HUMANIORA
3.645 Warga Sikka Masih Mengungsi, Gempa Flores Rusak 4.248 Rumah
Gempa Flores masih menyisakan persoalan besar di Kabupaten Sikka. Sebanyak 3.645 warga masih berada di pengungsian, sementara 4.248 rumah dan 291 fasilitas umum tercatat mengalami kerusakan.
MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 3.645 warga Kabupaten Sikka atau 972 kepala keluarga masih berada di lokasi pengungsian setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Pada saat yang sama, pendataan Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka mencatat 4.248 rumah dan 291 fasilitas umum mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.
Data terbaru yang dirilis Media Center Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka di Maumere, Kamis (3/9/2026), juga mencatat jumlah warga terdampak mencapai 352.794 jiwa, terdiri atas 49 persen laki-laki dan 51 persen perempuan.
Sebagian besar warga yang masih berada di pengungsian terkonsentrasi di Kecamatan Palue. Sebanyak 3.340 jiwa dari 892 kepala keluarga masih mengungsi di wilayah tersebut, atau sekitar 92 persen dari total pengungsi di Kabupaten Sikka.
Para pengungsi di Palue tersebar di Posko Rokirole, Nitunglea, dan Lidi.
Di Kecamatan Kangae, jumlah pengungsi tercatat 236 jiwa dari 60 kepala keluarga. Mereka tersebar di delapan posko, yakni Habi, Meken Detung, Teka Iku, Watumilok, Langir, Tana Duen, Watuliwung, dan Blatat Tatin.
Sementara di Kecamatan Nita, sebanyak 65 jiwa dari 20 kepala keluarga masih berada di pengungsian yang berlokasi di Dusun Surajawa dan Riit.
Setelah 14 Hari Terhenti, ASN Disarpus Sikka Kembali Bekerja di Gedung Pascagempa
54 Korban, Enam Meninggal Dunia
Selain menyebabkan warga kehilangan tempat tinggal sementara, gempa juga menimbulkan korban jiwa dan luka.
Hingga pembaruan data pada Kamis (3/9/2026), tercatat 54 korban. Enam orang meninggal dunia, 25 orang mengalami luka berat, dan 23 orang mengalami luka ringan.
Data tersebut masih menjadi bagian dari perkembangan penanganan yang terus diperbarui oleh Posko Tanggap Darurat.
Kerusakan bangunan menjadi salah satu persoalan utama yang harus ditangani setelah masa tanggap darurat.
Dari 4.248 rumah yang tercatat mengalami kerusakan, sebanyak 939 unit masuk kategori rusak berat. Sebanyak 852 rumah mengalami rusak sedang, sedangkan 2.457 rumah lainnya tercatat mengalami rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas yang digunakan masyarakat untuk pelayanan pemerintahan, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kehidupan keagamaan.
Sebanyak 291 fasilitas umum terdampak gempa, terdiri atas 75 bangunan pemerintah, 81 fasilitas kesehatan, 38 fasilitas pendidikan, delapan ruas jalan, 10 unit prasarana, serta 79 rumah ibadah.
3.645 Warga Sikka Masih Mengungsi, 3.340 Jiwa Berada di Palue
Palue Menjadi Perhatian Utama
Besarnya jumlah pengungsi di Palue menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu fokus utama penanganan selama masa tanggap darurat.
Data BPBD Kabupaten Sikka menunjukkan hampir seluruh warga yang masih berada di pengungsian berasal dari kecamatan tersebut. Kondisi itu sejalan dengan tingginya tingkat kerusakan yang terjadi di Palue.
Penanganan kebutuhan pengungsi, distribusi logistik, pendataan kerusakan, serta pemulihan fasilitas dasar masih menjadi bagian dari pekerjaan pemerintah selama masa tanggap darurat berlangsung.
Posko Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka berada di bawah koordinasi Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka Margaretha M. Da Maga Bapa.
Perkembangan penanganan bencana kembali dibahas dalam rapat konsolidasi percepatan penanganan darurat gempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kamis (3/9/2026).
Tangani Gempa Flores, BNPB, BPBD dan Organisasi Kemanusiaan Satukan Data Kebutuhan di Sikka
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sikka memaparkan perkembangan penanganan darurat dalam rapat yang berlangsung secara daring bersama Direktur Posko Pendamping Nasional, PIC Posko Sub Satgas Bandara Frans Seda Maumere, serta BNPB Pusat.
Dengan 3.645 warga masih berada di pengungsian, penanganan di Kabupaten Sikka belum dapat dipisahkan dari persoalan kondisi tempat tinggal warga. Pendataan dan verifikasi terhadap 4.248 rumah yang mengalami kerusakan akan menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan langkah pemulihan berikutnya.
Besarnya jumlah kerusakan rumah dan fasilitas umum juga menunjukkan bahwa pekerjaan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pengungsi, tetapi mencakup pemulihan tempat tinggal, pelayanan publik, fasilitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak.»(rel)
HUMANIORA
Bhayangkari Papua Salurkan 225 Karung Beras dan Logistik untuk Warga Nitunglea
Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan sejumlah kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa di Nitunglea, Palue, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
MAUMERE, GardaFlores—Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan berbagai kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa bumi di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).
Bantuan dari Ny. Nova Patrige Renwarin bersama jajaran pengurus Bhayangkari Papua tersebut terdiri atas 225 karung beras berukuran lima kilogram, 25 dos minyak goreng kemasan satu liter, 600 dos air minum Aqua Gelas Nusra, 15 dos Energen, sembilan dos susu Dancow, dan 15 dos gula pasir.
Penyaluran bantuan ini berlangsung dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-75 Tahun 2026.
Logistik diberangkatkan dari Kantor Polsubsektor Palue pukul 07.00 WITA menuju Kantor Desa Nitunglea. Serah terima bantuan kepada pemerintah desa berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga sasaran.
Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mendampingi penyaluran bersama Penjabat Kepala Desa Nitunglea, Bay Langko, S.Sos., serta aparat dan staf desa.
Distribusi bantuan berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.»(rel)
HUMANIORA
Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga
Seorang pria berinisial Y.D.B. (49) ditemukan meninggal di ruang keluarga rumahnya di Paga, Sikka. Keluarga sempat berupaya memberikan pertolongan sebelum membawanya ke Puskesmas Wolofeo.
MAUMERE, GardaFlores—Seorang pria berinisial Y.D.B. (49), warga Dusun Warami, Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia oleh istrinya di ruang keluarga rumah mereka pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.
Menurut laporan kepolisian, istri korban, G.G. (47), menemukan suaminya saat keluar dari kamar setelah terbangun. Ia kemudian menghubungi anak mereka, A.P.S.N. (19), yang sedang menginap di rumah seorang teman, sekitar 25 meter dari kediaman keluarga.
Anak korban segera pulang. Bersama anggota keluarga, ia berusaha memberikan pertolongan sebelum membawa korban ke Puskesmas Wolofeo. Namun, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di puskesmas.
Setelah menerima laporan masyarakat, anggota Polsek Paga mendatangi lokasi untuk mendata korban dan saksi serta mengumpulkan keterangan. Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis dan keluarga.
Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi maupun proses hukum lebih lanjut, sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian.
Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)
HUMANIORA
Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela
P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Lela, Sikka. Dua nelayan berusaha mengevakuasinya setelah korban terlihat meminta pertolongan di laut.
MAUMERE, GardaFlores—P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di perairan Pantai Lela, tepat di depan Kantor Camat Lela, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026) pagi.
Korban dilaporkan berada di laut sekitar pukul 08.30 WITA dan meminta pertolongan. Dua nelayan, B.Y. dan M.S., berusaha mengevakuasinya ke bibir pantai.
B.Y. mengatakan, sekitar pukul 08.00 WITA ia melihat korban menari dan melompat-lompat di tepi pantai. Sekitar 30 menit kemudian, ia melihat korban berada di laut sambil meminta pertolongan.
B.Y. berenang mendekati korban dan berusaha membawanya ke pantai. Karena kelelahan, ia meminta bantuan M.S. Keduanya kemudian membawa korban ke bibir pantai.
Warga selanjutnya menghubungi ambulans Puskesmas Nanga untuk membawa korban ke Rumah Sakit Santo Elisabeth Lela. Namun, korban meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.
Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue
Anggota Polsek Lela mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Polisi mendata korban dan saksi serta berkoordinasi dengan tim medis rumah sakit dan keluarga korban.
Menurut keterangan saksi M.R.V., korban telah tinggal seorang diri di pondok miliknya selama hampir lima tahun. M.R.V. selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.
Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi. Korban direncanakan dimakamkan pada Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WITA.
Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti korban tenggelam belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)
-
NASIONAL1 year agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka

Pingback: Bupati Juventus kepada Mahasiswa Baru: Ijazah Saja Tak Cukup - Garda Flores %