperbarui, termasuk mereka yang berada di luar lokasi pengungsian.
“Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu, mendukung dan mempermudah proses penyaluran bantuan hari ini dengan caranya masing-masing. Nama-nama tersebut tidak dapat kami sebutkan satu per satu,” ujar Femy.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Ia berharap bantuan yang disalurkan dapat meringankan beban keluarga pelajar terdampak.
“Semoga segala bentuk bantuan dan dukungan dari kita semua senantiasa meringankan beban dan musibah yang mereka alami,” tuturnya.
Satgas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka menyatakan koordinasi dan pendataan terhadap kelompok terdampak, termasuk pelajar yang tinggal di pengungsian, kos-kosan maupun rumah keluarga, masih terus dilakukan.»(rel)
HUMANIORA
PA GMNI NTT Salurkan Bantuan Gempa ke 23 Titik Pengungsian
PA GMNI NTT menyalurkan bantuan kemanusiaan ke 23 titik pengungsian di tujuh kabupaten di Flores. Penyaluran terbaru dilakukan di Kampung Ojan Lawer, Desa Mekendetung, Kangae, Sikka.
MAUMERE, GardaFlores — Posko Peduli PA GMNI NTT telah menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak gempa di 23 titik pengungsian yang tersebar di tujuh kabupaten di Flores hingga Minggu (23/8/2026).
Penyaluran terbaru dilakukan di Kampung Ojan Lawer, Desa Mekendetung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Sabtu (22/8/2026). Bantuan diserahkan langsung oleh Sekretaris DPD PA GMNI NTT, Emanuel Kolfidus.
Posko Peduli PA GMNI NTT dibentuk setelah Alumni GMNI NTT menggelar doa bersama untuk para korban gempa Flores. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penggalangan donasi dan penyaluran bantuan ke sejumlah wilayah terdampak.
Ketua DPD PA GMNI NTT, Yos Dasi Jawa, menggagas pembentukan Posko Peduli tersebut. Sementara Yohanes Hamba Lati dipercaya sebagai Kepala Posko untuk mengoordinasikan pengumpulan dan distribusi bantuan.
Hingga 23 Agustus, bantuan telah menjangkau 23 titik pengungsian di tujuh kabupaten di Flores.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Selain di Kampung Ojan Lawer, penyaluran bantuan juga dilakukan di Palue serta Kampung Puho, Desa Iligai, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka.
Penyaluran dilakukan berdasarkan lokasi yang membutuhkan bantuan setelah gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
PA GMNI NTT menyatakan Posko Peduli akan terus melakukan pengumpulan dan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak di sejumlah wilayah Flores.
Dengan jangkauan yang telah mencapai 23 titik pengungsian, gerakan tersebut mencakup bantuan yang dihimpun melalui jaringan Alumni GMNI NTT dan disalurkan langsung ke lokasi terdampak.
Penyaluran bantuan masih akan dilanjutkan ke titik-titik lain sesuai kebutuhan masyarakat dan hasil koordinasi di lapangan.»(rel)
HUMANIORA
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Pengungsi gempa di Kabupaten Sikka mulai kembali ke rumah menjelang berakhirnya masa tanggap darurat pada 28 Agustus 2026. Pemerintah menerapkan SOP pemulangan dengan verifikasi kondisi rumah dan pemutakhiran data warga.
MAUMERE, GardaFlores — Sejumlah pengungsi gempa bumi tektonik di Kabupaten Sikka mulai kembali ke rumah menjelang berakhirnya masa tanggap darurat pada Jumat, 28 Agustus 2026. Pemerintah Kabupaten Sikka menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pemulangan untuk memastikan kepulangan warga disertai verifikasi kondisi rumah dan pemutakhiran data.
SOP Pemulangan Pengungsi diterbitkan Satgas Penanganan Bencana melalui Pos Komando Bencana Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Kasatgas Pos Komando Bencana Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes da Maga Bapa, ST., M.Eng., mengatakan proses pemulangan mengacu pada data By Name By Address (BNBA) yang terus diperbarui.
“Data menjadi dasar, proses verifikasi menjadi kunci, dan keselamatan tetap menjadi prioritas,” kata Femy Bapa, sapaan Margaretha, saat ditemui di Pos Komando Penanganan Bencana Gempa Bumi Tektonik, Jalan Mawar, Maumere, Minggu (23/8/2026).
Pengungsi Nangahale Siap Pulang, Tunggu Keputusan Pemerintah
Berdasarkan SOP tersebut, pengungsi dengan rumah berstatus Rusak Ringan (RR) dapat mengikuti mekanisme pemulangan setelah melalui tahapan verifikasi.
Sementara warga dengan status rumah Tidak Rusak (TR) juga tetap harus menjalani pemutakhiran data dan verifikasi lapangan sebelum dinyatakan memenuhi syarat untuk kembali.
Pemulangan dilakukan berdasarkan permintaan atau kesediaan warga sendiri. Pemerintah menyiapkan mekanisme untuk memastikan kondisi rumah dan status data warga telah diperiksa sebelum kepulangan.
“Pemulangan ini atas permintaan atau kesediaan masyarakat sendiri. Pemerintah menyiapkan mekanismenya agar proses tersebut berjalan dengan baik dan tetap mengutamakan keselamatan,” ujar Femy.

Mekanisme pemulangan diawali dengan penyampaian permintaan atau kesediaan warga kepada koordinator pos pengungsian. Petugas kemudian mencocokkan data BNBA dan melakukan pengecekan kondisi rumah.
Apabila status rumah sesuai ketentuan dan hasil verifikasi menyatakan rumah dapat ditempati, warga melanjutkan proses administrasi berupa pengisian formulir dan Surat Pernyataan (SP) Pemulangan.
Setelah administrasi selesai, warga diperbolehkan mengemas barang pribadi dan mempersiapkan kepulangan. Pemerintah juga menyiapkan paket sembako sesuai kebutuhan di lokasi pengungsian serta dukungan personel untuk membantu proses pemulangan.
Setiap proses pemulangan kemudian dituangkan dalam Berita Acara. Data tersebut diserahkan kepada Posko Tanggap Darurat Bencana BPBD Kabupaten Sikka untuk memperbarui basis data korban dan pengungsi.
Bunda Literasi NTT dan Sikka Dampingi Anak Pengungsi di Nangahale
“Warga yang kembali ke rumah tetap menjadi bagian dari masyarakat terdampak yang mendapatkan perhatian pemerintah. Karena itu, seluruh proses pemulangan harus tercatat dengan baik,” kata Femy.
Pemerintah juga akan melakukan konferensi pers dan sosialisasi mengenai mekanisme pemulangan kepada masyarakat.
Dengan penerapan SOP tersebut, kepulangan pengungsi tidak hanya didasarkan pada kondisi gempa susulan atau keinginan warga untuk kembali, tetapi juga pada hasil verifikasi kondisi rumah dan kesesuaian data.
Masa tanggap darurat Kabupaten Sikka dijadwalkan berakhir pada 28 Agustus 2026. Proses pemulangan pengungsi berlangsung secara bertahap sesuai hasil verifikasi dan kesiapan masing-masing warga.»(rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Satgas Sikka Tegaskan Bantuan Pelajar Terdampak Gempa Sudah Disalurkan - Garda Flores %