HUKRIM
Pemda Sikka Siap Eksekusi Penutupan Pasar Wuring
Maumere, GardaFlores – Pemerintah Kabupaten Sikka menyatakan kesiapannya untuk mengeksekusi penutupan Pasar Wuring yang berlokasi di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat. Langkah ini dilakukan menyusul putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) RI yang menyatakan aktivitas Pasar Wuring yang dikelola oleh CV Bengkunis sebagai kegiatan ilegal.
Wakil Bupati Sikka, Ir. Simon Subandi Supriyadi mengungkapkan hal tersebut dalam keterangan pers di Maumere, Rabu (30/7/2025). Ia menyatakan bahwa eksekusi penutupan akan dilakukan setelah koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
“Setelah keluarnya putusan kasasi, maka Pemda Sikka akan segera melakukan eksekusi. Eksekusi ini akan dilakukan setelah rapat koordinasi dengan pihak-pihak terkait,” ujar Simon.
Baca juga:
Wabup Sikka Dorong Pengembangan Pariwisata Budaya di Uma Uta
Ia menjelaskan, para pedagang yang selama ini beraktivitas di Pasar Wuring akan dipindahkan ke Pasar Alok. Hal ini dilakukan untuk menghidupkan kembali aktivitas jual beli di Pasar Alok yang selama ini dikeluhkan sepi oleh para pedagang.
“Kita ingin Pasar Alok kembali ramai, bahkan hingga malam hari. Selama ini para pedagang justru lebih memilih Pasar Wuring, sehingga membuat Pasar Alok tidak berkembang,” tambahnya.
Simon menegaskan bahwa Pemda Sikka wajib mengeksekusi putusan hukum tersebut karena telah berkekuatan hukum tetap. Ia juga menyebut, jika pemerintah terus membiarkan pasar ilegal beroperasi, maka pemerintah sendiri yang akan disalahkan.
Baca juga:
Expo Desa UNIPA, Ajang Pamer Potensi dan Kolaborasi Desa
Terkait bangunan pasar yang didirikan oleh PNPM di lokasi tersebut, Simon mengatakan pemerintah akan mengkaji kembali status dan aturan yang berlaku. Namun, ia menegaskan bahwa putusan kasasi MA hanya menyangkut aktivitas Pasar Wuring oleh CV Bengkunis.
“Ilegal itu tidak boleh dibiarkan. Apalagi tidak ada kajian AMDAL dan dimiliki oleh perorangan. Masyarakat harus mendukung langkah ini karena ini juga demi kebaikan bersama,” tegas Simon.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Pemda Sikka juga akan menertibkan pasar-pasar ilegal lainnya termasuk aktivitas pedagang di sepanjang jalan negara Trans Flores yang dinilai mengganggu ketertiban umum.
Sementara itu, salah satu penjual sayur asal Kota Uneng kecamatan Alok yang mengaku bernama Ningsi, merasa senang jika pasar Wuring ditutup agar semua pedagang dapat kembali ke Pasar Alok yang merupakan pasar resmi yang disediakan pemerintah.
“Jika pasar Wuring sudah dieksekusi dan ditutup resmi maka semua pedagang akan kembali ke pasar Alok. Ini pasar tersebar di Flores, kenapa tidak digunakan, dan lebih suka memanfaatkan pasar yang ilegal?” kata Ningsi.
Baca juga:
Atlet SHOTO-KAI Sikka Raih 18 Emas di Kejuaraan Nasional di Malang, Lorenso Wakili Indonesia ke Malaysia
Dalam putusan kasasi Mahkamah Agung terhadap surat Penjabat Bupati Sikka tentang penghentian aktivitas Pasar Wuring, terdapat empat poin utama yang menjadi dasar pertimbangan hakim. Pertama, penerbitan surat tersebut dinilai sesuai dengan Pasal 3 ayat (1) Perda Nomor 5 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pasar.
Kedua, penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) atas nama CV Bengkunis Jaya tidak mencantumkan usaha pengelolaan pasar.
Ketiga, pelaksanaan usaha berbasis NIB harus mematuhi seluruh peraturan perundang-undangan.
Keempat, aktivitas Pasar Wuring yang dilakukan CV Bengkunis Jaya dikategorikan sebagai ilegal.»(rel)
HUKRIM
Kejari Sikka Geledah Kantor PUPR dan Setda, Amankan Dua Boks Dokumen Kasus Watergen
Penyidik Kejari Sikka menggeledah Kantor PUPR dan Setda Kabupaten Sikka selama empat jam terkait penyidikan dugaan korupsi pengadaan Watergen Desa Samparong Tahun Anggaran 2022. Dua boks kontainer dokumen diamankan untuk diperiksa.
MAUMERE, GardaFlores – Tim penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri (Kejari) Sikka menggeledah Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sikka, Selasa (3/11/2026). Dalam penggeledahan terkait penyidikan dugaan korupsi pengadaan Watergen di Desa Samparong, Kecamatan Alok Timur, Tahun Anggaran 2022 itu, penyidik mengamankan dua boks kontainer berisi dokumen.
Penggeledahan berlangsung selama empat jam, mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WITA. Tim dipimpin Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejari Sikka, Edi Boni Mantolas, S.H., M.H.
Edi mengatakan, dokumen tersebut dicari dan diamankan karena berkaitan dengan perkara pengadaan Watergen yang sedang disidik.
Tiga Warga Sikka Disebut Diamankan Polda NTT dalam Penyelidikan Narkotika
“Penggeledahan ini kami lakukan dalam rangka mencari, mengumpulkan, dan mengamankan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi pengadaan Watergen Desa Samparong Tahun Anggaran 2022,” jelas Edi kepada wartawan di Maumere, Selasa (3/11/2026).
Dua boks kontainer dokumen yang diamankan selanjutnya akan diteliti dan diverifikasi oleh penyidik. Dokumen itu akan dicocokkan dengan keterangan saksi serta alat bukti lain yang telah diperoleh selama proses penyidikan.
“Dokumen-dokumen ini akan kami pelajari dan verifikasi lebih lanjut. Kami akan mencocokkannya dengan keterangan saksi serta alat bukti lainnya agar perkara ini menjadi terang,” kata Edi.
Sengketa Hutan Adat Suku Lo’u, Polsek Wewaria Hentikan Pengaduan, Aktivitas Kembali Dilakukan
Penggeledahan di dua kantor pemerintahan tersebut menjadi bagian dari penelusuran penyidik terhadap administrasi dan proses pengadaan Watergen Desa Samparong. Dokumen yang diamankan diharapkan dapat membantu mengungkap rangkaian kegiatan pengadaan yang menjadi objek penyidikan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai materi dokumen yang diamankan, nilai kerugian keuangan negara, maupun pihak yang akan dimintai pertanggungjawaban pidana dalam perkara tersebut.»(rel)
HUKRIM
Tiga Warga Sikka Disebut Diamankan Polda NTT dalam Penyelidikan Narkotika
Tiga warga Kabupaten Sikka berinisial R, S, dan A disebut diamankan personel Sat Narkoba Polda NTT pada Senin (2/11/2026) malam. Penangkapan diduga berkaitan dengan pengembangan penyelidikan narkotika.
MAUMERE, GardaFlores – Tiga warga Kabupaten Sikka berinisial R, S, dan A disebut diamankan personel Satuan Reserse Narkoba Polda Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (2/11/2026) malam. Penindakan tersebut diduga berkaitan dengan pengembangan penyelidikan kasus narkotika di wilayah Kabupaten Sikka.
Informasi yang diperoleh GardaFlores menyebutkan, rangkaian penindakan bermula dari pengamanan R. Dalam pemeriksaan awal, R disebut memberikan keterangan yang mengarah kepada S. Petugas kemudian mengamankan S untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Dari pemeriksaan terhadap S, penyidik disebut memperoleh keterangan yang mengarah kepada A. Personel Sat Narkoba Polda NTT selanjutnya mendatangi kediaman A di Kelurahan Kota Baru, Kabupaten Sikka, dan mengamankannya.
Sengketa Hutan Adat Suku Lo’u, Polsek Wewaria Hentikan Pengaduan, Aktivitas Kembali Dilakukan
Seorang anggota Sat Narkoba Polres Sikka yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan membenarkan adanya pengamanan terhadap A di kediamannya. Sumber tersebut juga membenarkan bahwa S dan R turut diamankan.
Namun, informasi mengenai hubungan antara ketiga orang tersebut masih bersumber dari keterangan internal kepolisian. Belum diperoleh penjelasan resmi mengenai hasil pemeriksaan, bukti yang menghubungkan ketiganya, maupun peran masing-masing dalam perkara yang sedang dikembangkan.
Informasi lain yang beredar menyebut S memiliki riwayat perkara narkotika dan R diduga pernah terlibat dalam peredaran narkotika. Namun, GardaFlores belum memperoleh dokumen atau konfirmasi resmi yang dapat memastikan informasi mengenai riwayat hukum maupun dugaan keterlibatan keduanya. Karena itu, informasi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan peran mereka dalam perkara ini.
Warga Dile Tagih Ganti Rugi Lahan Proyek Jalan, Marianus Sebut APBN Tak Menganggarkan
Penangkapan oleh personel Polda NTT di wilayah Kabupaten Sikka juga belum disertai penjelasan resmi mengenai kronologi lengkap operasi dan alasan penanganan langsung oleh satuan di tingkat Polda.
Hingga berita ini disusun, GardaFlores belum memperoleh keterangan resmi dari Polda NTT mengenai jenis dan jumlah barang bukti yang diamankan, hasil pemeriksaan terhadap R, S, dan A, serta status hukum ketiganya.
Penjelasan kepolisian diperlukan untuk memastikan rangkaian penindakan, konstruksi perkara, dan dugaan keterkaitan ketiga orang tersebut berdasarkan hasil penyidikan.»(rel)
HUKRIM
Sengketa Hutan Adat Suku Lo’u, Polsek Wewaria Hentikan Pengaduan, Aktivitas Kembali Dilakukan
Kepala Suku Lo’u Albertus Rulo mengadukan pembukaan hutan yang diklaim sebagai tanah ulayat ke Polsek Wewaria. Dalam pertemuan dengan pihak penggarap, polisi menyatakan pengaduan tidak dapat dilanjutkan karena dinilai sebagai perkara perdata.
ENDE, GardaFlores – Kepala Suku Lo’u, Dusun Boa, Desa Detubela, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Albertus Rulo, mengadukan pembukaan hutan yang diklaim sebagai tanah ulayat Suku Lo’u ke Polsek Wewaria. Pengaduan itu berujung pada pertemuan antara kedua pihak pada 26 Oktober 2026. Namun, menurut Albertus, petugas polisi menyatakan pengaduan tersebut tidak dapat dilanjutkan karena dinilai sebagai perkara perdata.
Lahan yang disengketakan berada di Dusun Boa. Sebagian besar kawasan tersebut masih berupa hutan, sementara sebagian lainnya telah dimanfaatkan sebagai kebun oleh Nikolaus Rera dan sejumlah warga yang mendapat izin menggarap dari pihak keluarga adat.
Albertus menyebut lahan itu berada dalam penguasaan hukum adat Suku Lo’u. Ia menjabat sebagai kepala suku, sedangkan saudaranya, Nikolaus Rera, merupakan Mosalaki.
Salah satu keluarga yang menggarap lahan tersebut adalah Martinus Rera dan Marta Bunga. Menurut Albertus, keduanya telah menanam kemiri, cengkeh, dan kelapa sejak 2001.
Persoalan muncul pada awal September 2026 ketika Nikolaus mendapati Sebastianus Reku membuka kawasan hutan dengan menebang sejumlah pohon di dekat lahan garapan Martinus dan Marta. Ignasius Woka, anak Nikolaus, sempat menegur dan meminta penebangan dihentikan.
KM Lawit Membentur Dermaga Ippi, 379 Penumpang Batal Berangkat dari Ende
Sekitar dua minggu kemudian, Martinus, Marta bersama suaminya, Antonius Nalo, kembali melakukan penebangan di lokasi tersebut.
Nikolaus kemudian mendatangi lokasi dengan mengenakan pakaian adat kebesaran Mosalaki Pu’u. Ia menegur Marta Bunga dan memintanya untuk menghentikan aktifitas. Teguran itu ditentang oleh Marta bahkan sempat terlibat adu mulut. Selanjutnya Nikolaus melakukan ritus adat pelarangan yang disebut teo tipu.
Setelah menerima informasi dari Nikolaus, Albertus mendatangi lokasi pada 19 Oktober 2026. Ia menyebut kawasan hutan yang telah dibuka mencapai sekitar satu hektare dan pohon-pohon di dalamnya sudah ditebang.
Albertus kemudian mendatangi Polsek Wewaria pada 20 Oktober 2026 untuk menyampaikan pengaduan. Petugas piket bernama Jimmy menerima keterangan mengenai kronologi kejadian dan menyatakan akan meneruskannya kepada atasan.
Di hadapan Albertus, Jimmy menghubungi Kepala Desa Detubela, Eustakius Kota, untuk menyampaikan kepada para penggarap agar menghentikan sementara aktivitas di kawasan yang baru dibuka. Jimmy juga meminta agar Martinus, Marta, dan Antonius datang ke Polsek Wewaria untuk memberikan klarifikasi.
Pertemuan berlangsung pada 26 Oktober 2026. Martinus, Marta, dan Antonius datang bersama sejumlah anggota keluarga, termasuk Pilipus Pati. Sementara pihak pengadu diwakili Albertus, Nikolaus, Ignasius Woka, dan beberapa anggota keluarga lainnya.
Dalam pertemuan itu, Pilipus mengaku sebagai keturunan langsung Rangga Jene, yang disebut sebagai penguasa awal tanah ulayat tersebut. Rangga Jene juga merupakan leluhur Albertus, Martinus, dan Marta.

Kawasan hutan di Dusun Boa, Desa Detubela, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, yang menjadi objek sengketa tanah ulayat Suku Lo’u.
Albertus mengawali penyampaian keterangan dengan menjelaskan kronologi pembukaan hutan. Martinus kemudian menyatakan bahwa lokasi yang mereka kerjakan merupakan lahan warisan nenek mereka.
“Lokasi yang kami kerjakan adalah lahan garapan sejak nenek kami, jadi kami melanjutkan itu dari nenek kami,” kata Martinus sebagaimana dikutip Albertus saat menghubungi jurnalis GardaFlores di Maumere, Kamis, 29 Oktober 2026.
Albertus mempertanyakan bukti penggarapan pada bagian hutan yang baru dibuka. Martinus menyebut tanaman kemiri, cengkeh, dan kelapa sebagai bukti bahwa lahan tersebut merupakan warisan keluarga.
Namun, Albertus menegaskan bahwa keberadaan tanaman pada kebun yang telah digarap bukan persoalan yang ia adukan.
“Yang saya pertanyakan adalah hutan baru yang kamu buka dengan sensor itu. Saya tidak persoalkan lahan yang sudah kamu kerjakan,” kata Albertus mengulangi pernyataannya dalam pertemuan tersebut.
Jimmy juga menanyakan sejak kapan tanaman di lokasi itu mulai ditanam. Martinus menjawab bahwa penanaman dilakukan sejak 2001.
Dalam pertemuan yang sama, Jimmy meminta penjelasan Albertus dan Nikolaus mengenai kedudukan mereka sebagai kepala suku dan mosalaki.
Albertus mengatakan, setelah ayahnya, Mosalaki Gabriel Mbulu, meninggal pada Maret 1995, Paulus Benge Ndewi sebagai tetua adat setempat mengumpulkan semua anak suku untuk melakukan ritual penentuan seorang mosalaki dan seorang kepala suku. Albertus Rulo putra sulung dari Gabriel Mbulu sebagai kepala suku, sedangkan Nikolaus ditetapkan sebagai mosalaki.
“Saya diangkat sebagai kepala suku Lo’u dan Nikolaus Rera sebagai mosalaki dalam upacara adat so bhoka au. Kami berdua kemudian dikukuhkan dengan ritual adat ra lima,” kata Albertus.
Ia menyebut dirinya dan Nikolaus menjalankan tugas adat sejak 1997 serta rutin melakukan ritual pada setiap musim, dua kali dalam setahun. Ritual terakhir, menurut Albertus, berlangsung pada Mei 2026.
Deddy Agus Oktavianto Gantikan Armadha Tangdibali sebagai Kajari Sikka
Albertus juga mengatakan warga lain yang menggarap tanah ulayat tersebut biasa mengikuti ritual adat, sedangkan Martinus, tidak pernah hadir dalam kegiatan tersebut.
Kapolsek Wewaria, Iptu Dantje Dima, sempat hadir dalam pertemuan itu menggantikan Jimmy yang harus menangani kasus darurat lainnya. Dantje menyebut persoalan tersebut merupakan perkara perdata dan menyatakan kepolisian tidak berwenang menanganinya.
Albertus kemudian mempertanyakan apakah terdapat unsur pidana dalam pembukaan hutan tersebut. Namun, menurut Albertus, Dantje tidak memberikan jawaban pasti.
Dantje selanjutnya meminta agar lahan yang telah digarap maupun kawasan hutan yang baru dibuka tetap dilanjutkan pengerjaannya oleh keluarga Martinus.
Albertus menolak menyamakan kedua lokasi tersebut sebagai persoalan yang sama. Ia mengatakan tidak mempermasalahkan kebun yang sudah ditanami, tetapi mempersoalkan pembukaan kawasan hutan yang menurutnya merupakan bagian dari tanah ulayat Suku Lo’u.
Setelah Dantje meninggalkan pertemuan, Jimmy kembali menyampaikan bahwa pengaduan tersebut tidak dapat dilanjutkan oleh Polsek Wewaria.
“Sesuai arahan Pak Kapolsek, minta maaf, laporan ini kami tidak bisa lanjutkan,” kata Jimmy sebagaimana dikutip Albertus.
Jimmy juga meminta Martinus dan keluarganya menghentikan sementara aktivitas di lokasi sampai terdapat putusan hukum yang berkekuatan tetap.
“Untuk sementara di atas lahan itu, tidak boleh ada aktivitas berkebun dulu. Agar bisa bekerja lagi, kamu harus lapor balik secara perdata. Sampai ada putusan kemenangan di pihak kamu, barulah kamu boleh lanjut garap,” demikian pernyataan Jimmy yang disampaikan Albertus.
Martinus kemudian menanyakan ke mana mereka harus mengajukan gugatan. Jimmy menjawab bahwa kepolisian hanya menangani perkara pidana, bukan perkara perdata. Ia menyebut pengadilan sebagai tempat untuk menyampaikan perkara tersebut.
Menurut Albertus, Martinus dan Marta kembali memasuki kawasan hutan yang telah dibuka pada 28 dan 29 Oktober 2026 untuk membersihkan potongan-potongan kayu.
Kebakaran Melanda Dua Hektare Kebun Warga di Koting, Sumber Api Belum Diketahui
“Saya kecewa sekali dengan Martinus dan Marta yang sama sekali tidak mengindahkan saran pihak kepolisian.”
Terkait kasus ini, Albertus mengatakan sedang berkonsultasi dengan kuasa hukumnya untuk mengambil langkah-langkah lanjutan.
GardaFlores berupaya meminta waktu untuk mengkonfirmasi kepada Jimmy melalui pesan WhatsApp pada 30 Oktober 2026. Jimmy berjanji akan menghubungi jurnalis setelah menyelesaikan kegiatan di desa. Namun, hingga 31 Oktober 2026, Jimmy belum menghubungi kembali.
Jurnalis GardaFlores kembali mengirimkan pesan untuk meminta konfirmasi pada 31 Oktober 2026, tetapi belum mendapat jawaban.
Dengan demikian, keterangan mengenai proses mediasi, pernyataan Kapolsek, dan permintaan penghentian aktivitas di lokasi dalam pemberitaan ini masih bersumber dari penuturan Albertus Rulo. GardaFlores masih membuka ruang konfirmasi kepada Polsek Wewaria maupun pihak keluarga Martinus Rera.»(bert)
-
NASIONAL1 year agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
