PENKES
Gebyar SMK Ngada 2026 Tampilkan Karya Siswa, Pendidikan Vokasi Didorong Siapkan Tenaga Terampil
Mulai dari pameran karya, demonstrasi keterampilan teknis, pertunjukan seni, hingga berbagai perlombaan.
BAJAWA, GardaFlores — Gebyar SMK Kabupaten Ngada Tahun 2026 mulai berlangsung di Taman Kartini, Bajawa, Rabu (29/4/2026), sebagai ajang bagi siswa sekolah menengah kejuruan menampilkan kreativitas, inovasi, dan kompetensi yang telah dipelajari di bangku pendidikan vokasi.
Pembukaan program tersebut dilakukan Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu yang menegaskan pentingnya pendidikan kejuruan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap kerja dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan daerah.
“Pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. SMK memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi muda yang terampil, berkarakter, dan siap bersaing,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan vokasi perlu terus diperkuat melalui kolaborasi antara sekolah, dunia usaha, dan sektor industri agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Pemkab Ngada Kukuhkan Forum Anak 2026–2027, Perkuat Peran Anak dalam Agenda Kabupaten Layak Anak
Ia juga menekankan bahwa penguatan karakter, kedisiplinan, serta jiwa kewirausahaan menjadi bagian penting dalam mencetak lulusan yang mandiri dan produktif.

Gebyar SMK 2026 menghadirkan berbagai penampilan dan unjuk kemampuan siswa, mulai dari pameran karya, demonstrasi keterampilan teknis, pertunjukan seni, hingga perlombaan yang melibatkan pelajar dari sejumlah SMK di Kabupaten Ngada.
Ajang tersebut sekaligus menjadi ruang promosi hasil belajar siswa kepada masyarakat dan dunia kerja, sekaligus menunjukkan kapasitas sekolah vokasi di daerah.
Pemerintah Kabupaten Ngada menyatakan komitmen untuk terus meningkatkan mutu pendidikan kejuruan melalui kebijakan yang berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan daya saing lulusan.
Rangkaian Gebyar SMK 2026 masih berlanjut dengan sejumlah agenda lanjutan. Dari forum ini diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha dan berkontribusi bagi pembangunan Ngada.»(gus)
PENKES
Sekolah di Maumere Bangun Ekosistem Literasi, 300 Siswa Ikuti Reading Camp Berbasis Pembiasaan Membaca
Reading Camp di SDK Yos Sudarso memperlihatkan penguatan literasi tidak selalu bergantung pada pembangunan fasilitas baru.
MAUMERE, GardaFlores — Di tengah berbagai tantangan literasi anak Indonesia, SDK Yos Sudarso Maumere memilih membangun budaya membaca melalui pembiasaan yang berlangsung setiap hari di sekolah. Komitmen itu diperkuat melalui Reading Camp yang melibatkan sekitar 300 peserta didik sebagai bagian dari pengembangan ekosistem literasi sejak usia dasar.
Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah, Senin (3/8/2026), tidak dirancang sebagai lomba membaca ataupun kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari strategi sekolah membiasakan peserta didik berinteraksi dengan buku sesuai tahap perkembangan mereka.
Program tersebut mendapat dukungan Tim Literasi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Camat Alok Timur Kasianus Kei, perwakilan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sikka Yosef Supratman, S.Pd., Pemerintah Kelurahan Beru, Komite Sekolah, guru, orang tua, serta berbagai unsur masyarakat.
Reading Camp dikembangkan melalui konsep Wisata Literasi, dengan materi yang disusun secara bertahap mulai dari pengenalan huruf, penguasaan kosakata, merangkai kalimat, membaca lancar, hingga membaca pemahaman bagi peserta didik yang telah memiliki kemampuan literasi lebih tinggi.
20 Tim SD Bersaing di Merdeka Cup I Nita, Ajang Pembinaan Talenta Sepak Bola Usia Dini
Kepala SDK Yos Sudarso Maumere, Sr. Hubertina Nino, mengatakan peningkatan kemampuan membaca hanya dapat dicapai apabila literasi menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan sekolah, bukan sekadar program yang dilaksanakan pada momen tertentu.
“Di SDK Yos Sudarso, kami telah menerapkan Gong Literasi Gerakan 30 Menit Membaca sebelum pembelajaran dimulai dan setelah jam sekolah berakhir. Program ini dipadukan dengan implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia sehingga membaca menjadi bagian dari karakter, bukan sekadar kewajiban. Kami ingin melahirkan generasi yang gemar membaca, mampu berpikir kritis, kreatif, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan literasi menjadi fondasi bagi peserta didik untuk memahami informasi, menyelesaikan persoalan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis sejak usia sekolah dasar.
Camat Alok Timur, Kasianus Kei, menilai pembiasaan membaca perlu menjadi gerakan bersama seluruh satuan pendidikan karena literasi, numerasi, dan sains merupakan fondasi pembangunan sumber daya manusia.
“Anak-anak yang rajin membaca akan memiliki wawasan yang luas, kemampuan berpikir logis, serta mampu mengambil keputusan dengan bijaksana. Literasi bukan hanya kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami kehidupan. Saya mengajak seluruh sekolah menjadikan gerakan literasi sebagai budaya bersama agar lahir generasi Kabupaten Sikka yang cerdas, berkarakter, inovatif, dan berdaya saing,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales. Ia menilai Reading Camp menjadi contoh praktik baik dalam membangun budaya membaca karena memadukan pembelajaran, pembiasaan, dan keterlibatan berbagai pihak.
Bunda Literasi Sikka Ajak Orang Tua Bangun Budaya Membaca, Kurangi Ketergantungan Anak pada Gawai
“Kegiatan literasi memiliki peran penting dalam membentuk generasi pembelajar sepanjang hayat. Anak-anak yang terbiasa membaca akan lebih mudah memahami pelajaran, berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, serta berani bermimpi dan mewujudkan cita-citanya. Kami berharap kegiatan seperti ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Sikka,” ujarnya.
Ia mendorong sekolah-sekolah memperkuat fungsi perpustakaan sebagai pusat belajar sekaligus memperluas kolaborasi dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan dalam mengembangkan berbagai program literasi.
Reading Camp di SDK Yos Sudarso memperlihatkan bahwa penguatan literasi tidak selalu bergantung pada pembangunan fasilitas baru, tetapi dapat dimulai melalui pembiasaan membaca yang dilakukan secara konsisten, didukung metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan peserta didik, serta melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Model tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana gerakan literasi dapat dikembangkan dari tingkat sekolah untuk membentuk budaya belajar yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak jenjang pendidikan dasar.»(rel)
PENKES
20 Tim SD Bersaing di Merdeka Cup I Nita, Ajang Pembinaan Talenta Sepak Bola Usia Dini
MAUMERE, GardaFlores – Sebanyak 20 tim sepak bola mini tingkat Sekolah Dasar (SD) dari berbagai sekolah di Kecamatan Nita mulai bersaing dalam Turnamen Merdeka Cup I yang resmi bergulir di Lapangan Golden Nita, Jumat (31/7/2026). Kompetisi yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu diproyeksikan menjadi ruang pembinaan pemain usia dini sekaligus menanamkan nilai sportivitas sejak bangku sekolah dasar.
Turnamen dibuka secara resmi oleh Camat Nita, Fransiskus Herpianus Nong Lalang, SH, disaksikan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), kepala sekolah, guru, pelatih, orang tua peserta, dan masyarakat yang memenuhi area lapangan.
Dalam sambutannya, Fransiskus menegaskan bahwa kompetisi usia dini harus dipandang sebagai proses pembelajaran, bukan sekadar perebutan gelar juara. Menurutnya, sepak bola menjadi media efektif untuk membentuk karakter, membangun disiplin, melatih kerja sama, dan menumbuhkan rasa saling menghargai.
“Menang atau kalah adalah hal yang biasa dalam pertandingan. Yang terpenting adalah belajar menghargai sesama, bekerja sama dalam tim, dan terus mengembangkan potensi diri,” katanya.
Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Nita, Edi, menilai turnamen tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter melalui olahraga. Selain mengasah kemampuan bermain, peserta juga belajar mengambil keputusan, memikul tanggung jawab, serta membangun mental kompetitif secara sehat.
Tujuh Desa di Sikka Perkuat Sistem Perlindungan Anak, TP PKK Dorong Peran Keluarga dan Masyarakat
Ia berharap ajang tersebut menjadi titik awal lahirnya pemain-pemain muda yang kelak mampu bersaing pada jenjang yang lebih tinggi.
“Bola tidak pernah berubah, dia ditendang ke mana-mana, tetapi dari bola orang bisa menjadi terkenal seperti Messi dan Ronaldo. Mudah-mudahan melalui turnamen ini lahir Messi dan Ronaldo baru dari Kecamatan Nita,” ujarnya.
Ketua Panitia HUT ke-81 Kemerdekaan RI Tingkat Kecamatan Nita, Theresia Erlinda, mengatakan seluruh pertandingan akan digelar dengan mengedepankan prinsip fair play, keamanan, dan ketertiban. Panitia juga mengajak peserta maupun penonton menjaga kebersihan lingkungan selama kompetisi berlangsung.
Turnamen Merdeka Cup I diikuti 20 tim sepak bola mini dari sekolah-sekolah dasar se-Kecamatan Nita. Kompetisi ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi mata rantai pembinaan sepak bola usia dini di Kabupaten Sikka.
Di tengah semakin besarnya kebutuhan pembinaan pemain sejak usia sekolah, kehadiran kompetisi seperti Merdeka Cup memberi ruang bagi anak-anak untuk merasakan atmosfer pertandingan, mengembangkan kemampuan, sekaligus membangun mental bertanding. Dari lapangan sederhana seperti Golden Nita, bibit-bibit pesepak bola masa depan dapat mulai tumbuh melalui kompetisi yang berkelanjutan.»(rel)
PENKES
Nirwana 04 Menangi Duel Sarat Tensi, Penalti Felsiana Bungkam Persami di Gelora Samador
Laga pembuka ini juga mengirim pesan bahwa persaingan Piala Pertiwi 2026 tidak akan mudah ditebak.
MAUMERE, GardaFlores — Tidak ada yang datang dengan mudah bagi Nirwana 04 Nagekeo pada laga pembuka Piala Pertiwi 2026. Wakil Nagekeo itu harus menunggu hingga fase penutup sebelum memastikan kemenangan 2-1 atas tuan rumah Persami Maumere melalui eksekusi penalti kapten tim, Felsiana Menge Pati, di Stadion Gelora Samador, Rabu (29/7/2026).
Selama lebih dari 80 menit, duel berlangsung terbuka dan sulit diprediksi. Kedua kesebelasan silih berganti mengambil inisiatif, saling menekan, lalu bergantian bertahan ketika kehilangan penguasaan bola. Tidak ada ruang bagi salah satu kubu untuk benar-benar mengendalikan permainan.
Nirwana lebih dahulu memecah kebuntuan pada menit ke-30. Klarisia Delima Bhenang (15) menyambar peluang dari skema serangan yang dibangun rapi untuk membawa timnya memimpin.
Citra Bakti Ngada Mengirim Pesan Kuat, Flores United Dibungkam 3-0
Respons Persami datang cepat. Tujuh menit berselang, Dinda Trimila Djami Hau (12) memanfaatkan kelengahan lini belakang lawan dan mengirim bola ke gawang Nirwana. Gol tersebut menghidupkan kembali semangat tuan rumah sekaligus menutup babak pertama dengan skor imbang 1-1.
Selepas jeda, tempo laga meningkat. Adu taktik berlangsung semakin menarik karena kedua pelatih memilih tetap menyerang ketimbang mengamankan satu poin. Persami beberapa kali mengancam lewat serangan balik cepat, sedangkan Nirwana terus mencari celah melalui kombinasi umpan pendek dari lini tengah.
Momen yang mengubah arah pertandingan hadir ketika wasit menunjuk titik putih setelah menilai terjadi pelanggaran di kotak terlarang Persami. Di tengah tekanan penonton tuan rumah, Felsiana Menge Pati melangkah sebagai algojo.
Sang kapten tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tendangannya mengecoh penjaga gawang dan membawa Nirwana kembali unggul.
Gol itu memaksa Persami mengerahkan seluruh tenaga pada sisa waktu yang tersedia. Serangan demi serangan dilancarkan dari berbagai sisi lapangan, tetapi koordinasi lini belakang Nirwana tetap solid hingga peluit panjang mengakhiri laga.
Pelatih Nirwana 04, Nero Bingo, mengakui kemenangan tersebut diperoleh melalui perjuangan yang menguras energi.
“Persami bermain sangat baik. Mereka memiliki transisi yang cepat dan pemain sayap yang merepotkan. Kami juga melihat mereka menciptakan beberapa peluang berbahaya. Hari ini kami sedikit lebih beruntung, tetapi masih banyak yang harus diperbaiki,” ujarnya.
Hasil ini memberi awal positif bagi Nirwana dalam persaingan Grup Piala Pertiwi 2026 sekaligus memperpanjang optimisme menghadapi laga berikutnya. Sebaliknya, Persami memang kehilangan poin di hadapan pendukung sendiri, namun penampilannya menunjukkan bahwa mereka tetap memiliki kapasitas untuk bersaing apabila mampu meningkatkan efektivitas penyelesaian akhir.
Laga pembuka ini juga mengirim pesan bahwa persaingan Piala Pertiwi 2026 tidak akan mudah ditebak. Selisih kualitas antarkontestan terlihat tipis, sementara satu keputusan, satu kesalahan, atau satu momen di kotak penalti dapat mengubah seluruh cerita dalam hitungan detik.»(rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM12 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
