Connect with us

HUMANIORA

Bupati Sikka dan Forkopimda Bertahan di Palue, Respons Pascagempa Diperkuat

Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago bersama Forkopimda bertahan di Palue dan melakukan pemantauan hingga malam untuk memperkuat penanganan pascagempa di tengah kendala akses dan komunikasi.

Published

on

Bupati bersama Forkopimda memilih menginap di Palue setelah melihat kondisi wilayah yang masih menghadapi sejumlah kendala akibat gempa. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya pemerintah daerah, TNI dan Polri mempercepat pendataan, penanganan warga, serta distribusi bantuan.

MAUMERE, GardaFlores — Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bertahan di Pulau Palue pada Minggu malam (16/8/2026) untuk memperkuat penanganan pascagempa, termasuk memantau langsung kondisi warga, kerusakan infrastruktur, serta kendala akses dan komunikasi di wilayah terdampak.

Bupati bersama Forkopimda memilih menginap di Palue setelah melihat kondisi wilayah yang masih menghadapi sejumlah kendala akibat gempa. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya pemerintah daerah, TNI dan Polri mempercepat pendataan, penanganan warga, serta distribusi bantuan.

Sekitar pukul 23.30 WITA, Bupati Juventus bersama Danlanal Maumere, Wakapolres Sikka dan Kasdim 1603/Sikka kembali melakukan penyisiran ke sejumlah lokasi untuk melihat kondisi bangunan dan masyarakat secara langsung.

Penyisiran dilakukan ketika sebagian warga masih berada dalam kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan. Petugas juga memantau kondisi sejumlah titik yang terdampak kerusakan serta akses yang mengalami gangguan.

Palue menghadapi tantangan penanganan yang cukup kompleks. Selain kerusakan infrastruktur, sejumlah akses jalan dilaporkan rusak bahkan terputus di beberapa titik. Kondisi tersebut diperberat dengan keterbatasan komunikasi yang dapat menghambat koordinasi dan distribusi bantuan.

Gempa M7,7 Hantam Ngada: Rumah Roboh, Fasilitas Publik Rusak, Warga Riung Masih Menunggu Bantuan

Situasi itu membuat percepatan respons menjadi penting, terutama untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat dipenuhi dan wilayah terdampak tidak terlewat dalam proses penanganan.

“Kami hadir di sini untuk memastikan masyarakat tidak merasa sendiri. Kami melihat langsung kondisi warga dan bangunan yang terdampak. Pemerintah bersama TNI dan Polri akan terus berupaya memberikan penguatan dan bantuan yang dibutuhkan masyarakat,” ujar Juventus.

Menurut Bupati, bantuan bagi masyarakat Palue sedang dipersiapkan dan diupayakan segera tiba. Pemerintah daerah bersama TNI dan Polri juga terus berkoordinasi untuk mencari solusi atas kendala akses dan komunikasi yang dihadapi di lapangan.

Kondisi Palue menjadi salah satu tantangan dalam penanganan gempa di Kabupaten Sikka. Karakter wilayah kepulauan membuat distribusi logistik membutuhkan dukungan transportasi laut, sementara kerusakan akses di sejumlah titik dapat memperlambat mobilisasi.

BNPB Kirim Bantuan, Pemkab Sikka Kerahkan Seluruh ASN untuk Kejar Distribusi ke Korban Gempa

Karena itu, pemerintah daerah tidak hanya dituntut mempercepat pendataan kerusakan, tetapi juga memastikan hasil asesmen di lapangan segera menjadi dasar penentuan kebutuhan dan prioritas distribusi bantuan.

Bupati bersama Forkopimda meminta masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Warga juga diminta mengikuti arahan petugas serta menghindari bangunan yang mengalami kerusakan atau dinilai membahayakan.

Pemerintah Kabupaten Sikka memastikan penanganan pascagempa terus dilakukan dengan memprioritaskan keselamatan masyarakat, pendataan kerusakan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta percepatan distribusi bantuan.

Bertahannya Bupati dan Forkopimda di Palue menjadi bagian dari penguatan respons pemerintah di wilayah terdampak yang menghadapi kendala akses dan komunikasi. Pemantauan langsung di lapangan diharapkan mempercepat pengambilan keputusan dan memastikan kebutuhan masyarakat Palue masuk dalam prioritas penanganan.»(rel)

HUMANIORA

HUT Ke-81 TNI di Maumere, Amanat Panglima Tekankan Implementasi Nilai PRIMA

HUT ke-81 TNI di Maumere diisi amanat Panglima TNI yang menekankan implementasi nilai PRIMA sebagai arah pengembangan kemampuan prajurit menghadapi tantangan tugas.
Slug: hut-ke-81-tni-maumere-nilai-prima

Published

on

Upacara HUT ke-81 TNI di Maumere, Kabupaten Sikka, dipimpin Dandim 1603/Sikka Letkol Arm Denny Riesta Permana.

MAUMERE, GardaFlores – Peringatan HUT ke-81 TNI di Maumere, Kabupaten Sikka, diwarnai penegasan tentang peningkatan profesionalisme, kesiapsiagaan, dan kemampuan prajurit menghadapi perkembangan lingkungan strategis serta ancaman yang semakin kompleks.

Pesan tersebut disampaikan melalui amanat Panglima TNI pada upacara HUT ke-81 TNI yang dipimpin Dandim 1603/Sikka Letkol Arm Denny Riesta Permana, selaku Inspektur Upacara.

Dalam amanatnya, Panglima TNI menyebut tingginya kepercayaan masyarakat kepada TNI sebagai kehormatan sekaligus amanah yang harus dijaga melalui pengabdian yang tulus, pelaksanaan tugas secara profesional, serta kesiapan prajurit menjalankan setiap tugas yang diberikan negara.

Seiring modernisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam) serta peningkatan kesejahteraan prajurit, personel TNI dan ASN TNI juga dituntut meningkatkan kapasitas dan kompetensi untuk menghadapi tantangan tugas ke depan.

Empat Penyelam Hilang di Perairan Pangabatang, Seluruhnya Ditemukan Selamat

Panglima TNI menekankan implementasi nilai PRIMA sebagai arah pengembangan kemampuan TNI. PRIMA mencakup Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif.

Profesional berarti menguasai tugas dan menjunjung tinggi integritas. Responsif menekankan kepekaan dan kecepatan bertindak. Integratif diwujudkan melalui penguatan sinergi dengan seluruh komponen bangsa. Modern berarti menguasai dan memanfaatkan perkembangan teknologi, sedangkan Adaptif menekankan kemampuan berinovasi sesuai perkembangan ancaman.

Nilai PRIMA tersebut diarahkan untuk diterapkan dalam setiap pelaksanaan tugas dan pengabdian prajurit. Implementasinya menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan TNI menghadapi berbagai tantangan serta menjalankan tugas menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Upacara HUT ke-81 TNI di Maumere diikuti personel Lanal Maumere, Kodim 1603/Sikka, Polres Sikka, dan Brimob Pelopor B Maumere. Lettu Laut (K) drg. FX. Dimas Bimo Sakti bertindak sebagai Komandan Upacara, sedangkan Lettu Laut (T) Fransisco B. J. sebagai Perwira Upacara.

Posko Pengungsian di Wuwuwawa Palue Terbakar, Sejumlah Barang Keluarga Rusak

Hadir dalam upacara tersebut Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi, Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi, Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, serta jajaran pejabat TNI/Polri dan unsur terkait di Kabupaten Sikka.

Turut hadir Pg.S. Palaksa Lanal Maumere Mayor Laut (T) Nono Sumarno, Pasops Lanal Maumere Mayor Laut (P) Paulino Castro, Dandenpomal Lanal Maumere Kapten Laut (PM) Agustoni Ervandik, Dan Unit Lanal Maumere Kapten Laut (E) Mardin, Wadanki Batalyon B Pelopor Satbrimob Maumere AKP Charles, Kasubsi I Intelijen Kejaksaan Negeri Sikka Immanuel Pasaribu Pratama Putra, serta Danpos AU Maumere Kapten Kes Widodo.

Peserta upacara terdiri atas satu SST Perwira Gabungan TNI/Polri dari Lanal Maumere, Kodim 1603/Sikka, dan Polres Sikka, dua SST Lanal Maumere, satu SST Kodim 1603/Sikka, satu SST Polres Sikka, satu SST Brimob Pelopor B Maumere, serta perwakilan Jalasenastri dan Persit Kodim 1603/Sikka.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Empat Penyelam Hilang di Perairan Pangabatang, Seluruhnya Ditemukan Selamat

Enam orang menyelam di perairan Pulau Pangabatang, Sikka. Empat orang terseret arus, namun seluruhnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah pencarian selama dua hari.

Published

on

Tim SAR gabungan melakukan pencarian penyelam yang terseret arus di perairan Pulau Pangabatang, Kabupaten Sikka, dan menemukan semuanya (4 penyelam) dalam keadaan selamat. FOTO: SAR MAUMERE

MAUMERE, GardaFlores — Empat penyelam, terdiri atas tiga warga negara asing (WNA) dan seorang dive guide asal Indonesia, yang terseret arus kuat saat menyelam di perairan Pulau Pangabatang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), akhirnya ditemukan seluruhnya dalam kondisi selamat.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu (4/10/2026) sekitar pukul 10.00 WITA. Saat itu, enam orang yang terdiri atas dua dive guide lokal dan empat wisatawan mancanegara melakukan penyelaman di sekitar perairan Pulau Pangabatang, sekitar 16,6 mil laut dari Pelabuhan Wuring, Maumere.

Ketika penyelaman berlangsung, arus laut di lokasi cukup kuat. Rombongan kemudian terbagi menjadi dua tim.

Tim pertama terdiri atas dive guide WNI Maria Rosa Hariana Djaa, 25, dan penyelam asal Belanda, Bart Hazes, 60. Keduanya berhasil kembali ke permukaan dalam kondisi selamat.

Dari Kampung, Ria Membangun Rumah Tenun Milenial dan Membawa Tenun Adonara ke Forum Internasional

Tim kedua terdiri atas seorang dive guide WNI dan tiga wisatawan mancanegara asal Austria dan Irlandia. Keempatnya belum kembali ke permukaan dan diduga terseret arus kuat.

Laporan mengenai kondisi membahayakan tersebut diterima Kantor SAR Maumere sekitar pukul 14.10 WITA dari Riana selaku tour guide. Polres Sikka juga menerima laporan masyarakat mengenai hilangnya empat orang yang sedang melakukan penyelaman di kawasan tersebut.

Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K., melalui Kasi Humas Polres Sikka Ipda Leonardus Tunga, S.M., membenarkan adanya laporan tersebut.

“Setelah menerima laporan, tim Polres Sikka langsung berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk turun ke lokasi dan melakukan pencarian serta tindakan kepolisian yang diperlukan,” kata Leonardus.

Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian terhadap empat penyelam yang belum ditemukan.

Posko Pengungsian di Wuwuwawa Palue Terbakar, Sejumlah Barang Keluarga Rusak

Pada Minggu (4/10) sekitar pukul 16.30 WITA, WNA asal Austria, Patricia Retter, 42, ditemukan tim SAR gabungan bersama nelayan di perairan antara Pulau Babi dan Nangahale dalam kondisi selamat.

Pencarian berlanjut pada Senin (5/10) untuk menemukan tiga penyelam lainnya. Kepala Kantor SAR Maumere Fathur mengatakan operasi hari kedua difokuskan pada dua WNA asal Irlandia dan seorang WNI yang merupakan dive guide.

“Operasi SAR hari ini merupakan hari kedua untuk mencari tiga orang penyelam yang masih dalam pencarian. Ketiga korban tersebut terdiri dari dua orang WNA asal Irlandia dan satu orang WNI yang merupakan tour guide,” kata Fathur saat memberikan keterangan dari KN SAR Puntadewa.

Pencarian sejak pagi mengerahkan KN SAR Puntadewa 250, Speed Polair KP Sukur, Sea Rider KN SAR Puntadewa, serta Rubber Boat Kantor SAR Maumere.

Sekitar pukul 09.00 WITA, tim SAR gabungan menemukan Dervla Mulligan, 28, dan Darragh Mc Kierna, 27, keduanya warga negara Irlandia. Keduanya ditemukan di koordinat 08°32’23.83″ LS dan 122°26’04.114″ BT atau sekitar 3,17 mil laut dari lokasi awal kejadian.

Bupati Sikka Dorong Turnamen Desa Jadi Ajang Lahirkan Atlet Berprestasi

Lima menit kemudian, sekitar pukul 09.05 WITA, Speed Polair KP Sukur menemukan dive guide asal Indonesia, Frederik Horimpun, 39. Ia ditemukan dalam kondisi selamat di koordinat 08°33’37.61″ LS dan 122°26’10.13″ BT atau sekitar 4,21 mil laut dari lokasi kejadian.

Dengan ditemukannya Dervla, Darragh, dan Frederik, seluruh enam orang yang mengikuti penyelaman tersebut telah ditemukan dalam kondisi selamat.

Operasi SAR kemudian dinyatakan selesai dan ditutup. Pencarian melibatkan unsur SAR gabungan, antara lain Basarnas, nelayan, TNI, dan Polri, termasuk Lanal Maumere, Ditpolair Polda NTT, serta Satpolair Polres Sikka.

Enam orang yang mengikuti penyelaman tersebut terdiri atas Maria Rosa Hariana Djaa, 25, WNI asal Maumere dan dive guide Tim 1; Bart Hazes, 60, WNA Belanda dan penyelam Tim 1; Patricia Retter, 42, WNA Austria; Dervla Mulligan, 28, WNA Irlandia; Darragh Mc Kierna, 27, WNA Irlandia; serta Frederik Horimpun, 39, WNI dan dive guide Tim 2.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Dari Kampung, Ria Membangun Rumah Tenun Milenial dan Membawa Tenun Adonara ke Forum Internasional

Maria Tuto Demon memilih pulang ke Adonara setelah lulus dari Undana. Dari modal terbatas, ia membangun Rumah Tenun Milenial dan membawa tenun Adonara ke berbagai forum nasional hingga internasional.

Published

on

Ria juga mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan dan ekonomi kreatif, antara lain Lestari Bumi Cau di Labuan Bajo, fashion show di Bali, serta sejumlah festival yang diselenggarakan pemerintah di Jakarta dan NTT. Ia juga pernah menjadi delegasi pengusaha muda Indonesia dalam FutureAction Summit 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia.

FLORES TIMUR, GardaFlores — Setelah meraih gelar sarjana Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang pada 2018, Maria Tuto Demon tidak memilih jalan yang lazim ditempuh banyak sarjana muda. Ia tidak menetap di kota untuk mencari pekerjaan di kantor atau instansi pemerintah. Ia justru pulang ke Adonara dan memulai sesuatu yang saat itu belum memiliki bentuk yang jelas.

Dari Desa Boleng, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, perempuan yang akrab disapa Ria itu membangun Rumah Tenun Milenial sejak 2022. Tempat tersebut kemudian berkembang bukan hanya sebagai ruang produksi tenun ikat, tetapi juga tempat belajar bagi anak muda dan perempuan di kampungnya.

Pilihan Ria berangkat dari keyakinan bahwa gelar sarjana tidak harus membawanya jauh dari kampung halaman.

“Bagi saya, menjadi PNS atau bekerja di instansi pemerintah adalah pilihan yang baik. Tetapi saya percaya, setiap orang punya jalan pengabdian yang berbeda. Saya ingin menciptakan ruang bagi orang lain untuk bekerja dan berkembang, terutama anak-anak muda dan perempuan di kampung,” ujar Ria.

Ria lahir di Desa Gayak, Adonara, 12 Februari 1995. Gagasan tentang usaha tenun sebenarnya sudah muncul sebelum Rumah Tenun Milenial berdiri. Ia pernah mengusulkan pembangunan pondok tenun ikat khas Kecamatan Ile Boleng melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), tetapi rencana itu tidak kunjung terealisasi.

Ria kemudian memilih tidak menunggu. Ia memulai dari keterampilan yang dimilikinya dengan menenun sendiri. Hasilnya dijual kepada sejumlah kenalan, termasuk senior dan dosen yang dikenalnya saat kuliah di Kupang.

Saat itu, keterbatasan modal menjadi salah satu persoalan utama. Setelah menyelesaikan kuliah, Ria belum memiliki cukup dana untuk membangun usaha. Di sisi lain, ayahnya sedang menjalani perawatan setelah operasi.

“Saya mulai dari apa yang saya bisa, dengan mulai menenun sendiri. Hasil tenun saya jual kepada senior-senior dan juga dosen-dosen saya waktu kuliah di Kupang. Dari hasil itulah saya kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli benang dan kebutuhan produksi lainnya,” tuturnya.

Dari hasil penjualan tersebut, modal dikumpulkan sedikit demi sedikit. Ria kemudian membangun sebuah pondok sederhana sebagai tempat produksi tenun khas Adonara. Dari pondok itulah Rumah Tenun Milenial mulai tumbuh.

BGN Ubah Skema Insentif SPPG, Mulai 5 Oktober Dibayar Rp2.000 per Porsi

Bagi Ria, persoalan yang hendak dijawab tidak hanya soal bagaimana menjual kain tenun. Ia melihat keterbatasan lapangan pekerjaan di wilayah terpencil ikut mendorong anak-anak muda meninggalkan kampung untuk mencari penghidupan di tempat lain.

Pada saat yang sama, ia melihat tradisi menenun menghadapi tantangan regenerasi. Perubahan pola hidup dan perkembangan teknologi membuat minat generasi muda terhadap aktivitas menenun perlu terus dihidupkan.

“Saya melihat tenun Adonara memiliki nilai yang sangat besar. Di balik selembar kain ada sejarah, filosofi, keterampilan, dan identitas orang Adonara. Tetapi kalau generasi muda tidak lagi tertarik belajar menenun, perlahan-lahan budaya itu bisa hilang,” katanya.

Karena itu, Rumah Tenun Milenial tidak berhenti sebagai tempat memproduksi dan menjual kain. Ria menjadikannya ruang bagi masyarakat untuk belajar menenun dan mengenal budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi, terutama bagi perempuan dan anak muda.

BGN Aktifkan 480 SPPG di 16 Provinsi Mulai 2 Oktober

“Saya ingin usaha yang saya bangun bukan hanya menghasilkan uang, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar, melestarikan budaya, dan membuka peluang bagi masyarakat,” ujarnya.

Perjalanan itu juga tidak langsung berjalan mulus. Pada masa awal, Ria harus membangun kepercayaan masyarakat melalui karya dan hasil yang bisa dilihat.

Ia ingin menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu mengharuskan seseorang meninggalkan kampung halaman.

“Saya ingin membuktikan bahwa kita tidak harus meninggalkan kampung untuk menjadi sukses. Kita juga bisa membangun sesuatu dari kampung sendiri, mengangkat budaya kita, dan hidup dari kekayaan yang kita miliki,” ungkapnya.

Dari Boleng, tenun Adonara kemudian dibawa Ria ke ruang yang lebih luas. Rumah Tenun Milenial mulai mengikuti berbagai kegiatan di tingkat nasional hingga internasional.

Salah satunya melalui dukungan Yayasan Samdhana Institute untuk memperkenalkan tenun Adonara dalam pertemuan perempuan penenun se-ASEAN di Luang Prabang, Laos.

Ria juga mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan dan ekonomi kreatif, antara lain Lestari Bumi Cau di Labuan Bajo, fashion show di Bali, serta sejumlah festival yang diselenggarakan pemerintah di Jakarta dan NTT. Ia juga pernah menjadi delegasi pengusaha muda Indonesia dalam FutureAction Summit 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Forum-forum tersebut menjadi ruang bagi Ria untuk memperkenalkan tenun Adonara tidak hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Adonara.

HIMBARA Salurkan Lebih dari 30 Ton Bantuan untuk Korban Gempa Ngada

“Untuk memperkenalkan tenun Adonara, saya tidak hanya menjual kainnya. Tetapi juga membawa tenun ini ke berbagai ruang dan kegiatan,” ujarnya.

Ria juga menyadari bahwa mempertahankan tenun tidak cukup hanya dengan meminta generasi muda mencintai kain tradisional. Tenun juga perlu hadir dalam bentuk yang dekat dengan keseharian mereka.

Karena itu, ia mengolah kain tenun menjadi pakaian, tas, kalung, gelang, anting, dan berbagai produk fesyen lainnya.

“Saya mencoba mengolah tenun menjadi pakaian, tas, kalung, gelang, anting, dan berbagai produk yang mengikuti tren anak muda,” katanya.

Bagi Ria, perubahan bentuk produk tidak berarti melepaskan akar budaya. Tenun tetap membawa nilai dan identitas Adonara, tetapi dikemas agar dapat diterima oleh generasi masa kini.

Dari sebuah pondok sederhana yang dibangun dengan modal hasil menjual tenun, Rumah Tenun Milenial kini menjadi jalan bagi Ria untuk mengembangkan usaha, membuka ruang belajar, dan membawa nama tenun Adonara ke berbagai forum.

Harapannya sederhana, tetapi menjangkau jauh.

“Harapan saya, tenun Adonara tetap berakar di budaya kita, tetapi bisa mengikuti zaman, diterima anak muda, dikenal di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri,” pungkasnya.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending