HUMANIORA
Dari Kampung, Ria Membangun Rumah Tenun Milenial dan Membawa Tenun Adonara ke Forum Internasional
Maria Tuto Demon memilih pulang ke Adonara setelah lulus dari Undana. Dari modal terbatas, ia membangun Rumah Tenun Milenial dan membawa tenun Adonara ke berbagai forum nasional hingga internasional.
FLORES TIMUR, GardaFlores — Setelah meraih gelar sarjana Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang pada 2018, Maria Tuto Demon tidak memilih jalan yang lazim ditempuh banyak sarjana muda. Ia tidak menetap di kota untuk mencari pekerjaan di kantor atau instansi pemerintah. Ia justru pulang ke Adonara dan memulai sesuatu yang saat itu belum memiliki bentuk yang jelas.
Dari Desa Boleng, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, perempuan yang akrab disapa Ria itu membangun Rumah Tenun Milenial sejak 2022. Tempat tersebut kemudian berkembang bukan hanya sebagai ruang produksi tenun ikat, tetapi juga tempat belajar bagi anak muda dan perempuan di kampungnya.
Pilihan Ria berangkat dari keyakinan bahwa gelar sarjana tidak harus membawanya jauh dari kampung halaman.
“Bagi saya, menjadi PNS atau bekerja di instansi pemerintah adalah pilihan yang baik. Tetapi saya percaya, setiap orang punya jalan pengabdian yang berbeda. Saya ingin menciptakan ruang bagi orang lain untuk bekerja dan berkembang, terutama anak-anak muda dan perempuan di kampung,” ujar Ria.

Ria lahir di Desa Gayak, Adonara, 12 Februari 1995. Gagasan tentang usaha tenun sebenarnya sudah muncul sebelum Rumah Tenun Milenial berdiri. Ia pernah mengusulkan pembangunan pondok tenun ikat khas Kecamatan Ile Boleng melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), tetapi rencana itu tidak kunjung terealisasi.
Ria kemudian memilih tidak menunggu. Ia memulai dari keterampilan yang dimilikinya dengan menenun sendiri. Hasilnya dijual kepada sejumlah kenalan, termasuk senior dan dosen yang dikenalnya saat kuliah di Kupang.
Saat itu, keterbatasan modal menjadi salah satu persoalan utama. Setelah menyelesaikan kuliah, Ria belum memiliki cukup dana untuk membangun usaha. Di sisi lain, ayahnya sedang menjalani perawatan setelah operasi.
“Saya mulai dari apa yang saya bisa, dengan mulai menenun sendiri. Hasil tenun saya jual kepada senior-senior dan juga dosen-dosen saya waktu kuliah di Kupang. Dari hasil itulah saya kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli benang dan kebutuhan produksi lainnya,” tuturnya.
Dari hasil penjualan tersebut, modal dikumpulkan sedikit demi sedikit. Ria kemudian membangun sebuah pondok sederhana sebagai tempat produksi tenun khas Adonara. Dari pondok itulah Rumah Tenun Milenial mulai tumbuh.
BGN Ubah Skema Insentif SPPG, Mulai 5 Oktober Dibayar Rp2.000 per Porsi
Bagi Ria, persoalan yang hendak dijawab tidak hanya soal bagaimana menjual kain tenun. Ia melihat keterbatasan lapangan pekerjaan di wilayah terpencil ikut mendorong anak-anak muda meninggalkan kampung untuk mencari penghidupan di tempat lain.
Pada saat yang sama, ia melihat tradisi menenun menghadapi tantangan regenerasi. Perubahan pola hidup dan perkembangan teknologi membuat minat generasi muda terhadap aktivitas menenun perlu terus dihidupkan.
“Saya melihat tenun Adonara memiliki nilai yang sangat besar. Di balik selembar kain ada sejarah, filosofi, keterampilan, dan identitas orang Adonara. Tetapi kalau generasi muda tidak lagi tertarik belajar menenun, perlahan-lahan budaya itu bisa hilang,” katanya.
Karena itu, Rumah Tenun Milenial tidak berhenti sebagai tempat memproduksi dan menjual kain. Ria menjadikannya ruang bagi masyarakat untuk belajar menenun dan mengenal budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi, terutama bagi perempuan dan anak muda.
“Saya ingin usaha yang saya bangun bukan hanya menghasilkan uang, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar, melestarikan budaya, dan membuka peluang bagi masyarakat,” ujarnya.
Perjalanan itu juga tidak langsung berjalan mulus. Pada masa awal, Ria harus membangun kepercayaan masyarakat melalui karya dan hasil yang bisa dilihat.
Ia ingin menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu mengharuskan seseorang meninggalkan kampung halaman.
“Saya ingin membuktikan bahwa kita tidak harus meninggalkan kampung untuk menjadi sukses. Kita juga bisa membangun sesuatu dari kampung sendiri, mengangkat budaya kita, dan hidup dari kekayaan yang kita miliki,” ungkapnya.

Dari Boleng, tenun Adonara kemudian dibawa Ria ke ruang yang lebih luas. Rumah Tenun Milenial mulai mengikuti berbagai kegiatan di tingkat nasional hingga internasional.
Salah satunya melalui dukungan Yayasan Samdhana Institute untuk memperkenalkan tenun Adonara dalam pertemuan perempuan penenun se-ASEAN di Luang Prabang, Laos.
Ria juga mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan dan ekonomi kreatif, antara lain Lestari Bumi Cau di Labuan Bajo, fashion show di Bali, serta sejumlah festival yang diselenggarakan pemerintah di Jakarta dan NTT. Ia juga pernah menjadi delegasi pengusaha muda Indonesia dalam FutureAction Summit 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Forum-forum tersebut menjadi ruang bagi Ria untuk memperkenalkan tenun Adonara tidak hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Adonara.
HIMBARA Salurkan Lebih dari 30 Ton Bantuan untuk Korban Gempa Ngada
“Untuk memperkenalkan tenun Adonara, saya tidak hanya menjual kainnya. Tetapi juga membawa tenun ini ke berbagai ruang dan kegiatan,” ujarnya.
Ria juga menyadari bahwa mempertahankan tenun tidak cukup hanya dengan meminta generasi muda mencintai kain tradisional. Tenun juga perlu hadir dalam bentuk yang dekat dengan keseharian mereka.
Karena itu, ia mengolah kain tenun menjadi pakaian, tas, kalung, gelang, anting, dan berbagai produk fesyen lainnya.
“Saya mencoba mengolah tenun menjadi pakaian, tas, kalung, gelang, anting, dan berbagai produk yang mengikuti tren anak muda,” katanya.

Bagi Ria, perubahan bentuk produk tidak berarti melepaskan akar budaya. Tenun tetap membawa nilai dan identitas Adonara, tetapi dikemas agar dapat diterima oleh generasi masa kini.
Dari sebuah pondok sederhana yang dibangun dengan modal hasil menjual tenun, Rumah Tenun Milenial kini menjadi jalan bagi Ria untuk mengembangkan usaha, membuka ruang belajar, dan membawa nama tenun Adonara ke berbagai forum.
Harapannya sederhana, tetapi menjangkau jauh.
“Harapan saya, tenun Adonara tetap berakar di budaya kita, tetapi bisa mengikuti zaman, diterima anak muda, dikenal di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri,” pungkasnya.»(rel)
HUMANIORA
Dandim Pimpin Ziarah HUT TNI di TMP Iligetang, Diikuti Lintas Unsur
Dandim 1603/Sikka Letkol Arm Denny Riesta Permana memimpin ziarah di TMP Iligetang dalam rangka HUT ke-81 TNI. Kegiatan diikuti personel Kodim, Lanal Maumere, Persit, Jalasenastri, Basarnas dan Brimob.
MAUMERE, GardaFlores — Dandim 1603/Sikka Letkol Arm Denny Riesta Permana, memimpin ziarah rombongan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Iligetang, Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Senin (28/9/2026).
Ziarah tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI Tahun 2026. Kegiatan diikuti Kasdim 1603/Sikka Mayor Cba. Dominggus Melianus Atamani, para perwira dan prajurit Kodim 1603/Sikka, serta personel Lanal Maumere.
Peserta juga berasal dari sejumlah unsur lain, yakni anggota Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Cabang XIV, Jalasenastri, personel Basarnas Maumere dan Brimob Maumere.
Gerakan 1 ASN 1 Buku, Disarpus Sikka Terima Sumbangan Buku dari ASN
Rangkaian ziarah dimulai dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan. Setelah itu, Dandim bersama peserta meletakkan karangan bunga dan melakukan tabur bunga di makam para pahlawan.
Kegiatan berlangsung di TMP Iligetang hingga seluruh rangkaian ziarah selesai.
Ziarah tersebut menjadi salah satu agenda dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI di Kabupaten Sikka.»(rel)
HUMANIORA
17,13 Ton Beras Disalurkan ke 571 KK di Palue
Perum Bulog Cabang Maumere menyalurkan 17,13 ton beras bantuan pangan kepada 571 KK di Palue, Sikka. Setiap keluarga menerima 30 kilogram beras untuk periode Juli–September 2026.
MAUMERE, GardaFlores — Sebanyak 17,13 ton beras bantuan pangan pemerintah disalurkan kepada 571 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Kamis (24/9/2026). Bantuan periode Juli–September 2026 itu disalurkan melalui Perum Bulog Cabang Maumere dengan pengamanan dan monitoring Polsubsektor Palue–Polsek Nelle.
Penyaluran berlangsung di Desa Reruwaerere dan Desa Rokirole. Di Reruwaerere, sebanyak 280 KK menerima 8.400 kilogram beras. Sementara di Rokirole, 291 KK menerima 8.730 kilogram. Setiap keluarga mendapat 30 kilogram beras.
Mahasiswa ISI Bali Gagas Lumbung Baca Berbasis Kearifan Lokal di Sikka
Aparat keamanan bersama pemerintah kecamatan dan pemerintah desa melakukan pengawasan selama distribusi. Petugas mencocokkan KTP atau KK dengan daftar penerima sebelum bantuan diserahkan. Setiap penyaluran juga dicatat dalam buku kendali.
Hasil monitoring menunjukkan seluruh bantuan tersalurkan kepada penerima sesuai daftar. Petugas tidak menemukan penyimpangan, ketidaktepatan sasaran, maupun beras yang rusak.
Distribusi berakhir sekitar pukul 17.00 WITA dalam kondisi aman dan kondusif.»(rel)
HUMANIORA
Polsubsektor Palue Kawal Penyaluran 5,7 Ton Beras Bantuan Pangan di Desa Tuanggeo
Penyaluran 5.700 kilogram beras bantuan pangan pemerintah di Desa Tuanggeo, Palue, Sikka, menyasar 190 KPM. Setiap keluarga menerima 30 kilogram beras untuk periode Juli–September 2026.
MAUMERE, GardaFlores — Penyaluran Bantuan Pangan Pemerintah melalui Perum BULOG Cabang Maumere di Desa Tuanggeo, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, berlangsung aman dan tertib, Rabu (23/9/2026).
Sebanyak 5.700 kilogram beras disalurkan kepada 190 keluarga penerima manfaat (KPM). Setiap keluarga menerima 30 kilogram beras untuk periode Juli–September 2026.
Penyaluran mendapat pengamanan dan monitoring dari Polsubsektor Palue–Polsek Nelle bersama pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta perangkat desa.
Youth FREN Serahkan Buku Karya Anak Muda ke Perpustakaan Sikka
Sebelum bantuan diserahkan, petugas melakukan verifikasi identitas dan mencocokkan nama penerima dengan daftar yang telah ditetapkan. Penyaluran dilakukan secara bertahap untuk memastikan bantuan diterima oleh penerima yang terdata serta menjaga ketertiban selama proses berlangsung.
Hingga seluruh bantuan tersalurkan, tidak ditemukan penyimpangan, ketidaktepatan sasaran, maupun kerusakan beras. Kegiatan penyaluran berakhir sekitar pukul 12.00 WITA dalam situasi aman dan kondusif.»(rel)
-
NASIONAL12 months agoPemerintah Akan Berupaya Tekan Angka Keracunan MBG
-
HUMANIORA1 year agoSemangat Pengabdian Aipda Hironimus T. Werang di Tengah Keterbatasan Fisik
-
HUMANIORA1 year agoTHS-THM cetak 146 Pelatih dalam UKT se-Nusa Tenggara dan Timor Leste
-
HUMANIORA1 year agoTak Banyak yang Peduli, Keluarga Andi Wonasoba Pilih Ulurkan Kasih untuk ODGJ di Maumere
-
HUKRIM1 year agoMasuk Pekarangan Tanpa Izin, Delapan Staf BRI Cabang Maumere Dipolisikan
-
OPINI1 year agoKetika Pengabdian Tak Dihargai: Catatan Kritis atas Pemberhentian Sepihak Pendamping PKH di Sikka
