HUMANIORA
Gempa Sikka Telan Enam Nyawa, 7.104 Warga Mengungsi; BNPB Beri Tenggat Penanganan Sepekan
Enam korban meninggal, 7.104 warga mengungsi, kerusakan 1.540 rumah, dan BNPB memberikan tenggat penanganan pengungsi selama satu minggu.
MAUMERE, GardaFlores — Enam warga Kabupaten Sikka meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026). Hingga Rabu (19/8/2026) pukul 15.00 WITA, sebanyak 7.104 warga masih mengungsi di berbagai wilayah Kabupaten Sikka.
Data tersebut disampaikan dalam rangkaian penanganan bencana gempa di Kabupaten Sikka. Jumlah korban meninggal bertambah dari data sebelumnya yang mencatat empat orang meninggal dunia.
Enam korban meninggal berasal dari sejumlah wilayah di Kabupaten Sikka.
Paji Ratu, warga Dusun Awa Male, Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, meninggal dunia di lokasi setelah tertimpa bangunan rumah yang roboh saat gempa.
Maria Diana Meliana (54), warga Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD T.C. Hillers Maumere setelah tertimpa reruntuhan bangunan di kawasan pelabuhan.
Kantor Bupati Sikka Rusak Berat, Aktivitas Pemerintahan Dipindah ke Posko BPBD
Sophia (75), warga Desa Wolokoli, Kecamatan Bola, ditemukan warga di antara reruntuhan fasilitas pelabuhan sekitar pukul 10.00 WITA. Ia sempat dievakuasi ke RSUD T.C. Hillers Maumere, tetapi meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.
Bernadus Muda (66), warga Pelawan, Sangkuriang, meninggal dunia di RSUD T.C. Hillers Maumere setelah mengalami luka berat akibat tertimpa material bangunan ruang tunggu pelabuhan.
Fr. Leonardus Noprianto Waku (20), warga Kecamatan Nita, mengalami luka parah setelah melompat dari lantai dua Asrama Seminari Ritapiret saat terjadi kepanikan ketika gempa. Setelah mendapat perawatan dan dirujuk ke RSUD T.C. Hillers Maumere, korban akhirnya meninggal dunia.
Korban keenam, Paskalis Nong (32), warga Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, meninggal dunia pada Rabu (19/8/2026) sekitar pukul 00.30 WITA.
Paskalis dilaporkan memiliki riwayat anemia berat dan terjatuh saat gempa 15 Agustus. Setelah dievakuasi ke rumah keluarga, kondisi korban memburuk.
Istri Bupati Sikka Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Lela
Sementara itu, pendataan kerusakan rumah dan fasilitas publik masih berlangsung.
Data Pos Komando Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Sikka per Selasa (18/8/2026) pukul 15.00 WITA mencatat 1.540 rumah mengalami kerusakan. Rinciannya, 731 rumah rusak berat, 258 rusak sedang dan 558 rusak ringan.
Plt. Sekda Sikka, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa atau Femy Bapa, mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mempercepat asesmen kondisi rumah warga.
“Kami juga sudah ada koordinasi dari Kementerian PU untuk dilakukan asesmen secepatnya terhadap kondisi rumah sehingga bisa didapat data yang valid untuk penanganan selanjutnya,” kata Femy dalam rapat koordinasi Satgas Penanggulangan Bencana Daerah bersama Kepala BNPB di Kantor BPBD Sikka, Selasa (18/8/2026).
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas publik. Bangunan pemerintah yang terdampak terdiri dari lima unit rusak berat, tiga rusak sedang dan 10 rusak ringan.
Kodim 1603/Sikka Perkuat Pelayanan Kesehatan Pengungsi di Gelora Samador
Pada fasilitas pendidikan, tercatat delapan unit rusak berat, lima rusak sedang dan 12 rusak ringan.
Fasilitas kesehatan yang rusak terdiri dari dua unit rusak berat, lima rusak sedang dan 18 rusak ringan.
Sementara rumah ibadah yang terdampak terdiri dari enam unit rusak berat, empat rusak sedang dan 18 rusak ringan.
Untuk infrastruktur jalan, dua ruas mengalami kerusakan berat dan tiga ruas mengalami kerusakan ringan. Selain korban jiwa dan kerusakan bangunan, ribuan warga masih mengungsi.
Data hingga Selasa (18/8/2026) pukul 15.00 WITA mencatat 1.825 kepala keluarga atau 7.104 jiwa mengungsi di berbagai wilayah Kabupaten Sikka.
Pengungsi tersebut terdiri dari anak usia 0–12 tahun sebanyak 140 jiwa, anak usia 6–17 tahun sebanyak 1.005 jiwa, kelompok usia 18–59 tahun sebanyak 1.227 jiwa dan warga berusia di atas 60 tahun sebanyak 229 jiwa. Terdapat pula 38 ibu hamil dan 29 penyandang disabilitas.
Akses Terputus, Prajurit Kodim 1603/Sikka Pasang Tenda untuk Warga Keso Koja
Pemerintah menyediakan pusat pengungsian terpusat di Gelora Samador. Data di lokasi tersebut mencatat 318 KK atau 987 jiwa, termasuk ibu hamil, bayi, balita dan penyandang disabilitas.
Sementara pengungsi lainnya tersebar secara mandiri di 21 kecamatan.
Femy mengatakan sebagian warga memilih tetap mengungsi karena rumah mengalami kerusakan dan masih mengalami trauma akibat gempa.
“Pemerintah mendirikan satu pusat pengungsian terpusat di Gelora Samador dan terdata ada 318 KK dengan 987 jiwa, termasuk ibu hamil, bayi balita serta disabilitas. Sedangkan pengungsi mandiri tersebar di 21 kecamatan, sebagian akibat rumahnya rusak dan karena trauma,” jelas Femy.
Di tengah kondisi tersebut, Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Dr. Suharyanto meminta Satgas Penanggulangan Bencana Kabupaten Sikka menyelesaikan penanganan pengungsi dalam waktu satu minggu.
Suharyanto mengatakan pemerintah kabupaten bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap penanganan bencana di wilayah Sikka. BNPB melalui Satgas Nasional akan memberikan pendampingan selama proses penanganan hingga pemulihan.
Data Kerusakan Jadi Penentu Bantuan Gempa Sikka, BNPB Siapkan hingga Rp30 Juta
“Saya apresiasi karena sudah terbentuk satgas daerah. Jadi Pak Bupati bertanggung jawab terhadap Kabupaten Sikka dibantu oleh Forkopimda. Sedangkan BNPB telah membentuk Satgas Nasional dan akan mendampingi sampai pulih tujuh kabupaten terdampak gempa sejak tanggap darurat,” tegas Suharyanto.
Suharyanto juga meminta pemerintah daerah melaporkan persoalan yang tidak dapat diselesaikan di tingkat kabupaten kepada BNPB.
“Selama persoalan tidak bisa dipecahkan di tingkat kabupaten, silakan dilaporkan kepada kami,” ujarnya.
Dengan data sementara tersebut, penanganan di Sikka mencakup korban meninggal dunia, warga yang masih mengungsi, kerusakan rumah, fasilitas pemerintah, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, rumah ibadah dan infrastruktur jalan.
Pemkab Sikka masih melakukan pemutakhiran data, sementara asesmen terhadap rumah warga dilakukan untuk memperoleh data kerusakan yang menjadi dasar penanganan berikutnya.»(rel)
HUMANIORA
HUT Ke-81 TNI di Maumere, Amanat Panglima Tekankan Implementasi Nilai PRIMA
HUT ke-81 TNI di Maumere diisi amanat Panglima TNI yang menekankan implementasi nilai PRIMA sebagai arah pengembangan kemampuan prajurit menghadapi tantangan tugas.
Slug: hut-ke-81-tni-maumere-nilai-prima
MAUMERE, GardaFlores – Peringatan HUT ke-81 TNI di Maumere, Kabupaten Sikka, diwarnai penegasan tentang peningkatan profesionalisme, kesiapsiagaan, dan kemampuan prajurit menghadapi perkembangan lingkungan strategis serta ancaman yang semakin kompleks.
Pesan tersebut disampaikan melalui amanat Panglima TNI pada upacara HUT ke-81 TNI yang dipimpin Dandim 1603/Sikka Letkol Arm Denny Riesta Permana, selaku Inspektur Upacara.
Dalam amanatnya, Panglima TNI menyebut tingginya kepercayaan masyarakat kepada TNI sebagai kehormatan sekaligus amanah yang harus dijaga melalui pengabdian yang tulus, pelaksanaan tugas secara profesional, serta kesiapan prajurit menjalankan setiap tugas yang diberikan negara.
Seiring modernisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam) serta peningkatan kesejahteraan prajurit, personel TNI dan ASN TNI juga dituntut meningkatkan kapasitas dan kompetensi untuk menghadapi tantangan tugas ke depan.
Empat Penyelam Hilang di Perairan Pangabatang, Seluruhnya Ditemukan Selamat
Panglima TNI menekankan implementasi nilai PRIMA sebagai arah pengembangan kemampuan TNI. PRIMA mencakup Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif.
Profesional berarti menguasai tugas dan menjunjung tinggi integritas. Responsif menekankan kepekaan dan kecepatan bertindak. Integratif diwujudkan melalui penguatan sinergi dengan seluruh komponen bangsa. Modern berarti menguasai dan memanfaatkan perkembangan teknologi, sedangkan Adaptif menekankan kemampuan berinovasi sesuai perkembangan ancaman.
Nilai PRIMA tersebut diarahkan untuk diterapkan dalam setiap pelaksanaan tugas dan pengabdian prajurit. Implementasinya menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan TNI menghadapi berbagai tantangan serta menjalankan tugas menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Upacara HUT ke-81 TNI di Maumere diikuti personel Lanal Maumere, Kodim 1603/Sikka, Polres Sikka, dan Brimob Pelopor B Maumere. Lettu Laut (K) drg. FX. Dimas Bimo Sakti bertindak sebagai Komandan Upacara, sedangkan Lettu Laut (T) Fransisco B. J. sebagai Perwira Upacara.
Posko Pengungsian di Wuwuwawa Palue Terbakar, Sejumlah Barang Keluarga Rusak
Hadir dalam upacara tersebut Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi, Ketua DPRD Sikka Stefanus Sumandi, Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, serta jajaran pejabat TNI/Polri dan unsur terkait di Kabupaten Sikka.
Turut hadir Pg.S. Palaksa Lanal Maumere Mayor Laut (T) Nono Sumarno, Pasops Lanal Maumere Mayor Laut (P) Paulino Castro, Dandenpomal Lanal Maumere Kapten Laut (PM) Agustoni Ervandik, Dan Unit Lanal Maumere Kapten Laut (E) Mardin, Wadanki Batalyon B Pelopor Satbrimob Maumere AKP Charles, Kasubsi I Intelijen Kejaksaan Negeri Sikka Immanuel Pasaribu Pratama Putra, serta Danpos AU Maumere Kapten Kes Widodo.
Peserta upacara terdiri atas satu SST Perwira Gabungan TNI/Polri dari Lanal Maumere, Kodim 1603/Sikka, dan Polres Sikka, dua SST Lanal Maumere, satu SST Kodim 1603/Sikka, satu SST Polres Sikka, satu SST Brimob Pelopor B Maumere, serta perwakilan Jalasenastri dan Persit Kodim 1603/Sikka.»(rel)
HUMANIORA
Empat Penyelam Hilang di Perairan Pangabatang, Seluruhnya Ditemukan Selamat
Enam orang menyelam di perairan Pulau Pangabatang, Sikka. Empat orang terseret arus, namun seluruhnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah pencarian selama dua hari.
MAUMERE, GardaFlores — Empat penyelam, terdiri atas tiga warga negara asing (WNA) dan seorang dive guide asal Indonesia, yang terseret arus kuat saat menyelam di perairan Pulau Pangabatang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), akhirnya ditemukan seluruhnya dalam kondisi selamat.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (4/10/2026) sekitar pukul 10.00 WITA. Saat itu, enam orang yang terdiri atas dua dive guide lokal dan empat wisatawan mancanegara melakukan penyelaman di sekitar perairan Pulau Pangabatang, sekitar 16,6 mil laut dari Pelabuhan Wuring, Maumere.
Ketika penyelaman berlangsung, arus laut di lokasi cukup kuat. Rombongan kemudian terbagi menjadi dua tim.
Tim pertama terdiri atas dive guide WNI Maria Rosa Hariana Djaa, 25, dan penyelam asal Belanda, Bart Hazes, 60. Keduanya berhasil kembali ke permukaan dalam kondisi selamat.
Dari Kampung, Ria Membangun Rumah Tenun Milenial dan Membawa Tenun Adonara ke Forum Internasional
Tim kedua terdiri atas seorang dive guide WNI dan tiga wisatawan mancanegara asal Austria dan Irlandia. Keempatnya belum kembali ke permukaan dan diduga terseret arus kuat.
Laporan mengenai kondisi membahayakan tersebut diterima Kantor SAR Maumere sekitar pukul 14.10 WITA dari Riana selaku tour guide. Polres Sikka juga menerima laporan masyarakat mengenai hilangnya empat orang yang sedang melakukan penyelaman di kawasan tersebut.
Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K., melalui Kasi Humas Polres Sikka Ipda Leonardus Tunga, S.M., membenarkan adanya laporan tersebut.
“Setelah menerima laporan, tim Polres Sikka langsung berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk turun ke lokasi dan melakukan pencarian serta tindakan kepolisian yang diperlukan,” kata Leonardus.
Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian terhadap empat penyelam yang belum ditemukan.
Posko Pengungsian di Wuwuwawa Palue Terbakar, Sejumlah Barang Keluarga Rusak
Pada Minggu (4/10) sekitar pukul 16.30 WITA, WNA asal Austria, Patricia Retter, 42, ditemukan tim SAR gabungan bersama nelayan di perairan antara Pulau Babi dan Nangahale dalam kondisi selamat.
Pencarian berlanjut pada Senin (5/10) untuk menemukan tiga penyelam lainnya. Kepala Kantor SAR Maumere Fathur mengatakan operasi hari kedua difokuskan pada dua WNA asal Irlandia dan seorang WNI yang merupakan dive guide.
“Operasi SAR hari ini merupakan hari kedua untuk mencari tiga orang penyelam yang masih dalam pencarian. Ketiga korban tersebut terdiri dari dua orang WNA asal Irlandia dan satu orang WNI yang merupakan tour guide,” kata Fathur saat memberikan keterangan dari KN SAR Puntadewa.
Pencarian sejak pagi mengerahkan KN SAR Puntadewa 250, Speed Polair KP Sukur, Sea Rider KN SAR Puntadewa, serta Rubber Boat Kantor SAR Maumere.
Sekitar pukul 09.00 WITA, tim SAR gabungan menemukan Dervla Mulligan, 28, dan Darragh Mc Kierna, 27, keduanya warga negara Irlandia. Keduanya ditemukan di koordinat 08°32’23.83″ LS dan 122°26’04.114″ BT atau sekitar 3,17 mil laut dari lokasi awal kejadian.
Bupati Sikka Dorong Turnamen Desa Jadi Ajang Lahirkan Atlet Berprestasi
Lima menit kemudian, sekitar pukul 09.05 WITA, Speed Polair KP Sukur menemukan dive guide asal Indonesia, Frederik Horimpun, 39. Ia ditemukan dalam kondisi selamat di koordinat 08°33’37.61″ LS dan 122°26’10.13″ BT atau sekitar 4,21 mil laut dari lokasi kejadian.
Dengan ditemukannya Dervla, Darragh, dan Frederik, seluruh enam orang yang mengikuti penyelaman tersebut telah ditemukan dalam kondisi selamat.
Operasi SAR kemudian dinyatakan selesai dan ditutup. Pencarian melibatkan unsur SAR gabungan, antara lain Basarnas, nelayan, TNI, dan Polri, termasuk Lanal Maumere, Ditpolair Polda NTT, serta Satpolair Polres Sikka.
Enam orang yang mengikuti penyelaman tersebut terdiri atas Maria Rosa Hariana Djaa, 25, WNI asal Maumere dan dive guide Tim 1; Bart Hazes, 60, WNA Belanda dan penyelam Tim 1; Patricia Retter, 42, WNA Austria; Dervla Mulligan, 28, WNA Irlandia; Darragh Mc Kierna, 27, WNA Irlandia; serta Frederik Horimpun, 39, WNI dan dive guide Tim 2.»(rel)
HUMANIORA
Dari Kampung, Ria Membangun Rumah Tenun Milenial dan Membawa Tenun Adonara ke Forum Internasional
Maria Tuto Demon memilih pulang ke Adonara setelah lulus dari Undana. Dari modal terbatas, ia membangun Rumah Tenun Milenial dan membawa tenun Adonara ke berbagai forum nasional hingga internasional.
FLORES TIMUR, GardaFlores — Setelah meraih gelar sarjana Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang pada 2018, Maria Tuto Demon tidak memilih jalan yang lazim ditempuh banyak sarjana muda. Ia tidak menetap di kota untuk mencari pekerjaan di kantor atau instansi pemerintah. Ia justru pulang ke Adonara dan memulai sesuatu yang saat itu belum memiliki bentuk yang jelas.
Dari Desa Boleng, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, perempuan yang akrab disapa Ria itu membangun Rumah Tenun Milenial sejak 2022. Tempat tersebut kemudian berkembang bukan hanya sebagai ruang produksi tenun ikat, tetapi juga tempat belajar bagi anak muda dan perempuan di kampungnya.
Pilihan Ria berangkat dari keyakinan bahwa gelar sarjana tidak harus membawanya jauh dari kampung halaman.
“Bagi saya, menjadi PNS atau bekerja di instansi pemerintah adalah pilihan yang baik. Tetapi saya percaya, setiap orang punya jalan pengabdian yang berbeda. Saya ingin menciptakan ruang bagi orang lain untuk bekerja dan berkembang, terutama anak-anak muda dan perempuan di kampung,” ujar Ria.

Ria lahir di Desa Gayak, Adonara, 12 Februari 1995. Gagasan tentang usaha tenun sebenarnya sudah muncul sebelum Rumah Tenun Milenial berdiri. Ia pernah mengusulkan pembangunan pondok tenun ikat khas Kecamatan Ile Boleng melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), tetapi rencana itu tidak kunjung terealisasi.
Ria kemudian memilih tidak menunggu. Ia memulai dari keterampilan yang dimilikinya dengan menenun sendiri. Hasilnya dijual kepada sejumlah kenalan, termasuk senior dan dosen yang dikenalnya saat kuliah di Kupang.
Saat itu, keterbatasan modal menjadi salah satu persoalan utama. Setelah menyelesaikan kuliah, Ria belum memiliki cukup dana untuk membangun usaha. Di sisi lain, ayahnya sedang menjalani perawatan setelah operasi.
“Saya mulai dari apa yang saya bisa, dengan mulai menenun sendiri. Hasil tenun saya jual kepada senior-senior dan juga dosen-dosen saya waktu kuliah di Kupang. Dari hasil itulah saya kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli benang dan kebutuhan produksi lainnya,” tuturnya.
Dari hasil penjualan tersebut, modal dikumpulkan sedikit demi sedikit. Ria kemudian membangun sebuah pondok sederhana sebagai tempat produksi tenun khas Adonara. Dari pondok itulah Rumah Tenun Milenial mulai tumbuh.
BGN Ubah Skema Insentif SPPG, Mulai 5 Oktober Dibayar Rp2.000 per Porsi
Bagi Ria, persoalan yang hendak dijawab tidak hanya soal bagaimana menjual kain tenun. Ia melihat keterbatasan lapangan pekerjaan di wilayah terpencil ikut mendorong anak-anak muda meninggalkan kampung untuk mencari penghidupan di tempat lain.
Pada saat yang sama, ia melihat tradisi menenun menghadapi tantangan regenerasi. Perubahan pola hidup dan perkembangan teknologi membuat minat generasi muda terhadap aktivitas menenun perlu terus dihidupkan.
“Saya melihat tenun Adonara memiliki nilai yang sangat besar. Di balik selembar kain ada sejarah, filosofi, keterampilan, dan identitas orang Adonara. Tetapi kalau generasi muda tidak lagi tertarik belajar menenun, perlahan-lahan budaya itu bisa hilang,” katanya.
Karena itu, Rumah Tenun Milenial tidak berhenti sebagai tempat memproduksi dan menjual kain. Ria menjadikannya ruang bagi masyarakat untuk belajar menenun dan mengenal budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi, terutama bagi perempuan dan anak muda.
“Saya ingin usaha yang saya bangun bukan hanya menghasilkan uang, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar, melestarikan budaya, dan membuka peluang bagi masyarakat,” ujarnya.
Perjalanan itu juga tidak langsung berjalan mulus. Pada masa awal, Ria harus membangun kepercayaan masyarakat melalui karya dan hasil yang bisa dilihat.
Ia ingin menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu mengharuskan seseorang meninggalkan kampung halaman.
“Saya ingin membuktikan bahwa kita tidak harus meninggalkan kampung untuk menjadi sukses. Kita juga bisa membangun sesuatu dari kampung sendiri, mengangkat budaya kita, dan hidup dari kekayaan yang kita miliki,” ungkapnya.

Dari Boleng, tenun Adonara kemudian dibawa Ria ke ruang yang lebih luas. Rumah Tenun Milenial mulai mengikuti berbagai kegiatan di tingkat nasional hingga internasional.
Salah satunya melalui dukungan Yayasan Samdhana Institute untuk memperkenalkan tenun Adonara dalam pertemuan perempuan penenun se-ASEAN di Luang Prabang, Laos.
Ria juga mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan dan ekonomi kreatif, antara lain Lestari Bumi Cau di Labuan Bajo, fashion show di Bali, serta sejumlah festival yang diselenggarakan pemerintah di Jakarta dan NTT. Ia juga pernah menjadi delegasi pengusaha muda Indonesia dalam FutureAction Summit 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Forum-forum tersebut menjadi ruang bagi Ria untuk memperkenalkan tenun Adonara tidak hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Adonara.
HIMBARA Salurkan Lebih dari 30 Ton Bantuan untuk Korban Gempa Ngada
“Untuk memperkenalkan tenun Adonara, saya tidak hanya menjual kainnya. Tetapi juga membawa tenun ini ke berbagai ruang dan kegiatan,” ujarnya.
Ria juga menyadari bahwa mempertahankan tenun tidak cukup hanya dengan meminta generasi muda mencintai kain tradisional. Tenun juga perlu hadir dalam bentuk yang dekat dengan keseharian mereka.
Karena itu, ia mengolah kain tenun menjadi pakaian, tas, kalung, gelang, anting, dan berbagai produk fesyen lainnya.
“Saya mencoba mengolah tenun menjadi pakaian, tas, kalung, gelang, anting, dan berbagai produk yang mengikuti tren anak muda,” katanya.

Bagi Ria, perubahan bentuk produk tidak berarti melepaskan akar budaya. Tenun tetap membawa nilai dan identitas Adonara, tetapi dikemas agar dapat diterima oleh generasi masa kini.
Dari sebuah pondok sederhana yang dibangun dengan modal hasil menjual tenun, Rumah Tenun Milenial kini menjadi jalan bagi Ria untuk mengembangkan usaha, membuka ruang belajar, dan membawa nama tenun Adonara ke berbagai forum.
Harapannya sederhana, tetapi menjangkau jauh.
“Harapan saya, tenun Adonara tetap berakar di budaya kita, tetapi bisa mengikuti zaman, diterima anak muda, dikenal di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri,” pungkasnya.»(rel)
-
NASIONAL12 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Bantuan Gempa Sikka Bergerak hingga Dini Hari, Palue dan 20 Kecamatan Jadi Sasaran - Garda Flores %