Connect with us

GARDAPLUS

Chromebook Masuk, Etika Harus Ikut

Published

on

 
Oleh Rini Kartini
Pengajar Komunikasi Digital, Universitas Nusa Nipa Maumere
dan Trainer Keamanan Digital SAFENet

 

Baru-baru Pemerintah Kabupaten Sikka bekerja sama dengan Google for Indonesia menyelenggarakan Bimtek Pengembangan Pemanfaatan Chromebook untuk  Memperkuat Pembelajaran Berbasis Digital (Gardaflores, 03/06/2025). Ini merupakan langkah penting dalam upaya digitalisasi pendidikan di Kabupaten Sikka. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah terhadap transformasi pembelajaran berbasis digital. Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, dalam sambutannya mengingatkan bahwa digitalisasi bukan hanya soal perangkat keras atau koneksi internet, melainkan harus menciptakan pembelajaran yang bermakna dan memberdayakan.

Saya sepakat. Kita tidak bisa memungkiri pentingnya teknologi. Namun teknologi bukanlah inti dari pendidikan. Kita harus berhati-hati agar jangan sampai euphoria digital justru menutup mata pada kesenjangan yang nyata di lapangan.

Sebagai seorang dosen yang pernah terlibat dalam progam Kampus Mengajar 2022, saya mendapati bagaimana jurang digital masih begitu lebar, bahkan di dalam satu kabupaten. Di SMPN 3 Waigete – sekolah dimana mahasiswa bimbingan saya ditempatkan kala itu, guru dan siswa masih menghadapi tantangan keterbatasan perangkat belajar dan juga infrastruktur dasar yang masih sangat minim. Koneksi internet bahkan belum menjangkau daerah ini. Sehingga untuk melaksanakan ujian nasional, siswa harus “diungsikan” oleh kepala sekolah ke rumahnya, karena disinilah area terdekat dari sekolah yang terjangkau sinyal. Itupun, saya harus menerabas sekitar 10 sungai tanpa jembatan untuk sampai ke rumah kepala sekolah.

SMPN 3 Waigete hanyalah satu contoh dari sekian banyak sekolah di NTT yang menggambarkan kompleksitas tantangan pendidikan di wilayah ini.  Dari laman ombudsman.go.id  (2024) diketahui bahwa Nusa Tenggara Timur masih bergulat dengan persoalan mutu pelayanan pendidikan, akses yang terbatas dan tata kelola pendidikan yang belum optimal. Dalam konteks ini, digitalisasi pendidikan memang menjadi langkah awal yang menjanjikan untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan berbasis teknologi. Namun realita di lapangan menunjukkan bahwa kesenjangan digital masih sangat nyata, baik dari sisi infrastruktur, kompetensi, maupun ketersediaan sumber daya. Tanpa strategi jangka panjang yang komprehensif dan keberlanjutan pendampingan, pelatihan tiga hari saja tidak cukup untuk menjembatani jurang yang begitu dalam.

Digitalisasi Tak Cukup dengan Perangkat

Transformasi pendidikan digital harus dimaknai secara lebih menyeluruh. Chromebook, akun belajar.id atau Google Workspace for Education adalah alat bantu. Tapi pembelajaran sejati adalah tentang bagaimana guru dan siswa menggunakan teknologi dengan sadar, aman, dan bertanggungjawab. Tanpa itu, digiltasasi hanya akan menjadi proyek berbasis perangkat, bukan gerakan perubahan cara berpikir dan berperilaku.

Lebih dari itu, pendidikan bukan sekedar soal mengakses informasi, tetapi membangun relasi dan membentuk karakter. Mesin tak akan pernah bisa menggantikan kehadiran guru. Teknologi harus digunakan sebagai mitra – membantu guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, interaktif dan kreatif. Tapi proses mendidik seperti membimbing siswa memahami nilai, mengasah empati, dan menemukan jati dirinya, tetap menjadi ruang kerja manusia, ruang pengabdian guru.

Literasi Digital Harus Etis, Aman dan Kritis

Saya menyambut baik pelatihan seperti Bimtek Chromebook. Namun dari pengalaman mendampingi guru, mahasiswa, warga desa hingga para jurnalis di Kabupaten Sikka dan juga masyarakat sipil di NTT, saya melihat bahwa pendekatan yang terlalu teknis sering kali melupakan hal yang mendasar: literasi digital yang berlandaskan etika, keamanan, dan kebijaksanaan. Guru-guru bisa diajari cara menggunakan Google Drive atau Google Form, tapi bagaimana dengan kemampuan membimbing siswa menghadapi cyberbullying, ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), hoax atau pencurian data?

Ruang digital bukan sekedar ruang tanpa batas, ia juga ruang tanpa sensor alami. Tanpa pendampingan yang kuat, anak-anak bisa tersesat dalam banjir informasi. Di sinilah peran guru semakin krusial. Sayangnya, kurikulum literasi digital yang kita miliki saat ini masih belum menekankan dimensi etika dan keamanan digital sebagai bagian inti dari transformasi pendidikan. 

Saya pernah menulis tentang bagaimana gaduhnya ruang digital kita hari ini lahir dari minimnya kesadaran etis. Komentar kasar, penyebaran disinformasi, budaya saling menjatuhkan di media sosial, semuanya tumbuh dari absennya pendidikan digital yang berbasis nilai. Apakah kita ingin membawa kegaduhan itu ke ruang-ruang kelas kita?

Butuh Ekosistem, Bukan Euforia

Bupati Sikka menyebut bahwa digitalisasi harus menciptakan pembelajaran yang bermakna dan berdaya saing. Tapi hal itu hanya bisa dicapai jika ekosistem pendukung juga dibangun. Bimtek semacam ini perlu dilanjutkan dengan pendampingan berkelanjutan, forum diskusi antarguru, serta kebijakan yang adaptif terhadap realitas di lapangan.

Saya membayangkan setiap sekolah memiliki duta literasi digital, guru yang tidak hanya melek teknologi, tapi juga peka terhadap tantangan sosial dan budaya digital. Saya juga membayangkan keterlibatan kampus, komunitas literasi, dan organisasi masyarakat sipil dalam mengisi celah-celah yang belum tersentuh pelatihan formal.

Sekolah Digital yang Manusiawi

Chromebook memang membuka pintu, tapi tidak menjamin isinya. Kita bisa membangun ruang kelas yang sejuk ber-AC dengan koneksi internet super cepat, menyediakan perangkat canggih di setiap meja, dan melengkapi sekolah dengan aplikasi pembelajaran terbaru. Namun tanpa kehadiran guru yang memahami nilai-nilai dasar literasi digital – dari etika, keamanan, hingga tanggung jawab dalam bermedia – semua itu hanya akan menjadi lapisan kemewahan tanpa makna. Sekolah digital pun rentan terjebak menjadi proyek pencitraan belaka, alih-alih menjadi ruang yang sungguh-sungguh membentuk karakter dan kemampuan abad ke-21.

Kita butuh transformasi pendidikan digital yang lebih dari sekedar proyek perangkat keras. Kita butuh transformasi yang mendidik, membentuk, dan memanusiakan. Karena pada akhirnya, yang membentuk masa depan bukan teknologi itu sendiri, tetapi manusia yang menggunakannya.»

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

OPINI

Flores Tidak Kekurangan Budaya, Kita Kekurangan Cara Menceritakannya

Sehingga dunia merasa itu juga bagian dari ceritanya.

Published

on

Flores Tidak Kekurangan Budaya, Kita Kekurangan Cara Menceritakannya. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh: Fransisco Soarez Pati

Di berbagai belahan dunia, orang menari samba tanpa harus memahami bahasa Portugis. Di Tokyo, Paris, hingga New York, irama Brasil terdengar akrab di telinga orang-orang yang bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Rio de Janeiro. Mereka mungkin tidak mengenal sejarah Brasil secara utuh, tetapi mereka mengenal budayanya. Musik, tarian, film, dan cerita telah menjadikan Brasil hadir dalam imajinasi dunia.

Di situlah saya mulai bertanya. Mengapa Flores, yang memiliki kekayaan budaya tidak kalah luar biasa, belum mampu hadir dalam percakapan global dengan cara yang sama?

Jawabannya, menurut saya, bukan karena Flores miskin budaya.

Sebaliknya. Flores tidak kekurangan budaya. Kita kekurangan cara menceritakannya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun di sanalah letak tantangan terbesar kita.

Selama puluhan tahun, masyarakat Flores bekerja keras menjaga warisan leluhur. Rumah-rumah adat tetap berdiri. Tenun terus ditenun. Bahasa daerah diwariskan. Tarian tradisional tetap dipentaskan. Ritual adat dijalankan dengan penuh penghormatan. Berbagai festival budaya diselenggarakan hampir setiap tahun.

Semua itu adalah pekerjaan yang sangat mulia. Namun, melestarikan budaya tidak otomatis berarti berhasil mengomunikasikan budaya.

Budaya yang hanya dipentaskan untuk diri sendiri akan tetap menjadi kebanggaan lokal. Ia baru menjadi kekuatan ketika mampu berbicara kepada orang-orang yang lahir di luar kebudayaan itu.

Maumere dan Krisis Budaya Menulis: Ketika Banyak Orang Pandai Berbicara, Sedikit yang Mau Menulis

Kita sebenarnya tidak kekurangan contoh. Wae Rebo telah beberapa kali menjadi perhatian dunia sebagai kampung adat yang mempertahankan arsitektur tradisionalnya. Lamalera dikenal luas oleh antropolog, pembuat film dokumenter, hingga media internasional karena tradisi berburu paus yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Kampung Bena menjadi salah satu ikon budaya Ngada yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Festival Golo Koe mulai memperlihatkan bagaimana iman, budaya, dan pariwisata dapat dipertemukan dalam satu ruang perayaan. Festival Natar Sikka terus menghidupkan kembali warisan budaya masyarakat pesisir yang kaya akan sejarah dan nilai-nilai persaudaraan.

Semua itu menunjukkan bahwa Flores tidak pernah kekurangan panggung. Yang masih kurang adalah benang merah yang menghubungkan semua kisah itu menjadi satu narasi besar tentang Flores.

Selama ini kita sering merasa puas ketika sebuah festival berhasil diselenggarakan dengan meriah. Ribuan orang datang. Tarian dipentaskan. Musik dimainkan. Stan pameran dipenuhi pengunjung. Setelah lampu panggung dipadamkan, acara selesai, lalu kita mulai menghitung hari menuju festival berikutnya. Padahal, dalam dunia yang semakin digital, festival bukanlah garis akhir.

Festival justru garis start. Pertanyaan yang lebih penting bukan lagi berapa banyak orang yang hadir pada hari itu, melainkan berapa banyak cerita yang tetap hidup setelah festival usai.

Dunia hari ini tidak mengenal sebuah tempat hanya melalui brosur wisata atau kalender kegiatan. Dunia mengenalnya melalui film, dokumenter, musik, buku, YouTube, Instagram, TikTok, podcast, dan berbagai ruang digital lainnya. Di sanalah identitas budaya dipertemukan dengan jutaan orang yang mungkin tidak pernah datang secara langsung, tetapi dapat jatuh cinta melalui sebuah cerita.

Sayangnya, kita masih terlalu sering berhenti pada dokumentasi, sementara dunia membutuhkan narasi.

Kita sibuk menghitung jumlah festival. Padahal dunia sedang mencari cerita. Kita bangga memiliki puluhan bahasa daerah. Padahal dunia ingin mengetahui cara pandang terhadap kehidupan yang tersembunyi di balik bahasa-bahasa itu.

Kita mempromosikan destinasi wisata. Padahal yang membuat seseorang kembali bukan hanya pemandangan yang indah, melainkan kisah yang terus ia bawa pulang.

Di sinilah komunikasi budaya menjadi sama pentingnya dengan pelestarian budaya.

Flores: Kedalaman yang Membentuk Peradaban—Dari Kelimutu hingga Pancasila

Kita memerlukan generasi baru yang bukan hanya menjadi pelestari tradisi, tetapi juga penulis, fotografer, pembuat film, musisi, ilustrator, penerjemah, kurator, kreator digital, dan diplomat budaya. Mereka bukan mengubah budaya agar menjadi modern, melainkan mengubah cara kita menceritakan budaya agar dapat dipahami dunia tanpa kehilangan jati dirinya.

Menceritakan budaya bukan berarti menyederhanakan makna. Sebaliknya, ia adalah upaya menerjemahkan nilai-nilai lokal ke dalam bahasa yang dapat dipahami oleh siapa pun.

Ketika dunia memahami mengapa masyarakat Lamalera mempertahankan tradisinya, ketika wisatawan mengetahui filosofi di balik rumah adat Wae Rebo, ketika orang luar mengerti bahwa Ja’i bukan sekadar tarian, melainkan simbol kebersamaan, atau ketika tenun Flores dipahami sebagai kisah yang ditulis dengan benang, saat itulah budaya kita mulai berbicara melampaui batas geografis.

Budaya tidak pernah menjadi kekuatan hanya karena usianya yang tua. Ia menjadi kekuatan karena terus diceritakan.

Itulah sebabnya investasi terbesar pada kebudayaan hari ini bukan hanya membangun panggung festival, melainkan juga membangun ekosistem pencerita. Sebab tanpa pencerita, budaya hanya akan menjadi arsip. Dengan pencerita, budaya dapat menjadi inspirasi, diplomasi, bahkan kekuatan ekonomi yang menghidupi masyarakatnya.

Pada akhirnya, dunia tidak akan mencintai Flores hanya karena kita mengatakan bahwa budaya kita indah.

Dunia akan mencintainya ketika mereka merasa ikut memiliki cerita itu. Dan pekerjaan generasi kita bukan lagi sekadar memastikan budaya Flores tetap bertahan.

Pekerjaan kita adalah memastikan budaya Flores terus diceritakan—dengan jujur, dengan bangga, dan dengan cara yang membuat dunia merasa bahwa kisah-kisah dari Flores juga berbicara tentang mereka.

Sebab Flores tidak kekurangan budaya. Yang belum kita miliki adalah cara menceritakan budaya Flores sehingga dunia merasa itu juga bagian dari ceritanya.»

Continue Reading

OPINI

Melindungi Anak, Bahkan Sebelum Ia Dilahirkan

Published

on

Melindungi Anak, Bahkan Sebelum Ia Dilahirkan. ILUSTRASI: GARDAFLORES/DON NAVARO BARAN

Oleh: dr. Roy Boris

Setiap pasangan yang mengikuti kursus pra nikah biasanya disibukkan oleh banyak hal. Tanggal pernikahan mulai dihitung mundur, undangan dicetak, gedung dipesan, dekorasi dipilih, bahkan nama calon anak terkadang sudah menjadi bahan percakapan. Semua dipersiapkan dengan penuh harapan.

Namun, di tengah semua kesibukan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput.

Sudahkah calon ayah dan ibu benar-benar mengenal kondisi kesehatannya sendiri?

Pertanyaan ini mungkin tidak sepopuler memilih warna pelaminan atau konsep resepsi. Padahal, jawabannya bisa menentukan kesehatan seorang anak yang bahkan belum dilahirkan.

Salah satu penyakit yang patut menjadi perhatian adalah hepatitis B.

Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer. Bukan karena ia menyerang secara tiba-tiba, melainkan karena mampu hidup bertahun-tahun di dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan gejala yang berarti. Ketika akhirnya diketahui, kerusakan hati sering kali telah berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 254 juta orang hidup dengan hepatitis B kronis. Pada tahun 2024 saja diperkirakan terjadi sekitar 900.000 infeksi baru di seluruh dunia. Di Indonesia, prevalensi hepatitis B kronis masih berada pada kisaran 2,3 persen penduduk. Artinya, jutaan orang hidup dengan infeksi yang sebagian besar belum mereka sadari.

Persoalan terbesar hepatitis B bukan semata-mata banyaknya penderita, melainkan kenyataan bahwa sebagian besar orang tidak mengetahui dirinya telah terinfeksi. Mereka baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut, saat pilihan terapi menjadi semakin terbatas.

Yang lebih memprihatinkan, penularan hepatitis B di Indonesia masih banyak terjadi dari ibu kepada bayi saat proses persalinan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tanpa upaya pencegahan yang memadai, risiko penularan dapat mencapai 70 hingga 90 persen. Dengan kata lain, seorang bayi dapat memulai hidupnya dengan penyakit kronis yang sebenarnya dapat dicegah.

Pemerintah melalui Program Triple Eliminasi telah melakukan langkah penting dengan menyelenggarakan skrining hepatitis B pada ibu hamil. Program ini patut diapresiasi karena mampu membuka peluang pencegahan penularan kepada bayi.

Namun, jika tujuan akhirnya adalah memutus mata rantai penularan, saya meyakini ada satu langkah yang dapat dilakukan lebih awal.

Mengapa kita menunggu seorang perempuan hamil untuk mengetahui status hepatitis B-nya, jika kesempatan mengenalinya sudah ada jauh sebelum kehamilan terjadi?

Pertanyaan inilah yang membawa saya pada satu gagasan sederhana.

Kursus pra nikah.

Selama ini, kursus pra nikah lebih banyak dipandang sebagai bagian dari persiapan kehidupan rumah tangga, kesehatan reproduksi, atau pemenuhan administrasi perkawinan. Semua itu tentu penting.

Tetapi forum tersebut sesungguhnya juga merupakan momentum yang sangat baik untuk memperkenalkan deteksi dini hepatitis B kepada calon pasangan suami istri.

Sebelum membangun keluarga, mereka memiliki kesempatan mengenal kondisi kesehatannya sendiri. Dengan demikian, mereka dapat merencanakan kehamilan secara lebih aman dan lebih bertanggung jawab.

Salah satu pendekatan yang layak dipertimbangkan adalah menawarkan donor darah sukarela sebagai bagian dari edukasi kesehatan dalam kursus pra nikah.

Perlu ditegaskan bahwa donor darah bukan merupakan alat diagnosis hepatitis B, apalagi pemeriksaan yang wajib dilakukan. Donor darah tetap harus bersifat sukarela dan mengikuti seluruh prinsip etik pelayanan transfusi darah.

Namun, setiap darah yang didonorkan memang akan menjalani skrining terhadap berbagai infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi, termasuk hepatitis B. Apabila hasil skrining menunjukkan temuan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan, pendonor dapat segera dirujuk untuk menjalani pemeriksaan konfirmasi dan memperoleh penanganan yang sesuai.

Dengan demikian, donor darah menghadirkan dua manfaat sekaligus: menyelamatkan kehidupan orang lain melalui ketersediaan darah, dan pada saat yang sama, dapat menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk lebih mengenal kondisi kesehatannya.

Mengapa Pendonor Darah Layak Masuk Daftar Menantu Idaman?

Manfaat berikutnya bahkan lebih luas.

Bagi pasangan yang merencanakan kehamilan, deteksi dini memungkinkan pemberian vaksinasi kepada pasangan yang belum terinfeksi, pemantauan kehamilan yang lebih baik, hingga terapi antivirus apabila memang diperlukan. Berbagai langkah tersebut telah terbukti mampu menurunkan risiko penularan hepatitis B dari ibu kepada bayi secara bermakna.

Di sisi lain, daerah juga memperoleh manfaat berupa meningkatnya ketersediaan stok darah.

Kabupaten Sikka, misalnya, masih membutuhkan ribuan kantong darah setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. Tidak jarang pasien dan keluarganya harus menunggu karena jumlah pendonor sukarela belum mencukupi.

Bayangkan apabila sebagian pasangan yang mengikuti kursus pra nikah dan memenuhi syarat kesehatan memilih menjadi pendonor sukarela.

Mungkin jumlahnya tidak langsung besar. Namun, setiap kantong darah selalu berarti bagi seseorang yang sedang berjuang mempertahankan hidup.

Yang terpenting, seluruh gagasan ini tidak dimaksudkan untuk menambah beban administrasi bagi calon pengantin.

Sebaliknya, pendekatan ini menawarkan cara yang lebih humanis. Calon pasangan tidak dipaksa. Mereka diajak memahami.

Mereka diberi kesempatan mengambil keputusan secara sadar demi kesehatan keluarganya sendiri.

Peringatan Hari Hepatitis Sedunia tahun ini mengangkat tema “Hepatitis: Let’s Break It Down!”, sebuah ajakan untuk menghilangkan berbagai hambatan dalam pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan hepatitis.

Menurut saya, salah satu hambatan terbesar justru adalah cara kita memandang pencegahan itu sendiri.

Selama ini kita cenderung mulai bertindak ketika kehamilan telah terjadi. Padahal, perlindungan terbaik sering kali dimulai jauh sebelum seorang bayi hadir di dunia.

Kita sering mengatakan bahwa anak adalah anugerah. Kalau demikian, bukankah anugerah itu layak kita lindungi bahkan sebelum ia dilahirkan?

Mengintegrasikan edukasi hepatitis B dengan tawaran donor darah sukarela dalam kursus pra nikah tentu bukan satu-satunya solusi. Namun, gagasan ini layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pencegahan yang lebih komprehensif.

Sebab pada akhirnya, memutus mata rantai hepatitis B tidak hanya dimulai di ruang bersalin.

Ia dimulai ketika dua orang memutuskan saling menjaga, bahkan sebelum mereka menjadi ayah dan ibu.»

Continue Reading

OPINI

Diaspora Ngada–Maumere: Ketika Sepak Bola Menjadi Cara Lain Pulang Kampung

Published

on

Diaspora Ngada–Maumere: Ketika Sepak Bola Menjadi Cara Lain Pulang Kampung. FOTO: DOK PRI

Oleh: Ando Roja Sola

Bagi sebagian orang, pulang kampung berarti kembali menjejakkan kaki di tanah kelahiran. Namun, bagi keluarga besar diaspora Ngada di Maumere, pulang kampung juga dapat terjadi di tribun stadion. Ketika bendera PSN Ngada berkibar, lagu Ja’i menggema, dan nama Bajawa disebut dengan bangga, jarak geografis seolah lenyap. Kerinduan menemukan rumahnya. Dalam momen seperti itulah, sepak bola tidak lagi sekadar pertandingan, melainkan ruang untuk merawat ingatan, identitas, dan kebudayaan.

Kedatangan PSN Ngada U-17 dan Citra Bakti Ngada U-17 pada ajang Soeratin Cup U-17 dan Pertiwi Cup 2026 di Kabupaten Sikka bukan hanya menjadi agenda olahraga. Peristiwa ini menjelma menjadi momentum kebudayaan yang membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat Ngada di perantauan. Kehadiran kedua tim menghadirkan kembali memori tentang tanah yang membesarkan mereka—tanah yang sejak lama dikenal memiliki denyut sepak bola yang begitu kuat.

Tidak berlebihan apabila banyak orang menyebut Ngada sebagai salah satu episentrum sepak bola di Nusa Tenggara Timur. Sebagaimana Brasil dikenal sebagai negeri yang melahirkan identitas sepak bola dunia, Ngada memiliki tradisi panjang dalam membangun karakter pemain melalui pembinaan, solidaritas, dan semangat komunitas. Di daerah ini, sepak bola tidak tumbuh hanya dari lapangan hijau, tetapi juga dari kampung-kampung, halaman sekolah, dan ruang-ruang kebersamaan yang membentuk watak para pemainnya.

Karena itu, sambutan hangat keluarga besar diaspora Ngada di Maumere terhadap PSN Ngada dan Citra Bakti Ngada tidak dapat dipahami sebagai euforia sesaat. Sambutan tersebut merupakan ekspresi kerinduan yang telah lama dipelihara. Mereka seolah berkata, “Kami lahir dari tanah yang merawat sepak bola. Kami mungkin tinggal jauh dari Bajawa, tetapi identitas itu tidak pernah meninggalkan kami.”

Di tengah kehidupan sebagai perantau, sepak bola menjadi ruang temu yang mempertemukan kembali bahasa, dialek, lagu, cerita, bahkan kenangan masa kecil. Di tribun stadion, orang-orang saling menyapa dengan logat Bajawa, menyanyikan lagu Ja’i, dan mengenang kampung halaman. Stadion berubah menjadi rumah kedua; tempat identitas dirayakan bersama.

Bagi orang Ngada, sepak bola memang tidak pernah sekadar permainan. Ia adalah budaya. Ia adalah cara masyarakat membangun solidaritas, menanamkan disiplin, menghargai kerja sama, dan menjaga harga diri. Tidak mengherankan jika setiap pertandingan lokal selalu dipenuhi masyarakat yang datang bukan hanya untuk mencari hiburan, melainkan untuk merawat rasa memiliki terhadap komunitasnya.

Coach Kletus Gabhe pernah mengatakan bahwa kekuatan terbesar PSN Ngada bukan semata-mata kualitas teknik pemainnya, melainkan kultur kebersamaan yang diwariskan masyarakat Bajawa. Pernyataan itu menjelaskan mengapa PSN Ngada selalu tampil dengan karakter yang khas. Dalam falsafah adat Ngada dikenal ungkapan su’u papa suru, sa’a papa laka—berat dipikul bersama, ringan dijinjing bersama. Nilai inilah yang menjadi roh permainan PSN Ngada: solidaritas yang melampaui kepentingan individu.

Budaya tersebut tampak pula dalam perjalanan PSN Ngada U-17. Tim ini bukan hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses pembinaan yang panjang. Gelar juara Soeratin Cup U-17 NTT tahun 2022, kemudian keberhasilan mempertahankan gelar pada tahun 2023, membuktikan bahwa prestasi bukanlah hasil keberuntungan. Prestasi tersebut merupakan buah dari sistem pembinaan, pendidikan karakter, dan konsistensi yang terus dijaga.

Kini, ketika PSN Ngada kembali hadir di Soeratin Cup U-17 tahun 2026 di Kabupaten Sikka, mereka membawa lebih dari sekadar ambisi meraih kemenangan. Mereka membawa nama baik daerah, harapan masyarakat, serta warisan budaya yang telah dibangun selama puluhan tahun. Setiap pertandingan bukan hanya tentang mencetak gol, melainkan juga tentang menunjukkan karakter, sportivitas, dan martabat orang Ngada.

Di sinilah makna terdalam sepak bola bagi diaspora Ngada. Mendukung PSN Ngada bukan sekadar memberi semangat kepada sebuah tim. Itu adalah cara merawat hubungan emosional dengan kampung halaman. Sorak-sorai di tribun menjadi bahasa kerinduan. Tepuk tangan menjadi ungkapan cinta kepada tanah kelahiran. Bahkan, sembilan puluh menit pertandingan mampu menghadirkan kembali rasa pulang yang selama ini hanya hidup dalam ingatan.

Di tengah arus modernisasi yang perlahan mengikis ikatan komunal, sepak bola justru menghadirkan ruang untuk mempertahankan identitas budaya. Ia mempertemukan generasi tua dengan generasi muda, memperkenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan, dan mengingatkan bahwa menjadi orang Ngada bukan sekadar soal tempat lahir, melainkan juga soal nilai yang terus diwariskan.

Karena itu, kehadiran PSN Ngada dan Citra Bakti Ngada di Maumere bukan hanya menjadi kabar gembira bagi pecinta sepak bola. Ia adalah peristiwa kebudayaan. Sebuah undangan untuk pulang—meski hanya melalui tribun stadion.

Pada akhirnya, rumah tidak selalu berupa bangunan yang berdiri di kampung halaman. Kadang-kadang, rumah adalah sekelompok orang yang menyanyikan lagu yang sama, mengenakan warna kebanggaan yang sama, dan menyimpan kerinduan yang sama. Bagi keluarga besar diaspora Ngada di Maumere, rumah itu bernama PSN Ngada.

Maka, selama peluit pertandingan masih berbunyi, selama bendera PSN Ngada masih berkibar, dan selama lagu Ja’i masih menggema di tribun, pulang kampung akan selalu mungkin terjadi. Sebab bagi orang Ngada, merayakan sepak bola bukan hanya mendukung sebuah tim—melainkan merawat identitas, menjaga kebudayaan, dan menemukan kembali jalan pulang.»

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending