HUMANIORA
Enam Hari Pascagempa, Warga Tadho Timur Bertahan dengan Ubi dan Labu
Warga Desa Tadho Timur, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, mengaku belum menerima bantuan logistik enam hari setelah gempa Flores. Mereka bertahan dengan ubi, labu dan hasil tangkapan ikan.
NGADA, GardaFlores — Enam hari setelah gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, warga Desa Tadho Timur, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, mengaku belum menerima bantuan logistik dari pemerintah.
Warga menyebut selama masa tersebut mereka memenuhi kebutuhan pangan dengan mengandalkan hasil kebun, terutama ubi dan labu kestela.
“Kami hanya hidup dengan makan ubi dan labu kestela sejak awal gempa tanggal 15 Agustus. Banyak yang sudah mendapat bantuan, tapi kami hingga kini belum dapat juga,” ujar seorang warga Tadho Timur kepada GardaFlores.
Selain ubi dan labu, warga berusaha mendapatkan lauk dengan menangkap ikan di sungai kecil maupun laut.
Gempa M7,7 Hantam Ngada: Rumah Roboh, Fasilitas Publik Rusak, Warga Riung Masih Menunggu Bantuan
Warga mengatakan kebutuhan yang paling diperlukan saat ini adalah beras dan sayuran. Mereka juga meminta bantuan makanan yang mengandung sumber protein.
“Yang kami butuh itu tenaga. Kami butuh makanan yang berprotein. Kalau makanan dalam bentuk mie instan dan lainnya, kami tidak bisa merasa ada kekuatan untuk bertahan hidup kalau setiap hari makan mie,” kata warga tersebut.
Menurutnya, ketersediaan beras dan sayuran sudah cukup membantu warga memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, sementara ikan masih dapat diperoleh secara mandiri.

“Cukup sayuran dan beras saja. Kami masih bisa tangkap ikan di sungai kecil dan di laut,” ujarnya.
Warga berharap distribusi bantuan dapat menjangkau Desa Tadho Timur yang berada di wilayah Kecamatan Riung.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan resmi dari Pemerintah Kecamatan Riung maupun BPBD Kabupaten Ngada mengenai penyaluran bantuan ke Desa Tadho Timur.
Warga masih memenuhi kebutuhan pangan dari sumber daya yang tersedia di sekitar tempat tinggal mereka sambil menunggu bantuan logistik.»(tim/rel)
HUMANIORA
Anak Pengungsi Gempa Flores Jalani Skrining Psikologis di Gelora Samador
Anak-anak pengungsi gempa Flores di Gelora Samador, Kabupaten Sikka, menjalani skrining psikologis untuk mendeteksi kecemasan, ketakutan dan gejala awal stres pascatrauma.
MAUMERE, GardaFlores — Lembaga Layanan Psikologi Universitas Nusa Nipa (Unipa Maumere) bersama Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) Indonesia, Yayasan FREN Bisa, KALVARI, dan Taman Baca Masyarakat (TBM) Misir Tengah Maumere menggelar skrining psikologis bagi anak-anak pengungsi gempa Flores di Posko Pengungsian Gelora Samador, Kabupaten Sikka, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan yang difasilitasi UPTD PPA Kabupaten Sikka tersebut dilakukan untuk mendeteksi secara dini kondisi psikologis anak setelah mengalami gempa bumi, termasuk kecemasan, ketakutan, dan gejala awal reaksi stres pascatrauma.
Kepala Lembaga Layanan Psikologi Universitas Nusa Nipa sekaligus Dosen Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Unipa, Sitti Anggraini, Psikolog, mengatakan skrining dilakukan sepanjang hari agar anak-anak penyintas di Gelora Samador dapat terjangkau.
“Pelaksanaan yang berlangsung sepanjang hari ini harus kami lakukan untuk memastikan anak-anak penyintas gempa bumi di Posko Gelora Samador terjangkau,” ujar Sitti.
Posko Sikka Verifikasi Data Kerusakan Rumah dan Fasilitas Publik Pascagempa

Menurutnya, pendekatan kepada anak-anak di pengungsian dilakukan secara fleksibel dengan menyesuaikan aktivitas dan waktu istirahat mereka. Hasil skrining menjadi dasar untuk mengetahui kondisi psikologis anak dan menentukan kebutuhan pendampingan selanjutnya.
“Tujuan skrining ini sebagai deteksi dini untuk mengidentifikasi secara cepat tingkat kecemasan, ketakutan atau gejala awal reaksi stres pascatrauma pada anak pascabencana,” katanya.
Dosen Psikologi Unipa Maumere, Maria Nona Nancy, menjelaskan anak-anak yang mengikuti skrining dipetakan berdasarkan kondisi dan kebutuhan psikologis masing-masing.

Sebagian anak dapat memperoleh dukungan psikososial, sementara anak dengan kondisi tertentu dapat membutuhkan penanganan klinis lebih lanjut. Pemetaan tersebut dilakukan untuk menentukan bentuk pendampingan yang sesuai sejak fase awal pascabencana.
“Dukungan pada fase awal sangat penting agar anak-anak memiliki ruang untuk memulihkan rasa aman, mengelola emosi, dan kembali beradaptasi dengan lingkungan,” jelas Nancy.
Menurut Nancy, pendampingan anak di lokasi pengungsian mencakup pemulihan rasa aman, penguatan stabilitas emosional dan resiliensi, serta penciptaan lingkungan yang ramah anak dengan melibatkan orang tua dan relawan.
Perwakilan Yayasan PAPHA Indonesia, Emil Soge, mengatakan kebutuhan psikologis perlu menjadi bagian dari penanganan bencana bersama kebutuhan dasar lainnya.

“Menjaga kesehatan fisik saja tidak cukup. Kesehatan mental anak-anak dan remaja sangat penting karena mereka berada dalam periode transisi dengan banyak perubahan fisik, emosional dan sosial,” ujarnya.
Emil mengatakan pengalaman bencana dapat memengaruhi kondisi emosional anak dan remaja, sehingga pemantauan sejak fase tanggap darurat diperlukan untuk mengetahui anak yang membutuhkan dukungan lebih lanjut.
Skrining di Gelora Samador merupakan bagian dari dukungan program Yayasan PAPHA Indonesia terhadap pemantauan kondisi psikologis anak-anak di lokasi pengungsian.
“Melakukan skrining untuk memastikan keadaan maupun kondisi mental dan psikologis anak. Skrining yang dilakukan hari ini adalah bentuk dukungan program dari Yayasan PAPHA Indonesia untuk memastikan kondisi psikologis anak pada posko pengungsian di Gelora Samador tetap terjaga dengan baik, secara fisik maupun mental,” kata Emil.»(rel)
HUMANIORA
Tiga Hari Bersihkan Longsor, Tim Aman Nusa II Buka Akses Rokirole hingga Koa
Tim Operasi Aman Nusa II dan personel kepolisian membersihkan material longsor di Desa Rokirole, Kecamatan Palue, Sikka. Pembersihan dilanjutkan menuju Nitung Lea.
MAUMERE, GardaFlores — Tim Operasi Aman Nusa II bersama personel kepolisian membersihkan material longsor yang menutup akses jalan di Desa Rokirole, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Jumat (21/8/2026).
Pembersihan dilakukan sejak pukul 08.00 WITA di Dusun Koa. Kegiatan tersebut merupakan lanjutan pembersihan material longsor yang telah dilakukan selama tiga hari di sejumlah titik di Desa Rokirole dan sekitarnya.
Pada Jumat, tim bergerak dari Dusun Cawalo menuju Dusun Koa untuk membersihkan material tanah yang menutup badan jalan akibat gempa tektonik.
Gempa Palue: Bantuan Tiba dengan Helikopter, TNI Kawal Distribusi ke Warga
Kegiatan melibatkan Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, Bintara Polsubsektor Palue Bripka Yohanes Paulus Benny, serta personel Tim Operasi Aman Nusa II.
Dalam proses pembersihan tersebut, tim juga berhasil memindahkan sebuah mobil pikap putih milik warga bernama Rinto yang sebelumnya terjebak akibat material longsor.

Pembersihan akses jalan dijadwalkan berlanjut pada Sabtu (22/8/2026) mulai pukul 08.00 WITA dengan sasaran menuju Desa Nitung Lea.
Sejumlah titik jalan di wilayah Palue masih tertutup material longsor sehingga mobilitas masyarakat dan distribusi bantuan terdampak.
Warga Dusun Koa menyampaikan apresiasi kepada personel yang terlibat dalam pembersihan jalan.
Tim Operasi Aman Nusa II dan personel terkait akan melanjutkan pembersihan hingga akses menuju wilayah berikutnya dapat dilalui.»(rel)
HUMANIORA
Gempa Palue: Bantuan Tiba dengan Helikopter, TNI Kawal Distribusi ke Warga
Bantuan gempa untuk warga Pulau Palue, Sikka, tiba melalui jalur udara pada Jumat (21/8/2026). Personel Kodim 1603/Sikka menangani penerimaan, pengangkutan dan penyaluran logistik.
MAUMERE, GardaFlores — Bantuan untuk warga terdampak gempa bumi di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, dikirim melalui jalur udara pada Jumat (21/8/2026). Personel Kodim 1603/Sikka menangani penerimaan dan pemindahan logistik setelah bantuan tiba menggunakan helikopter.
Personel TNI membongkar, memindahkan dan menata bantuan di lokasi pendaratan untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga terdampak.
Dandim 1603/Sikka Letkol Arm Denny Riesta Permana, mengatakan personelnya akan terlibat dalam seluruh proses distribusi bantuan, mulai dari penerimaan hingga penyaluran.
“Personel Kodim 1603/Sikka akan terus melaksanakan tugas dengan maksimal, mulai dari penerimaan, pengangkutan hingga penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak. Kami memastikan bantuan yang datang dapat segera diterima oleh warga yang membutuhkan,” tegasnya.
Posko Sikka Verifikasi Data Kerusakan Rumah dan Fasilitas Publik Pascagempa
Pengiriman melalui helikopter dilakukan di tengah kondisi akses menuju sejumlah wilayah di Pulau Palue yang terdampak gempa.
Setelah bantuan tiba di lokasi pendaratan, personel Kodim 1603/Sikka melanjutkan proses pengangkutan dan penataan logistik sebelum disalurkan kepada masyarakat.
Kodim 1603/Sikka menyatakan personel tetap dilibatkan dalam distribusi bantuan selama proses penanganan dampak gempa di Pulau Palue berlangsung.»(rel)
-
NASIONAL10 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA11 months agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
