EKONOMI
Retak di Ruas Ndona–Sokoria, PPK Tegaskan Proyek Sesuai Spesifikasi dan Masih Dalam Tanggung Jawab Pemeliharaan
Dion Lengo: “Sekarang mobilitas jauh lebih lancar. Ini jalur alternatif penting dari Wolowaru dan Roa ke Ende.”
MAUMERE, GardaFlores — Keretakan yang muncul di sejumlah titik pada ruas jalan Ndona–Sokoria (PLTP) di Kabupaten Ende memicu perhatian publik, namun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jarot Nugroho menegaskan bahwa pekerjaan proyek tersebut tetap dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan masih berada dalam masa pemeliharaan.
Jarot menyatakan, kerusakan terbatas yang ditemukan tidak mencerminkan kegagalan konstruksi secara keseluruhan, melainkan dipengaruhi faktor eksternal seperti curah hujan tinggi, kondisi tanah labil, serta tekanan lalu lintas kendaraan.
“Secara umum pekerjaan sudah sesuai perencanaan dan memberikan manfaat nyata. Keretakan hanya terjadi di tiga sampai empat titik dari total panjang 2,94 kilometer,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (30/3/2026).
Ia menekankan, proyek tersebut masih dalam periode pemeliharaan selama tiga tahun, sehingga seluruh perbaikan tetap menjadi tanggung jawab penyedia jasa.

Ruas jalan Ndona–Sokoria (PLTP) di Kabupaten Ende yang dikerjakan oleh PT Bina Citra Teknik Cahaya. FOTO: IST
Langkah penanganan awal, lanjut dia, telah dilakukan melalui penutupan retakan guna mencegah masuknya air, sementara perbaikan permanen akan dilaksanakan pada musim kemarau untuk menjamin kualitas hasil.
Kerusakan Dini Jalan Ndona–Sokoria Picu Desakan Audit, DPRD Singgung Cacat Mutu
Jarot juga membantah isu yang menyebut pekerjaan tidak sesuai spesifikasi, termasuk dugaan pengaspalan di atas rabat beton.
“Pekerjaan dilakukan di atas tanah sesuai desain teknis, termasuk pelebaran badan jalan pada titik-titik sempit,” ujarnya.
Menurut dia, pembangunan ruas Ndona–Sokoria merupakan bagian dari intervensi Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk memperkuat konektivitas wilayah serta mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Ende.
Di sisi lain, masyarakat setempat menilai keberadaan jalan tersebut telah meningkatkan aksesibilitas secara signifikan, terutama pada jalur alternatif penghubung wilayah selatan menuju Kota Ende.
Warga Desa Pu’utuga, Dion Lengo, mengatakan kondisi jalan sebelumnya belum pernah beraspal sejak dibangun dan cenderung memburuk saat musim hujan.
“Sekarang mobilitas jauh lebih lancar. Ini jalur alternatif penting dari Wolowaru dan Roa ke Ende,” katanya, Selasa (31/3/2026).
Bupati Ende Jadikan PSN Tolok Ukur Kinerja, Rotasi Eselon II Ditekan Berbasis Hasil
Ia menambahkan, pengaspalan jalan tersebut telah lama diusulkan melalui musyawarah perencanaan pembangunan, namun baru terealisasi melalui dukungan pemerintah provinsi.

Dion Lengo, warga Desa Pu’utuga (atas kanan), dan Maria Kristina Munde, warga Desa Kurulimbu (bawah kanan), mengaku senang dan berterimakasih kepada Pemerintah Provinsi karena telah membangun jalan ini menuju desa mereka. FOTO: IST
Hal serupa disampaikan warga Desa Kurulimbu, Maria Kristina Munde, yang menyebut akses transportasi kini lebih terbuka meski masih menghadapi tantangan cuaca.
Ia mengungkapkan bahwa selama puluhan tahun ruas jalan Ndona–Aekipa–Saga–Sokoria–Kurulimbu sulit dilalui. Kini, setelah diaspal, akses transportasi menjadi lebih lancar meskipun saat hujan. “Kami berterima kasih kepada Bapak Gubernur. Kami berharap semua pengguna bisa menjaga jalan ini,” katanya.
Proyek penanganan long segment ruas jalan Ndona–Sokoria (PLTP) dikerjakan oleh PT Bina Citra Teknik Cahaya dengan nilai kontrak Rp6,845 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun Anggaran 2025.
Pekerjaan mencakup pengaspalan hotmix (AC-WC) sepanjang 2,94 kilometer, pembangunan drainase, serta pengecoran bahu jalan dengan rabat beton pada sisi kiri dan kanan ruas.»(rel)
EKONOMI
KNMP Lowolabo Dibangun dengan Anggaran Rp4,72 Miliar, Masa Kerja 120 Hari
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago meletakkan batu pertama pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Lowolabo, Kecamatan Paga. Proyek senilai Rp4,72 miliar itu memiliki masa pengerjaan 120 hari.
MAUMERE, GardaFlores — Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Lowolabo, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, dimulai melalui peletakan batu pertama oleh Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, Rabu (14/10/2026). Proyek senilai Rp4,72 miliar itu dikerjakan PT Arum Daya Sentausa dengan masa pengerjaan 120 hari.
Pembangunan tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendukung kegiatan perikanan melalui penyediaan infrastruktur di kawasan pesisir.
Juventus mengatakan Lowolabo merupakan satu dari delapan desa di Kabupaten Sikka yang ditetapkan sebagai lokasi pembangunan KNMP. Penetapan lokasi, menurut dia, didasarkan pada hasil penilaian yang mempertimbangkan ketersediaan data dan potensi sektor perikanan.
Ketersediaan lahan menjadi salah satu kendala pembangunan KNMP di Kabupaten Sikka. Juventus menyebut lokasi di Lowolabo tersedia dan berdekatan dengan Koperasi Merah Putih, yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program.
Bupati meminta pelaksana melibatkan masyarakat setempat, termasuk dalam penyediaan material, serta menjaga kualitas pekerjaan.
“Semua pihak harus terlibat untuk mendukung pelaksanaannya sehingga pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih ini lancar dan berjalan baik,” kata Juventus.
Nilai kontrak pembangunan KNMP Lowolabo tercatat sebesar Rp4.723.090.147,59 dengan masa pengerjaan 120 hari. Fasilitas yang dibangun diharapkan mendukung aktivitas perikanan dan penanganan hasil tangkapan, meski rincian jenis fasilitas dalam proyek Lowolabo belum dijelaskan dalam keterangan yang tersedia.
Peletakan batu pertama turut dihadiri Camat Paga, Penjabat Kepala Desa Lowolabo, perwakilan perangkat daerah, wakil sah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan KNMP Kabupaten Sikka, konsultan pengawas, dan tokoh masyarakat.»(rel)
EKONOMI
Sejumlah Titik KNMP di Sikka Terkendala Kawasan TWA
Sejumlah titik pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sikka perlu ditinjau ulang karena berada dalam kawasan Taman Wisata Alam. Sementara itu, proyek KNMP di Nangahure mulai dibangun dengan anggaran Rp3,21 miliar.
MAUMERE, GardaFlores — Sejumlah titik pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi persoalan lokasi karena berada dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA). Pemerintah Kabupaten Sikka sedang mengupayakan peninjauan ulang setelah menerima surat dari Kementerian Kehutanan.
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menyampaikan persoalan itu saat peletakan batu pertama pembangunan KNMP di Nangahure, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Selasa (13/10/2026).
“Kita punya delapan titik ini, tetapi ada beberapa titik yang jadi masalah karena masih masuk dalam kawasan TWA. Ada surat dari Kementerian Kehutanan untuk kemudian ditinjau ulang titiknya. Ini yang sedang kita upayakan,” kata Juventus.
Proyek KNMP Wuring Rp3,2 Miliar Terlambat, Tahap Ini Fokus Fondasi
Ia belum merinci jumlah titik yang terdampak, lokasi masing-masing titik, maupun keputusan yang akan diambil setelah peninjauan. Belum ada penjelasan apakah lokasi tersebut akan tetap dipertahankan atau dialihkan.
Sementara persoalan lokasi itu masih ditangani, pembangunan KNMP di Nangahure telah dimulai. Proyek tersebut dikerjakan PT Arum Daya Sentausa dengan nilai anggaran Rp3.214.500.000 dan ditargetkan rampung pada akhir Desember 2026.
Menurut Juventus, pembangunan KNMP diarahkan untuk mendukung usaha nelayan melalui penyediaan fasilitas perikanan, antara lain tambatan perahu, pabrik es, penerangan, serta sarana penanganan dan pemasaran ikan. Pemerintah juga menyiapkan dukungan off-taker, yakni pihak yang menyerap hasil produksi nelayan.
Juventus mengatakan proses menuju pembangunan di Nangahure sempat menghadapi sejumlah kendala dan dinamika di tengah masyarakat. Ia menyebut komunikasi dengan masyarakat setempat turut dibantu oleh sejumlah pihak, termasuk Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh rincian resmi mengenai titik-titik KNMP yang harus ditinjau ulang akibat persoalan kawasan TWA maupun jadwal penyelesaian peninjauan tersebut. Kepastian itu diperlukan untuk mengetahui kelanjutan pembangunan pada titik-titik yang terdampak.»(rel)
EKONOMI
Proyek KNMP Wuring Rp3,2 Miliar Terlambat, Tahap Ini Fokus Fondasi
Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Nangahure, Wuring, senilai Rp3,21 miliar mengalami keterlambatan. Pekerjaan tahap ini berfokus pada fondasi, sedangkan bangunan fasilitas akan dilanjutkan oleh direktorat terkait di KKP.
MAUMERE, GardaFlores — Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Nangahure, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, mengalami keterlambatan dari jadwal kontrak awal. Proyek senilai Rp3.214.500.000 yang dikerjakan PT Arum Daya Sentausa itu ditargetkan rampung pada Desember 2026, tetapi pekerjaan pada tahap ini masih berfokus pada fondasi.
Peletakan batu pertama proyek tersebut dilakukan pada Selasa (13/10/2026). Wakil Sah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan KNMP Kabupaten Sikka, Amrita Wahyu, mengatakan kontraktor telah menyatakan kesanggupan untuk mempercepat pekerjaan.
Meski demikian, Amrita tidak merinci tingkat keterlambatan maupun progres fisik pekerjaan saat peletakan batu pertama.
Menurut dia, pekerjaan pada tahap ini mencakup pembangunan fondasi. Pembangunan bangunan fasilitas akan dilanjutkan oleh Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pembagian tahapan tersebut membuat penyelesaian fondasi dan kelanjutan pembangunan fasilitas menjadi dua hal yang perlu dipantau untuk memastikan sarana KNMP dapat digunakan oleh nelayan.
Di Nangahure, fasilitas yang direncanakan meliputi tambatan perahu, shelter pendaratan ikan, pabrik es portabel, kios perbekalan, sarana air bersih dan sumur bor, penerangan jalan kawasan, jalan lingkungan, serta saluran drainase.
Bupati Sikka: Jangan Sukses Habiskan Anggaran, tetapi Gagal Hadirkan Perubahan
Amrita mengatakan pembangunan KNMP merupakan program KKP untuk mendukung kegiatan produksi perikanan melalui penyediaan infrastruktur bagi nelayan. Kabupaten Sikka pada 2026 mendapat alokasi pembangunan di delapan lokasi.
Ia meminta kontraktor mempercepat pekerjaan dengan tetap menjaga mutu konstruksi dan transparansi pelaksanaan. Namun, jadwal rinci penyelesaian fondasi dan dimulainya pembangunan fasilitas lanjutan belum disampaikan.
Dengan target penyelesaian pada akhir Desember 2026, progres proyek di Nangahure menjadi perhatian, terutama karena pekerjaan tahap ini belum mencakup seluruh fasilitas yang direncanakan untuk mendukung kegiatan nelayan di Wuring.»(rel)
-
NASIONAL12 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Dugaan Cacat Teknis Jalan Ndona–Sokoria Menguat, PMKRI Desak Kejati NTT Usut dari Perencanaan hingga Pelaksanaan - Garda Flores %