HUMANIORA
Pengungsi Nangahale Siap Pulang, Tunggu Keputusan Pemerintah
Sebagian pengungsi di Desa Nangahale mulai siap kembali ke rumah setelah frekuensi gempa susulan berkurang. Warga masih menunggu keputusan pemerintah, sementara masa pengungsian direncanakan hingga 28 Agustus.
MAUMERE, GardaFlores — Pengungsi terdampak gempa bumi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, mulai siap kembali ke rumah. Warga masih menunggu keputusan pemerintah terkait keamanan kepulangan.
Ririn (30), salah seorang pengungsi, mengatakan dirinya bersama keluarga siap meninggalkan camp apabila Pemerintah Kabupaten Sikka telah menyatakan kondisi aman.
“Kami siap kembali ke rumah kalau sudah ada instruksi dari pemerintah. Kalau pemerintah Kabupaten Sikka sudah memutuskan bahwa kami bisa kembali, saya bersama keluarga siap pulang,” ujar Ririn.
Menurut Ririn, frekuensi gempa susulan dalam beberapa waktu terakhir mulai berkurang. Kondisi tersebut membuat sebagian warga mulai mempertimbangkan kembali ke rumah.
Bunda Literasi NTT dan Sikka Dampingi Anak Pengungsi di Nangahale
Namun, Ririn mengatakan keputusan pemerintah tetap menjadi acuan bagi keluarganya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kunjungan Ketua TP PKK Provinsi NTT Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sikka Ny. Fista Sambuari Kago ke camp pengungsian Nangahale.
“Kami merasa senang karena pemerintah peduli dan datang melihat langsung kondisi kami di pengungsian,” katanya.
Kepala Desa Nangahale Sahanudin mengatakan masa pengungsian di lokasi tersebut direncanakan berlangsung hingga 28 Agustus 2026.
“Pengungsian ini direncanakan sampai tanggal 28 Agustus. Setelah itu warga akan kembali ke rumah masing-masing,” jelas Sahanudin.
Meski demikian, sebagian warga telah kembali ke rumah masing-masing dan mulai menjalankan aktivitas sehari-hari. Mereka tetap diminta waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Pemerintah desa bersama pemerintah kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Sikka terus memantau perkembangan kondisi warga serta situasi di wilayah Nangahale.
Rencana kepulangan warga berlangsung setelah beberapa hari mereka berada di camp pengungsian akibat gempa bumi 15 Agustus 2026.
Bagi warga yang masih bertahan di camp, keputusan mengenai waktu kepulangan masih ditunggu dari pemerintah.»(rel)
HUMANIORA
Satgas Sikka Tegaskan Bantuan Pelajar Terdampak Gempa Sudah Disalurkan
Satgas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka memastikan bantuan bagi pelajar SMA/SMK terdampak gempa Flores telah disalurkan sejak 21 Agustus 2026. Sasaran bantuan mencakup siswa di pengungsian, kos-kosan dan rumah keluarga.
MAUMERE, GardaFlores — Satuan Tugas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka memastikan bantuan bagi pelajar SMA/SMK terdampak gempa bumi Flores telah disalurkan sejak Jumat, 21 Agustus 2026.
Ketua Satgas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes da Maga Bapa alias Femy Bapa, menyampaikan hal itu usai mengikuti misa khusus di Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka, Jalan Mawar, Perumnas Maumere, Minggu (23/8/2026).
Menurut Femy, bantuan tidak hanya diberikan kepada pelajar yang berada di posko pengungsian. Pendataan juga mencakup siswa yang tinggal di kos-kosan maupun menumpang di rumah keluarga karena tempat tinggal mereka terdampak gempa.
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
“Sejak Jumat, 21 Agustus 2026, kami telah memberikan bantuan kepada siswa-siswi, baik yang berasal dari Kabupaten Sikka dan tinggal di kos-kosan maupun di rumah keluarga, maupun peserta didik yang berasal dari Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, serta Kabupaten Ende, Nagekeo dan Ngada,” jelas Femy.
Salah satu penyaluran dilakukan kepada peserta didik SMAS Katolik Santo Gabriel Maumere. Bantuan berupa sembako diberikan kepada siswa yang keluarga atau orang tuanya terdampak gempa bumi Flores berkekuatan 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Femy mengatakan, pendataan terhadap pelajar terdampak terus diperbarui, termasuk mereka yang berada di luar lokasi pengungsian.
“Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu, mendukung dan mempermudah proses penyaluran bantuan hari ini dengan caranya masing-masing. Nama-nama tersebut tidak dapat kami sebutkan satu per satu,” ujar Femy.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Ia berharap bantuan yang disalurkan dapat meringankan beban keluarga pelajar terdampak.
“Semoga segala bentuk bantuan dan dukungan dari kita semua senantiasa meringankan beban dan musibah yang mereka alami,” tuturnya.
Satgas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka menyatakan koordinasi dan pendataan terhadap kelompok terdampak, termasuk pelajar yang tinggal di pengungsian, kos-kosan maupun rumah keluarga, masih terus dilakukan.»(rel)
HUMANIORA
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
Data BNPB per 23 Agustus 2026 mencatat gempa Flores menyebabkan 91 orang meninggal dunia, 1.286 luka-luka, 156.782 warga mengungsi dan 58.360 rumah rusak.
MAUMERE, GardaFlores — Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, telah menimbulkan dampak luas. Data BNPB per Minggu (23/8/2026) mencatat 91 orang meninggal dunia, 1.286 orang luka-luka, 156.782 warga mengungsi, dan 58.360 rumah mengalami kerusakan.
Jumlah tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan dan verifikasi di wilayah terdampak.
Sebanyak 58.360 rumah yang rusak menjadi salah satu indikator besarnya dampak gempa terhadap kehidupan masyarakat. Kerusakan rumah tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga menyebabkan sebagian keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di lokasi pengungsian.
Kondisi tersebut diperberat oleh aktivitas gempa susulan yang telah mencapai lebih dari 5.000 kejadian. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan menghadapi ketidakpastian untuk kembali, terutama ketika kondisi bangunan belum dinyatakan aman.
Pengungsi Nangahale Siap Pulang, Tunggu Keputusan Pemerintah
Di sejumlah lokasi, kebutuhan dasar pengungsi masih menjadi persoalan. Air minum, makanan, terpal, tikar dan selimut harus dipenuhi setiap hari bagi lebih dari 156 ribu warga.
Fransiskus Bhaga, warga Desa Tuanggeo, Kabupaten Sikka, di Pulau Palue, menyebut sejumlah kebutuhan yang masih diperlukan warga.
“Kami membutuhkan terpal, air minum, tikar, dan selimut,” kata Fransiskus, Minggu (23/8/2026).
Besarnya jumlah pengungsi membuat distribusi bantuan membutuhkan koordinasi antardaerah dan antarinstansi, terutama untuk menjangkau wilayah kepulauan serta kawasan yang aksesnya terganggu akibat gempa dan longsor.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Selain kebutuhan logistik, masa pengungsian yang berlangsung lebih lama juga meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan, sanitasi dan dukungan psikososial.
Anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas serta keluarga yang kehilangan anggota keluarga membutuhkan perhatian dalam pelayanan di lokasi pengungsian.
Kerusakan 58.360 rumah juga menjadi persoalan pada fase pemulihan. Pemerintah perlu memastikan setiap rumah yang terdampak melalui pendataan dan verifikasi untuk menentukan tingkat kerusakan serta kebutuhan penanganannya.
Rumah yang masih dapat diperbaiki membutuhkan penanganan berbeda dengan bangunan yang harus dibongkar atau lokasi yang membutuhkan relokasi.
Kerusakan fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas publik juga membutuhkan pendataan tersendiri agar pelayanan dasar masyarakat dapat kembali berjalan.
Besarnya jumlah kerusakan dan pengungsi membuat penanganan bencana tidak berhenti pada distribusi bantuan selama masa tanggap darurat. Pemulihan tempat tinggal, pendidikan, layanan kesehatan dan mata pencaharian warga menjadi bagian dari tahapan berikutnya.
Data BNPB per 23 Agustus mencatat 91 orang meninggal dunia, 1.286 orang luka-luka, 156.782 warga mengungsi dan 58.360 rumah rusak akibat gempa Flores.
Angka tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk melanjutkan pendataan, pemenuhan kebutuhan dasar, penanganan pengungsi serta persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.»(rel)
HUMANIORA
PA GMNI NTT Salurkan Bantuan Gempa ke 23 Titik Pengungsian
PA GMNI NTT menyalurkan bantuan kemanusiaan ke 23 titik pengungsian di tujuh kabupaten di Flores. Penyaluran terbaru dilakukan di Kampung Ojan Lawer, Desa Mekendetung, Kangae, Sikka.
MAUMERE, GardaFlores — Posko Peduli PA GMNI NTT telah menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak gempa di 23 titik pengungsian yang tersebar di tujuh kabupaten di Flores hingga Minggu (23/8/2026).
Penyaluran terbaru dilakukan di Kampung Ojan Lawer, Desa Mekendetung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Sabtu (22/8/2026). Bantuan diserahkan langsung oleh Sekretaris DPD PA GMNI NTT, Emanuel Kolfidus.
Posko Peduli PA GMNI NTT dibentuk setelah Alumni GMNI NTT menggelar doa bersama untuk para korban gempa Flores. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penggalangan donasi dan penyaluran bantuan ke sejumlah wilayah terdampak.
Ketua DPD PA GMNI NTT, Yos Dasi Jawa, menggagas pembentukan Posko Peduli tersebut. Sementara Yohanes Hamba Lati dipercaya sebagai Kepala Posko untuk mengoordinasikan pengumpulan dan distribusi bantuan.
Hingga 23 Agustus, bantuan telah menjangkau 23 titik pengungsian di tujuh kabupaten di Flores.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Selain di Kampung Ojan Lawer, penyaluran bantuan juga dilakukan di Palue serta Kampung Puho, Desa Iligai, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka.
Penyaluran dilakukan berdasarkan lokasi yang membutuhkan bantuan setelah gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
PA GMNI NTT menyatakan Posko Peduli akan terus melakukan pengumpulan dan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak di sejumlah wilayah Flores.
Dengan jangkauan yang telah mencapai 23 titik pengungsian, gerakan tersebut mencakup bantuan yang dihimpun melalui jaringan Alumni GMNI NTT dan disalurkan langsung ke lokasi terdampak.
Penyaluran bantuan masih akan dilanjutkan ke titik-titik lain sesuai kebutuhan masyarakat dan hasil koordinasi di lapangan.»(rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi - Garda Flores %
Pingback: Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak - Garda Flores %