HUMANIORA
Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah dan Likuifaksi di Sikka, Masyarakat Diminta Waspada
Maumere, GardaFlores – Pemerintah Kabupaten Sikka mengeluarkan hasil pemetaan zona kerentanan gerakan tanah dan potensi likuifaksi di wilayahnya. Hasil studi geologi menunjukkan bahwa wilayah ini terbagi menjadi empat zona kerentanan yang berbeda tingkat risiko, mulai dari sangat rendah hingga sangat tinggi.
Hal ini disampaikan Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago alias JPYK, di Maumere, Kamis (5/6/2025).
JPYK menjelaskan bahwa Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Sikka, Drs. Budi Santoso, menyatakan bahwa pemetaan ini penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pihak terkait agar dapat melakukan langkah-langkah mitigasi yang tepat.
Baca juga:
Ustad Amril Sampaikan Pesan Moral Saat Shalat Idul Adha di Maumere
“Dengan mengetahui zona kerentanan, kita bisa mengantisipasi dampak bencana tanah dan gempa bumi yang berpotensi merusak infrastruktur dan membahayakan nyawa,” ujarnya.
Menurut data studi, zona kerentanan di Kabupaten Sikka terbagi menjadi empat kategori:
Zona Sangat Rendah, zona ini biasanya berupa dataran dan tanah datar di tepi pantai bagian utara dan sebagian pantai selatan, seperti Paga. Kemiringan lereng di bawah 15 persen, jarang terjadi gerakan tanah.
Zona Rendah, wilayah ini memiliki kemiringan tanah antara 5 hingga 70 persen tergantung lokasi, seringkali berupa area lereng yang stabil dan jarang mengalami gerakan tanah. Lokasi contohnya adalah sekitar Lela, Hewat, Kloan, dan Doreng.
Zona Kerentanan Menengah, yakni wilayah yang memiliki kemiringan 30-50 persen dan berpotensi mengalami gerakan tanah aktif kembali, terutama saat gempa bumi dan curah hujan tinggi. Vegetasi di zona ini umumnya minim, berupa semak dan tanaman keras. Lokasinya tersebar di bagian barat, selatan, dan timur pulau Flores.
Baca juga:
Pemerintah Kabupaten Sikka Susun RPJMD 2025–2029, Fokus pada Percepatan Pembangunan Daerah
Zona Sangat Tinggi, daerah ini sering mengalami gerakan tanah dan berpotensi aktif karena faktor gempa dan erosi. Kemiringan lereng bisa mencapai hampir tegak, dengan vegetasi yang sangat jarang. Termasuk di dalamnya adalah lereng di pegunungan Egon dan Gumbita.
Ancaman Likuifaksi di Maumere
Selain gerakan tanah, wilayah Maumere juga menghadapi bahaya likuifaksi, yaitu perubahan sifat material tanah padat menjadi cair akibat getaran gempa. Fenomena ini dapat menyebabkan amblesan tanah dan merusak fondasi bangunan.
Studi mengidentifikasi tiga zona potensi likuifaksi di Maumere: yakni tinggi, menengah dan rendah.
Baca juga:
Presiden Prabowo Sampaikan Arahan Virtual dalam Panen Raya Jagung Serentak di Sikka
Likuifaksi Tinggi, terjadi di endapan marin pasir halus dengan ketebalan 2-10 meter dan nilai uji N di bawah 7, tersebar di sekitar pusat kota dan pantai barat.
Likuifaksi Menengah, pada endapan aluvial dan marin, ketebalan sekitar 2 meter, dengan fraksi kasar dan sedang, yang tersebar di bagian selatan kota.
Likuifaksi Rendah, di wilayah vulkanis seperti lanau dan lempung, dengan ketebalan 1 meter dan nilai N lebih dari 12.
Wilayah Sikka dikenal memiliki beragam jenis tanah seperti aluvial, andosol, gleisol, dan batuan singkapan seperti tufa, breksi, dan batu apung dari gunung api. Keanekaragaman ini turut mempengaruhi tingkat kerentanan wilayah terhadap bencana tanah.
Baca juga:
Sosialisasi Proyek Perubahan “Aksi Pro ASN Sikka”, Kaban BKD: Fokus Tingkatkan Profesionalitas ASN
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat dan pengembang agar memperhatikan data zona kerentanan ini dalam setiap pembangunan dan aktivitas di wilayah rawan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko kerusakan akibat bencana tanah longsor dan gempa bumi di masa depan.
Dengan pemetaan ini diharapkan seluruh elemen masyarakat dapat lebih waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan yang diperlukan. Mengingat potensi bencana tanah dan likuifaksi, kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan dan keberlanjutan pembangunan di Kabupaten Sikka.»
(rel)
HUMANIORA
Bupati Sikka Desak Percepatan Pemulihan, Menteri PU Tindaklanjuti Infrastruktur Rusak
Pemkab Sikka mendorong percepatan penanganan infrastruktur rusak akibat gempa. Menteri PU Dody Hanggodo bersama jajaran menindaklanjuti kebutuhan jalan, jalur Mbay–Maumere dan air bersih Palue.
MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah Kabupaten Sikka mendorong percepatan penanganan infrastruktur yang rusak akibat gempa bumi tektonik. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo bersama jajaran kementerian turun langsung ke Sikka untuk menindaklanjuti kebutuhan infrastruktur yang disampaikan pemerintah daerah.
Dalam rapat koordinasi di Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik BPBD Kabupaten Sikka, Jalan Mawar, Perumnas Maumere, Minggu (23/8/2026), Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago memaparkan sejumlah kebutuhan daerah pascagempa.
Rapat tersebut dihadiri Gubernur NTT Melki Laka Lena, Ketua DPRD Kabupaten Sikka Stefenus Sumandi, unsur Forkopimda, jajaran Pemkab Sikka serta pejabat Kementerian PU.
Juventus mengapresiasi respons Menteri PU dan jajaran yang datang langsung ke Sikka.
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
“Pemerintah Kabupaten Sikka menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Menteri Pekerjaan Umum bersama seluruh jajaran yang telah merespons dengan cepat kebutuhan Kabupaten Sikka pascagempa. Kehadiran langsung di lapangan sangat berarti bagi pemerintah daerah dan masyarakat,” ujar Juventus.
Salah satu kebutuhan yang disampaikan adalah penanganan ruas jalan yang mengalami kerusakan akibat gempa. Pemkab Sikka menyebut ruas jalan yang telah masuk program pemerintah akan ditindaklanjuti melalui Instruksi Presiden (Inpres) Infrastruktur Jalan Daerah (IJD).
Sementara ruas jalan yang baru diusulkan akibat kerusakan gempa akan diperjuangkan melalui Inpres tahap kedua.
“Untuk ruas-ruas jalan yang sudah masuk dalam program akan ditindaklanjuti melalui IJD. Sedangkan ruas jalan yang baru diusulkan akibat kerusakan gempa akan diusulkan melalui Inpres tahap kedua,” kata Juventus.
Selain kerusakan akibat gempa, pemerintah juga menyoroti ruas lintas utara Flores, khususnya jalur Mbay–Maumere yang mengalami kerusakan akibat abrasi.
BPJN Provinsi NTT bersama Dinas PUPR Kabupaten Sikka akan melakukan pendataan dan assessment terhadap kondisi ruas tersebut.
“Untuk lintas utara Mbay–Maumere yang mengalami kerusakan akibat abrasi, akan dilakukan pendataan dan assessment oleh Balai Jalan dan Jembatan bersama Dinas PUPR Kabupaten Sikka,” ujar Juventus.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Persoalan lain yang dibahas adalah kebutuhan air bersih di Kecamatan Palue. Pemkab Sikka dan pemerintah pusat akan menjajaki kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait teknologi desalinasi dan Reverse Osmosis (RO).
“Untuk air minum di Palue, akan dilakukan kerja sama dengan BRIN terkait metode desalinasi dan teknologi RO. Ini menjadi salah satu solusi yang sedang kita dorong agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat segera ditangani,” katanya.
Pemkab Sikka mendorong agar proses penanganan infrastruktur dilanjutkan dari assessment ke tahap perencanaan dan pekerjaan fisik sesuai kewenangan masing-masing.
“Yang paling penting adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dan infrastruktur yang rusak segera dipulihkan sehingga aktivitas pemerintahan, pelayanan publik dan kehidupan masyarakat dapat kembali normal,” pungkas Juventus.»(rel)
HUMANIORA
Satgas Sikka Tegaskan Bantuan Pelajar Terdampak Gempa Sudah Disalurkan
Satgas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka memastikan bantuan bagi pelajar SMA/SMK terdampak gempa Flores telah disalurkan sejak 21 Agustus 2026. Sasaran bantuan mencakup siswa di pengungsian, kos-kosan dan rumah keluarga.
MAUMERE, GardaFlores — Satuan Tugas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka memastikan bantuan bagi pelajar SMA/SMK terdampak gempa bumi Flores telah disalurkan sejak Jumat, 21 Agustus 2026.
Ketua Satgas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes da Maga Bapa alias Femy Bapa, menyampaikan hal itu usai mengikuti misa khusus di Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka, Jalan Mawar, Perumnas Maumere, Minggu (23/8/2026).
Menurut Femy, bantuan tidak hanya diberikan kepada pelajar yang berada di posko pengungsian. Pendataan juga mencakup siswa yang tinggal di kos-kosan maupun menumpang di rumah keluarga karena tempat tinggal mereka terdampak gempa.
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
“Sejak Jumat, 21 Agustus 2026, kami telah memberikan bantuan kepada siswa-siswi, baik yang berasal dari Kabupaten Sikka dan tinggal di kos-kosan maupun di rumah keluarga, maupun peserta didik yang berasal dari Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, serta Kabupaten Ende, Nagekeo dan Ngada,” jelas Femy.
Salah satu penyaluran dilakukan kepada peserta didik SMAS Katolik Santo Gabriel Maumere. Bantuan berupa sembako diberikan kepada siswa yang keluarga atau orang tuanya terdampak gempa bumi Flores berkekuatan 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Femy mengatakan, pendataan terhadap pelajar terdampak terus diperbarui, termasuk mereka yang berada di luar lokasi pengungsian.
“Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu, mendukung dan mempermudah proses penyaluran bantuan hari ini dengan caranya masing-masing. Nama-nama tersebut tidak dapat kami sebutkan satu per satu,” ujar Femy.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Ia berharap bantuan yang disalurkan dapat meringankan beban keluarga pelajar terdampak.
“Semoga segala bentuk bantuan dan dukungan dari kita semua senantiasa meringankan beban dan musibah yang mereka alami,” tuturnya.
Satgas Penanganan Bencana Gempa Bumi Kabupaten Sikka menyatakan koordinasi dan pendataan terhadap kelompok terdampak, termasuk pelajar yang tinggal di pengungsian, kos-kosan maupun rumah keluarga, masih terus dilakukan.»(rel)
HUMANIORA
Gempa Flores: 91 Tewas, 156.782 Mengungsi, 58.360 Rumah Rusak
Data BNPB per 23 Agustus 2026 mencatat gempa Flores menyebabkan 91 orang meninggal dunia, 1.286 luka-luka, 156.782 warga mengungsi dan 58.360 rumah rusak.
MAUMERE, GardaFlores — Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, telah menimbulkan dampak luas. Data BNPB per Minggu (23/8/2026) mencatat 91 orang meninggal dunia, 1.286 orang luka-luka, 156.782 warga mengungsi, dan 58.360 rumah mengalami kerusakan.
Jumlah tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan dan verifikasi di wilayah terdampak.
Sebanyak 58.360 rumah yang rusak menjadi salah satu indikator besarnya dampak gempa terhadap kehidupan masyarakat. Kerusakan rumah tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga menyebabkan sebagian keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di lokasi pengungsian.
Kondisi tersebut diperberat oleh aktivitas gempa susulan yang telah mencapai lebih dari 5.000 kejadian. Warga yang rumahnya mengalami kerusakan menghadapi ketidakpastian untuk kembali, terutama ketika kondisi bangunan belum dinyatakan aman.
Pengungsi Nangahale Siap Pulang, Tunggu Keputusan Pemerintah
Di sejumlah lokasi, kebutuhan dasar pengungsi masih menjadi persoalan. Air minum, makanan, terpal, tikar dan selimut harus dipenuhi setiap hari bagi lebih dari 156 ribu warga.
Fransiskus Bhaga, warga Desa Tuanggeo, Kabupaten Sikka, di Pulau Palue, menyebut sejumlah kebutuhan yang masih diperlukan warga.
“Kami membutuhkan terpal, air minum, tikar, dan selimut,” kata Fransiskus, Minggu (23/8/2026).
Besarnya jumlah pengungsi membuat distribusi bantuan membutuhkan koordinasi antardaerah dan antarinstansi, terutama untuk menjangkau wilayah kepulauan serta kawasan yang aksesnya terganggu akibat gempa dan longsor.
Pengungsi Sikka Mulai Pulang, Rumah dan Data Warga Wajib Diverifikasi
Selain kebutuhan logistik, masa pengungsian yang berlangsung lebih lama juga meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan, sanitasi dan dukungan psikososial.
Anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas serta keluarga yang kehilangan anggota keluarga membutuhkan perhatian dalam pelayanan di lokasi pengungsian.
Kerusakan 58.360 rumah juga menjadi persoalan pada fase pemulihan. Pemerintah perlu memastikan setiap rumah yang terdampak melalui pendataan dan verifikasi untuk menentukan tingkat kerusakan serta kebutuhan penanganannya.
Rumah yang masih dapat diperbaiki membutuhkan penanganan berbeda dengan bangunan yang harus dibongkar atau lokasi yang membutuhkan relokasi.
Kerusakan fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas publik juga membutuhkan pendataan tersendiri agar pelayanan dasar masyarakat dapat kembali berjalan.
Besarnya jumlah kerusakan dan pengungsi membuat penanganan bencana tidak berhenti pada distribusi bantuan selama masa tanggap darurat. Pemulihan tempat tinggal, pendidikan, layanan kesehatan dan mata pencaharian warga menjadi bagian dari tahapan berikutnya.
Data BNPB per 23 Agustus mencatat 91 orang meninggal dunia, 1.286 orang luka-luka, 156.782 warga mengungsi dan 58.360 rumah rusak akibat gempa Flores.
Angka tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk melanjutkan pendataan, pemenuhan kebutuhan dasar, penanganan pengungsi serta persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.»(rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
