PENKES
Gedung Baru, Dokter Nihil: Puskesmas Nanga Diresmikan di Tengah Kekosongan Layanan Medis
“Kondisi kita sekarang adalah ketiadaan dokter,” tegas Petrus.
Maumere, GardaFlores — Gedungnya baru, fasilitasnya lengkap, tetapi satu persoalan mendasar masih mengganjal. Saat peresmian Gedung Puskesmas Nanga di Kecamatan Lela, Selasa (20/1/2026), Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Herlemus secara terbuka menyoroti fakta krusial: Puskesmas Nanga kini tanpa dokter.
Dalam sambutannya, Petrus menegaskan bahwa pembangunan puskesmas bukan sekadar proyek fisik, melainkan wujud kehadiran negara dalam menjamin hak dasar kesehatan warga, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Kesehatan.
Menurutnya, peningkatan derajat kesehatan masyarakat tidak bisa dilepaskan dari tiga fondasi utama: sarana prasarana, sumber daya manusia kesehatan, serta sistem pengelolaan yang kuat—dari pusat hingga kecamatan.
Pembangunan Puskesmas Nanga dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2025, subbidang penguatan sistem kesehatan, dengan total anggaran Rp6.158.993.480. Usulan pembangunan ini, kata Petrus, telah diperjuangkan sejak 2007, menyusul rusaknya gedung puskesmas lama akibat gempa bumi tahun 1992.
“Dari tahun ke tahun kami tidak pernah berhenti mengusulkan. Mungkin pemerintah pusat sudah bosan dengan proposal kami, tetapi akhirnya pada 2025 pembangunan Puskesmas Nanga bisa diwujudkan,” ungkapnya.
Resmikan Puskesmas Nanga, Bupati Sikka Tegaskan: Bangunan Boleh Baru, Pelayanan Tak Boleh Biasa
Puskesmas Nanga melayani sembilan desa di Kecamatan Lela—Lela, Sikka, Iligai, Hepang, Korowuwu, Kolidetung, Watutedang, dan Baopaat—dengan jumlah penduduk sekitar 12.165 jiwa. Dengan cakupan tersebut, Petrus menilai tipe puskesmas ini sudah layak secara standar.
Saat ini, Puskesmas Nanga didukung 81 tenaga kesehatan, terdiri dari 41 PNS, 24 PPPK, dan 16 PPPK paruh waktu. Komposisi tersebut mencakup 19 perawat, 24 bidan, dan 38 tenaga kesehatan lainnya. Namun, sejak Oktober 2025, satu profesi vital absen.
“Kondisi kita sekarang adalah ketiadaan dokter,” tegas Petrus.
Ia mengungkapkan, persoalan ini telah disampaikan langsung kepada pemerintah pusat. Bahkan, pada 21 Agustus 2025, dirinya bersama Bupati Sikka melakukan audiensi dengan Menteri Kesehatan. Namun, upaya menghadirkan dokter terkendala regulasi.
“Undang-Undang Nomor 20 melarang perekrutan tenaga honorer atau kontrak dalam bentuk apa pun. Sudah ada telaahan yang disampaikan Bupati hingga ke Menkes dan diteruskan ke Menko PMK, Mendagri, dan Menpan RB, tetapi sampai sekarang belum ada jawaban,” jelasnya.
Secara desain, Puskesmas Nanga dibangun dengan konsep puskesmas rawat jalan, namun disesuaikan agar memungkinkan layanan rawat inap. Proyek ini dikerjakan oleh CV Bintang Pratama selama 180 hari kerja sejak 4 Juli 2025. Meski rampung tepat waktu, masih terdapat sejumlah kekurangan yang akan diselesaikan pada masa pemeliharaan.
Petrus juga mengungkapkan bahwa dalam RAB pembangunan tidak tercantum anggaran sumur bor. Karena sumber air lama tidak dapat dimanfaatkan, pihak pelaksana akhirnya melakukan pengeboran ulang dengan biaya sendiri demi memastikan ketersediaan air bersih.
Ke depan, status Puskesmas Nanga sebagai puskesmas rawat inap masih bersifat evaluatif. Penentuannya akan bergantung pada capaian indikator kesehatan di wilayah layanan.
Kekurangan Dokter di 17 Puskesmas Sikka Dibahas dalam RDP DPRD
“Kalau kasus DBD menurun, tidak ada kematian ibu hamil, bayi dan balita, serta tidak ada stunting dan gizi buruk, maka tahun depan bisa kita naikkan menjadi rawat inap. Kalau tidak, saya pending,” tegas Petrus.
Ia menambahkan, seluruh ruangan telah dilengkapi AC dan kamera CCTV yang terhubung langsung ke ruang Kepala Dinas Kesehatan. Namun ia menekankan, fasilitas modern harus dibarengi etos pelayanan yang maksimal.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Sikka Stefanus Sumadi mengapresiasi pemerintah pusat dan daerah atas terbangunnya Puskesmas Nanga. Menurutnya, keberhasilan ini lahir dari komunikasi yang baik lintas level pemerintahan.
“Gedung ini hanyalah sarana. Tidak akan ada manfaatnya jika pelayanan kesehatan kepada masyarakat tidak maksimal,” ujarnya.
Stefanus menegaskan bahwa puskesmas sejatinya adalah pusat pelayanan kesehatan berbasis pencegahan. Dengan dukungan pustu, polindes, dan posyandu, sistem kesehatan dasar seharusnya mampu menekan angka kesakitan.
Ia juga mengingatkan pentingnya tenaga kesehatan yang berkualitas, berdedikasi, serta didukung insentif dan operasional yang memadai.
“Secara ideal, kalau pelayanan kesehatan tingkat pertama dimaksimalkan, pendapatan rumah sakit harusnya menurun karena orang tidak banyak sakit. Kalau justru meningkat terus, itu perlu dievaluasi,” tandasnya.
Di akhir sambutannya, Stefanus menyoroti lemahnya pengelolaan fasilitas kesehatan di beberapa tempat, salah satunya Puskesmas Doreng, yang dinilainya tidak terurus dan mencerminkan kurangnya perhatian terhadap layanan kesehatan dasar.»(rel)
PENKES
Kader Magepanda Terima Sosialisasi 6 Standar Layanan Posyandu, Fokus Perluas Jangkauan Warga
“Posyandu diharapkan tidak hanya menjadi tempat pelayanan, tetapi juga pusat edukasi kesehatan dan literasi keluarga.”
MAUMERE, GardaFlores — Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, memperkenalkan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) Posyandu kepada para kader di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Rabu (29/4/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Posyandu Nasional 2026. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat pelayanan dasar masyarakat hingga tingkat desa.
Sosialisasi tersebut merujuk pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2024 tentang Posyandu, yang menempatkan Posyandu sebagai pusat layanan masyarakat berbasis integrasi lintas sektor.
Ny. Fista mengatakan Posyandu kini tidak lagi terbatas pada layanan ibu hamil dan balita, tetapi berkembang menjadi pusat pelayanan terpadu yang menjangkau seluruh kelompok usia melalui pendekatan Integrasi Layanan Primer (ILP).
“Posyandu tidak hanya melayani ibu dan balita, tetapi seluruh kelompok usia, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, usia produktif hingga lanjut usia,” ujarnya.
Ia menjelaskan enam SPM Posyandu meliputi pelayanan kesehatan ibu hamil, bayi dan balita, usia sekolah dan remaja, usia produktif, lanjut usia, serta penanganan masalah kesehatan berbasis masyarakat.
Kelompok Rentan di Sikka Terima Kursi Roda, Nutrisi, hingga Bantuan Pendidikan
Menurut dia, penerapan standar tersebut penting untuk memperkuat langkah promotif dan preventif, termasuk mendukung percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Sikka.
Forum itu dihadiri Camat Magepanda, Kepala Puskesmas Magepanda, Ketua TP PKK Kecamatan Magepanda, serta jajaran pengurus TP PKK Kabupaten Sikka. Peserta berasal dari kader Posyandu Desa Leguwoda, Done, Reroroja, dan Wodamude.
Selain pemaparan materi, panitia juga menyalurkan bantuan sembako kepada kader Posyandu sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa.

Ny. Fista menilai kader Posyandu memiliki posisi strategis karena menjadi garda terdepan dalam mendampingi warga, mulai dari pemantauan tumbuh kembang anak hingga edukasi kesehatan keluarga.
“Kader Posyandu memiliki peran penting dalam keberhasilan program pemerintah di bidang kesehatan. Dedikasi mereka patut diapresiasi,” katanya.
Ia menambahkan, peringatan Hari Posyandu Nasional harus menjadi momentum peningkatan kualitas layanan agar Posyandu semakin aktif, inovatif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Ke depan, Posyandu diharapkan tidak hanya menjadi tempat pelayanan, tetapi juga pusat edukasi kesehatan dan literasi keluarga,” ujarnya.
Rangkaian sosialisasi ditutup dengan penguatan komitmen kader untuk menerapkan enam standar layanan tersebut di wilayah masing-masing sebagai langkah lanjutan peningkatan pelayanan dasar masyarakat.»(rel)
PENKES
Gebyar SMK Ngada 2026 Tampilkan Karya Siswa, Pendidikan Vokasi Didorong Siapkan Tenaga Terampil
Mulai dari pameran karya, demonstrasi keterampilan teknis, pertunjukan seni, hingga berbagai perlombaan.
BAJAWA, GardaFlores — Gebyar SMK Kabupaten Ngada Tahun 2026 mulai berlangsung di Taman Kartini, Bajawa, Rabu (29/4/2026), sebagai ajang bagi siswa sekolah menengah kejuruan menampilkan kreativitas, inovasi, dan kompetensi yang telah dipelajari di bangku pendidikan vokasi.
Pembukaan program tersebut dilakukan Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu yang menegaskan pentingnya pendidikan kejuruan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap kerja dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan daerah.
“Pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. SMK memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi muda yang terampil, berkarakter, dan siap bersaing,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan vokasi perlu terus diperkuat melalui kolaborasi antara sekolah, dunia usaha, dan sektor industri agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Pemkab Ngada Kukuhkan Forum Anak 2026–2027, Perkuat Peran Anak dalam Agenda Kabupaten Layak Anak
Ia juga menekankan bahwa penguatan karakter, kedisiplinan, serta jiwa kewirausahaan menjadi bagian penting dalam mencetak lulusan yang mandiri dan produktif.

Gebyar SMK 2026 menghadirkan berbagai penampilan dan unjuk kemampuan siswa, mulai dari pameran karya, demonstrasi keterampilan teknis, pertunjukan seni, hingga perlombaan yang melibatkan pelajar dari sejumlah SMK di Kabupaten Ngada.
Ajang tersebut sekaligus menjadi ruang promosi hasil belajar siswa kepada masyarakat dan dunia kerja, sekaligus menunjukkan kapasitas sekolah vokasi di daerah.
Pemerintah Kabupaten Ngada menyatakan komitmen untuk terus meningkatkan mutu pendidikan kejuruan melalui kebijakan yang berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan daya saing lulusan.
Rangkaian Gebyar SMK 2026 masih berlanjut dengan sejumlah agenda lanjutan. Dari forum ini diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha dan berkontribusi bagi pembangunan Ngada.»(gus)
PENKES
Sekolah di Sikka Diminta Jadi Ruang Aman, Isu Kesehatan Mental Remaja Jadi Sorotan
“Remaja perlu didampingi agar mampu mengenali diri, mengelola emosi, dan membangun relasi yang sehat.”
MAUMERE, GardaFlores — Isu kesehatan mental remaja kembali menjadi perhatian di Kabupaten Sikka. Sekolah diminta menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas tekanan agar proses belajar berjalan efektif serta mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.
Pesan itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko, saat membuka Edukasi dan Deklarasi Kesehatan Mental Remaja di SMP Negeri Kewapante, Rabu (29/4/2026). Program tersebut dijalankan bersama Yayasan Payung Perjuangan (PAPHA) Indonesia.
“Kita tidak bisa menutup mata. Banyak persoalan di lingkungan pendidikan berakar dari kondisi mental dan emosional yang tidak sehat. Karena itu, sekolah harus menjadi tempat yang nyaman agar benar-benar berfungsi sebagai ruang belajar,” ujar Patrisius.
Ia menilai tantangan remaja saat ini semakin kompleks, terutama akibat perkembangan digital dan dinamika pergaulan. Karena itu, sekolah tidak cukup hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga perlu memberi perhatian pada kesejahteraan psikologis peserta didik.
Menurutnya, lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan, perundungan, dan tekanan sosial menjadi faktor penting bagi tumbuh kembang siswa.
Kesadaran Masyarakat Sikka Terhadap Kesehatan Jiwa Masih Rendah
Kepala SMP Negeri Kewapante, Alexius Dewa, mengatakan persoalan tersebut juga tercermin dalam rapor pendidikan sekolah. Berdasarkan hasil Asesmen Nasional Berbasis Kompetensi (ANBK), terjadi penurunan pada aspek literasi dan iklim keamanan sekolah, dari kategori hijau menjadi kuning.
“Ini menjadi alarm bagi kami. Karena itu, kami berkomitmen melakukan pembenahan, salah satunya melalui program ini,” katanya.
Ia juga mengapresiasi kolaborasi dengan Yayasan PAPHA Indonesia yang dinilai membantu meningkatkan kesadaran warga sekolah terhadap pentingnya kesehatan mental.
Perwakilan Direktur PAPHA Indonesia, Emilianus Soge, menilai masa remaja merupakan fase yang rentan terhadap tekanan sosial maupun pengaruh digital.
“Kesehatan mental adalah fondasi. Remaja perlu didampingi agar mampu mengenali diri, mengelola emosi, dan membangun relasi yang sehat,” ujarnya.
Hari pertama ditutup dengan pembacaan deklarasi komitmen menjaga kesehatan mental seluruh warga sekolah oleh pengurus OSIS yang diikuti peserta. Rangkaian program berlanjut pada hari berikutnya melalui lomba pidato, pembuatan konten edukasi, dan cerdas cermat bertema kesehatan mental remaja.
Program ini turut melibatkan pengawas pembina, narasumber, dosen psikologi Universitas Nusa Nipa Maumere, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Kewapante dan Waipare.
Saat ini sekolah bersama para mitra pendidikan mulai memperkuat langkah pencegahan dan edukasi agar lingkungan belajar di Sikka semakin sehat secara mental dan siswa dapat berkembang optimal.»(rel)
-
HUMANIORA10 months agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA9 months agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA8 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM9 months agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI10 months agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
-
HUMANIORA1 year agoPemkab Sikka Ancam Cabut Izin Pangkalan Minyak Tanah yang Langgar Aturan

Pingback: RKPD 2025 Jadi Pilar Pembangunan Sikka, PAD Lampaui Target dan Belanja Capai 93 Persen - Garda Flores %