Connect with us

HUMANIORA

PLN Komit Terangi Desa-Desa Belum Terjamah di Sikka

Published

on

Maumere, GardaFlores – Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Flores Bagian Timur (FBT) berkomitmen memperluas akses listrik ke desa-desa yang belum terjamah di wilayah Kabupaten Sikka. 

Hal ini disampaikan Manajer UP3 PLN Flores, Eko Riduwan di Maumere, Rabu (28/5/2025).

Eko Riduwan mengatakan, pihaknya telah melakukan survei terhadap sejumlah desa dan dusun yang membutuhkan pasokan listrik. Survei mencakup kebutuhan material listrik seperti tiang, kabel, dan perlengkapan lainnya. 

Hasil survei tersebut kemudian diserahkan kepada Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Flores yang bertanggung jawab atas pemasangan jaringan listrik dan pengadaan material. Dijelaskan, UP2K membawahi wilayah Flores mulai dari Kabupaten Manggarai Barat hingga Lembata. 

Baca juga:
Bupati Sikka Sambut Baik Rencana Pemindahan Posko Logistik Pengungsi Gunung Lewotobi ke Maumere 

Riduwan menambahkan, setelah material tersedia, pihaknya akan mendistribusikan ke desa-desa yang membutuhkan, sekaligus memberikan pelayanan optimal serta melakukan pemeliharaan jaringan distribusi. 

Beberapa desa yang telah disurvei tersebar di Kecamatan Mego, Bola, Magepanda, Mapitara, Talibura, dan Koting. Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki potensi pelanggan yang cukup besar. 

Saat ini, jumlah pelanggan PLN UP3 Flores mencapai sekitar 200 ribu orang. Sedangkan di Kabupaten Sikka sendiri, tercatat sekitar 77 ribu pelanggan. Rasio elektrifikasi di Kabupaten Sikka sudah mencapai 98,48 persen, dan rasio desa berlistrik mencapai 96,39 persen. 

Eko Riduwan menambahkan, wilayah Sikka sudah tidak lagi mengandalkan mesin diesel sebagai sumber listrik utama, karena sudah tersedianya Pembangkit Listrik Tenaga Mesin dan Gas (PLTMG) di Wairita, Desa Hoder, dengan kapasitas 40 megawatt. 

Dengan langkah ini, PLN berharap dapat meningkatkan akses listrik di desa-desa yang belum terjamah serta mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.»

(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUMANIORA

Kemenhub Gratiskan Angkutan Bantuan Gempa NTT via PELNI

Kementerian Perhubungan menggratiskan angkutan laut bantuan kemanusiaan melalui PELNI untuk korban gempa NTT. KM Tidar membawa 481 koli bantuan dari Surabaya dan Makassar ke Maumere.

Published

on

Bagi daerah kepulauan seperti NTT, keberadaan jalur laut memiliki arti penting dalam distribusi bantuan. Karena itu, pembebasan tarif angkutan membuka peluang bagi lebih banyak pihak untuk mengirimkan bantuan tanpa harus menanggung biaya pengiriman melalui kapal.

MAUMERE, GardaFlores — Kementerian Perhubungan membebaskan tarif angkutan laut untuk barang bantuan kemanusiaan yang dikirim menggunakan kapal penumpang PELNI ke wilayah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kebijakan ini memungkinkan lembaga pemerintah, perusahaan, organisasi, komunitas maupun pihak lain mengirim bantuan tanpa dibebani biaya angkutan laut.

Kebijakan tersebut telah direalisasikan melalui KM Tidar yang membawa 481 koli bantuan dari Surabaya dan Makassar. Bantuan tiba di Pelabuhan Lorens Say Maumere, Kamis (20/8/2026) dini hari, untuk selanjutnya diserahkan kepada BPBD Kabupaten Sikka.

Sekretaris Perusahaan PT PELNI (Persero), Ditto Pappilanda, mengatakan pembebasan tarif tersebut merupakan dukungan pemerintah terhadap percepatan mobilisasi bantuan bagi masyarakat terdampak bencana.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan yang mempercayai PELNI untuk menjalankan penugasan dalam angkutan bantuan kemanusiaan untuk NTT ini,” ujar Ditto.

Bank NTT Salurkan Bantuan Kebutuhan Dasar ke Korban Gempa Sikka, Buka Posko Peduli

Menurut Ditto, PELNI memastikan bantuan yang dikirim melalui jalur laut dapat diangkut dengan aman hingga tiba di wilayah tujuan dan kemudian diteruskan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Pembebasan tarif muatan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 8 Tahun 2023 tentang Tarif Batas Atas Kewajiban Pelayanan Publik Bidang Angkutan Laut untuk Penumpang Kelas Ekonomi.

Sebanyak 481 koli bantuan yang tiba di Maumere berasal dari sejumlah pihak. Di antaranya merupakan bantuan dari anak usaha PELNI, PT Sarana Bandar Nasional (SBN) dan PT Pelita Indonesia Djaya (PID), melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PELNI Group.

Direktur Usaha Angkutan Barang dan Tol Laut PELNI, Hana Suhardi, menyerahkan bantuan tersebut kepada Koordinator Bidang Logistik BPBD Kabupaten Sikka, Yohanes Carlous.

Hari Keenam Gempa Sikka: 15.093 Warga Mengungsi, 943 Rumah Rusak Berat

Penyerahan disaksikan Nakhoda KM Tidar Capt. Noviansyah, Kepala Cabang PELNI Maumere Edwin Kurniansyah, Kepala KSOP Kelas IV Lorens Say Maumere Rian Partigor serta GM Pelindo Cabang Maumere Angga Adi Prebawa.

Hana mengatakan pengiriman tersebut memperlihatkan fungsi konektivitas laut dalam kondisi bencana. Jalur laut tidak hanya menghubungkan antardaerah, tetapi juga menjadi jalur mobilisasi bantuan dari wilayah lain menuju daerah terdampak.

“KM Tidar tiba di Maumere membawa 481 koli bantuan dari Surabaya dan Makassar. Bagi PELNI, konektivitas laut tidak hanya berfungsi menghubungkan wilayah, tetapi juga dapat menjadi jembatan yang mengantarkan kepedulian dari berbagai daerah kepada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Bantuan yang diangkut terdiri atas berbagai kebutuhan untuk warga terdampak, antara lain sembako, air mineral, perlengkapan mandi, obat-obatan dan perlengkapan P3K, popok bayi, susu dan makanan bayi, perlengkapan sekolah, terpal hingga tenda.

Warga Wolomeze Keluhkan Bantuan Tak Merata, Minta Distribusi Satu Pintu

Setelah proses bongkar muat selesai, bantuan diserahkan kepada BPBD Kabupaten Sikka untuk dikoordinasikan dan didistribusikan kepada masyarakat berdasarkan kebutuhan di lapangan.

Bagi daerah kepulauan seperti NTT, keberadaan jalur laut memiliki arti penting dalam distribusi bantuan. Karena itu, pembebasan tarif angkutan membuka peluang bagi lebih banyak pihak untuk mengirimkan bantuan tanpa harus menanggung biaya pengiriman melalui kapal.

PELNI memastikan fasilitas tersebut masih dapat dimanfaatkan. Instansi, lembaga, perusahaan maupun komunitas yang ingin mengirim bantuan dapat berkoordinasi melalui kantor cabang PELNI yang berada di jalur pelayaran kapal.

“Kami masih menerima untuk mengangkut bantuan dari berbagai institusi, instansi maupun lembaga yang ingin berkontribusi bagi masyarakat terdampak gempa di NTT. PELNI siap membantu pengangkutan agar bantuan dapat tersalurkan,” kata Hana.

Untuk mempermudah pengiriman, PELNI bersama Pelindo dan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kementerian Perhubungan juga membuka Posko Bantuan Kemanusiaan untuk NTT di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar.

Wapres Gibran Tinjau Titik Kerusakan Gempa di Sikka, Bermalam di Maumere Sebelum ke Labuan Bajo

Namun, pengiriman melalui laut hanyalah satu bagian dari rantai bantuan. Setelah tiba di NTT, distribusi di daerah tujuan tetap membutuhkan koordinasi agar bantuan tidak berhenti di pelabuhan atau posko, tetapi benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan.

Kepala Cabang PELNI Maumere, Edwin Kurniansyah, mengatakan bantuan yang dibongkar di Maumere akan diserahkan kepada penerima barang yang telah ditunjuk oleh pengirim untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat terdampak.

Dengan dibebaskannya tarif angkutan, pemerintah kini membuka salah satu jalur logistik yang dapat dimanfaatkan publik untuk ikut membantu korban gempa di NTT. Tantangannya tinggal memastikan bantuan yang dikirim sesuai kebutuhan dan memiliki jalur distribusi yang jelas hingga ke tingkat warga.

PELNI menyatakan siap melanjutkan pengangkutan bantuan kemanusiaan melalui jaringan kapal yang dimilikinya selama kebutuhan penanganan gempa di NTT masih berlangsung.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Bank NTT Salurkan Bantuan Kebutuhan Dasar ke Korban Gempa Sikka, Buka Posko Peduli

Bank NTT Cabang Maumere menyalurkan bantuan kebutuhan dasar bagi warga terdampak gempa Sikka melalui Posko Tanggap Darurat dan membuka Posko Bank NTT Peduli untuk menghimpun bantuan masyarakat.

Published

on

Bantuan tersebut tidak hanya disalurkan oleh Bank NTT. Dalam pelaksanaannya, Bank NTT Cabang Maumere bekerja sama dengan Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas. Penyaluran ke Posko Tanggap Darurat telah dilakukan sejak 17 Agustus 2026. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Bank NTT Cabang Maumere menyalurkan bantuan kebutuhan dasar bagi warga terdampak gempa bumi Flores melalui Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Sikka, Jumat (21/8/2026). Di saat yang sama, Bank NTT membuka Posko Bank NTT Peduli untuk menghimpun bantuan dari masyarakat.

Bantuan tersebut disalurkan ketika ribuan warga Sikka masih bertahan di pengungsian setelah gempa tektonik mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026). Sebagian warga berada di Posko Pengungsian Terpusat Gelora Samador Maumere, sementara lainnya mengungsi secara mandiri di sejumlah wilayah terdampak.

Kepala Cabang Bank NTT Maumere, Emanuel Sina Rato Meka, mengatakan penyaluran bantuan merupakan bagian dari keterlibatan Bank NTT dalam membantu masyarakat di wilayah terdampak bencana.

“Di daerah terdampak bencana gempa Flores, Bank NTT di masing-masing daerah memberikan bantuan sebagai wujud kepedulian kepada korban bencana,” ujar Emanuel yang akrab disapa Elmus Rato saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Sikka.

Bantuan tersebut tidak hanya disalurkan oleh Bank NTT. Dalam pelaksanaannya, Bank NTT Cabang Maumere bekerja sama dengan Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas. Penyaluran ke Posko Tanggap Darurat telah dilakukan sejak 17 Agustus 2026.

Hari Keenam Gempa Sikka: 15.093 Warga Mengungsi, 943 Rumah Rusak Berat

Bank NTT dipercaya menyalurkan bantuan yang telah disiapkan untuk kemudian diteruskan melalui posko kepada masyarakat terdampak.

Menurut Elmus, kebutuhan warga di tengah masa tanggap darurat bukan hanya persoalan makanan, tetapi juga kebutuhan sehari-hari yang harus terus tersedia selama masyarakat masih berada di pengungsian.

Bantuan yang disalurkan mencakup biskuit Malkist, susu SGM, susu Prenagen, mi Sedaap Soto, beras, air mineral, kecap, saus, popok bayi MamyPoko ukuran L dan XL, pembalut Charm, telur ayam, sabun Lifebuoy, sikat gigi Formula serta pasta gigi Pepsodent.

Jenis bantuan tersebut menyasar kebutuhan yang digunakan warga setiap hari, termasuk kebutuhan bayi, perempuan dan perlengkapan kebersihan.

“Semoga bantuan yang kami berikan bisa bermanfaat bagi para korban yang terkena dampak gempa bumi Flores. Kita berdoa semoga bencana ini bisa segera berlalu dan kondisi kembali normal,” kata Elmus.

Warga Wolomeze Keluhkan Bantuan Tak Merata, Minta Distribusi Satu Pintu

Selain menyalurkan bantuan melalui Posko Tanggap Darurat, Bank NTT Cabang Maumere membuka Posko Bank NTT Peduli di depan kantor cabang.

Posko tersebut menjadi tempat penghimpunan bantuan dari nasabah, pegawai Bank NTT maupun masyarakat yang ingin ikut membantu warga terdampak gempa.

“Kami juga membentuk Posko Bank NTT Peduli di depan kantor Cabang Bank NTT Maumere guna menampung bantuan dari nasabah, para pegawai dan masyarakat yang ingin memberikan bantuan,” ungkap Elmus.

Bantuan yang terkumpul melalui posko tersebut selanjutnya akan diarahkan kepada masyarakat terdampak yang membutuhkan.

BNPB: Pengungsi Mandiri Gempa Sikka Tak Boleh Terlewat, Hak Bantuan Tetap Sama

Langkah ini sekaligus memperluas jalur bantuan di luar distribusi yang dilakukan melalui Posko Tanggap Darurat Kabupaten Sikka. Dengan kebutuhan warga yang masih tinggi, keterlibatan berbagai unsur menjadi penting agar bantuan dapat bergerak sesuai kebutuhan di lapangan.

Bagi warga yang masih bertahan di pengungsian, kebutuhan pangan, air minum, susu, perlengkapan bayi, kebutuhan perempuan dan perlengkapan kebersihan bukan sekadar bantuan tambahan. Barang-barang tersebut menjadi kebutuhan dasar yang harus tersedia selama masa tanggap darurat berlangsung.

Di tengah penanganan gempa yang masih berjalan, bantuan dari lembaga keuangan, dunia usaha, organisasi kemanusiaan dan masyarakat menjadi bagian dari upaya memperkuat respons terhadap warga terdampak.

Bank NTT berharap dukungan tersebut dapat membantu masyarakat melewati masa tanggap darurat dan secara bertahap kembali menjalankan kehidupan setelah bencana.

“Semoga bencana ini bisa segera berlalu dan kondisi kembali normal,” pungkas Elmus.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Hari Keenam Gempa Sikka: 15.093 Warga Mengungsi, 943 Rumah Rusak Berat

Enam hari pascagempa, tekanan bencana di Sikka meningkat. Pengungsi mencapai 15.093 jiwa, 943 rumah rusak berat, dan 225 fasilitas umum terdampak.

Published

on

Pengungsi mandiri lainnya tersebar di Alok Barat sebanyak 965 jiwa dari 201 KK, Alok Timur 66 jiwa dari 19 KK, Bola 210 jiwa dari 72 KK, Hewokloang 135 jiwa dari 54 KK, Nita 1.895 jiwa dari 351 KK, serta Talibura 1.812 jiwa dari 409 KK. FOTO: GARDAFLORES/KAREL PANDU

MAUMERE, GardaFlores — Enam hari setelah gempa bumi tektonik mengguncang Flores, Kabupaten Sikka belum keluar dari tekanan darurat. Jumlah warga yang mengungsi justru melonjak menjadi 15.093 jiwa, sementara 943 rumah mengalami rusak berat dan 225 fasilitas umum terdampak.

Data Media Center Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka per Kamis (20/8/2026) mencatat, jumlah pengungsi bertambah 3.231 jiwa hanya dalam sehari. Sehari sebelumnya, jumlah warga yang mengungsi tercatat 11.862 jiwa dari 3.285 kepala keluarga (KK).

Kini jumlahnya mencapai 15.093 jiwa dari 4.020 KK.

Kenaikan tersebut menjadi gambaran bahwa dampak gempa masih terus dirasakan masyarakat. Sebagian warga memilih meninggalkan rumah karena bangunan mengalami kerusakan, sementara sebagian lainnya belum berani kembali akibat kekhawatiran terhadap gempa susulan.

Dari total pengungsi, 1.299 jiwa dari 397 KK berada di pusat pengungsian Gelora Samador. Sebanyak 13.794 jiwa dari 3.623 KK lainnya memilih mengungsi secara mandiri di sembilan kecamatan.

Wapres Gibran Tinjau Titik Kerusakan Gempa di Sikka, Bermalam di Maumere Sebelum ke Labuan Bajo

Palue menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pengungsi mandiri terbesar, mencapai 3.691 jiwa dari 1.000 KK. Kangae menyusul dengan 3.213 jiwa dari 1.036 KK, sedangkan Alok mencatat 3.106 jiwa dari 877 KK.

Pengungsi mandiri lainnya tersebar di Alok Barat sebanyak 965 jiwa dari 201 KK, Alok Timur 66 jiwa dari 19 KK, Bola 210 jiwa dari 72 KK, Hewokloang 135 jiwa dari 54 KK, Nita 1.895 jiwa dari 351 KK, serta Talibura 1.812 jiwa dari 409 KK.

Namun, lonjakan pengungsi bukan satu-satunya angka yang menunjukkan besarnya dampak gempa.

Pendataan hingga hari keenam mencatat 3.295 rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 943 rumah masuk kategori rusak berat, 1.773 rusak ringan, dan 579 rusak sedang.

Dengan demikian, hampir seribu rumah berada dalam kondisi rusak berat. Bagi keluarga yang menempatinya, persoalan pascagempa bukan hanya bagaimana bertahan selama masa tanggap darurat, tetapi juga kapan dan di mana mereka dapat kembali tinggal dengan aman.

Kerusakan juga meluas ke fasilitas yang menopang kehidupan masyarakat.

Sebanyak 225 fasilitas umum dilaporkan terdampak, terdiri dari 30 bangunan pemerintah, 36 fasilitas kesehatan, 88 fasilitas pendidikan, 13 ruas jalan, delapan unit prasarana, dan 50 rumah ibadah.

Kerusakan fasilitas pendidikan dan kesehatan menambah kompleksitas penanganan karena pelayanan dasar harus tetap berjalan ketika sebagian infrastrukturnya ikut terdampak.

Dari sisi korban, Posko Tanggap Darurat mencatat 65 orang terdampak. Enam orang meninggal dunia, 25 mengalami luka berat, 28 luka ringan, sementara enam lainnya masuk kategori korban lainnya.

Di tengah situasi tersebut, bantuan logistik terus bergerak menuju wilayah terdampak. Namun, bertambahnya jumlah pengungsi membuat kebutuhan ikut berkembang. Makanan, air, perlengkapan pengungsian, pelayanan kesehatan, sanitasi hingga kebutuhan kelompok rentan harus terus disesuaikan dengan perkembangan data di lapangan.

Warga Wolomeze Keluhkan Bantuan Tak Merata, Minta Distribusi Satu Pintu

Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik BPBD Kabupaten Sikka menjadi pusat koordinasi penanganan sejak 15 Agustus 2026. Di bawah koordinasi Plt. Sekda Sikka Margaretha M. Da Maga Bapa, posko menangani pembaruan data, pengaduan masyarakat, rapat koordinasi, penerimaan dan distribusi bantuan serta komunikasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, donatur dan relawan.

Tetapi angka pengungsi yang terus bertambah menunjukkan satu persoalan penting: fase darurat belum selesai hanya karena beberapa hari telah berlalu sejak gempa utama.

Sebaliknya, kebutuhan pemerintah kini semakin kompleks. Bantuan harus terus bergerak, pengungsi harus terdata, warga yang mengungsi secara mandiri tidak boleh terlewat, fasilitas pelayanan dasar harus dipulihkan, dan kerusakan rumah harus segera diverifikasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Bagi Sikka, hari keenam bukan sekadar penanda waktu sejak gempa terjadi. 15.093 pengungsi dan 943 rumah rusak berat menunjukkan bahwa skala penanganan terus membesar, sementara pekerjaan pemulihan baru saja dimulai.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending