Connect with us

HUMANIORA

3.645 Warga Sikka Masih Mengungsi, 3.340 Jiwa Berada di Palue

Sebanyak 3.645 warga Kabupaten Sikka masih berada di pengungsian pascagempa. Mayoritas pengungsi, yakni 3.340 jiwa, berada di Kecamatan Palue yang menjadi prioritas distribusi bantuan.

Published

on

Sebagian besar warga Kabupaten Sikka yang masih mengungsi pascagempa tercatat berada di Kecamatan Palue. BPBD Sikka mencatat total 3.645 warga masih berada di lokasi pengungsian.

MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 3.645 warga Kabupaten Sikka masih berada di lokasi pengungsian setelah gempa bumi yang melanda Flores. Dari jumlah tersebut, 3.340 jiwa berada di Kecamatan Palue, sehingga hampir seluruh pengungsi di Kabupaten Sikka kini terkonsentrasi di wilayah yang mengalami kerusakan cukup tinggi akibat bencana.

Data tersebut disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sikka Petrus Poling Wairmahing dalam rapat konsolidasi percepatan penanganan darurat bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, Kamis (3/9/2026).

Rapat berlangsung secara daring dari Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik BPBD Kabupaten Sikka dan diikuti Direktur Posko Pendamping Nasional, PIC Posko Sub Satgas Bandara Frans Seda Maumere, BNPB Pusat, serta Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ende dan Nagekeo.

Dalam rapat tersebut, Petrus Poling didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sikka Yosef Rikardus.

Bahas Anggaran Bencana, Rapat Banggar DPRD Ende Berakhir di Polisi

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Sikka, jumlah pengungsi mencapai 3.645 jiwa atau 972 kepala keluarga. Sebanyak 3.340 jiwa dari 892 kepala keluarga berada di Kecamatan Palue.

Jumlah tersebut menunjukkan sebagian besar warga Sikka yang masih mengungsi berada di Palue. Kondisi itu juga menjadi pertimbangan dalam penyaluran bantuan selama masa perpanjangan status tanggap darurat.

Petrus Poling mengatakan distribusi bantuan logistik dan peralatan pada masa perpanjangan tanggap darurat lebih banyak diarahkan ke Palue karena tingkat kerusakan di wilayah tersebut cukup tinggi.

“Distribusi bantuan logistik dan peralatan pada masa perpanjangan Tanggap Darurat ini lebih banyak disalurkan ke Palue karena tingkat kerusakan yang dialami sangat tinggi,” kata Petrus Poling.

20 Rumah Rusak akibat Gempa, Akses Jalan ke Mahebora Turut Jadi Persoalan

Sementara itu, pendataan distribusi bantuan untuk seluruh wilayah terdampak masih terus dilengkapi. BPBD Kabupaten Sikka masih menunggu Berita Acara Serah Terima dari kecamatan untuk memastikan bantuan yang telah disalurkan tercatat secara lengkap.

Di tengah masih adanya ribuan warga di lokasi pengungsian, Pemerintah Kabupaten Sikka juga mulai mengimbau warga yang memungkinkan untuk kembali ke rumah keluarga.

Menurut Petrus Poling, imbauan tersebut disampaikan karena kondisi di sejumlah wilayah mulai membaik.

“Pemkab Sikka terus mengimbau kepada para pengungsi untuk mulai meninggalkan lokasi pengungsian dan kembali ke rumah keluarga karena kondisi mulai membaik,” ujarnya.

Tangani Gempa Flores, BNPB, BPBD dan Organisasi Kemanusiaan Satukan Data Kebutuhan di Sikka

Imbauan tersebut tidak serta-merta berlaku bagi seluruh pengungsi. Data BPBD menunjukkan sebagian besar warga yang masih berada di lokasi pengungsian berasal dari Palue, wilayah yang masih membutuhkan perhatian besar dalam penanganan dampak gempa.

Kepulangan warga dari pengungsian juga berkaitan dengan kondisi tempat tinggal dan lingkungan masing-masing. Rumah yang mengalami kerusakan masih memerlukan pemeriksaan teknis untuk menentukan tingkat keamanan dan langkah penanganannya.

Rapat konsolidasi tersebut tidak hanya membahas penanganan selama masa tanggap darurat, tetapi juga persiapan memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemerintah pusat dan daerah didorong memperkuat koordinasi agar penanganan warga terdampak dapat berlanjut dari pemenuhan kebutuhan darurat menuju pemulihan.

Dengan 3.645 warga masih berada di pengungsian dan 3.340 di antaranya terkonsentrasi di Palue, penanganan kebutuhan pengungsi dan pemulihan wilayah terdampak masih menjadi pekerjaan utama Pemerintah Kabupaten Sikka selama masa tanggap darurat berlangsung.»(rel)

HUMANIORA

Bhayangkari Papua Salurkan 225 Karung Beras dan Logistik untuk Warga Nitunglea

Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan sejumlah kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa di Nitunglea, Palue, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Published

on

Bantuan beras dan kebutuhan pokok dari Pengurus Daerah Bhayangkari Papua untuk warga terdampak gempa di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan berbagai kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa bumi di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

Bantuan dari Ny. Nova Patrige Renwarin bersama jajaran pengurus Bhayangkari Papua tersebut terdiri atas 225 karung beras berukuran lima kilogram, 25 dos minyak goreng kemasan satu liter, 600 dos air minum Aqua Gelas Nusra, 15 dos Energen, sembilan dos susu Dancow, dan 15 dos gula pasir.

Penyaluran bantuan ini berlangsung dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-75 Tahun 2026.

Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga

Logistik diberangkatkan dari Kantor Polsubsektor Palue pukul 07.00 WITA menuju Kantor Desa Nitunglea. Serah terima bantuan kepada pemerintah desa berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga sasaran.

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mendampingi penyaluran bersama Penjabat Kepala Desa Nitunglea, Bay Langko, S.Sos., serta aparat dan staf desa.

Distribusi bantuan berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga

Seorang pria berinisial Y.D.B. (49) ditemukan meninggal di ruang keluarga rumahnya di Paga, Sikka. Keluarga sempat berupaya memberikan pertolongan sebelum membawanya ke Puskesmas Wolofeo.

Published

on

Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, tempat seorang pria ditemukan meninggal pada Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Seorang pria berinisial Y.D.B. (49), warga Dusun Warami, Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia oleh istrinya di ruang keluarga rumah mereka pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.

Menurut laporan kepolisian, istri korban, G.G. (47), menemukan suaminya saat keluar dari kamar setelah terbangun. Ia kemudian menghubungi anak mereka, A.P.S.N. (19), yang sedang menginap di rumah seorang teman, sekitar 25 meter dari kediaman keluarga.

Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela

Anak korban segera pulang. Bersama anggota keluarga, ia berusaha memberikan pertolongan sebelum membawa korban ke Puskesmas Wolofeo. Namun, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di puskesmas.

Setelah menerima laporan masyarakat, anggota Polsek Paga mendatangi lokasi untuk mendata korban dan saksi serta mengumpulkan keterangan. Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis dan keluarga.

Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi maupun proses hukum lebih lanjut, sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian.

Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela

P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Lela, Sikka. Dua nelayan berusaha mengevakuasinya setelah korban terlihat meminta pertolongan di laut.

Published

on

Perairan Pantai Lela, Desa Lela, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, tempat seorang petani berinisial P.N.L. dilaporkan tenggelam pada Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di perairan Pantai Lela, tepat di depan Kantor Camat Lela, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026) pagi.

Korban dilaporkan berada di laut sekitar pukul 08.30 WITA dan meminta pertolongan. Dua nelayan, B.Y. dan M.S., berusaha mengevakuasinya ke bibir pantai.

B.Y. mengatakan, sekitar pukul 08.00 WITA ia melihat korban menari dan melompat-lompat di tepi pantai. Sekitar 30 menit kemudian, ia melihat korban berada di laut sambil meminta pertolongan.

B.Y. berenang mendekati korban dan berusaha membawanya ke pantai. Karena kelelahan, ia meminta bantuan M.S. Keduanya kemudian membawa korban ke bibir pantai.

Warga selanjutnya menghubungi ambulans Puskesmas Nanga untuk membawa korban ke Rumah Sakit Santo Elisabeth Lela. Namun, korban meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.

Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue

Anggota Polsek Lela mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Polisi mendata korban dan saksi serta berkoordinasi dengan tim medis rumah sakit dan keluarga korban.

Menurut keterangan saksi M.R.V., korban telah tinggal seorang diri di pondok miliknya selama hampir lima tahun. M.R.V. selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.

Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi. Korban direncanakan dimakamkan pada Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WITA.

Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti korban tenggelam belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)

Continue Reading

Trending