Connect with us

SOSBUD

Sikka Percepat Pembangunan Pesisir, Kepastian Lahan Dikonsolidasikan dengan KSDA

Published

on

Bupati Juventus: “Kita ingin membangun seluruh wilayah pesisir, tetapi masih terkendala status tanah. Karena itu, koordinasi dengan KSDA menjadi langkah penting agar program bisa segera berjalan.” FOTO: IST

MAUMERE, GardaFlores — Pemerintah daerah di Kabupaten Sikka mempercepat rencana pembangunan kawasan pesisir dengan mengonsolidasikan kepastian status lahan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA). Langkah itu disebut menjadi prasyarat utama agar proyek infrastruktur dan pengembangan ekonomi pesisir dapat segera dijalankan.

Arah kebijakan tersebut disampaikan dalam kunjungan kerja di Desa Pemana, Kecamatan Alok, Sabtu (2/5/2026).

Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago mengatakan pengembangan wilayah pesisir merupakan salah satu prioritas daerah, namun pelaksanaannya masih menghadapi kendala legalitas lahan di sejumlah lokasi.

“Kita ingin membangun seluruh wilayah pesisir, tetapi masih terkendala status tanah. Karena itu, koordinasi dengan KSDA menjadi langkah penting agar program bisa segera berjalan,” kata Juventus.

Menurut dia, kejelasan status lahan diperlukan agar pembangunan fasilitas publik, sarana ekonomi masyarakat, dan infrastruktur pendukung dapat direalisasikan tanpa hambatan hukum maupun tumpang tindih kewenangan.

Desa Pemana dinilai memiliki peluang percepatan pembangunan karena sebagian kawasan telah memiliki kejelasan status lahan, sehingga memudahkan penyusunan program lanjutan.

Hardiknas dan Krisis Literasi: Menyelamatkan Masa Depan Pendidikan di Sikka

Selain penataan kawasan, pemerintah daerah juga membuka ruang kolaborasi dengan lembaga pemerintah, sektor swasta, dan kelompok masyarakat untuk mendukung pemberdayaan warga pesisir.

“Kami sangat terbuka terhadap kolaborasi. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sehingga dukungan mitra menjadi kekuatan penting,” ujarnya.

Perhatian lain diarahkan pada kebutuhan nelayan. Sejumlah usulan bantuan yang diajukan sejak Februari 2026 disebut masih dalam tahap komunikasi dengan mitra terkait.

Dalam kunjungan tersebut, pemerintah menyerahkan bantuan simbolis berupa perlengkapan sekolah bagi anak-anak, fasilitas penerangan untuk nelayan, serta bantuan sosial bagi warga.

Kawasan pesisir di Kabupaten Sikka selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat melalui sektor perikanan, perdagangan, dan transportasi laut. Karena itu, kepastian tata kelola lahan dinilai penting untuk mempercepat investasi, layanan publik, dan penguatan ekonomi lokal.»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SOSBUD

Dugaan KDRT di Palue, Istri Luka hingga 12 Jahitan Diselesaikan Kekeluargaan

Seorang perempuan berinisial M.A.N. diduga mengalami KDRT di Desa Ladolaka, Palue, Sikka. Korban dilaporkan pingsan dan mengalami luka pada telinga hingga mendapat 12 jahitan. Kasus kemudian dimediasi dan diselesaikan secara kekeluargaan.

Published

on

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., memediasi penyelesaian kasus dugaan KDRT di Desa Ladolaka, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Jumat (25/9/2026).

MAUMERE, GardaFlores – Seorang perempuan berinisial M.A.N. (46) diduga mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya, M.M.W. (52), di Desa Ladolaka, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Kamis (24/9/2026).

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 WITA di rumah pasangan tersebut di Teo, RT/RW 010/005, Desa Ladolaka.

Menurut keterangan yang disampaikan kepada Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, kejadian bermula ketika dua anak pasangan tersebut terlibat keributan di dalam rumah. M.A.N. kemudian berusaha melerai keduanya.

Situasi memanas setelah M.M.W. datang dan membela anak laki-lakinya. Adu mulut antara M.M.W. dan M.A.N. kemudian terjadi.

Buah Pikir Bung Karno dan Tugas Membaca Gagasan Kebangsaan

Dalam kondisi tersebut, M.M.W. diduga mengambil sebuah kursi dan memukul M.A.N. sebanyak dua kali pada bagian kepala. Terlapor juga disebut dalam keadaan emosi dan diduga sebelumnya mengonsumsi minuman keras jenis moke.

Akibat kejadian itu, M.A.N. dilaporkan jatuh dan pingsan. Ia juga mengalami luka robek pada daun telinga sebelah kiri hingga mendapat 12 jahitan.

Kepada Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., M.A.N. menyampaikan bahwa dugaan kekerasan tersebut bukan pertama kali terjadi. Menurut keterangannya, pemukulan disebut telah beberapa kali terjadi ketika muncul keributan dalam rumah tangga.

Setelah kejadian, M.A.N. melaporkan persoalan tersebut kepada Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue.

HIMBARA Salurkan Lebih dari 30 Ton Bantuan untuk Korban Gempa Ngada

Pada Jumat (25/9/2026), M.A.N. dan M.M.W. kemudian dipertemukan dalam kegiatan Problem Solving di rumah korban. Pertemuan tersebut turut disaksikan sejumlah saksi.

Dalam mediasi itu, kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam surat pernyataan.

Dalam proses tersebut, M.M.W. diberikan pemahaman agar tidak kembali melakukan kekerasan terhadap M.A.N. maupun anggota keluarga lainnya. Bhabinkamtibmas juga memberikan pembinaan kepada kedua pihak terkait keamanan, ketertiban dan kehidupan rumah tangga.

Penyelesaian secara kekeluargaan tersebut dilakukan setelah M.A.N. mengalami luka pada kepala dan telinga akibat dugaan pemukulan. Korban juga menyampaikan kepada Bhabinkamtibmas adanya dugaan tindakan kekerasan yang pernah terjadi sebelumnya.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

15,2 Ton Beras Disalurkan ke 507 KK di Palue

Sebanyak 507 keluarga di Kecamatan Palue, Sikka, menerima 15.210 kilogram beras bantuan pangan pemerintah untuk periode Juli-September 2026.

Published

on

Penyaluran bantuan pangan berupa 15.210 kilogram beras kepada 507 keluarga penerima manfaat di Desa Ladolaka dan Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Sikka, Selasa (22/9/2026).

MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 15.210 kilogram atau sekitar 15,2 ton beras bantuan pangan pemerintah disalurkan kepada 507 keluarga penerima manfaat (KPM) di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (22/9/2026).

Bantuan yang disalurkan melalui Perum Bulog Cabang Maumere tersebut merupakan alokasi untuk periode Juli hingga September 2026. Penyaluran dilakukan di dua desa, yakni Desa Ladolaka dan Desa Nitunglea.

Di Desa Ladolaka, sebanyak 268 keluarga menerima bantuan dengan total 8.040 kilogram beras. Sementara di Desa Nitunglea, bantuan disalurkan kepada 239 keluarga dengan total 7.170 kilogram.

Masing-masing keluarga menerima 30 kilogram beras.

81 Tahun Tanpa Listrik, 302 Rumah di Semparong Ditargetkan Teraliri Listrik Desember 2026

Proses penyaluran mendapat pengamanan dan monitoring dari aparat Polsubsektor Palue-Polsek Nelle untuk memastikan bantuan diterima sesuai daftar penerima dan berlangsung tertib.

Sebelum bantuan diserahkan, petugas melakukan verifikasi data. Penerima wajib menunjukkan identitas berupa KTP atau KK serta bukti terdaftar sebagai penerima. Nama penerima kemudian dicocokkan dengan daftar yang telah ditetapkan dan dicatat dalam buku kendali penyaluran.

Penyaluran melibatkan Perum Bulog Cabang Maumere, Pemerintah Kecamatan Palue, pemerintah desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, perangkat desa serta ketua RT/RW.

Pengawasan dilakukan untuk mencegah penumpukan, keributan maupun potensi penyimpangan selama distribusi berlangsung.

80 Warga Sikka Masih Tempuh 1 Kilometer untuk Dapatkan Air Bersih

Hasil monitoring menunjukkan seluruh bantuan telah disalurkan kepada penerima sesuai daftar yang ditetapkan. Tidak ditemukan penyimpangan, ketidaktepatan sasaran maupun kerusakan beras selama proses penyaluran.

Masyarakat penerima menyambut bantuan tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada pemerintah karena bantuan dinilai membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Petugas juga mendorong agar data penerima terus diperbarui dan diverifikasi secara berkala. Sosialisasi mengenai jadwal, lokasi serta persyaratan pengambilan bantuan diharapkan dilakukan lebih awal untuk mendukung penyaluran berikutnya.»(rel)

Continue Reading

SOSBUD

80 Warga Sikka Masih Tempuh 1 Kilometer untuk Dapatkan Air Bersih

Sebanyak 22 kepala keluarga atau sekitar 80 warga Kampung Koo Jodho, Desa Lenandareta, Kecamatan Paga, Sikka, masih harus berjalan sekitar 1 kilometer menuju sumber air dan membawa pulang air menggunakan jerigen.

Published

on

Warga Kampung Koo Jodho, Desa Lenandareta, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, mengambil air dari sumber yang berjarak sekitar 1 kilometer dari permukiman.

MAUMERE, GardaFlores – Sebanyak 80 warga Kampung Koo Jodho, Dusun Lenandareta, Desa Lenandareta, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, masih harus berjalan kaki sekitar 1 kilometer untuk mendapatkan air yang digunakan sehari-hari.

Warga yang terdampak terdiri dari 22 kepala keluarga di RT 009/RW 004. Untuk memperoleh air, warga membawa jerigen menuju sumber air, mengisinya, kemudian membawanya kembali ke rumah.

Kondisi tersebut disampaikan warga setempat, Longginus Nong, saat ditemui di Maumere, Minggu (20/9/2026).

“Di sini untuk mendapatkan air, warga harus berjalan kaki sepanjang 1 Km. Warga harus menggunakan jerigen untuk mengisi air minum agar bisa dikonsumsi di rumahnya,” ujar Nong.

Menurut Nong, persoalan warga tidak hanya berkaitan dengan jarak menuju sumber air. Jalan yang harus dilalui warga menuju sumber air juga disebut dalam kondisi sangat buruk sehingga menyulitkan perjalanan.

Mendagri Ungkap Prabowo Setujui Tambahan Anggaran Gempa NTT, Kabupaten Rp20 Miliar dan Provinsi Rp40 Miliar

Kondisi tersebut membuat warga harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sambil membawa jerigen untuk memenuhi kebutuhan air keluarga.

Menurut informasi yang disampaikan warga, kondisi kesulitan mendapatkan air tersebut telah berlangsung sejak Indonesia merdeka.

Warga Desa Lenandareta berharap Pemerintah Kabupaten Sikka dan DPRD Kabupaten Sikka turun langsung melihat kondisi mereka.

Warga berharap pemerintah datang melihat kondisi di lapangan, mendengarkan persoalan yang dihadapi masyarakat, serta mencari solusi atas kebutuhan air bersih dan akses menuju sumber air.

Kondisi di Kampung Koo Jodho mencakup 22 keluarga atau sekitar 80 jiwa yang masih mengandalkan sumber air dengan akses sekitar 1 kilometer dari permukiman.

Warga hingga kini masih membawa air menggunakan jerigen dari sumber air menuju rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending