Connect with us

HUMANIORA

Jejak Panjang Gebi, Penari Doka Tawatana yang Menembus Panggung Dunia

Published

on

Gabriela Dua Legelor (Gebi), penari dan penenun dari Sanggar Doka Tawatana. (GARDAFLROES/KAREL PANDU)

Maumere, GardaFlores — Di tengah gegap gempita pelantikan Pengurus baru Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Sikka, Sabtu (29/11/2025) di Maumere, ada suara lain yang menarik perhatian. Bukan dari pejabat atau pemangku kepentingan pariwisata, melainkan dari seorang penari muda yang nyaris separuh hidupnya dihabiskan di sebuah sanggar kecil bernama Doka Tawatana. Namanya Gabriela Dua Legelora, atau akrab disapa Gebi.

Perempuan muda asal Kampung Doka, Desa Uma Uta, Kabupaten Sikka ini adalah representasi ketekunan, pewaris budaya, dan perjalanan panjang sanggar Doka Tawatana yang kini mendunia. Dalam pelantikan pengurus HPI Sikka itu, Gebi membuka kisahnya, sebuah perjalanan yang dimulai sejak bangku kelas V SD.

Cletus Beru dan Napas Budaya Krowe yang Bangkit dari Sunyi

“Saya menekuni tari sejak kelas lima SD sampai sekarang semester V di IFTK Ledalero. Dari kabupaten ke provinsi, nasional, sampai ke luar negeri,” ujar Gebi dengan mata berbinar.

Nama Gebi tercatat sebagai salah satu wajah muda dari Sikka yang membawa Sanggar Doka Tawatana tampil pada berbagai pameran dan expo. Tingkat nasional, ia menari di Jakarta, Bali, hingga Batam. Di luar negeri, ia tampil di Singapura dalam ajang Singapore Expo dan beberapa agenda internasional lainnya yang diikuti sanggar.

Yang membuat perjalanan Gebi berbeda adalah akar tradisi. Ia tumbuh di lingkungan sanggar yang didirikan oleh kakek dan neneknya. “Sanggar ini menggambarkan budaya lokal yang diwariskan turun-temurun. Tugas saya meneruskan apa yang mereka jaga selama ini,” kata Gebi.

DPRD Sikka kepada HPI Sikka: Jaga Integritas, Tingkatkan Profesionalisme, Jadilah Tuan Rumah yang Baik!

Selain menari, Gebi juga mahir menenun. Ia belajar langsung dari neneknya, itu pun sejak belia. “Menenun itu harus teliti, fokus, sabar. Kita mengurai benang satu per satu.” Kini, sarung tenun Gebi sudah mulai dibeli para turis yang berkunjung ke sanggar.

Kampus tempatnya kuliah, IFTK Ledalero, dukungan penuh. Gebi diberi izin tidak mengikuti kuliah karena harus menampilkan tarian atau demonstrasi tenun bila ada turis datang ke sanggar. Baginya, ini bukan sekadar aktivitas, melainkan panggilan untuk menjaga warisan.

Gebi menutup kisahnya dengan harapan menyentuh: anak muda jangan malu melestarikan warisan budaya, terutama tarian gong waning, ikun beta, dan tenun ikat yang diwariskan nenek moyang.

“Kalau bukan kita yang muda, siapa lagi yang jaga?” ujarnya.»(rel)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUMANIORA

Bhayangkari Papua Salurkan 225 Karung Beras dan Logistik untuk Warga Nitunglea

Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan sejumlah kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa di Nitunglea, Palue, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Published

on

Bantuan beras dan kebutuhan pokok dari Pengurus Daerah Bhayangkari Papua untuk warga terdampak gempa di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Pengurus Daerah Bhayangkari Papua menyalurkan 225 karung beras dan berbagai kebutuhan pokok kepada warga terdampak gempa bumi di Desa Nitunglea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

Bantuan dari Ny. Nova Patrige Renwarin bersama jajaran pengurus Bhayangkari Papua tersebut terdiri atas 225 karung beras berukuran lima kilogram, 25 dos minyak goreng kemasan satu liter, 600 dos air minum Aqua Gelas Nusra, 15 dos Energen, sembilan dos susu Dancow, dan 15 dos gula pasir.

Penyaluran bantuan ini berlangsung dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-75 Tahun 2026.

Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga

Logistik diberangkatkan dari Kantor Polsubsektor Palue pukul 07.00 WITA menuju Kantor Desa Nitunglea. Serah terima bantuan kepada pemerintah desa berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga sasaran.

Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue, Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H., mendampingi penyaluran bersama Penjabat Kepala Desa Nitunglea, Bay Langko, S.Sos., serta aparat dan staf desa.

Distribusi bantuan berakhir sekitar pukul 17.00 WITA.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Pria 49 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Paga

Seorang pria berinisial Y.D.B. (49) ditemukan meninggal di ruang keluarga rumahnya di Paga, Sikka. Keluarga sempat berupaya memberikan pertolongan sebelum membawanya ke Puskesmas Wolofeo.

Published

on

Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, tempat seorang pria ditemukan meninggal pada Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—Seorang pria berinisial Y.D.B. (49), warga Dusun Warami, Desa Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, ditemukan meninggal dunia oleh istrinya di ruang keluarga rumah mereka pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 05.30 WITA.

Menurut laporan kepolisian, istri korban, G.G. (47), menemukan suaminya saat keluar dari kamar setelah terbangun. Ia kemudian menghubungi anak mereka, A.P.S.N. (19), yang sedang menginap di rumah seorang teman, sekitar 25 meter dari kediaman keluarga.

Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela

Anak korban segera pulang. Bersama anggota keluarga, ia berusaha memberikan pertolongan sebelum membawa korban ke Puskesmas Wolofeo. Namun, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di puskesmas.

Setelah menerima laporan masyarakat, anggota Polsek Paga mendatangi lokasi untuk mendata korban dan saksi serta mengumpulkan keterangan. Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis dan keluarga.

Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi maupun proses hukum lebih lanjut, sebagaimana tercatat dalam laporan kepolisian.

Hingga berita ini disusun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)

Continue Reading

HUMANIORA

Petani 35 Tahun Meninggal Setelah Tenggelam di Pantai Lela

P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di Pantai Lela, Sikka. Dua nelayan berusaha mengevakuasinya setelah korban terlihat meminta pertolongan di laut.

Published

on

Perairan Pantai Lela, Desa Lela, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, tempat seorang petani berinisial P.N.L. dilaporkan tenggelam pada Sabtu (10/10/2026).

MAUMERE, GardaFlores—P.N.L. (35), seorang petani, meninggal dunia setelah tenggelam di perairan Pantai Lela, tepat di depan Kantor Camat Lela, Desa Lela, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026) pagi.

Korban dilaporkan berada di laut sekitar pukul 08.30 WITA dan meminta pertolongan. Dua nelayan, B.Y. dan M.S., berusaha mengevakuasinya ke bibir pantai.

B.Y. mengatakan, sekitar pukul 08.00 WITA ia melihat korban menari dan melompat-lompat di tepi pantai. Sekitar 30 menit kemudian, ia melihat korban berada di laut sambil meminta pertolongan.

B.Y. berenang mendekati korban dan berusaha membawanya ke pantai. Karena kelelahan, ia meminta bantuan M.S. Keduanya kemudian membawa korban ke bibir pantai.

Warga selanjutnya menghubungi ambulans Puskesmas Nanga untuk membawa korban ke Rumah Sakit Santo Elisabeth Lela. Namun, korban meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.

Bhabinkamtibmas Bantu Keluarga Korban Kebakaran Posko Pengungsian Palue

Anggota Polsek Lela mendatangi lokasi setelah menerima laporan. Polisi mendata korban dan saksi serta berkoordinasi dengan tim medis rumah sakit dan keluarga korban.

Menurut keterangan saksi M.R.V., korban telah tinggal seorang diri di pondok miliknya selama hampir lima tahun. M.R.V. selama ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari korban.

Keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak autopsi. Korban direncanakan dimakamkan pada Senin (12/10/2026) pukul 09.00 WITA.

Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti korban tenggelam belum dapat dipastikan secara medis.»(rel)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending