POLITIK
Demokrat “Bedah” LKPJ Bupati Sikka 2025: Krisis Kesehatan, RSUD Terlilit Utang hingga Bansos Salah Sasaran
“Selama data kacau, keadilan hanya menjadi slogan.”
MAUMERE, GardaFlores — Fraksi Partai Demokrat DPRD Kabupaten Sikka melontarkan kritik tajam terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Sikka Tahun 2025, dengan menilai dokumen tersebut tidak mencerminkan kondisi riil masyarakat.
Dalam sidang DPRD Sikka, Jumat (27/3/2026), juru bicara Fraksi Demokrat Yunus Noce Fernandez menegaskan bahwa laporan yang tersusun rapi tidak sejalan dengan kualitas pelayanan publik di lapangan.
“Rakyat tidak hidup dari laporan. Rakyat hidup dari pelayanan, keadilan, dan keberpihakan nyata,” tegas Noce di ruang sidang DPRD Sikka.
Fraksi Demokrat menilai pemerintah daerah lebih menitikberatkan pada penyusunan dokumen administratif dibanding memastikan efektivitas layanan publik.
Krisis kesehatan dinilai akibat kegagalan tata kelola
Fraksi Demokrat menyebut sektor kesehatan di Kabupaten Sikka berada dalam kondisi krisis serius. Permasalahan yang muncul dinilai bukan semata keterbatasan anggaran, melainkan kegagalan dalam perencanaan dan pengawasan.
Puskesmas yang mangkrak serta belum terbangun menjadi indikator lemahnya tata kelola. Selain itu, sebanyak 304 tenaga kesehatan dilaporkan belum menerima hak mereka.
“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah kegagalan pemerintah memenuhi kewajibannya,” kata Noce.
Fraksi Demokrat mendesak dilakukan audit menyeluruh oleh lembaga pemeriksa independen dan hasilnya diumumkan secara terbuka kepada publik.
RSUD TC Hillers disorot soal ketidakteraturan keuangan
Sorotan juga diarahkan ke RSUD dr. TC Hillers yang dinilai menghadapi persoalan keuangan serius.
Fraksi Demokrat mengungkap sejumlah temuan, antara lain jasa tenaga kesehatan COVID-19 yang belum dibayarkan, kewajiban pengembalian dana sekitar Rp8,8 miliar, piutang rumah sakit sekitar Rp900 juta yang belum tertagih, serta utang pemerintah daerah mencapai Rp12 miliar.
“Bagaimana mungkin pelayanan maksimal bisa diberikan jika rumah sakit justru tercekik masalah keuangan?” ujar Noce.
Bansos tidak tepat sasaran akibat data tidak akurat
Di sektor sosial, Fraksi Demokrat menyoroti buruknya kualitas data penerima bantuan sosial yang berdampak pada ketidaktepatan sasaran.
“Selama data kacau, keadilan hanya menjadi slogan,” kata Noce.
Selain itu, pola bantuan dinilai masih bersifat karitatif dan belum mendorong pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Potensi penyalahgunaan Pilkades
Menjelang pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) di 132 desa, Fraksi Demokrat mengingatkan potensi penyalahgunaan kekuasaan apabila pengawasan tidak diperketat.
Fraksi ini meminta audit terhadap kepala desa petahana, transparansi penggunaan dana desa, serta keterlibatan pengawas independen.
“Pilkades bisa menjadi ruang demokrasi, tapi juga bisa berubah menjadi ruang gelap kekuasaan,” tegas Noce.
Ketimpangan hak guru dan masalah pendidikan
Di sektor pendidikan, keterlambatan pembayaran gaji dan ketimpangan tunjangan menjadi perhatian.
Fraksi Demokrat menilai terdapat perlakuan tidak adil antara guru agama dan guru umum dalam penerimaan tunjangan.
“Jika satu menerima penuh, maka semua harus menerima penuh. Jika tidak, ini bentuk diskriminasi,” ujar Noce.
RDP DPRD Sikka Memanas, Penanganan Kasus Pembunuhan Siswi Rubit Mandek, Kapolres Disorot Publik
Infrastruktur dan ekonomi dinilai tidak optimal
Fraksi Demokrat juga mengkritik kualitas pembangunan infrastruktur yang dinilai rendah, ditandai dengan jalan cepat rusak dan fasilitas tidak berfungsi.
“Ini bukan pembangunan, ini pemborosan,” kata Noce.
Di sektor ekonomi, pemerintah dinilai belum mampu mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Penataan pasar yang belum optimal serta kebijakan terhadap pelaku usaha kecil disebut justru menghambat pertumbuhan ekonomi.
“Jangan bicara potensi kalau tidak berani mengeksekusi,” ucapnya.
Birokrasi dinilai tidak profesional
Kondisi birokrasi di lingkungan pemerintah daerah juga disorot. Fraksi Demokrat menilai terdapat krisis profesionalisme yang ditandai dengan jabatan kosong, penempatan tidak tepat, dan pelayanan lambat.
Selain itu, lemahnya pengawasan disebut berpotensi membuka celah kebocoran anggaran.
“Tanpa pengawasan yang kuat, anggaran hanya menjadi ruang gelap,” kata Noce.
LKPJ diterima dengan catatan keras
Meski menyampaikan kritik menyeluruh, Fraksi Demokrat menyatakan menerima LKPJ Bupati Sikka Tahun 2025 dengan sejumlah catatan strategis.
“Menerima dengan catatan kritis dan mengikat. Ini bukan kompromi, ini peringatan,” tegas Noce.
Fraksi Demokrat menekankan bahwa seluruh rekomendasi DPRD harus dijalankan secara konkret oleh pemerintah daerah.
“Jika diabaikan, yang diabaikan bukan DPRD, tetapi rakyat Sikka,” kata Noce.»(rel)
POLITIK
PDI Perjuangan Sikka Mulai Konsolidasi, Andreas Hugo Pareira Tekankan Politik untuk Rakyat
“Setiap usaha dan kerja keras harus diarahkan bagi kesejahteraan dan kebaikan bersama.”
MAUMERE, GardaFlores — PDI Perjuangan mulai memperkuat konsolidasi organisasi di Kabupaten Sikka menjelang agenda politik mendatang melalui Musyawarah Anak Cabang (Musancab) dan Pendidikan Politik Pengurus Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Sikka, Rabu (29/4/2026). Dalam forum itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Keanggotaan dan Organisasi, Andreas Hugo Pareira, menegaskan bahwa arah perjuangan partai harus tetap berlandaskan kepentingan rakyat.
Andreas mengatakan politik tidak semata-mata soal perebutan kekuasaan, melainkan sarana untuk melayani masyarakat dan memperjuangkan kesejahteraan bersama.
“Partai hadir untuk mengurus rakyat. Kekuasaan yang diperoleh harus digunakan demi kepentingan rakyat. Politik bukan semata-mata soal kekuasaan, tetapi menyangkut kepentingan masyarakat luas,” ujarnya saat membuka forum tersebut.
Ia menambahkan, menjadi politisi merupakan panggilan pengabdian yang menuntut tanggung jawab moral kepada masyarakat.
“Setiap usaha dan kerja keras harus diarahkan bagi kesejahteraan dan kebaikan bersama,” katanya.
Forum Musancab dan pendidikan politik yang berlangsung di sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka itu menjadi bagian dari penataan struktur partai hingga tingkat bawah. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat mesin organisasi serta meningkatkan kesiapan kader menghadapi pemilu.
Yunus Takandewa: PDI Perjuangan Bekerja untuk Rakyat, Bukan Hanya Saat Pemilu
Selain konsolidasi internal, kegiatan itu juga diarahkan untuk memperdalam pemahaman kader mengenai strategi politik, komunikasi publik, dan penguatan basis dukungan masyarakat.
Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Yunus H. Takandewa, meminta kader mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, terutama di era digital yang menuntut pola komunikasi politik lebih efektif dan terbuka.
“Untuk memenangkan simpati rakyat saat ini, kader tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama yang kurang efektif,” tegasnya.
Yunus menyebut empat indikator utama yang perlu diperkuat pengurus partai, yakni aspek elektoral, organisasi, komunikasi publik, dan tata kelola kelembagaan. Menurut dia, keempat faktor tersebut menjadi penentu daya saing partai ke depan.
Ia juga menilai Kabupaten Sikka memiliki posisi strategis dalam dinamika politik di Nusa Tenggara Timur, sehingga konsolidasi di daerah itu dinilai penting bagi penguatan partai di tingkat provinsi.
Hingga akhir forum, jajaran pengurus PAC dan kader mengikuti rangkaian musyawarah serta pendidikan politik sebagai bagian dari persiapan organisasi menuju tahapan politik berikutnya.»(rel)
POLITIK
Yunus Takandewa: PDI Perjuangan Bekerja untuk Rakyat, Bukan Hanya Saat Pemilu
“Ranting, anak ranting, dan PAC adalah mata, telinga, sekaligus otot partai.”
MAUMERE, GardaFlores — Ketua DPD PDI Perjuangan Nusa Tenggara Timur, Yunus H. Takandewa, menegaskan partainya tidak bekerja hanya saat musim pemilu, tetapi menjalankan konsolidasi dan perjuangan politik secara berkelanjutan untuk kepentingan rakyat. Pernyataan itu disampaikan dalam Musyawarah Anak Cabang (Musancab) dan Pendidikan Politik Pengurus Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Sikka di Kantor DPC PDI Perjuangan Sikka, Rabu (29/4/2026).
Menurut Yunus, orientasi utama partai adalah pelayanan publik, bukan sekadar kontestasi elektoral lima tahunan. Karena itu, struktur partai diminta tetap aktif membangun komunikasi dengan masyarakat hingga tingkat paling bawah.
“Kita bukan partai yang ribut saat pemilu, tetapi jauh sebelum pemilu kita sudah berpikir bagaimana untuk rakyat,” kata Yunus.
Dalam forum tersebut, Yunus juga memperkenalkan simbol “pisang banteng” yang disebut sebagai lambang ketahanan kader. Bibit pisang dibagikan kepada pengurus PAC untuk ditanam di wilayah masing-masing sebagai simbol pertumbuhan, daya tahan, dan keberlanjutan organisasi.
Ia menjelaskan, penguatan struktur akar rumput menjadi faktor penting dalam menjaga soliditas partai. Menurut dia, kekuatan organisasi bertumpu pada pengurus di tingkat ranting, anak ranting, dan PAC yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Ranting, anak ranting, dan PAC adalah mata, telinga, sekaligus otot partai,” ujarnya.
PKB Umumkan Lima Kandidat Ketua DPC Ngada, Seleksi Lanjut ke Tahap UKK
Forum konsolidasi itu turut dihadiri Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Keanggotaan dan Organisasi, Andreas Hugo Pareira, bersama jajaran pengurus DPD dan DPC. Kehadiran pengurus pusat menandai penguatan koordinasi organisasi dari tingkat nasional hingga daerah.
Pada kesempatan yang sama, Andreas menegaskan bahwa politik harus dijalankan sebagai sarana pelayanan kepada masyarakat.
“Partai hadir untuk mengurus rakyat. Kekuasaan yang diperoleh harus digunakan demi kepentingan rakyat,” kata Andreas.
Ia menambahkan, menjadi politisi merupakan bentuk pengabdian yang menuntut tanggung jawab moral, bukan sekadar mengejar jabatan atau kekuasaan.
Musancab dan pendidikan politik tersebut menjadi bagian dari penataan organisasi PDI Perjuangan di Kabupaten Sikka menjelang agenda politik berikutnya, sekaligus memperkuat kapasitas kader di tingkat kecamatan dan desa.
Hingga akhir pertemuan, para pengurus PAC mengikuti arahan organisasi dan menerima penugasan memperkuat konsolidasi di wilayah masing-masing.»(rel)
POLITIK
PWMOI Ngada Protes Ucapan “Pers Perut Kosong”, Minta DPRD Nagekeo Evaluasi Anggota
“Pernyataan seperti itu berpotensi menjadi intimidasi terhadap kemerdekaan pers dan mencederai prinsip demokrasi.”
BAJAWA, GardaFlores — Persatuan Wartawan Media Online Indonesia (PWMOI) Kabupaten Ngada mengecam pernyataan anggota DPRD Kabupaten Nagekeo, Odorikus Goa Owa, yang menyebut istilah “pers perut kosong” dalam rapat internal DPRD pada Senin (27/4/2026). Organisasi wartawan itu menilai ucapan tersebut tidak etis dan berpotensi merendahkan profesi pers.
Sikap resmi itu disampaikan Ketua PWMOI Ngada, Aurelius Do’o, di Bajawa, Rabu (29/4/2026), menyusul beredarnya rekaman suara yang memicu polemik di kalangan wartawan dan ruang publik.
“Pers adalah bagian integral dari rakyat. Pernyataan itu sama saja mengolok kondisi ekonomi rakyatnya sendiri,” ujar Aurelius.
Selain menyoal istilah tersebut, PWMOI Ngada juga mengkritisi pernyataan Odorikus yang disebut mengusulkan pelaporan wartawan ke kepolisian terkait pemberitaan mengenai studi tour DPRD Nagekeo ke Kabupaten Sikka.
Menurut Aurelius, sengketa pemberitaan seharusnya diselesaikan melalui mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, termasuk hak jawab, hak koreksi, dan jalur Dewan Pers.
“Pernyataan seperti itu berpotensi menjadi intimidasi terhadap kemerdekaan pers dan mencederai prinsip demokrasi,” katanya.
Berdasarkan rekaman suara yang beredar di kalangan wartawan Nagekeo pada Selasa (28/4/2026), Odorikus terdengar menyampaikan keberatan terhadap pemberitaan media.
Bupati Yosef Mulai Benahi Wajah Kota Ende, Kawasan Kumuh Ditertibkan, Warga Rasakan Perubahan
“Kepada pimpinan, yang konfirmasi hanya satu wartawan. Ada wartawan lain yang membuat berita dengan judul sangat berlebihan, bila perlu kita lapor saja ke polisi,” ujar suara yang disebut sebagai Odorikus dalam rekaman tersebut.
Ucapan itu kemudian memicu reaksi dari sejumlah kalangan yang menilai pernyataan tersebut tidak pantas disampaikan oleh pejabat publik.
PWMOI Ngada mendesak DPRD Nagekeo dan partai politik yang menaungi Odorikus untuk melakukan evaluasi internal serta mengambil langkah etik demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga legislatif.
Organisasi tersebut menilai pejabat publik seharusnya menjaga komunikasi yang menghormati kebebasan pers dan keterbukaan informasi.
Saat dikonfirmasi, Odorikus menyatakan dirinya tidak pernah diwawancarai wartawan terkait pemberitaan tersebut dan meminta agar klarifikasi diarahkan kepada pimpinan DPRD.
“Saya tidak pernah diwawancara oleh mereka. Nanti konfirmasi langsung dengan pimpinan,” ujarnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pimpinan DPRD Nagekeo terkait polemik tersebut maupun langkah lanjutan atas kontroversi yang berkembang.»(gus)
-
HUMANIORA10 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA9 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA8 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM9 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI10 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
-
HUMANIORA1 year agoPemkab Sikka Ancam Cabut Izin Pangkalan Minyak Tanah yang Langgar Aturan
